Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kemarau
Malam harinya Paman Ji mengajak Aruna untuk bebicara berdua, ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan. Hanya ada Istrinya di dapur, Anak dan cucunya sudah pulang ke rumah mereka masing-masing yang masih satu halaman.
"Paman apa ada sesuatu?" Tanya Aruna setelah lama terdiam.
Paman Ji menghela nafas panjang, raut wajahnya terlihat sangat lelah, menjadi pemimpin di Desa bukanlah hal yang mudah, banyak masalah yang harus dia atasi, salah satunya adalah kekeringan.
"Nak, sebenarnya kami seluruh warga Desa Suning akan melakukan perjalanan jauh. Kami akan pergi mengungsi karena kemarau panjang yang membuat tanah kering"
Aruna sedikit terkejut, tapi kemudian kembali tenang. Dia sudah menduga ada hal yang terjadi di Desa itu, setelah memperhatikan kondisi keluarga Paman Ji. Semuanya bertubuh kurus, makan hanya sekali dan baju mereka penuh dengan tambalan.
Tapi, dia tidak menyangka jika masalahnya sangat serius. Kekeringan? Sudah berapa lama mereka bersabar menghadapinya?.
"Apakah sudah lama?"
"Ini sudah masuk tahun ketiga, sungai pun sudah mengering. Kami hanya mengandalkan sumur yang kadang terisi air dari bawah!" Jelas Paman Ji dengan mata berkaca-kaca bahkan suaranya sedikit bergetar.
Aruna terdiam, dia bisa merasakan ketakutan Paman Ji. Sebagai Kepala Desa, tentu dia memikirkan semua warganya yang sangat kesulitan. Tapi dia bisa apa? Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Memang ada bantuan dari Ibu Kota, tapi ini sudah berlangsung tiga tahun, sudah sangat lama. Sehingga Kaisar mengeluarkan perintah untuk mereka mengungsi.
Kota Junsu dan dua puluh Desa kecil di bawah yurisdiksinya terpaksa meninggalkan tanah mereka, di Kota sudah dua bulan yang lalu mulai melakukan perjalanan, semua ada jadwal yang sudah di tentukan setiap Desa.
"Jadi Nak, kamu ingin ikut kami atau ingin berjalan sendiri?" tanya Paman Ji. Sebenarnya ingin mengajak tapi belum tentu warga yang lain semua setuju. Bukannya dia takut, tapi tidak ingin masalah bertambah lagi.
"Paman aku juga bingung, aku belum mengenal bagaimana di luar sana. Kalau boleh tau, Paman mengungsi kemana?"
"Kata petugas, daerah itu tidak jauh dari Ibu Kota. Kalau berjalan kaki mungkin butuh tiga sampai empat bulan lamanya, itupun kalau tidak ada halangan."
Aruna berpikir sejenak lalu berkata. "Paman aku akan ke Ibu Kota saja, tapi bolehkah aku ikut rombongan kalian?" Sebenarnya Aruna tidak takut sama sekali untuk pergi sendiri, tapi dia tidak tau sampai kapan dirinya di zaman itu, dia hanya ingin sedikit berbaur untuk berjaga-jaga siapa tau dia tidak bisa kembali lagi.
"Oh itu juga ide yang bagus! Maka bersiaplah, lusa kita akan berangkat!"
"Baik Paman!"
Mereka melanjutkan obrolan sampai larut malam, mau bagaimanapun Aruna butuh informasi tentang Tempat yang akan dia tinggali.
...----------------...
Keesokan harinya, Aruna sudah bangun di pagi buta. Dia pergi mencari sumur yang katanya masih berisi air. Menggunakan kekuatan mentalnya sehingga dengan mudah menemukannya.
"Haa sebenarnya aku ingin mandi," Aruna sudah sangat risih dengan badannya yang bau dan lengket, dari kemarin dia hanya mencuci mukanya, tapi sekarang dia tidak tahan lagi."
"Di ruang penyimpanan juga kayaknya stok air sudah habis!" itu juga salah satu alasan, mengapa Aruna ingin menyerah, karena tidak ada lagi air bersih yang bisa diminum.
Aruna memasuki ruangannya untuk mencari-cari, siapa tau ada keselip di tumpukan barang. Dia masih ada hati, makanya tidak mengambil air di sumur untuk mandi, hanya air sumur itu harapan semua warga Desa.
"Ada apa dengan ruangku, kenapa ada yang abu-abu? Eh ini kenapa aku tidak bisa mengambilnya?" gumam Aruna dengan sedikit panik, jika barang di ruangnya tidak bisa di akses hidupnya akan benar-benar kesulitan.
Aruna mencoba mengambil barang yang tidak abu-abu, ternyata itu berhasil. Dia mengulang berapa kali sampai akhirnya dia paham, yang berwarna abu-abu tidak bisa akses.
"Hmm yang penting masih ada beberapa!" kata Aruna sambil melihat sekitar, ternyata ruangnya dibatasi dengan kabut, yang terisa ada sekitar 50x100 m.
