Blurb:
Dua belas tahun yang lalu, Jaxon Thorne memberikan segalanya, hatinya, janjinya, masa depannya pada wanita dengan sepasang mata hijau yang indah, Scarlett Reed yang merubah namanya menjadi Scarlett Quinn.
Lalu, dia terbangun di dunia yang hancur, hanya disisakan secarik surat perpisahan yang melukai hatimya.
Sejak saat itu, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Thorne itu membangun benteng kokoh di sekeliling hatinya, dingin, berkuasa, dan tak tersentuh.
Kekayaannya melimpah, tetapi kebenciannya pada pengkhianatan lebih membara dari apapun hingga dia tak percaya lagi akan cinta sejati dan suka mempermainkan wanita.
Namun, takdir berkata lain.
Semuanya berubah saat Jaxon bertemu dengan Dash Quinn, seorang bocah jenius berusia dua belas tahun pemenang olimpiade sains yang mendapat beasiswa dari perusahaannya.
Ada sesuatu pada senyum dan sorot mata anak itu yang membuat dunia Jaxon berguncang, sebuah pengingat yang tak tertahankan akan masa lalu yang dikuburnya dalam-dalam.
Semakin dekat Jaxon dengan Dash, semakin banyak fakta yang terungkap. Rahasia gelap itu akhirnya terbuka.
Penghianatan terbesar bukan berasal dari gadis sederhana yang dulu dicintainya, melainkan dari lingkaran terdekatnya sendiri, yaitu keluarganya.
Sekarang, dihadapkan pada kebenaran yang pahit, Jaxon harus memilih, tetap menjadi pewaris yang terluka seperti yang diharapkan keluarganya, atau menjadi pejuang yang mengambil kembali segala sesuatu yang telah dicuri darinya.
Sebuah perjalanan untuk menuntut balas, memperbaiki kesalahan, dan meraih keluarga yang tak pernah dia sangka bisa dimilikinya, sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Mana yang akan dipilih Jaxon? Keluarganya yang licik atau keluarga barunya yang baru dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Oxford
Scarlett melangkah keluar apartemen. Hujan gerimis telah berhenti, dan tampak jalanan basah, aromanya segar.
Dia berjalan cepat ke halte bus terdekat karena dia capek menyetir, jantungnya berdebar-debar tak sabar.
*
*
Setibanya di sana, seorang petugas keamanan ramah mengantarnya ke kantor kepala sekolah. Lorong-lorongnya sunyi, karena memang memasuki masa liburan.
Kepala sekolah, Tuan Gerry, menyambut Scarlett dengan senyum hangat dan jabat tangan erat di ruang kerjanya yang dipenuhi buku.
"Nyonya Quinn, senang akhirnya bisa bertemu secara langsung," ujarnya, menawarkan kursi.
"Scarlett, saja. Dan saya sangat menyesal karena baru bisa datang sekarang. Bagaimana Dash? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Scarlett, tidak bisa menahan dirinya.
Tuan Gerry duduk di belakang mejanya. "Ah, tentang itu. Ada perkembangan yang sangat menarik, Nyonya Qu— Scarlett. Dash, dengan nilai sempurnanya dan kontribusinya yang luar biasa untuk klub debat, telah menarik perhatian salah satu donatur utama yayasan kami. Seseorang yang sangat peduli pada pendidikan anak-anak berbakat."
Scarlett mengerutkan kening, tidak mengerti. "Oke ... tapi di mana Dash sekarang?"
"Donatur tersebut, sebagai bentuk apresiasi, mengundang Dash untuk menghabiskan sisa liburannya di villa pribadinya di daerah pegunungan. Perjalanan yang sangat menyenangkan bagi Dash, pastinya.” Tuan Gerry tersenyum lebih lebar. "Dan yang terbaik, undangan tersebut juga berlaku untuk orang tua. Anda juga diundang untuk bergabung jika berkenan."
Scarlett terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Dash di pegunungan? Dengan donatur yang tidak dia kenal? Kecemasan mulai merasukinya.
Tapi kemudian, ada kegembiraan karena bisa bertemu Dash lebih cepat, dan di tempat yang mungkin menyenangkan, meskipun asing.
"Jadi ... Dash sudah di sana? Apakah dia baik-baik saja?"
"Tentu saja! Kami mendapat kabar pagi tadi. Dia sangat senang di sana. Villa itu sangat mewah, lengkap dengan segala fasilitas. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi seorang anak seusianya." Tuan Gerry membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kartu undangan bertepi emas. "Ini detailnya. Kami bahkan telah menyiapkan transportasi untuk Anda. Perjalanan ke sana cukup jauh dan jalannya agak berliku, lebih baik menggunakan sopir yang sudah mengenal rute."
Scarlett menerima kartu itu. Kertasnya tebal dan halus. Tapi dia tak membacanya, dan hanya langsung memasukkannya ke dalam tas.
"Kapan berangkat?" tanya Scarlett, tidak basa basi lagi.
"Sekarang juga. Sopirnya sudah menunggu di depan. Anda punya waktu untuk mengambil barang-barang anda untuk menginap."
Scarlett mengangguk. "Baiklah. Tapi mungkin kami tak menginap. Saya akan membawa Dash pulang."
"Tidak, Nyonya. Sebaiknya anda menginap karena waktu tempuh perjalanan cukup lama. Waktumu dengan Dash akan habis nanti.” Tuan Gerry berdiri. "Saya yakin Dash akan sangat senang. Dan jangan khawatir, semuanya sudah diatur dengan sangat baik."
“Oke,” Scarlett kemudian beranjak dan berbalik pergi, bahkan lupa menjabat tangan Tuan Gerry.
Dia langsung menuju mobil yang sudah disiapkan dan menuju apartemennya. Dengan cepat, dia melemparkan beberapa pakaian, sikat gigi, dan barang-barang penting lainnya ke dalam tas ransel.
Dia juga tidak lupa membawa hadiah kecil untuk Dash, sebuah model teleskop mini antik yang dia temukan di sebuah toko di kota kecil yang dilewatinya kemarin.
*
*
Mobil mewah itu masih menunggu di depan apartemen Scarlett. Sopirnya, seorang pria berusia sekitar lima puluhan dengan seragam abu-abu dan topi, membukakan pintu untuknya dengan sikap formal.
"Selamat siang, Nyonya Quinn. Perjalanan kira-kira dua setengah jam. Ada minuman dingin di dalam. Silakan beristirahat," kata sopir itu dengan suara datar.
Scarlett mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam mobil. Interiornya berlapis kulit, harum, dan kedap.
Sopir itu hampir tidak berbicara sepanjang perjalanan sepatah kata pun, hanya sesekali memberitahukan bahwa mereka akan melewati beberapa desa.
Scarlett mencoba mengobrol. "Apakah Anda sering mengantar orang ke tempat ini?" tanyanya.
"Ya, Nyonya," jawab singkat sopir itu, mata tetap tertuju ke jalan.
"Bagaimana suasana di sana? Ramai?"
"Cukup tenang. Sangat pribadi.” Jawabannya tidak memberi banyak informasi.
*
*