Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Familiar.
Perjalanan ke kantor pagi itu diliputi perasaan bersalah dan penuh tanya dalam benak Archio. Pria itu kembali mengingat bagaimana Aulia menangis akibat ulahnya tadi.
“Ya Allah, kenapa kamu berani banget, Archio,” gumamnya, merutuki kebodohannya sendiri.
“Aku pikir dia sudah benar-benar sembuh. Sudah menerima kehadiran Leonel, layaknya anaknya sendiri. Tapi ternyata masih ada tembok yang dia bangun tinggi-tinggi,” lanjutnya dengan wajah sendu.
“Lagian, berharap apa kamu, Archio? Berharap wanita itu menerima putramu seperti anaknya sendiri? Bahkan ibu kandungnya saja tak sudi, apalagi orang luar.” Ia menghela napas berat.
“Kamu seharusnya tetap bersyukur. Setidaknya, di masa-masa Leonel butuh dekapan, ada sosok yang mau berbagi kehangatan. Tapi kamu tidak boleh berharap lebih. Jangan melewati batas. Jangan jadi serakah.” Gumamannya tak berhenti.
Pandangannya menatap datar jalanan lengang di depan. Archio menyetir sendiri pagi ini. Tadinya ia berniat menunggu Bimo pulang setelah mengantar Mama Kania ke bandara, baru berangkat ke kantor bersama asistennya itu. Namun rasa tidak enak hati karena membuat Aulia menangis membuatnya memilih pergi sendiri.
Di depan gedung menjulang tinggi dengan logo besar bertuliskan Bimantata Group, Archio memarkirkan mobil mewahnya. Sebelum turun, ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
Pria itu melangkah masuk dengan wajah tegak. Pandangannya datar menyapu seluruh ruangan kantor. Di sana, para karyawan sudah tenggelam dalam pekerjaan mereka. Begitu melihat kehadirannya, semua refleks menunduk sopan. Setiap derap sepatu di lantai marmer menyisakan aura dingin dan dominan, cukup untuk membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.
Di dalam ruangannya yang luas dan bersih, Archio duduk di kursi kebesarannya. Dinginnya AC tak cukup untuk menenangkan suasana hati yang kacau. Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan wajah Aulia yang menangis tanpa suara, namun tetap tergambar jelas di kepalanya.
Ia meraih beberapa berkas yang menumpuk di atas meja, memeriksanya satu per satu. Perlahan, fokusnya kembali. Ruangan itu tenggelam dalam keheningan.
Hanya terdengar suara kertas yang dibuka, papan sentuh yang disentuh jari, helaan napas berat, embusan AC, kening yang sesekali mengerut, lalu anggukan kecil yang menandai kepuasan.
...****************...
Tok… tok…
Ketukan di pintu ruangan tak membuat Archio mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Hanya suaranya yang terdengar singkat, “Masuk.”
Lalu pintu terbuka dari luar, dan Bimo melangkah masuk setelah dipersilakan.
Asistennya itu tak kalah rapi. Setelan jasnya pas di badan, kacamata membingkai wajahnya, menambah kesan maskulin dan tegas. Ia menunduk hormat, lalu berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar berkas dan sebuah tablet.
“Lapor, Tuan,” ujarnya sopan.
Archio akhirnya menoleh, menatap ke arahnya, menunggu laporan itu disampaikan.
“Ini data dari kantor cabang di Surabaya.” Bimo menyerahkan sebuah map.
Archio menerimanya dan membuka pelan. Fokusnya tertuju pada lembar demi lembar informasi di dalamnya.
“Abian Gunawan,” gumamnya pelan, membaca biodata yang tertera. Alisnya mengerut. Pandangannya terpaku pada foto di berkas itu.
“Wajahnya terlihat sangat familiar. Apa dia pernah hadir di acara kantor pusat, atau pernah bertemu dengan saya?” tanyanya, masih menatap foto tersebut.
Ia mencoba mengingat-ingat. Rasanya tidak pernah. Atau mungkin ia lupa. Namun wajah itu terasa terlalu familiar untuk diabaikan.
“Tidak pernah, Tuan,” jawab Bimo singkat.
“Tapi kenapa saya merasa mengenal wajah ini?” Archio menoleh, nadanya masih dipenuhi heran.
“Tentu saja familiar, Tuan,” ucap Bimo tenang. “Dia ayahnya Nona Aulia.”
Ucapan itu membuat Archio meletakkan berkas tersebut ke atas meja dengan sedikit kasar. Ia langsung menatap asistennya, penuh tanda tanya.
