Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
"Kael, koperku!" seruku sedikit panik saat melihat bus kota yang tadi kami tumpangi mulai bergerak menjauh, sementara koper besarku masih berada di dalam bagasi bawahnya.
Kaelen dengan sigap langsung berlari mengejar bus itu. Meskipun ia bilang sudah tidak ada sihir, kecepatan larinya masih luar biasa untuk ukuran manusia biasa. Ia menggedor badan bus dengan keras hingga sopirnya menginjak rem secara mendadak.
"Hey! Hati-hati!" teriak sopir bus itu kesal.
Namun Kaelen tidak peduli. Dengan satu tangan yang tampak sangat kuat, ia menarik koper keduaku keluar dari bagasi seolah benda seberat 20 kilogram itu hanya berisi kapas. Ia berjalan kembali ke arahku dengan napas yang bahkan tidak tersengal, menyeret koper itu dengan gaya yang sangat tenang.
"Ini, Kazumi," ucapnya sambil menyerahkan pegangan koper padaku. "Lain kali, jangan lepaskan pandanganmu dari barang bawaanmu... atau dari aku."
Ren yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. "Kael, kau bilang tidak ada sihir, tapi caramu mengejar bus tadi hampir membuat orang-orang mengira kau adalah atlet olimpiade yang sedang marah!"
Wajah Kaelen sedikit memerah, ia berdeham canggung. "Itu refleks manusiawi, Ren. Jangan dilebih-lebihkan."
Aku menerima koperku dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan tawa dan rasa haru. "Terima kasih, Kael. Aku benar-benar bingung kalau koper ini hilang. Isinya semua baju dan buku-buku titipan Ibu."
"Sama-sama," jawab Kaelen lembut. Ia kemudian mengambil alih koper itu lagi. "Biar aku yang bawa. Jarak dari sini ke asramamu sekitar sepuluh menit jalan kaki. Anggap saja ini layanan selamat datang di kota untukmu."
Kami bertiga pun berjalan menyusuri trotoar kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Aku berjalan di tengah, diapit oleh dua pria jangkung yang dulunya adalah legenda dari dunia lain. Orang-orang yang lewat sesekali melirik ke arah kami—mungkin mereka heran melihat gadis mungil sepertiku dikawal oleh dua pria yang ketampanannya tidak masuk akal untuk ukuran manusia biasa.
"Jadi, Kazumi," Ren memulai pembicaraan sambil melompati retakan trotoar. "Siap untuk kehidupan kampus besok? Kudengar asrama mahasiswa baru itu sangat ketat peraturannya. Tidak boleh ada tamu pria setelah jam tujuh malam."
Kaelen mendengus pelan mendengar ucapan Ren. "Itu bukan masalah. Aku bisa menunggu di luar gerbang setiap hari jika perlu."
Aku tersenyum menatap aspal di bawah kakiku. Kota yang awalnya terasa menakutkan dan asing, kini terasa seperti tempat yang penuh dengan kemungkinan baru. Dunia sihir mungkin sudah hilang, tapi kehadirannya membuat dunia yang membosankan ini terasa jauh lebih berwarna.
Aku membeku, wajahku seketika memanas hingga ke ujung telinga. Di tengah suasana romantis dan haru di bawah lampu jalan kota, tiba-tiba saja perutku mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring—seolah protes karena sejak turun dari bus tadi aku belum makan apa pun.
"Ren, Kael, aku..." kalimatku menggantung, tidak sanggup melanjutkan karena terlalu malu.
Ren terdiam sejenak, lalu tawa renyahnya pecah memenuhi trotoar. "Hahaha! Kazumi, sepertinya 'sihir' lapar di perutmu jauh lebih kuat daripada sihir apa pun di dunia ini!"
Kaelen tidak tertawa, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat manis. Ia menghentikan langkahnya dan menatapku dengan tatapan yang seolah berkata, 'Kenapa tidak bilang dari tadi?'
"Lupakan soal asrama untuk sementara," ucap Kaelen tegas namun lembut. Ia memutar arah koperku. "Kita tidak bisa membiarkan Penjaga Bunga kelaparan di hari pertamanya di kota."
"Tapi koperku—"
"Aku yang bawa," potong Kaelen tanpa bantahan. "Ren, di mana kedai ramen yang kau bilang tadi? Pastikan tempatnya tidak terlalu berisik agar Kazumi tidak pusing."
"Siap, Bos!" Ren memberi hormat dengan gaya jenaka. "Ikuti aku! Hanya dua blok dari sini. Namanya 'Ramen Haru'. Rasa kaldunya bisa membuatmu lupa kalau kau baru saja pindah dimensi."
Kami pun berbelok menuju sebuah gang kecil yang diterangi lampion merah yang cantik. Aroma bawang putih goreng dan kaldu gurih mulai menusuk hidung, membuat perutku kembali berbunyi, kali ini lebih keras.
Saat kami masuk, suara sapaan "Irasshaimase!" menyambut kami. Kedai itu kecil, hangat, dan dipenuhi uap air yang harum. Kami duduk di pojok ruangan. Kaelen duduk tepat di sampingku, sementara Ren di depan kami.
"Pesan apa pun yang kau mau, Kazumi," ucap Kaelen sambil menyodorkan buku menu. "Anggap saja ini perayaan karena kita akhirnya... benar-benar bebas."
Aku menatap menu itu, lalu menatap mereka berdua. Di bawah cahaya lampion yang hangat, Kaelen terlihat begitu tampan dan nyata. Tidak ada bayangan gelap di bawah matanya, tidak ada zirah yang berat. Hanya Kaelen, pria yang mencintaiku, yang sekarang sedang sibuk memesankan segelas teh manis hangat untukku.
"Terima kasih," bisikku tulus.
"Untuk ramennya?" tanya Ren sambil nyengir.
"Untuk semuanya," jawabku.