NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 06: Anjing Penjaga

Reggiano memarkir mobilnya beberapa meter dari gedung apartemen. Matanya yang tajam segera menangkap anomali dua unit sedan hitam terparkir di area terlarang, dan beberapa pria berjas gelap berdiri dengan sikap kaku di lobi.

​Mereka bukan polisi.

Mereka adalah "Anjing Penjaga" Organisasi.

​Reggiano memperbaiki letak kacamata peraknya. Rasa lelah dan pergolakan batin yang ia rasakan setelah meninggalkan toko Seraphine segera ia tekan dalam-dalam. Ia kembali menjadi sang Eksekutor kejam, dingin, dan tak tersentuh.

​Saat ia melangkah masuk ke lobi, percakapan para agen terhenti. Mereka secara refleks menegakkan tubuh, ada kilat ketakutan di mata mereka. Bagi mereka, Reggiano Herbert bukan sekadar rekan kerja; dia adalah sosok yang bisa mengakhiri hidup mereka tanpa mengedipkan mata jika perintah itu turun.

​Reggiano menaiki lift menuju lantai dua belas. Begitu pintu lift terbuka, ia mendapati koridor menuju unitnya sudah dijaga oleh dua agen senior.

​"Tuan Herbert," sapa salah satu dari mereka dengan nada bicara yang sangat hati-hati, seolah-olah salah satu kata saja bisa memicu ledakan.

"Tuan Vauclain ingin bertemu. Beliau ada di dalam."

​Reggiano tidak menjawab. Ia berjalan melewati mereka begitu saja, aura dominasinya membuat para penjaga itu sedikit menyamping untuk memberi jalan. Ia membuka pintu apartemennya sendiri dengan kunci cadangan.

​Di dalam ruang tamu, Vauclain sedang berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan kota. Ia adalah pria yang mengurus logistik dan hukum internal Organisasi. Begitu Reggiano masuk, Vauclain berbalik.

​"Reggiano. Kau terlambat melapor," ucap Vauclain. Ia tidak duduk, tanda bahwa situasi ini sangat serius.

​"Ada urusan pribadi yang harus ku selesaikan," jawab Reggiano datar. Ia meletakkan topinya di meja, matanya langsung melirik ke arah kamar Elena yang tertutup.

​Vauclain menangkap lirikan itu. "Adikmu aman. Kami tidak menyentuhnya. Namun, Marcus sedang di rumah sakit dalam keadaan kritis, dan seluruh lantai interogasi disegel karena... fenomena biologis yang tidak masuk akal. Laporan menyebutkan kau ada di sana saat itu terjadi."

​Vauclain melangkah maju, menatap Reggiano dengan intens. "Satu-satunya hal yang menghubungkan mu dengan insiden itu adalah toko bunga di sisi timur. Katakan padaku, apa kau menggunakan senjata kimia baru? Atau kau sedang menyembunyikan sesuatu dari kami?"

​Reggiano menatap Vauclain tanpa ekspresi. "Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan soal fenomena biologis. Tugasku adalah mengeksekusi target, bukan menjadi ahli botani. Jika Marcus tidak bisa mengendalikan sistem keamanan gedungnya sendiri, itu masalah kompetensi dia, bukan urusanku."

​Vauclain menyipitkan mata. "Dan soal kunjunganmu yang berulang kali ke toko itu?"

​"Adikku butuh bunga untuk kesehatannya. Jika Organisasi ingin melarang ku membeli bunga, tuliskan dalam kontrak resmi," sahut Reggiano dingin.

​Ada keheningan panjang yang mencekam. Vauclain mencoba mencari celah kebohongan di wajah Reggiano, namun ia hanya menemukan dinding es. Ia tahu, menekan Reggiano lebih jauh tanpa bukti nyata adalah tindakan bunuh diri. Reggiano terlalu berharga, dan terlalu berbahaya untuk diprovokasi secara serampangan.

