“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#12
“Kamu ketemu zayan kemarin?” Tanya Pak Mul saat mereka sedang makan malam.
“Iya, Pa. Tapi biasa aja sih.”
Pria yang bertubuh gempal itu mengangguk pelan.
“Terus, rencana kamu sekarang apa? Seharusnya kamu itu kan menikah, tapi ternyata allah berkehendak lain. Kamu kerja juga mau kerja apa.”
Hening.
Merka hanya mengunyah makanan dengan pikiran masing-masing. Entah Nunung maupun Ayunda hanya bisa diam memendam semua keinginan dalam hatinya.
“Kenap gak kuliah aja sih? Emang teteh gak tergiur lihat dokter perempuan yang ke sini? Merka cantik, rapi, pinter.”
Ayunda dan Nunung hanya bisa saling melempar pandangan saat Inggit berseloroh.
Tidak ada tanggapan apapun dari Pak Mul. Dia hanya fokus menghabiskan makanan nya.
...****...
Pemilihan kepala desa berlangsung angat meriah. Dua kubu yang bertarung berusaha untuk menarik perhatian para masyarakat.
Banyak sekali pedagang dadakan karena seluruh warga memang sedang berkumpul di sana. Ada yang menjajakan makanan, bakso, rujak, tukang es keliling dan pedagang mainan.
Suasana sambat riuh ditambah musik dengan dentuman keras membuat suasana semakin gempita.
Ayunda berdiri menunggu antrian untuk masuk ke bilik pencoblosan bersama syifa dan warga lainnya.
“Hai.”
“Mas? Belum berangkat ke kota?”
“Belum. Syifa, boleh gak saya di depan kamu?”
“Boleh, Mas.”
Elang berdiri tepat di belakang Ayunda.
“Kamu mau coblos siapa?” Tanyanya berbisik tepat di belakang Ayunda.
“Gak tau, Mas. Yang jelas bukan si tukang mesum itu.”
Mereka cekikikan.
“Kita pilih yang amplopnya tebel aja. Mas kebagian serangan fajar gak tadi? Aku dapet seratus ribu.”
“Masa? Aku gak dapet. Bagi udang dong.”
“Kita makan bakso aja gimana? Nanti pulang dari sini.”
“Gak bisa. Soalnya aku mau berangkat nanti jam dua an.”
“Oh, ya udah kita bagi dua aja. Mau?”
Elang tertawa. “Nggak lah. Yang ada aku ngasih uang jajan sama kamu.”
“Ya udah mana sini.” Ayunda mengulurkan tangan pada elang untuk meminta uang.
Laki-laki itu segera mengeluarkan dompet berniat mengambil uang.
“Hahaha. Canda kali, Mas. Serius amat.”
“Eh, tapi seriusan. Aku pengen ngasih uang jajan sama kamu. Kapan lagi ya gak? Nanti kalau aku nikah mah gak bakalan bisa. Yang ada istri aku cemburu.”
Ayunda membalikkan badan. Dia menatap serius mata elang.
“Mas serius? Kapan? Sama siapa?’
Elang memperhatikan sekeliling.
“Opss,’ ayunda menutup mulutnya.
“Ngadep sana.” Elang membalikkan badan Ayunda. “Jadi gimana? Mau duit jajan nggak?”
“Ya udah mana sini.”
Elang memberikan uang beberapa lembar berwarna merah ke tangan gadis itu.
“Aku dapat bonus. Aku bagi kamu sedikit buat jajan.”
“Hihihi. Makasih ya, mas. Ternyata begini ya rasanya punya kakak cowok. Enak banget minta duitnya.”
“Kita kan emang sodara.”
Ayunda mengangguk cepat. Saat sedang menunggu, ayunda dan elang bersenda gurau. Mereka membicarakan banyak hal sambil sesekali tertawa. Tanpa sadar ada yang sedang memperhatikan dari kejauhan sana.
“Aku mampir sebentar deh,” ujar Elang saat merka ada di depan rumah Ayunda.
“Ayo, Mas. Kebetulan papa sama mama juga ada di dalam.”
“Eh, ada tamu.” Nunung menyambut kedatangan elang yang belum juga masuk rumah.
“Tante, sehat?”
“Alhamdulillah baik. Mari silakan duduk.”
