Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 : Ritme Lembah Tersembunyi.
Dua minggu berlalu, dan lembah tersembunyi mulai menemukan ritmenya sendiri.
Pagi-pagi, udara masih tipis dan dingin, tetapi menyegarkan, membawa aroma tanah lembap dan bunga-bunga liar.
Yu Yan duduk bersila di kebun, matanya setengah terpejam, tangan terulur menyentuh batang dan daun.
Aku bisa melihat Qi tanaman bergerak di antara jari-jarinya, berkelok pelan seperti sungai perak. Simpul gelap yang selalu mengikuti langkahnya belum benar-benar hilang, tapi tubuhnya sekarang jauh lebih tenang, seolah gelap itu hanya bisa menatapnya tanpa berani menyentuh.
Sesekali, cahaya perak yang tersembunyi muncul dari dalam dirinya, berpendar sebentar seperti cahaya bulan di permukaan air yang tenang, sebelum lenyap lagi.
Di sisi lain, Lin Jie duduk di lantai teras, gulungan-gulungan kuno terbentang di sekelilingnya. Tangannya gesit menandai simbol, membolak-balik halaman dengan hati-hati.
Sesekali, ia berhenti, menatap gulungan itu dalam-dalam, seperti mencoba mendengar bisikan masa lalu.
Sambil mempelajari warisan leluhur, dia juga mulai mengajari Yu Yan gerakan dasar bela diri.
Tidak ada teriakan atau bentakan, hanya instruksi lembut dan demonstrasi, langkah demi langkah.
Yu Yan belajar untuk menggerakkan tubuhnya, merasakan Qi sendiri, bukan untuk menyerang, tapi untuk melindungi diri.
Ibu lebih sering mengawasi aku. Setiap tiga hari, ia membawaku ke mata air kehidupan.
Airnya jernih dan sejuk, membelai kulit seperti sutra cair. Saat aku terendam, biji cahaya dalam diriku bergetar lembut, menyesuaikan ritme dengan air, semakin stabil, semakin terkendali.
Ibu berbicara perlahan, seolah menenangkanku dari jauh, sementara tangan hangatnya menyentuh kepalaku sesaat, hanya cukup untuk membuatku merasa aman.
Dan aku belajar.
Aku belajar tentang Qi dan energi, tentang dasar-dasar kultivasi.
Tapi lebih dari itu, aku belajar tentang keluarga. Tentang ikatan yang tidak ditentukan oleh darah, tapi oleh pilihan, orang-orang yang memilih untuk tetap ada, untuk melindungi, untuk peduli.
Sore itu, matahari terbenam perlahan di balik pegunungan, menyiram lembah dengan cahaya keemasan yang hangat.
Kami semua duduk di depan rumah kayu, masing-masing sibuk dengan urusannya.
Lin Jie memperbaiki pagar dengan gerakan mantap, tangannya kasar oleh kayu, tapi matanya tenang.
Ibu menjahit, jarum menembus kain dengan ritme yang nyaman, sesekali tersenyum padaku saat aku mengoceh tanpa suara.
Yu Yan memetik sayuran dari kebun, tangannya kecil tapi cekatan, matanya berkilau saat melihat daun-daun segar yang ia pilih sendiri.
Aku berbaring di selimut, tubuh mungilku ditopang oleh hangatnya tanah dan sinar matahari.
Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga dan tanah basah, menyapu rambut kami dan menyejukkan kulit.
Dalam keheningan itu, aku merasakan sesuatu yang langka, rasa rumah, rasa aman, rasa dimiliki.
Mungkin dunia kultivasi penuh bahaya, penuh intrik dan konspirasi. Mungkin ada banyak mata yang mengincarku, banyak tangan yang siap menyerang. Mungkin masa depan akan keras dan penuh tantangan.
Tapi sekarang, di lembah tersembunyi ini, dengan keluarga yang telah berkumpul, ibu, Yu Yan yang seperti kakak, dan Lin Jie, aku bahagia.
Saat Yu Yan menoleh padaku dan tersenyum, matanya bersinar seperti cahaya perak kecil, aku membalas dengan senyuman bayi terlebar yang bisa kuberikan. Dalam momen itu, dunia terasa sederhana. Hanya kami, hanya kehangatan yang nyata.
Apapun yang datang, kami akan menghadapinya bersama.
Karena keluarga bukan hanya soal darah. Keluarga adalah mereka yang memilih untuk melindungimu, yang memilih untuk tetap berada di sisimu.
Di lembah kecil ini, terlindungi oleh formasi kuno dan warisan naga, keluarga kecil kami tumbuh. Kuat, hangat, dan siap menghadapi dunia, apapun yang akan datang.
Ya, mungkin mulai sekarang aku harus menyebut Yu Yan sebagai kakak dan Lin Jie bibi karena dia kakak dari ibuku di dunia ini.
Terutama kakak Yu Yan.
Mungkin dia merindukan orang tuanya di desa Qingyun.