Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma Instan
Mira Utami menatap punggung kecil keponakannya yang sedang lahap makan di bale-bale. Senyum Mira merekah, hangat sekali.
Kang Jaka, suaminya, langsung merangkul bahu Mira dengan gemas. "Ya kalau mau punya anak kayak Lastri, kita harus lebih rajin 'lembur' dong, Neng."
Pipi Mira langsung merah padam, semerah cabai rawit di cobek. "Ih, Akang! Masih siang bolong begini, mulutnya dijaga napah! Malu didenger tetangga."
Jaka tergelak, mengacak rambut istrinya. "Siapa yang mikir aneh-aneh? Maksudku, temani aku istirahat sebentar. Biar nanti kerjanya makin semangat."
Suasana rumah Abah Kosasih memang beda. Sederhana, berdinding anyaman bambu, tapi hangatnya minta ampun.
Jauh beda sama rumah gedongan Juragan Suryo yang dingin dan penuh intrik.
Di bale-bale, Lastri sedang asyik menikmati semangkuk rujak serut buatan Mira. Bibir mungilnya belepotan bumbu gula merah campur cabai.
"Hah... hah... pedes, tapi enak!" batin Lastri girang.
Selama tinggal di rumah ayahnya, lidahnya dipaksa akrab dengan makanan manis demi menuruti selera dua kakak sepupunya, Bagas dan Bagus.
Padahal aslinya, Lastri itu tim pedas garis keras. Di sini, di rumah kakek dari pihak ibunya, dia merasa seperti menemukan surga kuliner.
"Nduk, pelan-pelan makannya," tegur Kinar lembut sambil menyeka keringat di dahi putrinya.
Mira datang membawa kabar seru dari warung. "Kinar, Kang Jaka! Pintu air Bendungan Cimanuk dibuka sore ini! Warga desa sebelah udah siap-siap mau gogo ikan. Kita nonton yuk?"
Mata Jaka langsung berbinar. "Wah, pesta rakyat tuh! Gas-lah! Siapa tahu dapet ikan gratisan, atau beli murah di pinggir kali. Lumayan buat lauk seminggu."
Mendengar kata 'ikan', telinga Lastri langsung tegak. Dia melompat turun dari bale-bale, memeluk kaki ibunya dengan tatapan maut andalannya: mata bulat berkaca-kaca.
"Ibu... Lastri mau ikut! Mau liat ikan! Boleh ya? Ya? Ya?"
Kinar tampak ragu. "Aduh, Nduk... Di sana pasti rame, becek, desak-desakan. Badanmu kan baru sembuh..."
Melihat ibunya tidak bisa ditaklukkan, Lastri langsung putar haluan ke target yang lebih mudah. Dia berlari memeluk kaki Kang Jaka.
"Pakdhe Jaka ganteng... Ajak Lastri dong... Lastri janji nggak nakal. Lastri mau makan ikan goreng buatan Budhe Mira..."
Jaka langsung luluh. Siapa yang tega menolak makhluk se-imut ini?
"Beres! Pakdhe Jaka yang tanggung jawab!" Jaka langsung menggendong Lastri tinggi-tinggi. "Nanti Lastri duduk manis di dalem tenggok, keranjang bambu. Aman sentosa, anti badai!"
Kinar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kakak dan anaknya. "Ya sudah, tapi janji jangan jauh-jauh dari Pakdhe Jaka ya?"
"Siap, Bos!" seru Lastri sambil hormat.
Sungai Cimanuk sudah berubah jadi lautan manusia. Air sungai surut drastis, menyisakan kubangan-kubangan lumpur yang kaya ikan.
Tua, muda, anak-anak, semua tumpah ruah.
Lastri duduk nyaman di dalam keranjang bambu di punggung Jaka. Matanya berbinar melihat keramaian.
Tapi, tawa riangnya mendadak terhenti saat mendengar suara cempreng yang sangat familiar.
"Minggir! Minggir! Duh, kok banyak orang miskin sih hari ini? Bikin sesak napas aja."