​Vauclain akhirnya menghela napas, merapikan kerah jasnya. "Baiklah. Tapi ingat, Herbert. Organisasi tidak suka variabel yang tidak bisa dijelaskan. Kami akan membersihkan lantai itu besok pagi. Pastikan kau tidak terlibat dalam kekacauan berikutnya."

​Vauclain memberi isyarat kepada anak buahnya untuk keluar. Mereka bergerak dengan cepat, seolah-olah tidak sabar ingin segera menjauh dari Reggiano.

​"Dan Herbert," Vauclain berhenti di ambang pintu.

"Jangan biarkan emosimu terhadap adikmu membuatmu buta. Itu bisa menjadi kelemahan terbesarmu."

​Reggiano tidak menyahut. Ia hanya menatap pintu hingga benar-benar tertutup dan suara langkah kaki mereka menjauh di koridor.

​Begitu ia yakin mereka benar-benar pergi, Reggiano mengunci pintu rapat-rapat. Ia bersandar di pintu, memejamkan mata sejenak. Napasnya yang tadi tertahan kini keluar dengan berat.

​Ia segera berjalan ke kamar Elena. Adiknya masih tertidur lelap, wajahnya tampak damai. Namun, saat Reggiano melihat ke arah vas bunga mawar di samping tempat tidur, ia menyadari sesuatu.

​Mawar-mawar itu tidak lagi berwarna putih bersih. Kelopaknya kini memiliki gurat-gurat merah halus yang menyerupai pembuluh darah, dan aromanya... aroma itu seolah-olah sedang "membersihkan" sisa-sisa bau kehadiran para agen Organisasi dari udara kamar itu.

​Reggiano terduduk di kursi di samping Elena. Ia menatap tangannya yang tadi sempat gemetar. Penjelasan singkat yang ia berikan pada Vauclain hanyalah kebohongan untuk mengulur waktu. Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya yang selama ini teratur sebagai Eksekutor telah hancur.

​Dua dunia yang ia coba pisahkan, dunia yang berlumuran darah dan dunia penuh bunga berwarna-warni kini telah bertabrakan secara paksa, dan dia berada tepat di tengah-tengah kehancurannya.

Reggiano tidak bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Gable yang pucat pasi terus berputar di kepalanya. Di dunia yang penuh intrik ini, kebetulan adalah sesuatu yang sangat mahal. Jika Gable, seorang pria yang hidupnya ia hancurkan empat tahun lalu tiba-tiba muncul di toko yang sama dengan tempat ia mencari perlindungan emosional, maka ada seseorang yang sedang menarik benang di balik layar.

​Siapa yang menggiring Gable ke sana?

​Reggiano bangkit dari kursi di samping tempat tidur Elena. Ia memastikan adiknya aman, lalu meraih mantel hitamnya. Ia tidak menggunakan jalur data digital Organisasi yang bisa dilacak. Ia keluar, menghidupkan mesin mobilnya, dan melesat menuju Sektor Utara—kawasan industri terbengkalai tempat para "sisa-sisa" operasi Organisasi biasanya terbuang.

​Sektor Utara, Pukul 02.30 Dini Hari

​Reggiano menyusuri gang-gang sempit yang berbau logam dan kemiskinan. Ia menemukan alamat yang ia cari: sebuah bar kumuh di lantai bawah tanah yang menjadi tempat berkumpulnya para buruh kasar dan informan jalanan.

​Di sudut bar yang remang, ia menemukan Gable sedang menenggak cairan bening dari gelas yang retak. Pria tua itu tampak jauh lebih hancur daripada saat di toko tadi pagi. Begitu melihat siluet Reggiano mendekat, Gable tersedak, gelasnya terlepas dan pecah di lantai.

​Gable tidak lari. Ia tidak punya kekuatan lagi. Ia hanya gemetar hebat, menyandarkan punggungnya ke dinding kayu yang lapuk.

​"Kau..." bisik Gable, suaranya parau karena ketakutan.

"Apa... apa kematian masih belum cukup bagimu? Kau sudah mengambil putraku. Sekarang kau datang untuk nyawaku yang tidak berharga ini?"

