NovelToon NovelToon
Be The Antagonist'S Wife

Be The Antagonist'S Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Sistem / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: lailararista

Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.

"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir dan awal sebuah cerita

Sinar matahari pagi yang lembut menyusup melalui celah gorden, melukis garis-garis emas di lantai kamar tidur. Cassandra mengerjapkan matanya, merasakan berat yang di pinggangnya. Ia bergerak sedikit, dan rasa sakit sangat terasa dibawahnya.

Ia menoleh perlahan. Di sebelahnya, Georgio tertidur pulas, wajahnya yang keras terlihat lebih tenang dan lembut dalam tidurnya. Lengan kekarnya melingkari tubuh Cassandra, menariknya mendekat seolah takut kehilangan. Kemeja putih yang dikenakan Georgio semalam kini tergeletak acak di lantai, bersama kemeja tipis Cassandra.

Cassandra menatapnya, bibirnya membentuk senyum pahit yang cepat menghilang. Kata-kata Georgio semalam terngiang kembali di benaknya: "Aku tahu ini bukan cinta."

Kalau bukan cinta, lalu apa? Nafsu? Atau... Permainan? Cassandra menghela napas, berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Georgio tanpa membangunkannya.

Cassandra duduk di tepi ranjang, merasakan kain sutra menyentuh kulit telanjangnya. Rasa pegal di sekujur tubuhnya seolah berteriak. Ia menemukan gaun tidurnya yang tersingkir dan mengenakannya dengan buru-buru. Sebelum Georgio bangun, ia harus menenangkan diri.

Ia berjalan ke kamar mandi, dan air hangat di bawah shower sedikit meredakan ketegangan ototnya. Saat menatap pantulan dirinya di cermin, Cassandra melihat leher dan tulang selangkanya dihiasi tanda-tanda merah keunguan, jejak kepemilikan yang ditinggalkan Georgio. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena emosi.

Selesai mandi, Cassandra keluar dan mendapati Georgio sudah bangun. Ia sedang duduk di tepi ranjang, rambutnya acak-acakan, menatap kosong ke arah jendela, memancarkan aura serius.

"Sudah bangun?" tanya Cassandra, suaranya terdengar datar, berusaha menyembunyikan getaran gugup di dadanya.

Georgio menoleh, matanya yang tajam meneliti Cassandra dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya membuat Cassandra merasa telanjang kembali, bahkan di balik gaun tidurnya.

"Ya," jawabnya singkat. Ia berdiri, hanya mengenakan celana tidur yang longgar, memperlihatkan dada bidang dan perut six-pack nya yang terpahat. Ia berjalan mendekati Cassandra.

Cassandra refleks mundur satu langkah, tetapi Georgio lebih cepat. Ia meraih pergelangan tangan Cassandra, menghentikan gerakannya.

"Kenapa menghindar?" tanyanya, suaranya dalam dan sedikit serak.

Cassandra memberanikan diri menatapnya. "Aku tidak menghindar. Aku hanya... ingin turun, aku lapar."

Georgio tidak melepaskannya. Ia memajukan wajahnya, membuat jantung Cassandra berdebar tak karuan lagi.

"Kamu marah?" bisiknya, mata hitamnya menusuk mata Cassandra.

Cassandra menggigit bibir. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Marah? Kecewa? Kedua-duanya mungkin.

"Aku tidak mengerti, Georgio," kata Cassandra, berusaha melepaskan tangannya. "Sikap manis, perhatian, dan semua perubahanmu. Kamu bilang itu bukan cinta. Aku tidak mengerti permainanmu."

Georgio menghela napas, melepaskan pergelangan tangan Cassandra, tetapi kini ia menangkup wajahnya, memaksa Cassandra menatapnya.

"Aku tidak lagi bermain, Cassandra. Setidaknya, tidak sepenuhnya," katanya dengan nada serius. "Aku tidak bisa mengatakan apa-apa setelah melihat bagaimana kamu berubah, bagaimana kamu mulai menatapku. Bukan kah ini juga permainan mu?"

Georgio mendekatkan wajahnya ke telinga Cassandra, suaranya merendah menjadi bisikan. "Cassandra... ini adalah awal dari segalanya. Aku tidak bilang aku mencintaimu, karena aku tidak tahu apa itu. Tapi aku menginginkanmu, aku menginginkan mu untuk selamanya." Lanjut Georgio dengan sedikit seringai tipis di bibirnya.

Cassandra terdiam, otaknya berusaha memproses kata-kata Georgio. Cassandra beralih menatap lamat mata Georgio, penuh dengan peringatan.

"Baiklah, ayo sama-sama bermain, tapi aku tidak akan membiarkan mu menang." Mendengar itu Georgio menyeringai.

"Kamu benar-benar semakin menarik."ujar Georgio.

Georgio melepaskan tangannya, kemudian ia mencium kening Cassandra dengan lembut, sebuah sentuhan yang terasa lebih tulus. Seakan melupakan ucapan serius yang Cassandra ungkapkan.

"Aku akan mandi. Setelah itu, kita sarapan," katanya. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi tanpa menunggu respons Cassandra, meninggalkan Cassandra berdiri di tengah kamar, kebingungan dengan hati yang bergetar.

★★★

Jordan Immanuel menepati janjinya. Dana rekeningnya dan pinjaman dari bank-bank yang berpihak pada Jordan telah disuntikkan ke dalam sebuah entitas khusus, proyek Aurora di mana ia memiliki 30% saham. Ia bahkan menempatkan beberapa pengawasnya di sana, berharap bisa mengendalikan proyek dari dalam dan menunggu kehancuran Georgio.

Apa yang tidak ia ketahui adalah bahwa Georgio dan Cassandra sudah bergerak jauh di depannya. Mereka tidak lagi berniat membuat proyek itu gagal. Mereka berniat membuatnya menjadi sukses yang terlihat gagal di mata Jordan.

Di ruang kerja yang kini terasa lebih hangat, Georgio dan Cassandra meninjau peta digital.

"Jordan mengirimkan orang ke lokasi. Mereka hanya melihat alat berat usang dan gubuk-gubuk kosong," lapor Cassandra, tersenyum puas. "Mereka yakin kita hanya membuat ilusi untuk menghabiskan uang."

"Bagus," balas Georgio, matanya memancarkan kecerdasan. "Biarkan dia melihatnya. Sementara itu, investasi asing dari Luar Negeri yang kita umumkan juga sudah berpihak pada kita."

Georgio menggeser peta. "Lahan itu dibagi dua. Lahan yang dilihat Jordan adalah Skyline City yang kita biarkan berantakan. Namun, lahan yang lainnya di bagian belakang yang tersembunyi di balik perbukitan dan disamarkan dengan izin hutan lindung sementara adalah Skyline City yang sebenarnya."

Cassandra mengangguk. "Lahan yang dibalik perbukitan telah beroperasi penuh. Kami telah menyelesaikan pembangunan infrastruktur dasar. Kontraktor yang kita gunakan tidak terdaftar di perusahaan utama dan mereka semua telah menandatangani perjanjian kerahasiaan ketat. Tidak ada yang akan bocor."

"Saatnya mengaktifkan jebakan," kata Georgio, senyumnya kini tak kalah menyeramkan dari Jordan.

Cassandra mengeluarkan sebuah dokumen legal. "Aku sudah menyiapkan skema pinjaman fiktif dan pembayaran kompensasi lahan yang dipermasalahkan. Dalam dua hari, saldo Perusahaan Aurora akan mendekati nol. Jordan akan ketakutan dan dia akan meminta rups Luar Biasa."

Georgio mencondongkan tubuh, tatapannya lekat pada Cassandra. "Apa yang harus kita lakukan saat dia meminta rups?"

"Kita harus memanipulasi media," jawab Cassandra dengan nada dingin dan penuh perhitungan. "Kita bocorkan bahwa Cassano Corp sedang mengalami kesulitan keuangan karena proyek ambisius ini. Kita biarkan saham perusahaan turun tajam. Kita biarkan Jordan berpikir bahwa ini adalah momen terbaiknya untuk membeli sisa-sisa saham yang terdampar."