Di tebing sungai, berdiri rombongan "Keluarga Sultan" desa sebelah. Siapa lagi kalau bukan mantan mertua Kinar, Bu Darmi, lengkap dengan Pak Wibowo dan dua cucu emas mereka, Bagas dan Bagus.
Kinar mematung. Wajahnya pucat. Dia sempat lupa kalau mertuanya itu memang berasal dari desa sebelah.
Trauma itu masih membekas perih.
Bu Darmi yang melihat Kinar, langsung meludah ke tanah. "Cuih! Pantesan hawanya panas, ada si pembawa sial di sini rupanya."
"Heh, Kinar! Ngapain kamu bawa anak penyakitan itu ke sini? Mau nularin apes ke orang sekampung?"
Mira yang emosian langsung menyingsingkan lengan baju, siap maju. "Heh, Nenek Lampir! Mulut tuh dijaga ya! Situ makan bangku sekolahan nggak sih? Kok ngomongnya nggak berpendidikan banget!"
"Mbak Mira, sudah..." Kinar menahan lengan kakak iparnya, matanya berkaca-kaca.
Tapi Lastri tidak tinggal diam. Dari dalam keranjang, dia menatap nenek jahat itu dengan sorot mata yang aneh, terlalu tajam, terlalu tua untuk bocah lima tahun.
Di dalam hati, Lastri merapal sumpah. Emosinya meluap.
Tanpa sadar, rumput liar di sekitar tempat berdirinya Bu Darmi mendadak layu dan menguning dalam hitungan detik, seolah energi kehidupannya disedot paksa.
"Kalian yang jahat, rasakan karma instan!" batin Lastri.
Bagas dan Bagus, dua bocah gempal yang giginya hitam karena kebanyakan permen, tiba-tiba menjerit.
"Aduh! Gigiku! Sakit, Nek! Kayak ditusuk paku!" Bagas meraung memegangi pipinya.
"Huaaa! Sakit!" Bagus ikut menangis guling-guling.
Lastri tersenyum tipis. Energi keberuntungannya sudah tidak lagi melindungi keluarga Wibowo. Tanpa perlindungan itu, penyakit akibat pola hidup buruk mereka akan langsung menyerang tanpa ampun.
Bu Darmi panik. "Eh, eh, cucuku kenapa? Cup cup sayang..."
Bagas menunjuk Lastri dengan jari telunjuknya yang gemuk. "Nek! Tadi si Lastri komat-kamit! Pasti dia nyumpahin kita! Pukul dia, Nek!"
Darah Bu Darmi mendidih. Dia melangkah maju hendak melabrak, tapi Jaka langsung pasang badan.
Badannya yang kekar membuat nyali Bu Darmi ciut sedikit.
"Berani nyentuh keponakan saya, urusannya panjang, Bu!" bentak Jaka.
"Awas kalian ya! Dasar keluarga gembel!" Bu Darmi menarik tangan cucu-cucunya dengan kasar, menyeret mereka menjauh ke arah hulu sungai yang lebih sepi.
"Ayo kita cari tempat yang lebih elit. Jangan deket-deket sampah."
Melihat punggung mereka menjauh, Lastri tersenyum miring. Belum selesai, Nek.
Jaka membawa keluarganya ke bawah pohon beringin yang rindang, agak jauh dari keramaian. "Di sini aja, adem. Nduk, kamu duduk di batu ini ya."
"Pakdhe sama Budhe mau pasang bubu."
Lastri duduk manis, tapi matanya terus mengawasi arah hulu. Di sana, Bagas dan Bagus sedang berdiri di pinggir sungai, tertawa-tawa sambil membuka celana, bersiap kencing sembarangan ke sungai.
Dasar nggak punya adab, semoga ada yang Sudi kasih mereka pelajaran. Rutuk Lastri dalam hati.
Tiba-tiba, semak-semak di belakang dua bocah nakal itu bergetar hebat.
"ULAR! ADA ULAR!"