​Reggiano menarik kursi dan duduk di depan pria tua itu. Ia tidak mengeluarkan senjata, tapi kehadirannya sudah cukup untuk mengintimidasi seluruh ruangan.

"Aku tidak ke sini untuk membunuhmu, Gable. Aku ingin tahu satu hal."

​Gable menelan ludah dengan susah payah.

​"Siapa yang memberitahumu bahwa kau bisa menemukan ketenangan di Flower’s Patisserie?" tanya Reggiano, matanya menembus kegelapan, mengunci mata Gable.

"Siapa yang memberimu pot tanaman itu dan menyuruhmu datang ke sana hari ini?"

​Gable terdiam sejenak, bibirnya bergetar.

"Aku... aku tidak tahu namanya. Seorang pria... dia datang ke gubukku dua hari lalu. Dia memakai setelan abu-abu, mirip denganmu, tapi dia tidak memakai kacamata."

​Reggiano menyipitkan mata. Deskripsi itu cocok dengan salah satu agen unit intelijen internal Organisasi.

​"Dia bilang," lanjut Gable dengan suara serak, "bahwa pembunuh putraku sering menghabiskan waktu di toko itu. Dia bilang, jika aku ingin melihat wajahmu lagi, untuk mengutuk mu sebelum aku mati, aku harus membawa tanaman layu sebagai alasan untuk masuk. Dia memberiku uang untuk membeli pot itu."

​Reggiano mengepalkan tangannya di bawah meja.

Sial. Ini adalah jebakan.

Seseorang di dalam Organisasi mungkin Vauclain atau faksi lain sengaja mempertemukan Gable dengan Reggiano di depan Seraphine. Tujuannya sederhana seperti menguji reaksi emosional Reggiano dan melihat sejauh mana "gadis pembuat kue" itu mempengaruhi prinsip sang Eksekutor.

​Mereka ingin membuktikan bahwa Reggiano telah menjadi lunak. Bahwa dia memiliki "titik lemah" yang kini bernama Seraphine Florence.

​"Pergilah dari kota ini, Gable," ucap Reggiano sambil meletakkan segepok uang di atas meja.

"Gunakan ini untuk menghilang. Jika kau tetap di sini, orang-orang yang mengirim mu akan memastikan kau tidak akan pernah bangun lagi."

​Tanpa menunggu jawaban, Reggiano bangkit. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Organisasi tidak hanya mencurigai Seraphine, mereka sedang menggunakan masa lalu Reggiano untuk menghancurkan wanita itu dari dalam.

​Gable hanyalah bidak kecil yang digunakan untuk memicu konflik moral di hati Reggiano.

​Reggiano melangkah keluar dari bar, angin dingin Sektor Utara menerpa wajahnya. Ia harus segera kembali ke toko itu. Ia harus memperingatkan Seraphine bahwa dia bukan lagi sekadar penjual bunga yang tidak sengaja terlibat, melainkan target utama dalam permainan kekuasaan Organisasi untuk menjatuhkan dirinya.

Setelah malam yang melelahkan di Sektor Utara, Reggiano memutuskan untuk kembali ke rutinitasnya. Ia tahu bahwa setiap pergerakan yang tidak biasa hanya akan mempercepat langkah Organisasi. Untuk melindungi Seraphine dan menjaga Elena ia harus tetap menjadi Reggiano Herbert yang biasa: pria kantor yang sopan, pelanggan setia yang datang setiap pukul lima sore, seolah-olah ketegangan di gedung pusat dan pertemuannya dengan Gable tidak pernah terjadi.

​Pukul 17.00 tepat. Langit oranye dan matahari terbenam memantul di kaca jendela Flower’s Patisserie.

​Reggiano melangkah masuk, lonceng pintu berdenting seperti biasa. Namun, atmosfer di dalam toko terasa berbeda bagi indranya yang tajam. Tidak ada lagi aroma melati yang kuat, melainkan bau kayu manis yang hangat, seolah Seraphine sedang berusaha menormalkan suasana.

