Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1-telat
Pagi telah tiba, disambut kicauan burung yang saling bersahutan. Hari ini Senin, waktu di mana hampir seluruh penduduk bumi mulai tenggelam dalam kesibukan. Sang surya perlahan muncul, menggantikan tugas rembulan yang telah berjaga sepanjang malam. Di sebuah perumahan elite, berdirilah sebuah rumah megah bergaya Eropa dengan balutan cat putih bersih.
Namun, kedamaian pagi itu sama sekali tidak tercermin di dalam salah satu kamar di lantai dua.
"MAMPUS!"
Suara lengkingan itu membelah keheningan. Aluna tersentak bangun, menendang selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Matanya melotot menatap jam weker berbentuk kepala kucing di atas nakas yang menunjukkan pukul 06.40.
Harusnya jam itu berbunyi sejak pukul 05.30. Namun, benda malang itu kini tergeletak bisu ternyata Aluna tidak sengaja menekan tombol off sambil tidur.
"Aduh, Aluna! Kenapa bisa mati sih?!" gerutunya sambil menyambar handuk.
Gadis itu berlari kocar-kacir ke kamar mandi. Hanya dalam waktu lima menit, ia sudah keluar dengan rambut basah yang belum sempat disisir. Ia menyambar seragam putih-abu-abunya yang masih tergantung di balik pintu, memakainya dengan terburu-buru hingga kancing paling atasnya salah lubang.
Tidak ada waktu untuk sarapan mewah. Tidak ada waktu untuk berdandan cantik. Pikirannya hanya satu hari ini adalah hari Senin, hari di mana gerbang sekolah akan dikunci tepat pukul 07.00 oleh malaikat maut SMA Garuda.
Aluna menyambar tasnya, berlari menuruni tangga sambil berusaha memakai sebelah sepatunya dengan cara melompat-lompat.
"Aluna! Sarapan dulu, Sayang!" teriak Mama dari arah dapur, suaranya bersaing dengan bunyi denting piring.
"Nggak sempat, Ma! Aluna sudah telat pakai banget!" balas Aluna tanpa menghentikan langkahnya. Ia menyambar kunci motor di atas meja ruang tamu, hampir saja menabrak vas bunga mahal koleksi Mamanya.
"Tapi itu ada nasi go.."
"Dah, Mama! Doain Aluna selamat dari terkaman ketos garang itu!" Aluna berteriak sambil menutup pintu depan dengan dentuman keras.
Ia segera menaiki motor matic-nya. Mesin menderu, dan tanpa membuang waktu, Aluna memacu kendaraannya membelah jalanan perumahan yang masih nampak tenang. Di kepalanya, bayangan wajah Arlan yang datar dan dingin sudah menghantui. Cowok itu bukan cuma Ketua OSIS, dia adalah musuh bebuyutan Aluna sejak kelas sepuluh.
Jalanan menuju SMA Garuda terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Lampu merah yang ia temui seolah bekerja sama dengan takdir untuk menghambat perjalanannya. Aluna terus memutar tuas gas motornya, selap-selip di antara deretan kendaraan yang memadati aspal pagi ini.
"Ayo dong, jangan sekarang merahnya!" gerutu Aluna sambil melirik jam di pergelangan tangan.
06.57.
Tiga menit lagi. Jantung Aluna berdegup dua kali lebih kencang. Ia tahu betul peraturan di sekolahnya. Begitu jarum panjang menyentuh angka dua belas, gerbang besi setinggi dua meter itu akan tertutup rapat tanpa ampun.
Begitu bangunan SMA Garuda mulai terlihat, Aluna menarik napas lega. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Di depan gerbang sana, seorang cowok dengan almamater biru tua yang sangat rapi sedang berdiri tegak. Ia memegang papan jalan dan sebuah pulpen, tampak sedang memperhatikan jam tangannya dengan saksama.
Arlan.Si kaku yang tidak punya kamus toleransi dalam hidupnya.
Tepat saat motor Aluna hanya berjarak sepuluh meter dari gerbang, Arlan memberikan kode kepada satpam untuk menarik pagar besi tersebut.
Sret! Brak!
Gerbang itu terkunci sempurna.
Aluna melakukan pengereman mendadak hingga ban motornya mencit keras di aspal. Ia berhenti tepat di depan gerbang yang sudah tertutup rapat. Di balik jeruji besi itu, Arlan berdiri dengan wajah sedatar tembok, menatap Aluna tanpa ekspresi.
Arlan mengangkat tangannya, menunjukkan jam tangannya ke arah Aluna.
"Kak Arlan! Buka nggak?! Sumpah ya, cuma satu menit! Tadi lampu merahnya lama banget!" teriak Aluna sambil memukul-mukul pagar.
