Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Puing Puing Kehormatan
Bradley membuka mata saat ia merasakan kebas menjalar di lengan kanannya. Ia menoleh perlahan, mendapati Megan masih terlelap, bersandar pada lengan kekarnya yang semalam menjadi penjara sekaligus sandaran Sedangkan tangannya melingkar di Pinggangnya.
Dengan gerakan lembut yang hampir tak masuk akal bagi seorang psikopat, Brad menyibak rambut panjang Megan yang menutupi wajahnya, menyelipkannya di belakang telinga.
Ia terpaku. Cukup lama, ia menatap wajah cantik itu. Brad ingin menyentuh pipi Megan, namun tangannya tertahan di udara. Ia menarik kembali jemarinya, mengurungkan niat. Perlahan, ia bangkit dari ranjang tanpa suara, mengangkat tangan Megan dari atas pinggang nya, Ia pun tak berniat membangunkan wanita yang jiwanya baru saja ia hancurkan semalam.
Brad memungut celananya yang tercecer di lantai, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Di bawah guyuran air dingin shower, Brad memejamkan mata. Sekelebat siluet wajah cantik dengan rambut panjang yang tersenyum padanya dua puluh tahun silam muncul, lalu menghilang seketika.
BUUGH!
Tangan Brad menghantam dinding marmer kamar mandi hingga buku-buku jarinya pecah dan mengeluarkan darah. Namun, rasa sakit di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan amarah yang menjalar hingga ke ubun-ubun saat wajah bersimbah darah mengambil alih pikirannya.
“Arthur...” Itu adalah kata terakhir ayahnya sebelum mengembuskan napas terakhir. Brad memejamkan mata, berusaha meredam napasnya yang memburu. Dendam itu seperti api yang menolak untuk padam.
Setelah berpakaian lengkap, Brad duduk di sofa dengan tablet di tangannya. Ia memantau arus informasi, memastikan kekacauan semalam tidak menembus benteng pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia bersandar, meraih remote, lalu membuka tirai otomatis yang membiarkan cahaya London menerobos masuk.
****
Megan membuka mata perlahan. Cahaya tajam itu terasa seperti ejekan, menyambut rasa sakit sisa semalam yang kini menyerang tubuhnya, sebuah lambang kejatuhan harga dirinya. Ia menoleh, mendapati Bradley duduk dengan menyilangkan kaki, menatapnya dengan senyum meremehkan yang membuatnya muak.
"Selamat pagi, Nona Ford. Tidurmu nyenyak sekali. Sepertinya kau terlalu menikmati permainanku hingga kelelahan," suara berat Brad memecah keheningan.
"Diam kau, brengsek!" desis Megan dengan suara serak.
Bradley tidak marah. Ia justru tertawa. Tawa yang menunjukkan bahwa ia memegang semua kartu as di tangannya.
Megan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang gemetar. Ia turun dari ranjang, berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Matanya berkeliling dengan panik, mencari gaun sutra zamrudnya. Ia menemukannya di dekat kaki Bradley, namun saat memungutnya, hati Megan hancur. Gaun itu sudah menjadi rongsokan kain robek besar di akibat tarikan kasar Bradley semalam.
Kemarahan Megan memuncak. Tanpa pikir panjang, ia melempar kain hancur itu tepat ke wajah Bradley. "Lihat apa yang kau lakukan! Kau monster, Bradley! Kau menghancurkan segalanya!" Teriaknya sambil menunjuk wajah Brad.
Bradley menangkap gaun itu dengan satu tangan. Alih-alih tersinggung, ia justru membawa kain sutra yang masih membawa aroma tubuh Megan itu ke hidungnya. Ia menghirupnya dalam-dalam, memejamkan mata sejenak dengan ekspresi kemenangan yang hina.
"Gaun ini memang sudah tidak berguna, Meg," ucap Bradley sambil melempar kain itu kembali ke lantai. "Sama seperti kariermu setelah foto-foto kita di ruangan ini sampai ke meja atasanmu di Langley."
Megan mendekat dengan napas memburu, lalu tanpa aba-aba—
PLAAKKK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bradley hingga kepalanya tertoleh. Namun, ia tidak membalas. Baginya, kemarahan Megan adalah hobi baru yang menyenangkan bagi seorang Bradley Brown.