Aruna berjalan, dan benar saja dia tidak bisa menembus kabut itu, seakan ada dinding kaca sebagai pembatas.
"Eh suara apa itu?" lirihnya sambil mempertajam pendengarannya. Aruna berjalan mencari sumber suara.
Dan betapa bahagianya, saat melihat sesuatu yang sangat dia butuhkan ada banyak bahkan sangat melimpah. Itu air, suara yang dia dengar tadi ternyata aliran air.
Yang Aruna lihat, tanah itu sedikit berbukit, dan dikedua sisinya ada dua pohon yang saling berhadapan, akar dan rantingnya menyatu sehingga membentuk pintu gerbang dan di situlah air mengalir seperti air terjun, terlihat seperti buatan tangan, Aruna tidak tahu airnya mengalir ke mana karena terhalang kabut. Tapi dia merasa Dejavu dengan dua pohon, bukankah kedua pohon itu yang dia lihat di dalam hutan tapi yang sekarang ini versi kecilnya.
Aruna tidak berpikir jauh, itu urusan belakang. Yang penting sekarang ada air. Dengan sedikit ragu, aruna mengambil air di kedua tangannya dan.
"Uhh segernya, rasanya sama persis air yang kuminum di rumah Paman Ji!" Tapi air itu memiliki efek, membuat tubuhnya kembali bertenaga.
"Astaga, aku sudah keluar begitu lama. Mereka pasti sudah mencariku." ujarnya sambil mempersiapkan alat mandinya. Aruna belum tau apakah waktu di ruangnya masih seperti dulu, satu hari di luar maka satu bulan di dalam.
Aruna mandi tidak lama, bukan waktunya untuk bersantai. Setelah mandi, Aruna mencari gaun yang model biasa, dan untungnya ada yang tidak berwarna abu.
Paman Ji juga memberi tahunya aturan-aturan yang berlaku di Negara Xu. Salah satunya aturan berpakain, yang belum menikah harus menggunakan baju model gaun atau rok, sedangkan yang sudah menikah boleh menggunakan celana.
"Nak apa yang kamu lakukan,?" tanya Bibi Suyu dengan sedikit terkejut melihat keberadaan Aruna yang ada di dapur.
"Bibi aku tadi ambil air, cuman aku bingung harus simpan di mana!" jelasnya dengan rasa canggung, dia merasa seperti kepergok mencuri oleh tuan rumah.
"Loh kenapa harus repot-repot? Biarkan saja di situ!" pintanya. "Kamu ambil di sumur kan?"
"Yaa, Bibi maafkan aku. Sebenarnya aku tidak nyaman dengan badanku yang lengket, jadi aku pergi mencari air untuk membersihkan diri sedikit."
Mendengar penjelasan Aruna, Bibi Suyu merasa tidak enak.. Semalam dia masih ingat hal itu, tapi setelah Aruna bercerita dengan suaminya sepanjang malam dia malah kelupaan.
Melihat Aruna yang tampak lebih cantik, wangi dan segar membuatnya tersenyum, entah kenapa dia sangat bahagai, seakan-akan melihat cucunya sendiri. Dia berharap keinginannya terkabul, karena dia hanya memiliki cucu laki-laki.
"Apa yang ingin Bibi lakukan? Bolehkah aku membantu,?" Aruna tidak nyaman jika hanya tinggal diam seperti bos yang hanya menunggu untuk dilayani.
"Ehh tidak perlu, Bibi cuman mau buat roti untuk kita sarapan. Karena hari terakhir, mari kita makan dua kali sehari." katanya dengan sedikit bersedih.
Aruna menuntun Bibi Suyu untuk duduk lalu berkata, "Bibi jangan bersedih, semua pasti ada jalannya. Bibi duduk saja di sini, aku yang akan membuat sarapan."
"Tapi Nak,"
Aruna tersenyum melihat raut wajah Bibi yang khawatir, "Bibi tenang saja, aku bisa masak kok, aku akan memasak makanan yang paling praktis"
Bibi Suyu hanya bisa patuh sambil menghela nafas, entah kenapa dia tidak bisa menolak. "Baiklah, bahan-bahannya ada dalam lemari kayu itu!"
Sudut bibir Aruna terangkat, dia akan melihat bagaimana reaksi mereka nanti. "Tidak perlu, aku akan akan memasak makanan yang aku bawa."
Aruna segera menuju kamar yang dia tempati, dia segera mengambil beras 2 kg beras dan mie instan 10 bungkus. Dia sangat bersyukur, karena keduanya tidak berwarna abu-abu. Yang tidak bisa diakses adalah barang-barang yang besar, seperti lemari, dipan dan beras satu karung penuh.
Saat keluar dari kamar dia bertemu menantu pertama yang bernama Ying. "Selamat pagi Bibi Ying!" sapanya sambil tersenyum.
Bibi Ying sedikit terkejut, kemudian terperangah melihat kecantikan Aruna yang sangat alami, "Selamat pagi, kenapa bangun sepagi ini?" tanyanya dengan malu.