"Strategi yang bagus," puji Georgio. "Saat dia mengira kita sedang sekarat, dia akan melakukan penawaran untuk mengambil alih Cassano Corp secara penuh." Cassandra mengangguk membenarkan.

Georgio dan Cassandra tersenyum misterius. Mereka berdua tahu, momen itu akan menjadi penentuan.

★★★

Tiga hari kemudian, kegelisahan menyelimuti Jordan Immanuel. Laporan dari timnya menunjukkan bahwa dana miliknya untuk proyek Aurora telah lenyap. Proyek Aurora tidak menunjukkan kemajuan yang berarti, sementara laporan-laporan internal mengindikasikan bahwa dana tersebut telah digunakan untuk membayar kompensasi lahan yang rumit dan biaya konsultan yang tidak jelas.

Cassano Corp sedang menuju jurang kebangkrutan, pikir Jordan dengan gembira. Namun, kekhawatiran tentang dana yang dia berikan tetap mengusik.

Di saat yang sama, Cassandra membocorkan data keuangan parsial Cassano Corp ke beberapa media bisnis terkemuka, menyoroti likuiditas perusahaan yang sangat tertekan oleh beban Proyek Aurora yang tidak realistis.

Reaksi semua orang adalah seperti yang diharapkan. Saham Cassano Corp anjlok dalam sehari. Para pemegang saham yang panik mulai menjual, dan Jordan Immanuel tersenyum kemenangan.

"Saatnya menghabisi mereka," gumamnya penuh percaya diri.

Ia segera memanggil rapat umum pemegang saham dengan agenda utama, Penggantian Direksi dan Pengambilalihan Penuh Proyek Aurora.

Di ruang rapat yang tegang itu, Jordan tampil percaya diri.

"Para hadirin sekalian," katanya, "Kita tidak bisa membiarkan Cassano Corp dipimpin oleh orang-orang yang dibutakan oleh ego. Proyek Aurora adalah kebodohan. 2 Miliar terbuang sia-sia. Demi menyelamatkan perusahaan ini, saya... dengan dukungan dana dan pemegang saham yang memiliki seperempat persen kepemilikan, menuntut pengalihan kendali penuh perusahaan kepada saya!"

Seorang direktur pihak Jordan berteriak, "Kami harus menjual Proyek Aurora sekarang, bahkan dengan kerugian! Selamatkan sisa uangnya!"

Georgio dan Cassandra hanya diam, membiarkan Jordan terus merasa menang.

Jordan menoleh ke Georgio. "Georgio, terima kekalahanmu. Aku akan memberimu kompensasi yang layak untuk sahammu. Ini adalah akhir dari dinasti Cassano."

Georgio tersenyum tipis. "Bapak Jordan, anda terlalu terburu-buru. Terlalu percaya diri dengan kesimpulan yang anda tarik sendiri."

Ia kemudian menunjuk ke layar proyektor. Kali ini, layar menampilkan sebuah video yang direkam dari helikopter.

Di layar, bukan gubuk-gubuk kosong, melainkan sebuah pemandangan yang menakjubkan. Kota yang modern, jalanan mulus, taman-taman yang terawat, dan kerangka bangunan bertingkat yang berdiri kokoh. Jauh di latar belakang, terlihat bendera asing berkibar di atas kantor pusat sementara.

"Yang Anda lihat adalah Skyline City, Proyek Aurora, yang terbengkalai." kata Georgio dengan suara yang kini menjadi perintah. "Lahannya dibagi dua, lahan yang asli sebenarnya telah dibangun dalam kerahasiaan. Dan bendera yang Anda lihat itu, Saudara Jordan, adalah bendera perusahaan mitra kita, Viking Global Group."

Wajah Jordan memucat. Viking Global Group adalah salah satu konglomerat pembangunan properti terbesar di dunia.

"Mustahil!" teriak Jordan. "Ini tipuan! Aku sudah mengirim orang ke sana!"

Cassandra berdiri, sorot matanya tajam dan menghakimi. "Tentu saja itu mustahil, Anda hanya melihat lahan yang kita biarkan berantakan, dibalik perbukitan lah proyek asli kita, di sinilah letak kejutan yang sebenarnya."