“Mas, aku ganti baju dulu ya, bau apek soalnya.”
Elang mengangguk lalu duduk di kursi. Tidak lama kemudian Pak Mul datang. Mereka langsung ngobrol basa-basi.
“Pak, sebenarnya saya itu mau minya ijin sama bapak. Ini tentang ayunda.”
Pak Mul menarik tubuhnya lalu bersandar pada sandaran kursi. Dia memasang wajah serius.
“Pertunangan merka gagal kan ya, dan juga ayunda sepertinya tidak punya kegiatan lain. Kerja di rumah juga tidak bisa membantu perkejaan bapak. Kerja ke orang juga gak mungkin mengingat hanya lulusan SMA. Mentok-mentok kerja di pabrik dan kayaknya sambat mustahil mengingat ayunda adalah putri bapak yang sihir di desa kita.”
Pak Mul masih mendengarkan dan menanggapi dengan diam. Berusaha mencerna ke mana arah pembicaraan Elang.
“Saya bermaksud mengajak Ayunda ke kota untuk melanjutkan pendidikan. Pendidikan itu tidak hanya untuk mencari kerja nantinya. Jaman sekarang ibu rumah tangga pun harus pinta. Bagaiamana anak bisa lebih maju nantinya kalau memiliki seorang ibu yang tidak berpendidikan. Tidak masalah jika nanti ayunda harus kemnali ke dapur mengurus rumah dan suami, tapi setidaknya dia bisa membangun rumah tangga yang baik dengan ilmu yang dia miliki.’’
Hening.
Ayunda yang hendak turun pun diam berdiri di atas anak tangga. Dia takut untuk menghampiri Pak Mul dan duduk di sana bersama mereka. Sementara Nunung duduk mendengarkan di dapur.
Pak Mul menghela nafas setelah lama berdiam diri.
“Apa menurut nak elang, ayunda memang harus kuliah?”
“Wajib!” Pungkas Elamng mantap.
“Sebenarnya, bapak tidak masalah jika memang ayunda mau kuliah ke luar kota. Toh bapak juga bukan orang yang todak terbuka pada hal-hal dari luar sana. Bapak hanya takut nanti ayunda gimana di sana? Bapak takut dia terbawa pergaulan orang kota yang kadang suka lupa sama norma agama.”
Pak mul kembali menghela nafas dalam. Lalu menyeruput teh yang sudah tidak hangat itu.
“Juga, dulu kan ayunda ya kita taulah kalau dia memang sangat cinta mati pada zayan. Bapaknya kayan alias Herman kan memang ingin zayan menikah dengan gadis yang manut pada suaminya kelak. Dia mau zayan punya istri yang tidak sama-sama bekerja supaya zayan dan cucunya keurus kelak. Ya Bapak sih mengerti kenapa Herman begitu. Dilalahnya ayunda pun mau menuruti Herman, ya karena cinta matinya itu sama zayan.”
Elang menoleh pada ayunda sambil memperagakan orang hang hendak menggigit.
“Bapak juga tau, dia diam-diam belajar di kamarnya. Bapak tidak bertanya karena dikira ayunda yang akan bicara sendiri. Rupanya dia tidak berani dan malah minta bantuan nak Elang.”
“Bukan, Pak. Ayunda tidak pernah meminta saya untuk datang dan membicarakan hal ini sama bapak. Tapi saya tahu bagaiaman dia merasa terluka di hadapan teman-teman zayan dan merasa rendah.”
Ayunda menatap lekat pada Elang. Dia merasa kaget bagaiman elang bisa tahu isi hatinya.
‘’Jika toh bapak merasa khawatir bagaimana ayunda di kota nanti, biar saya yang bertanggung jawab. Saya yang akan menjaga dia nanti. Bapak bisa percaya sama saya.”
“Wah, hahahah. Malah merepotkan nantinya.”
“Tidak apa-apa, Pak. Kelak kalau saya menikah nanti, ayunda akan punya teman.”
“Menikah?” Tanya pak mul. Jelas terdengar ada nada kecewa di sana. Bagaiaman tidak, pak mul berpikir jika ayunda gagal menikah dengan zayan, maka dia akan mencoba berbicara dengan pak aceng. Namun tentara Elang sudah punya pilihan sendiri.