Aruna tidak peduli dengan reaksinya, "Aku sudah terbiasa bangun pagi, sekarang aku ingin masak,"
"Ehh benarkah?" tanyanya sambil melirik yang ada di tangan Aruna. "Bagaimana kalau aku membantumu?" Memang dia datang untuk membantu mertuanya, tapi tak disangka Aruna yang seperti nona kaya ternyata bisa masuk dapur juga.
Aruna tidak menolak, dia meminta Bibi Ying memasak semua beras itu, ada 11 orang pasti cukup untuk sekali makan. Dia sendiri yang akan membuat Mie gorengnya, Aruna akan memasaknya sekaligus.
Badan Bibi Ying bergetar saat mencuci beras, sudah lama mereka tidak pernah makan nasi putih! Dia dan Bibi Suyu sempat menegurnya agar tidak memasak semuanya, tapi Aruna berkata, 'Kita akan memakan nasi putih setiap kali makan' meski kedengarannya mustahil, tapi ada sedikit kepercayaan di hati mereka, jika apa yang dikatakan Aruna akan menjadi kenyataan.
Beberapa menit berlalu mie goreng dan nasinya sudah matang, aromanya menyeruak dalam ruangan, Mereka makan di satu meja yang lumayan besar.
Aroma Mie goreng membuat semua menelan ludah, Aruna sangat menikmati reaksi mereka. "Paman, ayo mulai makannya!"
"Ya, ya. Mari kita makan! Hari ini kita makan enak berkat Nak Aruna," Kata Paman ji.
Bibi Suyu mengambilkan mereka kedalam mangkok masing-masing, makanan ada banyak, bisa di sisa untuk makan siang. Melihat itu, Aruna hanya diam, diam paham dengan kondisi mereka saat ini.
Semua makan sambil berkaca-kaca, mereka tidak menyangka jika ada hari di mana mereka bisa makan enak. Tapi tidak dengan Paman Ji suasana hatinya sedikit berbeda dia memikirkan warganya di luar sana.
Meski masih ingin tambah, mereka hanya bisa menahan diri. Aruna juga sama, tapi melihat mereka semua sudah tidak makan lagi, dia harus menahannya. Dia berharap ada cemilan di ruangnya bisa diambil.
"Nak Aruna terima kasih."
"Kak Aruna terima kasih"
Semuanya berucap serempak mengucapkan rasa syukur mereka. Di kondisi seperti ini, Aruna masih mementingkan orang lain, padahal dia bisa saja pergi begitu saja.
"Ya sama-sama, aku juga berterima kasih karena sudah menolongku dan mengizinkan aku untuk tidur di sini.
Paman ji segera berkata. "Nak aruna sudah sangat baik sama kita, jadi kalian semua harus tutup mulut. Jangan sampai orang lain tau, kalian semua mengertikan apa maksudku?"
"Ayah kami paham!"
"Kakek kami pahan!"
Paman Ji mengangguk lega, bisa repot urusannya jika ada yang tau, warganya pasti menganggapnya pemimpin yang tidak adil.
"Nak Aruna, kamu memanggil menantuku Bibi, jadi kamu seharusnya memanggilku Nenek,!" ujarnya dengan penuh senyum. "Kalau tidak salah tebak kamu seumuran dengan Ji Yong"
Paman Ji mendengus, bisa-bisanya dia kalah satu langkah oleh istrinya. Itu karena dia tidak cukup berani untuk meminta Aruna untuk memanggilnya Kakek.
"Eh iya juga yaa,, baiklah kalau Bibi tidak keberatan, mulai sekarang aku panggil Kakek dan Nenek" Ini hanya masalah panggilan status, tapi mereka sangat bahagia.
"Tentu tidak keberatan!" kata Nenek Suyu dengan cepat sambil menggenggam tangan Aruna yang duduk di sampingnya.
"Ji Yong sekarang umur berapa?" tanya Aruna Penasaran, dia sudah dewasa kenapa malah disamakan dengan Anak ABG.
"Bulan lalu Ji Yong sudah 17 tahun!" Bibi Ying yang menjawab.
"Ya, dia seharusnya sudah menikah. Tapi dengan kondisi sekarang, kami hanya bisa menundanya. Mau di kasih makan apa Istrinya nanti!" Paman Ji menimpali.
Aruna : "....."
'17 tahun seharusnya sudah menikah' kalimat itu seakan terus terdengar berulang dipendengarannya. Jadi bagaimana dengannya yang sudah berumurnya 22 tahun? Apakah dirinya akan dikatan perawan Tua.?
Aruna segera berpikir, apakah harus mengatakannya dengan jujur. Di Tahun 3000, umurnya yang baru 22 tahun sudah menjadi Dokter Militer itu sudah hal biasa, Perkembangan zaman yang terus maju, termasuk pendidikan. Sekolah Dasar hanya perlu 3 tahun, SMP 2 tahun dan SMA 1 tahun.
lanjut thorr💪💪💪