Pandangan Archio kembali ke foto itu. Ia mencocokkannya dengan wajah Aulia yang terlintas di kepalanya. Mirip. Sangat mirip. Tak terbantahkan.
“Ah… jadi ayahnya pernah menjadi manager di perusahaan kita di Surabaya?” tanyanya, kini dengan ketertarikan yang jelas.
“Iya, Tuan. Namun beliau keluar dari perusahaan tiga tahun lalu karena dinyatakan sakit berat,” jelas Bimo.
Archio mengangguk pelan, seolah sedang menyusun kepingan yang terpisah.
“Lalu?”
“Saat itu, perusahaan memiliki beberapa karyawan yang dinilai cekatan dan mumpuni. Salah satunya direkomendasikan langsung oleh Pak Abian untuk menggantikan posisinya sebagai manager, sebelum beliau mengundurkan diri dan memilih fokus pada kesehatannya,” terang Bimo panjang lebar.
“Karena karyawan yang dipilih bukan orang sembarangan dan terbukti mampu, Pak Xavier akhirnya menyetujui dan menunjuk pria tersebut sebagai pengganti Pak Abian.”
“Oke,” Archio menyandarkan punggungnya sedikit. “Jadi paman memilihnya dan mempercayakan proyek sebesar itu pada orang yang baru diangkat?” tanyanya lagi.
“Sepertinya begitu, Tuan,” jawab Bimo singkat.
Archio membuka lembar berikutnya. “Adrian Pratama,” gumamnya sambil membaca biodata pria itu dengan teliti, lalu memperhatikan foto yang tertera di sana.
“Masih sangat muda, tapi sudah dipercayakan memegang proyek besar,” ujarnya datar. “Berani juga.”
“Beberapa minggu lalu dia datang saat rapat di kantor pusat?” tanya Archio. Jujur saja, wajah para karyawan dari berbagai cabang kerap bercampur di kepalanya. Bukan hanya Surabaya, tapi juga dari kota-kota lain dalam lingkup Bimantara Group.
“Datang, Tuan. Dan sempat membuat masalah,” jawab Bimo.
Archio mengernyit, menuntut penjelasan. “Masalah apa? Dengan perusahaan? Fatal?”
“Bukan dengan perusahaan, Tuan. Masalah pribadi,” jelas Bimo hati-hati. “Dia dipergoki istri sahnya sedang menikahi adik iparnya sendiri.”
Archio meletakkan kembali berkas itu ke atas meja. “Apa kau kurang kerjaan, Bimo, sampai mengulik urusan pribadi orang?” ujarnya dingin. “Selama dia tidak mencampurkan masalah pribadi dengan urusan kantor, itu bukan masalah bagiku.”
“Tapi Tuan sebaiknya dengar dulu,” potong Bimo. “Masalah ini… ada kaitannya dengan Nona Aulia.”
Mendengar nama wanita yang sejak tadi memenuhi pikirannya di bawa-bawa, membuat Archio langsung menatapnya kembali. Ketertarikan yang tadi mati, kini menyala.
“Apa kaitannya?” tanyanya cepat.
“Karena Adrian adalah mantan suami Nona Aulia, Tuan.” ujar Bimo dengan hati-hati.
“APA?!”
.
.
“Permisi, Tuan.”
Pembicaraan mereka terhenti saat seorang wanita masuk ke ruangan. Rok span hitam membalut kakinya rapi, sementara sebuah buku agenda dipeluk di dada. Ia berdiri beberapa langkah dari meja kerja Archio, menunggu perhatian pria itu.
Archio mengalihkan pandangan dari Bimo. “Ada apa?”
“Dalam tiga puluh menit ke depan, Anda memiliki jadwal pertemuan dengan klien dari Manggala Group,” ujar sang sekretaris sambil menunduk pada buku agenda di tangannya. “Lokasinya di sebuah restoran.”
Archio menghela napas pelan. Tangannya mengusap kasar rambutnya ke belakang. Raut wajahnya tetap tenang, namun jelas terlihat ada ketidaksabaran yang tertahan. Rasa penasaran atas informasi yang dibawa Bimo belum sepenuhnya terpuaskan, dan kini harus terputus oleh waktu yang terus berjalan.
“Baik,” katanya singkat.
Ia meraih jas yang tergantung di sandaran kursi, mengenakannya dengan gerakan cepat dan terlatih. Tanpa berkata apa-apa lagi, Archio melangkah keluar ruangan.
Bimo dan sang sekretaris segera mengikutinya dari belakang.
Di benak Archio, satu nama kembali terlintas, dan kali ini, ia tahu, pembahasan itu belum selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian