NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Setelah Dikhianati

Menjadi Ibu Susu Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Ibu susu / Pengkhianatan
Popularitas:31.4k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Familiar.

Perjalanan ke kantor pagi itu diliputi perasaan bersalah dan penuh tanya dalam benak Archio. Pria itu kembali mengingat bagaimana Aulia menangis akibat ulahnya tadi.

“Ya Allah, kenapa kamu berani banget, Archio,” gumamnya, merutuki kebodohannya sendiri.

“Aku pikir dia sudah benar-benar sembuh. Sudah menerima kehadiran Leonel, layaknya anaknya sendiri. Tapi ternyata masih ada tembok yang dia bangun tinggi-tinggi,” lanjutnya dengan wajah sendu.

“Lagian, berharap apa kamu, Archio? Berharap wanita itu menerima putramu seperti anaknya sendiri? Bahkan ibu kandungnya saja tak sudi, apalagi orang luar.” Ia menghela napas berat.

“Kamu seharusnya tetap bersyukur. Setidaknya, di masa-masa Leonel butuh dekapan, ada sosok yang mau berbagi kehangatan. Tapi kamu tidak boleh berharap lebih. Jangan melewati batas. Jangan jadi serakah.” Gumamannya tak berhenti.

 Pandangannya menatap datar jalanan lengang di depan. Archio menyetir sendiri pagi ini. Tadinya ia berniat menunggu Bimo pulang setelah mengantar Mama Kania ke bandara, baru berangkat ke kantor bersama asistennya itu. Namun rasa tidak enak hati karena membuat Aulia menangis membuatnya memilih pergi sendiri.

Di depan gedung menjulang tinggi dengan logo besar bertuliskan Bimantata Group, Archio memarkirkan mobil mewahnya. Sebelum turun, ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.

Pria itu melangkah masuk dengan wajah tegak. Pandangannya datar menyapu seluruh ruangan kantor. Di sana, para karyawan sudah tenggelam dalam pekerjaan mereka. Begitu melihat kehadirannya, semua refleks menunduk sopan. Setiap derap sepatu di lantai marmer menyisakan aura dingin dan dominan, cukup untuk membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.

Di dalam ruangannya yang luas dan bersih, Archio duduk di kursi kebesarannya. Dinginnya AC tak cukup untuk menenangkan suasana hati yang kacau. Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan wajah Aulia yang menangis tanpa suara, namun tetap tergambar jelas di kepalanya.

Ia meraih beberapa berkas yang menumpuk di atas meja, memeriksanya satu per satu. Perlahan, fokusnya kembali. Ruangan itu tenggelam dalam keheningan.

Hanya terdengar suara kertas yang dibuka, papan sentuh yang disentuh jari, helaan napas berat, embusan AC, kening yang sesekali mengerut, lalu anggukan kecil yang menandai kepuasan.

...****************...

Tok… tok…

Ketukan di pintu ruangan tak membuat Archio mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Hanya suaranya yang terdengar singkat, “Masuk.”

Lalu pintu terbuka dari luar, dan Bimo melangkah masuk setelah dipersilakan.

Asistennya itu tak kalah rapi. Setelan jasnya pas di badan, kacamata membingkai wajahnya, menambah kesan maskulin dan tegas. Ia menunduk hormat, lalu berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar berkas dan sebuah tablet.

“Lapor, Tuan,” ujarnya sopan.

Archio akhirnya menoleh, menatap ke arahnya, menunggu laporan itu disampaikan.

“Ini data dari kantor cabang di Surabaya.” Bimo menyerahkan sebuah map.

Archio menerimanya dan membuka pelan. Fokusnya tertuju pada lembar demi lembar informasi di dalamnya.

“Abian Gunawan,” gumamnya pelan, membaca biodata yang tertera. Alisnya mengerut. Pandangannya terpaku pada foto di berkas itu.

“Wajahnya terlihat sangat familiar. Apa dia pernah hadir di acara kantor pusat, atau pernah bertemu dengan saya?” tanyanya, masih menatap foto tersebut.

Ia mencoba mengingat-ingat. Rasanya tidak pernah. Atau mungkin ia lupa. Namun wajah itu terasa terlalu familiar untuk diabaikan.

“Tidak pernah, Tuan,” jawab Bimo singkat.

“Tapi kenapa saya merasa mengenal wajah ini?” Archio menoleh, nadanya masih dipenuhi heran.

“Tentu saja familiar, Tuan,” ucap Bimo tenang. “Dia ayahnya Nona Aulia.”

Ucapan itu membuat Archio meletakkan berkas tersebut ke atas meja dengan sedikit kasar. Ia langsung menatap asistennya, penuh tanda tanya.

Pandangan Archio kembali ke foto itu. Ia mencocokkannya dengan wajah Aulia yang terlintas di kepalanya. Mirip. Sangat mirip. Tak terbantahkan.

“Ah… jadi ayahnya pernah menjadi manager di perusahaan kita di Surabaya?” tanyanya, kini dengan ketertarikan yang jelas.

“Iya, Tuan. Namun beliau keluar dari perusahaan tiga tahun lalu karena dinyatakan sakit berat,” jelas Bimo.

Archio mengangguk pelan, seolah sedang menyusun kepingan yang terpisah.

“Lalu?”

“Saat itu, perusahaan memiliki beberapa karyawan yang dinilai cekatan dan mumpuni. Salah satunya direkomendasikan langsung oleh Pak Abian untuk menggantikan posisinya sebagai manager, sebelum beliau mengundurkan diri dan memilih fokus pada kesehatannya,” terang Bimo panjang lebar.

“Karena karyawan yang dipilih bukan orang sembarangan dan terbukti mampu, Pak Xavier akhirnya menyetujui dan menunjuk pria tersebut sebagai pengganti Pak Abian.”

“Oke,” Archio menyandarkan punggungnya sedikit. “Jadi paman memilihnya dan mempercayakan proyek sebesar itu pada orang yang baru diangkat?” tanyanya lagi.

“Sepertinya begitu, Tuan,” jawab Bimo singkat.

Archio membuka lembar berikutnya. “Adrian Pratama,” gumamnya sambil membaca biodata pria itu dengan teliti, lalu memperhatikan foto yang tertera di sana.

“Masih sangat muda, tapi sudah dipercayakan memegang proyek besar,” ujarnya datar. “Berani juga.”

“Beberapa minggu lalu dia datang saat rapat di kantor pusat?” tanya Archio. Jujur saja, wajah para karyawan dari berbagai cabang kerap bercampur di kepalanya. Bukan hanya Surabaya, tapi juga dari kota-kota lain dalam lingkup Bimantara Group.

“Datang, Tuan. Dan sempat membuat masalah,” jawab Bimo.

Archio mengernyit, menuntut penjelasan. “Masalah apa? Dengan perusahaan? Fatal?”

“Bukan dengan perusahaan, Tuan. Masalah pribadi,” jelas Bimo hati-hati. “Dia dipergoki istri sahnya sedang menikahi adik iparnya sendiri.”

Archio meletakkan kembali berkas itu ke atas meja. “Apa kau kurang kerjaan, Bimo, sampai mengulik urusan pribadi orang?” ujarnya dingin. “Selama dia tidak mencampurkan masalah pribadi dengan urusan kantor, itu bukan masalah bagiku.”

“Tapi Tuan sebaiknya dengar dulu,” potong Bimo. “Masalah ini… ada kaitannya dengan Nona Aulia.”

Mendengar nama wanita yang sejak tadi memenuhi pikirannya di bawa-bawa, membuat Archio langsung menatapnya kembali. Ketertarikan yang tadi mati, kini menyala.

“Apa kaitannya?” tanyanya cepat.

“Karena Adrian adalah mantan suami Nona Aulia, Tuan.” ujar Bimo dengan hati-hati.

“APA?!”

.

.

“Permisi, Tuan.”

Pembicaraan mereka terhenti saat seorang wanita masuk ke ruangan. Rok span hitam membalut kakinya rapi, sementara sebuah buku agenda dipeluk di dada. Ia berdiri beberapa langkah dari meja kerja Archio, menunggu perhatian pria itu.

Archio mengalihkan pandangan dari Bimo. “Ada apa?”

“Dalam tiga puluh menit ke depan, Anda memiliki jadwal pertemuan dengan klien dari Manggala Group,” ujar sang sekretaris sambil menunduk pada buku agenda di tangannya. “Lokasinya di sebuah restoran.”

Archio menghela napas pelan. Tangannya mengusap kasar rambutnya ke belakang. Raut wajahnya tetap tenang, namun jelas terlihat ada ketidaksabaran yang tertahan. Rasa penasaran atas informasi yang dibawa Bimo belum sepenuhnya terpuaskan, dan kini harus terputus oleh waktu yang terus berjalan.

“Baik,” katanya singkat.

Ia meraih jas yang tergantung di sandaran kursi, mengenakannya dengan gerakan cepat dan terlatih. Tanpa berkata apa-apa lagi, Archio melangkah keluar ruangan.

Bimo dan sang sekretaris segera mengikutinya dari belakang.

Di benak Archio, satu nama kembali terlintas, dan kali ini, ia tahu, pembahasan itu belum selesai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ayoooo buat meleleh
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
eh pak duda mecum/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Facepalm//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: nah itu😑😑🤣
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
buhahahhah🤣🤣🤣🤣 dih bener ya kl cinta bisa buat org mendadak jadi bodoh🤣🤣🤣🤣🤣🤣 sampe² di kerjain dianya gk sadar🤣🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
dih ngapain harus ngaku di dpn au pak duda😑😑😑 dasar🤣🤣🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduhhhh ayank gas yuk hujan nie
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh Daddy aku kok gemes
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh matakau/Curse//Curse//Curse/ sama bunganya badji**n/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
Gila banget... pengen ku lempar dia ke jurang rasanya. Tapi, Archio tidak akan semudah itu melepaskan apa yang sudah mereka lakukan. Archio pasti akan menghancurkan mereka/Determined/
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥: iya, harus extra sabar... tapi buat ngehadapin Paman dan bibi nya gracia gak perlu bersabar🤣
total 2 replies
Sunaryati
Jangan sampai Ratih si gila Harty bisa menyentuh rumah Archio
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
jadi semangat Gracia/Determined/
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
nah betul apa kata Kenzo... Paman dan Bibi mu lah yang selama ini parasit pada dirimu. Mereka tidak mau melepaskanmu, karena bagi mereka, kamu seperti ATM berjalannya
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥: iya juga ya, ada bagusnya juga🤣🤣
total 4 replies
Samsiah Yuliana
lanjut lagi cerita Thor 🙏🙏🙏
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: siyappp kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
semangat ciaa semua org pasti pernah melakukan kesalahan.... selama km mau untuk memperbaikinya semua akan baik baik saja
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: nulis part Gracia, bawaannya pengen nangis terus🥺
total 1 replies
Sunaryati
Ngganggu momen aja Bim, tak perlu minta izin dekat
Tuh malah sudah berpelukan bukan dekat lagi tapi nempel
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
bim km merusak suasana😐
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
Bimo nih ngerusak suasana aja 😖 Archio masih pengen lama-lama loh itu🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Bimo: ingat kerjaaaa🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
Bimo merusak moment romantis Archio dan Aulia nih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Bimo: lagian, apa2an romantis kagak ada hubungan🤣
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 satu bab ini dek?
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: lumayan kak🤣
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
Bim ayo kita mojok kamu gangguin orang yang lagi Anu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: padahal sedikit lagi yak🤣😭
total 1 replies
Mey Abimanyu
Oalah bim²🤣🤣 merusak suasana ajaa 🤣🤣 sana cari gebetan juga biar engga ngenes² amat hidupmu 🤣🤣
Mey Abimanyu: bisa poligami, tenang aja 🤣🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!