"Kau mencari ini?" tanya Brad tenang, saat melihat Megan masih sibuk mencari sesuatu. Ia mengeluarkan sesuatu berwarna merah marun dari kantong celananya. Itu pakaian dalam Megan.
Megan ingin menyambar benda itu, namun Brad memegangnya erat, lalu mencium kain itu dalam-dalam di depan wajah Megan. "Aroma tubuhmu masih tertinggal, Meg."
"Kau memang tak punya hati, Brad," desisnya. Megan mengeratkan balutan selimut di tubuhnya saat Brad mulai melangkah mendekat.
"Bahkan hatiku sudah lama mati, Meg," bisik Brad tepat di telinga Megan. "Tapi aku bukan monster yang membiarkanmu keluar dengan gaya seperti itu."
Ia berjalan menuju lemari besar di sudut kamar yang berisi koleksi pakaian mahal. Ia mengeluarkan sebuah kemeja putih sutra pria yang masih baru, lalu melemparkannya tepat ke wajah Megan. "Pakailah Meg, bersihkan dirimu dari sisa tubuhku yang suatu hari akan kau rindukan."
"Aku tak akan pernah merindukan iblis sepertimu"
Megan menyambar kemeja itu dan berjalan menuju kamar mandi dengan amarah yang tertahan. Begitu pintu terkunci, ia menjatuhkan tubuhnya di bawah guyuran air. Ia menangis tersedu-sedu, menyesali ketidakberdayaannya.
"Tuhan, apakah ini dosa? Aku tidak menginginkannya... Aku bahkan tak punya kekuatan untuk melawannya," Megan membenturkan kepalanya ke dinding hingga pelipisnya mengeluarkan darah.
***
Bradley sedang menyesap air dari gelas kristalnya saat melihat Megan keluar. Rambutnya setengah basah, dan kemeja putih itu terlihat sangat kebesaran, menutupi separuh pahanya. Brad menyadari ada luka di pelipis wanita itu.
Bagi Megan, tatapan Brad adalah penghinaan. "Jangan melihatku seperti itu, Brad." Megan sadar, meski terbalut kemeja mahal, ia tak lebih dari mangsa telanjang di depan sang predator.
Brad meletakkan gelasnya, berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil plester dan sebuah paper bag. Ia mendekati Megan, menempelkan plester itu.
"Kau tak perlu menyakiti dirimu sendiri, Meg. Biarkan aku saja yang menyakitimu," bisik Brad tepat di telinga Megan, menghirup aroma sampo dari rambut wanita itu.
"Menjauh dariku b*jingan," Megan mendorong Brad sekuat tenaga hingga pria itu terjerembab di atas sofa.
"Kau masih punya tenaga, Meg? Pakailah pakaian itu. Aku sudah menyiapkan ukuran yang sangat pas untukmu... bahkan aku tahu ukuran pakaian dalammu."
Megan menyambar paper bag itu dan kembali ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Ia menumpahkan isinya, sebuah gaun merah marun dan satu set pakaian dalam baru.
"Psikopat sialan... sejak kapan dia menyiapkan ini?" Megan menatap pantulan dirinya di cermin. Tapi cermin itu seolah ikut menertawakan kebodohannya. "Kau b*ngsat, Brad. Kau menghancurkan hidupku,"
PYAAAAARRRRR!
Megan menghancurkan cermin itu dengan satu pukulan. Darah segar mengalir dari buku jari tangannya, namun ia tak peduli. Lalu ia keluar, Bradley sudah berdiri di ambang pintu dengan kasa steril di tangannya.
"Kau agen CIA yang bodoh, Meg," ledek Brad, meraih tangan Megan dengan paksa.
Megan membiarkan Brad membalut lukanya. Ia memejamkan mata saat air mata kembali membasahi pipinya.
"Sudah kukatakan, jangan sakiti dirimu sendiri," ucap Brad sambil menghapus air mata Megan dengan ibu jarinya.
Begitu Megan sadar tangan Brad menyentuh wajahnya, ia langsung mendorong pria itu. Tanpa menoleh lagi, ia menyambar tasnya dan pergi meninggalkan kamar itu secepat mungkin.
Brad hanya menatap punggung wanita itu hingga menghilang dari pandangannya.
Tangannya menggenggam erat satu benda yang kini masih tersimpan di saku celananya, rahangnya kembali mengeras. “Ini baru permulaan, Megan Ford, akan banyak kejutan untukmu di London.”
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