NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran yang Membawa Mukjizat

Cahaya yang menyelimuti tubuh Safira semakin terang. Semakin menyilaukan sampai Arga harus menutup matanya dengan lengan walau tangannya tidak mau lepas dari pelukan Safira.

"SAFIRA! JANGAN PERGI! KUMOHON!" teriak Arga dengan putus asa, air matanya mengalir tak terkendali.

Tapi cahaya itu semakin kuat. Semakin hangat. Memenuhi seluruh ruangan dengan kehangatan yang aneh. Bukan panas yang menyakitkan. Tapi hangat yang menenangkan. Seperti pelukan ibu.

Di ruang tamu, Bagas yang tidur di sofa tiba-tiba terbangun dengan terlonjak. Matanya langsung terbuka lebar melihat cahaya terang merembes dari bawah pintu kamar Arga.

"Apa apaan itu?!" gumamnya sambil bangkit dengan panik. "Arga?! ARGA?!"

Dia berlari menuju kamar, membuka pintu dengan keras. Dan pemandangan yang dia lihat membuat dia membeku di tempat.

Arga berlutut di lantai, memeluk Safira yang tubuhnya bercahaya sangat terang seperti matahari kecil. Cahaya itu begitu menyilaukan tapi entah kenapa Bagas tidak bisa mengalihkan pandangan.

"A-arga! Ada apa ini?! Kenapa Safira bercahaya kayak gitu?!" Bagas berteriak panik sambil melangkah masuk.

Tapi sebelum Arga sempat menjawab, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Cahaya di tubuh Safira tiba-tiba meledak lembut, menyebar ke seluruh ruangan. Bagas dan Arga harus menutup mata karena terlalu terang. Dan saat cahaya itu mulai meredup, terdengar suara yang membuat waktu seolah berhenti.

Tangisan bayi. Tangisan keras yang memecah keheningan malam. Tangisan kehidupan yang baru.

Arga membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur karena cahaya tadi. Tapi yang dia lihat membuat napasnya berhenti. Di pelukannya, di pelukan Safira yang semakin memudar, ada seorang bayi mungil.

Bayi dengan kulit putih bersih, rambut hitam lebat, dan mata yang belum terbuka tapi menangis dengan sangat keras.

"Ya-ya Allah," bisik Arga dengan suara yang gemetar hebat. "A-anakku, anakku lahir."

Safira yang tubuhnya sudah setengah transparan tersenyum dengan sangat indah walau lemah. Tangannya yang mulai memudar mengusap kepala bayi mungil itu dengan lembut.

"Anak kita, Arga," bisiknya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Anak kita sudah lahir."

Bagas yang melihat itu langsung jatuh terduduk dengan wajah pucat. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Otaknya tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi.

Arga dengan tangan gemetar mengambil bayi mungil itu dari pelukan Safira yang semakin memudar. Bayi itu masih menangis keras, tangan kecilnya mengepal, kakinya menendang-nendang udara.

"Anakku," Arga menangis sambil memeluk bayinya dengan sangat lembut. "Anakku, bayiku."

Dengan tangan yang gemetar hebat, Arga mendekatkan mulutnya ke telinga kanan bayi mungil itu. Suaranya bergetar saat mulai mengumandangkan azan.

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..." suaranya pecah di tengah-tengah karena menangis. "Asyhadu alla ilaha illallah... Asyhadu alla ilaha illallah..."

Air matanya terus mengalir deras sambil terus melanjutkan azan. Bayi di pelukannya masih menangis keras, seolah ikut merasakan kesedihan ayahnya.

"Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Arga hampir tidak bisa melanjutkan karena menangis terlalu keras. "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah."

Setelah azan selesai, Arga memeluk bayinya dengan sangat erat sambil terus menangis. "Selamat datang, anakku selamat datang di dunia ini."

"Dia tampan sekali," Safira tersenyum walau air matanya mengalir. Tubuhnya semakin transparan. "Seperti ayahnya."

"Tidak," Arga menggeleng sambil menangis. "Dia mirip kamu. Rambut hitamnya. Kulitnya yang putih. Dia seperti kamu, Safira."

Safira tertawa pelan walau tubuhnya semakin transparan. "Mungkin campuran kita berdua."

Tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi. Nenek Aminah muncul dengan beberapa sesepuh jin lain. Wajah mereka serius tapi ada ketakjuban di mata mereka.

Nenek Aminah mendekat dengan pelan, menatap bayi di pelukan Arga dengan tatapan yang sangat dalam. Lalu matanya melebar.

"Subhanallah," bisiknya sambil menutup mulut dengan tangan gemetar. "Ini tidak mungkin."

"Ada apa, Nek?" tanya Safira dengan lemah, tubuhnya semakin memudar.

Nenek Aminah berlutut di samping Arga, menatap wajah bayi yang masih menangis. "Anak ini bukan anak biasa, Safira."

"Maksud nenek?" Arga bertanya dengan bingung sambil menggendong bayinya lebih erat.

"Aku bisa melihat auratnya," Nenek Aminah menjelaskan dengan suara bergetar. "Anak ini, dia seperti Batara Rama di pewayangan. Rama yang menjadi dewa keadilan. Simbol penyeimbang dua alam."

Sesepuh jin yang lain mengangguk dengan wajah kagum.

"Ini ramalan kuno," kata kakek berjenggot putih itu sambil melangkah maju. "Ramalan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bahwa akan lahir anak dari cinta jin dan manusia yang direstui Allah. Anak yang akan menjadi penjaga keseimbangan antara dua alam. Pengaman agar dunia jin dan dunia manusia bisa hidup berdampingan dengan damai."

"Dan anak itu..." Nenek Aminah menatap bayi di pelukan Arga dengan hormat. "Adalah anak kalian."

Arga menatap bayi di pelukannya dengan tatapan tidak percaya. "Anakku adalah anak ramalan?"

"Ya," Nenek Aminah mengangguk sambil tersenyum. "Makanya Allah meridhai cinta kalian. Makanya Safira bisa hamil walau itu hampir mustahil. Karena anak ini harus lahir. Dia ditakdirkan untuk hal yang besar."

Safira yang mendengar itu menangis dengan air mata bahagia walau tubuhnya sudah hampir sepenuhnya transparan. "Alhamdulillah... alhamdulillah anakku... anakku istimewa."

Dia mengangkat tangannya yang sudah hampir sepenuhnya transparan, mengusap pipi bayi yang mungil dengan sangat lembut. "Anakku, ibu sangat bangga padamu. Sangat mencintaimu."

Bayi yang tadinya menangis tiba-tiba diam. Matanya yang masih tertutup perlahan terbuka. Dan saat mata itu terbuka, semua orang di ruangan itu terperanjat.

Matanya berwarna emas. Emas yang bercahaya lembut. Bukan mata manusia. Bukan mata jin. Tapi mata yang istimewa.

"Matanya," Bagas yang dari tadi terdiam akhirnya bicara dengan suara gemetar. "Matanya emas."

"Itu tanda dia anak dari dua alam," Nenek Aminah menjelaskan dengan lembut. "Tapi jangan khawatir. Saat dia tumbuh dewasa, matanya akan berubah jadi coklat seperti manusia normal. Ini hanya tanda saat dia baru lahir."

Bayi itu menatap Safira dengan mata emasnya yang bercahaya. Dan untuk pertama kalinya, bayi yang baru lahir itu tersenyum.

Tersenyum pada ibunya yang perlahan menghilang.

"Dia tersenyum," Safira menangis bahagia sambil mengusap pipi bayinya. "Dia tahu aku ibunya."

"Tentu saja dia tahu," Arga ikut menangis sambil membawa bayinya lebih dekat ke Safira. "Dia anakmu. Anakku. Anak kita."

Safira mengusap wajah bayinya untuk terakhir kali. Jarinya yang sudah hampir sepenuhnya transparan menyentuh pipi bayi yang hangat dan lembut.

"Arga," suara Safira semakin lemah, hampir tidak terdengar. "Beri dia nama."

Arga menatap Safira dengan mata berkaca-kaca. "Nama?"

"Rama," Safira tersenyum walau tubuhnya sudah hampir hilang sepenuhnya. "Seperti Batara Rama. Dewa keadilan. Beri dia nama, Rama Maheswara."

"Rama," Arga mengulangi sambil menatap bayi di pelukannya. "Rama Maheswara. Nama yang indah."

Dia mendekatkan mulutnya ke telinga bayi itu, berbisik dengan lembut walau suaranya gemetar. "Namamu Rama Maheswara. Anakku Rama."

Bayi itu tersenyum mendengar namanya dipanggil untuk pertama kali.

Safira menangis bahagia melihat itu. "Rama anakku. Ibu mencintaimu. Sangat mencintaimu. Jadilah anak yang baik. Jadilah anak yang membuat ibu dan ayah bangga."