Ia menggeser layar, menampilkan transfer bank.

"Dana 2 Miliar untuk Proyek Aurora telah diamankan. Dana dari Anda, juga dana dari kas perusahaan, dan 1 Miliar dari Viking Global Group yang baru saja ditransfer pagi ini, sebagai pembayaran untuk setengah persen kepemilikan saham."

"Jordan," lanjut Cassandra, suaranya menusuk, "anda hanya membeli seperempat persen saham pada proyek yang gagal itu. Dana yang Anda berikan hilang di sana. Tetapi Georgio dan aku telah mengalihkan entitas baru, Skyline International, yang kini dimiliki setengah persen oleh Cassano Corp dan setengah persen oleh Viking Global Group."ujar Cassandra serius.

Georgio mengakhiri pukulan telak itu. Dia menatap Jordan penuh kemenangan."Anda mengira kami bodoh. Anda mengira 2 Miliar itu habis. Kenyataannya, kami mendapatkan 1 Miliar kembali di muka, untuk mendanai pengembangan sisa proyek kita yang sebenarnya dan sekarang kami memiliki mitra global yang kuat. Sementara itu, Anda, Jordan, hanya memiliki seperempat persen saham di lubang utang lahan terbengkalai."

Ekspresi kemenangan Jordan hancur, digantikan oleh kemarahan dan ketakutan yang mendalam. Ia terjebak. Uang tunainya hilang, dia kini pemegang saham minoritas di proyek yang gagal yang dirancang untuk menjadi umpan, dan yang terpenting, dia gagal merebut Cassano Corp.

"Ini... ini penipuan!" raung Jordan, menunjuk ke Cassandra dan Georgio.

Georgio menggeleng. "Tidak, Jordan. Ini adalah bisnis. Kami sudah bilang, kami tidak akan mundur. Kamu hanya terlalu serakah untuk melihat jebakannya. Dana Anda, akan digunakan untuk membeli kembali saham-saham Cassano Corp yang telah dilepas oleh pemegang saham, sebelum Viking Global membeli sahamnya dengan harga premium. Kamu telah mendanai kekalahanmu sendiri."

Georgio melangkah maju, menghadap Jordan. "Perang sudah berakhir, Jordan. Kamu tidak hanya kehilangan uang, kamu telah kehilangan reputasi dan kepercayaan dari bank-bankmu. Sekarang, keluar dari perusahaanku."

Jordan jatuh terduduk di kursinya, wajahnya pucat pasi. Ia telah dikalahkan oleh kecerdikan dari pasangan Cassano.

---

Malam itu, setelah membersihkan semua sisa pertempuran, Georgio dan Cassandra berdiri di balkon, memandangi hamparan kota. Ketenangan yang jarang mereka rasakan menyelimuti mereka.

"Kamu melakukannya dengan baik, Cassandra," kata Georgio, suaranya tulus. "Jordan tumbang, dan kita tidak perlu mengemis untuk mendapatkan dana."

Cassandra bersandar di pagar, hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya. "Itu karena kamu dari awal percaya padaku."

Georgio membalikkan badan, menghadapnya. "Aku harus mengakui, aku sempat meragukanmu. Aku mengira kamu hanyalah versi lain dari Annabella. Seseorang yang akan pergi saat keadaannya sulit."

Cassandra menatapnya dalam. "Aku tidak akan lari dari pertarungan, Aku sudah berjanji, aku akan bersamamu sampai perang ini selesai."

Georgio mengangkat tangannya, membelai pipi Cassandra dengan ibu jarinya, sebuah sentuhan lembut.

"Perang ini sudah selesai, Cassandra," bisiknya. "Jordan hancur. Aku akan membiarkan dia menanggung konsekuensi hukum dan bisnisnya sendiri"Cassandra hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Georgio. Cassandra yang awalnya menatap Georgio mengalihkan pandangannya menatap hamparan kota.

"Perang mu sudah selesai, tapi perang ku belum, Georgio." Batin Cassandra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!