Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Keraguan yang Mematikan
Bab 12: Keraguan yang Mematikan
Keheningan di pemakaman itu begitu menyesakkan hingga suara napas Reihan terdengar seperti geraman serigala yang terluka. Ia berdiri kaku, matanya beralih antara Arini yang memegang kotak besi dan wanita yang mengaku sebagai ibunya.
"Ibu?" Reihan mengulanginya, suaranya kini dipenuhi dengan nada sinis yang tajam. "Ibuku meninggal di rumah sakit jiwa sebulan setelah ayahku gantung diri. Aku sendiri yang menaburkan bunga di liang lahatnya. Aku melihat jenazahnya!"
Eleanor melangkah maju, tangannya yang gemetar terulur ingin menyentuh pipi Reihan. "Reihan, itu adalah sandiwara. Ayahmu... pria yang kau panggil mertua itu, dia menyuap dokter dan petugas pemakaman. Jenazah yang kau lihat adalah orang lain yang wajahnya sudah hancur akibat kecelakaan. Aku dibius dan dibawa pergi karena aku tahu terlalu banyak tentang pengalihan saham ilegal itu."
Reihan mundur selangkah, menepis tangan Eleanor dengan kasar. "Jangan berani-berani kau menyentuhku dengan kebohongan ini! Arini, kau sungguh licik. Kau membawa wanita tua ini untuk memanipulasi memoriku? Setelah kau tidur dengan Bima, sekarang kau mencoba menggunakan hantu masa laluku?"
Arini berdiri, membersihkan tanah dari gaunnya. "Reihan, lihat matanya! Lihat bagaimana dia memandangmu! Apakah seorang penipu bisa memiliki tatapan seperti itu?"
"CUKUP!" suara Surya menggelegar dari kegelapan, diikuti oleh bunyi klik dari senapan yang ia kokang. Ia melangkah masuk ke lingkaran cahaya bulan, wajahnya tampak seperti topeng kematian. "Adegan drama ini sudah terlalu lama. Reihan, kau memang cerdas, tapi kau selalu lemah jika menyangkut keluargamu. Itulah kenapa aku harus membunuh orang tuamu dulu—agar aku bisa membentukmu menjadi anjing pelacak yang patuh."
Reihan menoleh ke arah Surya, matanya bergetar. "Pa... apa maksudnya ini?"
Surya tertawa, suara tawa yang kering dan mengerikan. "Kau pikir kenapa aku begitu mudah memberimu modal? Kenapa aku membiarkanmu menikahi Arini? Karena kau adalah investasi terbaikku. Tapi sekarang, anjing pelacakku mulai menggonggong pada tuannya sendiri."
Surya menatap Eleanor dengan kebencian murni. "Kau seharusnya tetap mati, Eleanor. Hidup selama 20 tahun di lubang persembunyian ini seharusnya cukup untukmu. Sekarang, kau malah menyeret putrimu dan Reihan ke liang lahat yang sebenarnya."
"Ayah, hentikan!" Arini berteriak, mencoba berdiri di depan Eleanor. "Kau sudah memiliki segalanya! Kenapa kau harus menghancurkan nyawa orang-orang terdekatmu?"
"Karena uang tidak pernah mengenal saudara atau anak, Arini!" Surya membentak. "Uang hanya mengenal pemiliknya. Dan pemilik Dirgantara tidak boleh memiliki noda sejarah."
Tiba-tiba, Reihan bergerak. Namun, gerakannya bukan untuk melindungi Arini atau Eleanor. Ia justru merampas kotak besi dari tangan Arini dengan kasar.
"Berikan padaku!" desis Reihan. Ia membuka kotak itu dengan liar, mencari dokumen yang dimaksud. Matanya membaca dengan cepat lembaran kertas tua itu di bawah cahaya bulan. Tangannya gemetar hebat.
"Ini... ini tanda tangan ayahku. Dan ini... pengesahan dari notaris yang menghilang 20 tahun lalu," bisik Reihan. Wajahnya berubah dari kemarahan menjadi keraguan yang menyiksa. Ia menatap Eleanor lagi, lalu menatap Surya. "Kalau wanita ini benar-benar ibuku... maka selama ini aku telah mencium tangan pembunuh orang tuaku setiap hari."
"Reihan, serahkan dokumen itu padaku," perintah Surya dengan nada dingin. Moncong senapannya kini terarah tepat ke jantung Reihan. "Jangan buat aku menghapus investasi terbesarku malam ini."
Arini melihat kesempatan itu. Di tengah keraguan Reihan yang sedang hancur dunianya, ia menyadari bahwa Reihan belum sepenuhnya percaya pada Eleanor. Namun, gairah balas dendam di mata Reihan kini bercampur dengan duka yang mendalam.
"Reihan, jika kau menyerahkan itu, dia akan membunuh kita semua!" teriak Arini.
Tiba-tiba, terdengar suara sirine dari kejauhan. Bima tidak benar-benar tertangkap, atau setidaknya, dia punya rencana cadangan. Cahaya lampu polisi mulai menyisir lereng gunung.
"Bajingan!" umpat Surya. Ia tidak ragu lagi. Ia menarik pelatuknya.
DOR!
Suara tembakan itu memecah sunyinya malam. Tubuh seseorang tersungkur di atas tanah pemakaman yang basah. Arini berteriak histeris. Darah mulai mengalir, membasahi nisan kosong yang baru saja digali.
Namun, yang tumbang bukan Reihan. Eleanor telah melompat ke depan putranya, menerima peluru yang seharusnya menembus jantung Reihan.
"Ibu...?" suara Reihan terdengar seperti bisikan maut. Ia menangkap tubuh wanita itu sebelum menyentuh tanah.
Dalam sisa napasnya, Eleanor menyentuh bekas luka di bahu Reihan—luka yang didapat Reihan saat mencoba menyelamatkan ibunya dari kebakaran rumah mereka dulu. "Luka ini... aku yang mengobatinya, Sayang. Jangan... jangan lupakan siapa dirimu yang sebenarnya."
Tangan Eleanor terkulai lemas. Mata Reihan yang tadinya penuh keraguan kini berubah menjadi merah padam. Kegilaan dan dendam meledak secara bersamaan. Ia menoleh ke arah Surya dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun.
"Kau..." suara Reihan rendah, hampir seperti geraman monster. "Kau telah membunuhnya dua kali."
Reihan berdiri, mengabaikan senapan Surya yang masih berasap. Ia melangkah maju dengan dokumen di tangannya, siap melakukan sesuatu yang jauh lebih kejam daripada sekadar menembak.