Lalu dia mengalihkan pandangan pada Arga. Menatap mata suaminya yang basah oleh air mata.

"Arga terima kasih. Terima kasih sudah mencintaiku. Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan ini. Terima kasih sudah memberiku Rama."

"Safira jangan." Arga menggeleng sambil menangis. "Jangan pergi. Kumohon."

"Aku mencintaimu." Safira tersenyum dengan sangat indah. Senyum terakhirnya. "Selamanya..."

Dan tubuhnya berubah menjadi cahaya. Cahaya keemasan yang sangat lembut dan hangat.

Cahaya itu perlahan melayang ke atas, melingkupi Arga dan Rama dengan kehangatan terakhir. Lalu perlahan memudar. Menghilang. Meninggalkan kehangatan yang perlahan sirna.

"SAFIRA!!!" Arga berteriak dengan sangat keras, suaranya membelah keheningan malam. "SAFIRAAAAAA!!!"

Tangisannya pecah. Sangat keras. Sangat memilukan. Satu tangannya memeluk Rama yang mulai menangis lagi. Tangan lainnya terulur ke udara kosong, mencoba meraih sesuatu yang sudah tidak ada lagi.

"Jangan pergi, kumohon jangan pergi. Safira... istriku... kumohon kembali." Arga terus berteriak sambil menangis sejadi-jadinya.

Bagas yang melihat itu ikut menangis. Dia merangkak mendekat, memeluk Arga dari belakang sambil ikut menangis.

"Ga, aku di sini. Kamu nggak sendirian." isak Bagas sambil memeluk sepupunya yang hancur.

Nenek Aminah dan para sesepuh jin terdiam dengan wajah yang penuh kesedihan. Mereka menyaksikan cinta terbesar yang pernah mereka lihat. Cinta yang rela mengorbankan segalanya.

Rama dalam pelukan Arga menangis dengan sangat keras. Seolah bayi yang baru lahir itu merasakan kepergian ibunya. Seolah dia tahu ibunya sudah tidak ada lagi.

Tangisan Rama dan Arga berbaur, memenuhi ruangan dengan kepedihan yang sangat dalam.

Arga memeluk Rama dengan sangat erat sambil terus menangis. "Maafkan ayah, Rama, maafkan ayah yang tidak bisa selamatkan ibumu, maafkan ayah."

Dia mencium kepala Rama berkali-kali sambil terus menangis. "Ibumu wanita yang sangat hebat, Rama. Dia mengorbankan segalanya untuk kita. Untuk kamu bisa lahir. Untuk ayah bisa sehat. Dia mencintai kita lebih dari apapun."

Rama masih terus menangis, tangan kecilnya mencengkram baju Arga dengan erat. Seolah mencari kehangatan ibu yang sudah tidak ada.

Dan malam itu, di ruangan yang masih terasa hangat oleh sisa-sisa kehadiran Safira, terdengar tangisan ayah dan anak. Tangisan perpisahan yang sangat menyakitkan.

Tangisan untuk wanita yang telah pergi selamanya. Meninggalkan cinta yang tidak akan pernah mati.

1
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
chapt ini mengandung bawang.. jd terharu sekaligus tegang mendekati WAR
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
kenapa Safira g bantu melawan.. apa karena kehilangan eksistensi jd g bisa bantu
Leoruna: karena yg di hadapi Safira sekarang bukan jin biasa, ibaratnya kayak raja jin yg mempunyai energi lebih kuat dari Safira sendiri.
total 1 replies
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
ini yg aku bingung kok bisa darah Safira masuk d bayi bagas.. di chapt sebelumnya aku g mudeng knp bayi bagas jg d incar.. apa karena bagas sering nemenin Arga pas energinya masih kesedot Safira..
Leoruna: iya kak, karena Arga kan adiknya Bagas, karena mereka slalu bersama jdi sebagian energi Safira ada di tubuh Bagas jga. Sedangkan Elisa sendiri dia kan anak indigo.🙏🙏
total 1 replies
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
kenapa tiba² ada bawang sih /Cry/ kn aku jd ikutan /Sob//Sob/
Leoruna: bukan salah aku, kak. salahin yang naro bawangnya/Shy/
total 1 replies
aa ge _ Andri Author Geje
luar biasa., teruslah berkarya kawan...
Leoruna: mkasih🙏
total 1 replies
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!