​Seraphine sedang menata deretan toples madu di balik etalase. Begitu melihat Reggiano, gerakannya sempat terhenti sejenak hanya sepersekian detik sebelum ia memberikan senyum tipisnya yang khas.

​"Selamat sore, Tuan Herbert. Anda datang tepat waktu seperti jam dinding saya," sapanya. Suaranya tetap lembut, tapi ada nada yang lebih formal, sebuah jarak yang baru saja tercipta.

​"Selamat sore, Nona Florence," balas Reggiano. Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap ringan.

"Pekerjaan di kantor cukup menyita waktu hari ini. Saya butuh sesuatu yang manis untuk dibawa pulang."

​Reggiano memperhatikan tangan Seraphine saat wanita itu membungkus kue. Tidak ada lagi sentuhan tidak sengaja, tidak ada lagi bisikan tentang "aroma logam". Seraphine bersikap seolah-olah dia hanyalah seorang pelayan toko dan Reggiano adalah orang asing yang lewat.

​Kejadian dengan Gable kemarin jelas telah meninggalkan bekas. Seraphine mungkin belum tahu siapa Reggiano sebenarnya, tapi dia telah melihat sisi gelap yang dibawa pria itu, sisi yang membuat seorang pria tua gemetar ketakutan hanya dengan melihat bayangannya.

​"Ini pesanan Anda," ucap Seraphine sambil menyodorkan kotak kue. "Dan... titipan untuk Elena."

​Reggiano menerima kotak itu.

"Terima kasih. Oh ya, soal pria tua kemarin... Tuan Gable. Saya minta maaf atas keributan yang dia buat. Saya rasa dia memang salah mengenali orang."

​Seraphine menatap mata Reggiano melalui kacamata peraknya. Tatapannya jernih, namun sulit dibaca. "Orang-orang sering melihat apa yang ingin mereka lihat, Tuan Herbert. Ketakutan terkadang menciptakan wajah-wajah yang sebenarnya tidak ada."

​Reggiano sedikit lega mendengar jawaban itu. Ia berharap Seraphine memercayainya, atau setidaknya berpura-pura percaya agar mereka bisa mempertahankan sandiwara ini.

"Saya harap dia tidak datang lagi untuk mengganggu anda."

​"Dia tidak akan kembali," sahut Seraphine pendek, lalu ia kembali sibuk dengan mesin kopinya.

​Reggiano berdiri di sana selama beberapa detik, merasa seperti ada dinding kaca yang tebal di antara mereka. Ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih contohnya ingin memperingatkannya tentang pria berjas abu-abu yang mengirim Gable, tapi ia tahu itu akan membongkar identitasnya sendiri.

​Saat Reggiano hendak berbalik menuju pintu, matanya menangkap sesuatu di sudut toko. Di sebuah vas kecil yang biasanya kosong, kini ada setangkai bunga mawar putih yang kelopaknya tampak sedikit layu di bagian tepi, seolah-olah bunga itu sedang menyerap kesedihan di dalam ruangan.

​"Nona Florence," panggil Reggiano pelan.

​"Ya?"

​"Terima kasih... karena tetap membuka toko ini."

​Seraphine hanya mengangguk pelan tanpa menoleh.

​Reggiano keluar dari toko dengan perasaan yang lebih berat daripada saat ia masuk. Ia berhasil menyembunyikan identitasnya, ia berhasil menjaga rutinitasnya, tapi ia menyadari satu hal yang menyakitkan, ia mungkin telah kehilangan satu-satunya tempat di mana ia bisa merasa seperti manusia biasa.

​Ia masuk ke mobilnya, namun matanya tidak lepas dari spion, mengawasi sosok Seraphine dari kejauhan.

Di saat yang sama, di ujung jalan, sebuah mobil hitam yang ia kenali sebagai milik unit intelijen Organisasi tampak terparkir diam, mengawasi setiap gerakannya.

​Permainan ini baru saja dimulai, dan Reggiano harus memastikan topengnya tidak jatuh sebelum ia bisa membersihkan ancaman yang mengintai wanita itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!