Teriakan warga memecah suasana. Tiga ekor ular air meluncur turun, tepat mengarah ke kaki Bagas dan Bagus.
"WAAAAA! ULAAAAR!"
Dua bocah itu panik setengah mati. Celana belum sempat dinaikkan, mereka lari terbirit-birit menubruk Bu Darmi yang sedang bengong.
GUBRAK! BYUR!
Ketiganya jatuh berguling ke dalam sungai yang penuh lumpur.
"Tolong! Tolong! Kakiku ditarik setan air!" Bu Darmi menjerit histeris. Padahal airnya cuma setinggi paha, tapi karena panik, dia merasa sedang ditarik ke dasar samudera.
Konyolnya, dalam kepanikan itu, tangan Bu Darmi justru menekan kepala Bagas dan Bagus ke dalam air untuk dijadikan tumpuan berdiri.
"Mmphhh... glup... glup..." Dua bocah kesayangan itu megap-megap minum air lumpur.
Pak Wibowo yang melihat kejadian itu langsung pucat pasi. Dia dan beberapa warga nyebur untuk menyelamatkan mereka.
Saat diangkat ke darat, Bu Darmi dan cucu-cucunya sudah seperti tikus got kecemplung oli. Basah, kotor, dan bau amis lumpur.
"Setan... ada setan..." Bu Darmi menggigil ketakutan.
"Setan gundulmu!" bentak Pak Wibowo, mukanya merah padam menahan malu. "Air cetek begitu kok bisa tenggelam? Kamu malah nyaris nenggelemin cucu sendiri!"
"Pulang! Malu-maluin aja!"
Keluarga "Sultan" itu akhirnya pulang dengan menanggung malu seumur hidup, disoraki bocah-bocah kampung.
Di bawah pohon beringin, Jaka dan Mira tertawa sampai sakit perut. "Kapokmu kapan, Bu! Itu namanya karma dibayar cash!" seru Mira puas.
Lastri hanya tersenyum tipis, lalu kembali fokus menatap air sungai di depannya. Dia mencelupkan jari mungilnya ke air.
Sekarang giliran kita panen.
Energi hangat mengalir dari ujung jari Lastri, menyebar di air seperti tinta emas yang tak kasat mata.
Bagi ikan-ikan di Sungai Cimanuk, aura Lastri adalah magnet kehidupan yang tak tertahankan.
Kinar yang sedang melamun tiba-tiba terbelalak. "Mas Jaka... Liat itu..."
Mulut Jaka menganga lebar. Di depan mata kepala mereka sendiri, puluhan ikan, mujaer, lele, ikan mas, sedang berenang berbondong-bondong menyerbu bubu dan keranjang bambu mereka.
Ikan-ikan itu tidak panik, malah antre masuk dengan tertib seolah keranjang Jaka adalah hotel bintang lima.
"Busyet..." bisik Jaka merinding. "Ini ikan pada nyerahin diri apa gimana?"
Lastri tertawa renyah. "Pakdhe Jaka! Ikannya mau ikut pulang sama kita!"
Dalam sekejap, tiga keranjang besar yang mereka bawa sudah penuh sesak. Sampai-sampai Jaka harus melepas kaosnya untuk dijadikan wadah tambahan.
"Cukup, cukup! Kita pulang sekarang!" bisik Mira tegang tapi matanya berbinar-binar. "Jangan sampai orang lain liat. Bisa geger satu kecamatan kalau tau kita dapet segini banyak tanpa jaring."
Kinar menatap putrinya dengan takjub. Sejak Lastri ikut dirinya pulang ke kampung, nasib sial seolah takut mendekat.
Justru keberuntungan demi keberuntungan yang datang bertubi-tubi.
Lastri menatap ibunya dan tersenyum manis, senyum yang memancarkan aura 'Dewi Sri' yang sesungguhnya.
"Ibu, nanti masak ikan woku yang pedes ya?"
Kinar memeluk putrinya erat, matanya berkaca-kaca karena bahagia. "Iya, Sayang. Apapun buat Lastri. Apapun."