Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 – Sinar di Balik Kegelapan
Kegelapan itu semakin mendalam, menelan segala cahaya yang ada. Defit dan Maya terdiam, terjebak di tengah kehampaan yang tak bisa mereka jelaskan. Hanya ada suara detakan jantung mereka yang keras, bergema di dalam tubuh mereka, seolah mencocokkan irama dengan gelombang energi yang mengalir melalui diri mereka. Kekuatan itu masih mengalir deras, namun kali ini terasa berbeda. Rasanya lebih kuat, lebih berat, seakan ingin mengambil alih seluruh keberadaan mereka.
Defit merasa perasaan yang begitu luar biasa menguasai dirinya. Rasa takut dan kebingungannya semakin mendalam, namun ada satu hal yang tidak bisa ia hindari kekuatan itu, meskipun begitu menakutkan, memberikan perasaan yang juga aneh, sebuah dorongan untuk terus maju. Seperti ada suara dalam dirinya yang berkata bahwa hanya dengan melangkah lebih dalam, mereka akan menemukan jawaban yang mereka cari.
Maya berdiri di sampingnya, tubuhnya terlihat sedikit gemetar, meskipun ia berusaha untuk menahan ketakutan itu. Matanya berkeliling, mencari titik terang yang mungkin bisa memberikan petunjuk, tetapi tidak ada yang tampak selain kegelapan yang menyelimuti mereka. Hanya ada suara bisikan angin yang seolah berteriak di antara mereka.
“Maya…” Defit berbisik, suaranya berat. “Kita harus melanjutkan, kita harus tahu apa yang ada di sini. Apa yang kita cari, apa yang kita pilih, semuanya akan berakhir di sini.”
Maya menoleh padanya, matanya penuh kecemasan yang begitu nyata. "Aku tahu, Defit. Aku tahu kita tidak bisa mundur. Tapi aku aku tidak tahu seberapa jauh kita bisa melangkah sebelum semuanya terlalu larut."
Defit mengangkat tangan, mencoba memberikan kekuatan padanya. “Kita sudah terlalu jauh untuk mundur, Maya. Kita berdua sudah tahu bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Apa yang kita pilih sekarang akan menentukan segalanya.”
Maya menggigit bibirnya, air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku takut, Defit. Takut jika kita tidak mampu menghadapinya. Takut jika kita tidak cukup kuat.”
Defit meraih tangannya, genggamannya erat, memberikan kenyamanan meskipun hatinya sendiri dipenuhi dengan ketakutan yang sama. "Kita punya satu hal yang pasti, Maya. Kita punya satu sama lain. Dan bersama-sama, kita akan menghadapinya."
Saat itu, kegelapan yang menyelimuti mereka seolah mulai menipis. Sebuah sinar kecil mulai muncul di kejauhan, begitu lembut namun cukup kuat untuk menarik perhatian mereka. Tanpa berpikir panjang, mereka berdua mulai berjalan menuju sinar itu, melangkah dengan hati-hati, namun penuh keyakinan.
Sinar itu semakin terang, semakin nyata, seakan memberikan harapan baru di tengah keputusasaan. Ketika mereka semakin dekat, mereka bisa melihat sebuah bentuk yang mulai terbentuk di tengah cahaya tersebut sebuah pintu besar yang terbuat dari batu kuno, dihiasi dengan simbol-simbol yang tak mereka kenal, namun terasa sangat akrab. Seakan itu adalah gerbang menuju sebuah dimensi lain, ke dunia yang mereka takuti, ke dunia yang akan menuntut pilihan terakhir mereka.
Maya berhenti sejenak, menatap pintu itu dengan tatapan yang penuh ketakutan. “Apa ini? Apa yang akan terjadi jika kita melewati gerbang ini?”
Defit menggenggam tangan Maya lebih erat, matanya penuh dengan keyakinan yang ia coba temukan di tengah ketakutannya. “Ini adalah jalan yang kita pilih. Kita tidak bisa menghindarinya. Tapi aku percaya kita bisa menghadapinya. Kita sudah sampai sejauh ini, Maya. Ini adalah saat kita melangkah ke depan, bersama.”
Maya menatapnya, menelan rasa takut yang menggelayuti dirinya. “Bersama, Defit. Kita akan melewatinya bersama.”
Dengan langkah yang mantap, mereka melangkah maju, memasuki gerbang batu yang perlahan terbuka. Saat mereka melangkah lebih jauh ke dalam, mereka tiba-tiba disambut dengan sebuah pemandangan yang mengejutkan sebuah ruang yang begitu luas, namun gelap dan penuh dengan bayangan yang bergerak. Di tengah ruang itu, sebuah pedestal besar menjulang, di atasnya terdapat sebuah kristal yang bersinar dengan cahaya yang hampir sama dengan yang mereka temui di altar sebelumnya.
Namun kali ini, kristal itu terlihat jauh lebih kuat, lebih hidup. Cahaya yang memancar darinya begitu kuat, seakan memancarkan seluruh energi yang ada di dalamnya. Suara bisikan itu kembali terdengar, kini lebih kuat dan lebih jelas dari sebelumnya.
“Defit… Maya… kalian sudah sampai di sini. Di tempat yang tak bisa dihindari. Kekuatan yang terpendam ada di tangan kalian sekarang. Pilihan kalian akan menentukan dunia ini.”
Maya merasakan tubuhnya kembali bergetar. “Apa yang kita lakukan sekarang?” tanyanya dengan suara gemetar.
Defit menatap kristal itu, hatinya terasa berat, namun ada sebuah perasaan yang membara di dalam dirinya. “Kita harus memilih, Maya. Kita harus menyatu dengan kekuatan ini, atau kita akan membiarkannya menghancurkan kita.”
“Apakah kita akan mengendalikan semuanya, Defit?” Maya bertanya, suaranya penuh keraguan.
“Kita tidak punya pilihan,” jawab Defit dengan tegas, meskipun hatinya dipenuhi rasa takut. “Kita harus mengambil langkah ini. Kita harus menyatu dengan kekuatan ini, dan kita harus mengarahkannya. Kita harus mengendalikan takdir kita.”
Dengan napas yang berat, Defit melangkah maju, mendekati kristal itu. Begitu ia menyentuhnya, seluruh tubuhnya terasa terbakar oleh energi yang mengalir begitu kuat, begitu murni. Maya di sampingnya merasakan hal yang sama sebuah kekuatan yang begitu besar, begitu mempengaruhi, seakan menguji jiwa mereka.
Saat itulah, sebuah suara menggelegar terdengar, menembus kedalaman ruang itu.
"Pilihan kalian telah ditentukan. Sekarang, waktunya untuk membayar harga."
Dengan kata-kata itu, sebuah tembakan cahaya yang kuat melesat dari kristal, dan dunia sekitar mereka terbelah. Semuanya menjadi hancur, berubah, dan hanya ada satu hal yang tersisa pilihan mereka.
terus menarik ceritanya 👍