"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: RAHASIA DI BALIK PESAN SINGKAT
Adrian masih sibuk di ruang kerjanya saat Arunika masuk ke kamar. Ia segera mengunci pintu kamar mandi dan menyalakan keran air dengan kencang. Suara gemericik air itu menjadi pelindungnya dari mikrofon penyadap yang dipasang Adrian di plafon.
Arunika mengeluarkan sobekan kertas kecil dari saku jubah mandinya. Dengan tangan gemetar, ia menulis pesan singkat untuk Rendra:
“Rendra, aku dalam bahaya. Cari tahu tentang Loker 402 di Stasiun Pusat. Aku akan mencoba keluar saat acara amal minggu depan. Jangan hubungi aku langsung, lewat Bi Marta saja.”
Ia melipat kertas itu sekecil mungkin. Ini adalah taruhan nyawanya. Jika Adrian tahu, habislah dia.
Beberapa menit kemudian, Arunika turun ke dapur dengan alasan haus. Suasana mansion sangat sepi. Ia melihat Bi Marta sedang membersihkan meja makan. Arunika berjalan mendekat, matanya melirik ke arah kamera CCTV di sudut ruangan.
"Bi, tolong ambilkan saya susu hangat," ucap Arunika dengan suara normal.
Saat Bi Marta mendekat untuk mengambil gelas, Arunika dengan cepat menyelipkan kertas kecil itu ke tangan Bi Marta. Wanita tua itu terkejut, tapi dia segera menyembunyikannya di balik telapak tangannya.
"Baik, Nyonya," jawab Bi Marta pendek. Suaranya terdengar takut.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Itu Adrian. Dia berjalan dengan santai, tapi tatapannya selalu tajam seperti sedang menginterogasi.
"Belum tidur, Sayang?" tanya Adrian. Ia berdiri sangat dekat dengan Arunika, tangannya melingkar di pinggang istrinya.
"Aku haus, Adrian. Baru saja minta Bi Marta buatkan susu," jawab Arunika berusaha tenang. Jantungnya berdegup kencang, takut Bi Marta melakukan kesalahan.
Adrian menatap Bi Marta sebentar, lalu beralih ke arah tangan pelayan itu. "Apa itu yang kau pegang, Marta?"
Darah Arunika terasa berhenti mengalir. Bi Marta gemetar. Namun, dengan cerdik, Bi Marta mengangkat sebuah serbet kotor. "Ini serbet bekas tadi sore, Tuan. Saya lupa mencucinya."
Adrian hanya mengangguk kecil. Ia mengambil gelas susu dari tangan Bi Marta dan memberikannya pada Arunika. "Minum ini, lalu kembali ke kamar. Besok kau harus pergi dengan Sandra untuk mencoba gaun baru."
Arunika menurut. Ia berjalan kembali ke kamar bersama Adrian, merasa seolah ada tali yang mengikat lehernya setiap kali pria itu menyentuhnya.
Pukul dua pagi, Adrian sudah tertidur pulas. Arunika yang sejak tadi berpura-pura tidur, perlahan membuka matanya. Ia melirik ponsel Adrian yang tergeletak di meja nakas.
Biasanya, Adrian tidak pernah membiarkan ponselnya tanpa pengawasan. Tapi malam ini, pria itu tampak sangat lelah setelah rapat panjang. Arunika melihat lampu notifikasi di ponsel itu berkedip.
Dengan gerakan sangat pelan, ia meraih ponsel itu. Beruntung, Adrian tidak menggunakan kunci sidik jari, melainkan kode angka. Arunika pernah mengintip kode itu tempo hari: 0000. Angka yang dingin, sama seperti pemiliknya.
Satu pesan masuk dari nomor tanpa nama:
"Daging hari Selasa sudah siap di Gudang Sektor 7. Pembersihan dimulai pukul 09.00."
Arunika membeku. Besok adalah hari Selasa. Pesan itu memperkuat peringatan Elena di kertas yang ia temukan: "Jangan makan daging di hari Selasa."
Apa yang sebenarnya dilakukan Adrian di gudang itu? Apakah "daging" itu benar-benar makanan, atau sesuatu yang jauh lebih mengerikan? Mengingat koleksi-koleksi Adrian yang hilang, pikiran Arunika mulai membayangkan hal-hal buruk.
Ia segera meletakkan kembali ponsel itu saat Adrian bergerak sedikit. Arunika memejamkan mata, mengatur napasnya agar terlihat seperti orang yang sedang tidur nyenyak.
Pagi harinya, suasana meja makan terasa berbeda. Adrian duduk dengan tenang sambil memotong steak daging yang tampak sangat rare atau setengah matang. Cairan merah dari daging itu membanjiri piringnya.
"Makanlah, Arunika. Kau butuh tenaga untuk hari ini," ucap Adrian sambil menyodorkan sepotong daging ke depan mulut istrinya.
Arunika menatap daging itu dengan mual. Ia teringat pesan semalam. "Aku... aku sedang ingin makan sereal saja, Adrian. Perutku agak tidak enak."
Wajah Adrian berubah datar. Ia meletakkan pisaunya dengan bunyi denting yang keras. "Kau menolak makananku lagi?"
"Bukan begitu, aku hanya—"
"Makan," potong Adrian dengan suara rendah yang mengancam. "Atau aku akan memanggil dokter untuk menyuapimu lewat selang di kamarmu."
Arunika tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, ia membuka mulut dan mengunyah daging itu. Rasanya aneh, terlalu manis dan amis. Ia ingin muntah saat itu juga, tapi ia harus bertahan. Ia harus tetap hidup sampai bisa mencapai Loker 402.
Selesai sarapan, Sandra sudah menunggu di depan pintu dengan mobil mewah.
"Siap untuk belanja, Nyonya?" tanya Sandra dengan senyum sinisnya.
Arunika mengangguk. Saat ia berjalan menuju mobil, ia melihat Bi Marta memberikan kode jempol kecil dari balik jendela dapur. Artinya, pesan untuk Rendra sudah terkirim.
Sekarang, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai. Arunika harus bisa mengelabui Sandra untuk bisa kabur sebentar ke Stasiun Pusat.
Di dalam mobil, Sandra tiba-tiba bertanya, "Kau tahu kenapa Adrian selalu mengirim istrinya ke butik yang sama? Karena butik itu tidak punya pintu belakang. Kau terjebak, Arunika."