Arlan tidak bergeming. Ia justru menunduk dan mulai menulis di atas kertas yang ia bawa.
"Kak Arlan! Lo denger nggak sih? Buka gerbangnya! Gue bisa dihukum Bu Lastri kalau telat ikut upacara!" Aluna masih berusaha mengguncang-guncang pagar besi itu, wajahnya sudah memerah karena emosi dan keringat yang mulai membanjiri pelipis.
Arlan berhenti menulis, lalu menatap Aluna dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melangkah perlahan mendekati pagar, hingga jarak wajah mereka hanya terhalang jeruji besi. Bau parfum maskulin khas Arlan yang segar seketika menabrak indra penciuman Aluna, kontras dengan bau aspal dan keringat yang ia rasakan.
"Suara lo kegedean, Aluna. Malu dilihatin orang lewat," ucap Arlan pelan, namun terdengar sangat tegas.
"Bodo amat! Buka nggak?!" Aluna tidak mau kalah, matanya melotot menantang.
Bukannya membukakan pintu, Arlan justru menunjuk ke arah seragam Aluna. "Kancing lo salah lubang, rambut lo berantakan kayak habis kena badai, dan lo minta gue kasih dispensasi? Sekolah punya standar, dan lo baru saja merusak standar itu di depan mata gue."
Aluna refleks menunduk melihat kancingnya. "Mampus..." bisiknya saat menyadari kancing bagian dadanya memang miring dan sangat tidak beraturan. Dengan panik, ia berusaha membetulkannya, namun jemarinya yang gemetar karena emosi malah membuat kancing itu semakin sulit dilepaskan.
Aluna mendongak, matanya berkaca-kaca karena kombinasi antara malu, kesal, dan panik. "Ini gara-gara lo ya! Kalau lo nggak nutup gerbangnya pas gue udah di depan mata, gue nggak bakal seburu-buru ini!"
Arlan menghela napas panjang, seolah menghadapi anak kecil yang sedang tantrum. Ia melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada guru atau siswa lain yang memperhatikan posisi mereka yang sangat dekat di balik gerbang. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Arlan menyelipkan tangannya melalui sela jeruji pagar.
"Diem," titah Arlan singkat ekspresi mukanya datar.
Aluna mematung. Jantungnya berdegup kencang bukan karena lari tadi, tapi karena tangan panjang Arlan kini berada tepat di depan dadanya. Jari-jari cowok itu bergerak lihai, melepas kancing yang salah lubang tadi lalu mengaitkannya kembali dengan benar. Aroma parfum Arlan kini semakin menusuk indra penciumannya, membuat Aluna lupa caranya bernapas untuk beberapa detik.
Setelah kancing terakhir terpasang sempurna, Arlan menarik tangannya kembali. Ia berdehem pelan, seolah-olah baru saja melakukan tugas rutin mencatat nama siswa bolos, bukan merapikan seragam seorang gadis di balik jeruji besi.
"Nah, sekarang lo nggak kelihatan kayak orang baru bangun tidur," ucap Arlan datar, meski ada kilat aneh di matanya.
Aluna masih mematung, pipinya memanas hebat. Ia merasa seluruh tubuhnya mendadak kaku. "L-lo... nggak usah pegang-pegang juga bisa kan?!" protesnya dengan suara yang pecah, berusaha menutupi rasa gugup yang luar biasa.
"Bukannya berterima kasih, malah protes," balas Arlan dingin. Ia kembali mengangkat papan jalannya dengan rapi. "Pak Kumis, buka gerbangnya. Suruh dia parkir di belakang, lalu lapor ke saya di pinggir lapangan setelah motornya dirapiin."
Gerbang besi itu berderit terbuka. Aluna segera menuntun motornya masuk dengan wajah tertunduk, tak berani menatap mata Arlan yang masih terus mengawasinya seperti elang.
Upacara bendera berlangsung di bawah terik matahari yang mulai menyengat. Aluna berdiri di barisan paling belakang, bergabung dengan barisan keramat para pelanggar aturan. Di depannya, Arlan berdiri tegak di barisan pengurus OSIS, terlihat sangat berwibawa dan tak tersentuh.
Begitu upacara selesai dan barisan dibubarkan, Arlan berjalan menghampiri Aluna yang sedang mengelap keringat. Teman-teman Aluna yang lewat hanya bisa menatap kasihan, tahu kalau Aluna pasti akan dihabisi oleh sang Ketua OSIS.
"Ikut gue sekarang," perintah Arlan singkat.
"Mau ke mana? Kan gue harus masuk kelas!"