*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 - Bilah dan Bintang
Aku dan Fiora berjalan dalam diam menuju alun-alun desa, sebuah area terbuka yang kini dipenuhi warga Paleside.
Kami masih merasa bingung karena panggilan ini. Di tengah alun-alun, sisa-sisa pasukan Sentinel Corps telah berbaris rapi, seragam mereka yang compang-camping tidak mengurangi kekhidmatan postur mereka.
Percy berdiri di depan mereka, punggungnya lurus, menatap para warga dengan ekspresi yang sulit diartikan. Suasananya terasa asing, seperti sesuatu yang formal dan sakral.
Aku dan Fiora, yang datang dengan atribut lengkap untuk berangkat, jelas tampak salah tempat di tengah kerumunan. Pakaian perjalanan praktis kami sangat kontras dengan suasana yang khidmat ini.
Seorang kadet muda menghampiri kami.
"Tarker Zane, Nona Crestfall," sapanya dengan hormat. "Kadet Senior Percival meminta Anda menempati tempat di depan."
Tanpa menunggu jawaban, ia mengantar kami melewati kerumunan, memberikan kami tempat di barisan terdepan—tepat di hadapan Percy dan pasukannya.
Saat itulah aku menyadarinya. Barisan para kadet, tatapan Percy yang serius, suasana yang hening.
Ini adalah sebuah upacara.
Pikiranku langsung tertuju pada salah satu tradisi paling sakral di Garda Republik Stellamontia, sesuatu yang biasanya hanya kudengar dari cerita para veteran atau kubaca dalam koran.
Upacara Bintang dan Bilah.
Sebuah ritual untuk menganugerahkan tanda kehormatan tertinggi kepada prajurit atas tindakan kepahlawanan luar biasa. Percy, sebagai komandan tertinggi di sini, punya hak penuh untuk melakukannya.
Tapi... bukankah upacara ini seharusnya hanya untuk prajurit? Kenapa kami disuruh maju ke depan?
Percy melangkah maju. Ia menatap para kadetnya yang telah menerima "Bilah" mereka lebih dulu, lalu pandangannya beralih pada warga desa, dan terakhir, berhenti padaku dan Fiora.
"Kemarin," Percy memulai, suaranya terdengar jelas dan mantap. "Paleside diserang. Kita kehilangan banyak hal—rumah, rasa aman, dan yang paling berharga... kita kehilangan teman, saudara, dan orang tua.
Ia menarik napas panjang.
“Tapi di tengah kegelapan itu, muncul keberanian dari tempat yang tak terduga. Keberanian yang lahir bukan dari perintah, melainkan dari hati nurani."
Ia memberi isyarat, dan seorang kadet maju, menyerahkan sebuah lencana prajurit ke tangan Percy.
Aku mengenali lencana itu, dari bentuk bintang empat sisi dan lambang pisau kecil di atasnya.
Dengan gerakan yang lambat dan penuh hormat, Percy memisahkan lencana itu menjadi dua bagian: Sang Bintang dan Sang Bilah.
"Sang Bintang ini," katanya sambil mengangkat bagian bintang, "melambangkan kehormatan, keluarga, dan pengabdian. Ini akan kami bawa kembali ke Bregen, ke keluarga Decurion Denver Portfire, sebagai pengingat abadi atas pengorbanannya."
Ia kemudian berbalik menghadapku, bagian bilah tergenggam di tangannya.
Aku terkesiap. Tak tahu harus berbuat apa.
Ia melangkah maju dan menyematkan "Sang Bilah" itu di tunik perjalananku.
"Upacara ini bukankah hanya untuk prajurit?" bisikku, sembari lencana itu disematkan.
"Malam itu, kau bertarung seperti seorang prajurit," Percy menjawab tegas, cukup keras didengar oleh semua orang.
Logam itu terasa dingin di dadaku.
"Bilah ini kini menjadi milikmu," lanjutnya, menggemakan tradisi kuno itu. "Bawalah semangat Decurion Portfire!"
Aku hanya bisa menatapnya, benar-benar kehilangan kata-kata. Ini adalah sebuah kehormatan militer tertinggi, diberikan kepada seorang Tarker. Seorang sipil.
Namun, Percy belum selesai.
Ia kembali berbalik dan mengambil lencana lain. Ia kembali melakukan ritual yang sama, memisahkan Sang Bintang dan Sang Bilah. Ia menyerahkan Sang Bintang pada kadet yang berdiri paling dekat. "Kita akan antarkan ini ke Kadet Madya Kian Brightwater," bisiknya pelan.
Lalu, ia berjalan menghampiri Fiora, yang sejak tadi hanya menatap dengan bingung dan mata yang masih sembap.
"Nona Crestfall," kata Percy lembut. "Kau mungkin bukan seorang prajurit. Tapi saat ketua bandit menyerang balai desa, kau berdiri tegak, melindungi mereka yang tak berdaya.”
Percy tersenyum tipis.
“Keberanian seperti itu pantas untuk dihormati. Aku yakin Ibumu juga akan sangat bangga padamu"
Ia menyematkan "Sang Bilah" milik di pakaian Fiora. "Bawalah semangat Kadet Madya Brightwater!"
Fiora hanya bisa menatap bilah kecil itu, air mata kembali mengalir di pipinya, namun kali ini bukan hanya karena duka. Ada rasa haru menyelinap di sana.
Percy melangkah mundur, kembali ke posisinya di depan pasukannya. Ia menatap kami berdua—dua orang sipil yang kini menyandang simbol keberanian para prajurit yang gugur.
Dengan suara yang menggelegar, ia memberi perintah terakhir.
"Garda Republik... Beri Hormat!"
Ssshhhh... Klik!
Tongkat-tongkat logam itu memanjang, lalu dengan presisi khidmat, mereka menempatkannya tegak lurus di depan dada. Ujung baton berdiri sejajar kening, sementara tangan kiri terkepal di belakang punggung.
Salut militer resmi Stellamontia.
Para warga desa yang menyaksikan hanya bisa terdiam takzim. Sebuah upacara kehormatan yang lahir dari puing-puing dan keputusasaan.
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu