NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Hitam 4

Warisan Mutiara Hitam 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:62.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kokop Gann

(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)

Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.

Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.

Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resonansi di Lembah Api Purba

Langit di atas Lembah Nafas Naga tidak berwarna ungu seperti wilayah Surga Hampa lainnya, melainkan merah tembaga yang bergejolak, seolah-olah awan di sana terbuat dari uap logam yang mendidih. Aroma belerang yang menyengat bercampur dengan hawa murni yang sangat tajam menyambut mereka di mulut lembah yang menyerupai rahang naga raksasa yang terbuka.

"Tuan, ini dia," Mo Yan menyerahkan dua butir pil berwarna hitam pekat yang memancarkan hawa dingin yang stabil. "Pil Penawar Esensi. Saya telah mengekstrak sari Bunga Jiwa Hitam untuk menciptakan lapisan pelindung pada meridian. Tanpa ini, udara di dalam akan membakar organ dalam kita dalam sekejap."

Chen Kai mengambil satu pil dan menelannya. Seketika, rasa dingin yang menyejukkan mengalir dari perutnya, menyelimuti seluruh jaringan saraf dan pembuluh darahnya. Ia memberi isyarat pada Ah-Gou untuk melakukan hal yang sama.

"Berjalanlah di belakangku sejauh tiga langkah," perintah Chen Kai, suaranya berat dan berwibawa. "Jangan menyentuh dinding batu atau menghirup uap yang berwarna merah pekat."

Mereka mulai melangkah masuk. Begitu melewati garis batas lembah, tekanan atmosfer melonjak drastis. Jika di luar gravitasi terasa seperti memikul beban gunung, di dalam sini, rasanya seolah-olah setiap atom di udara mencoba menembus pori-pori kulit untuk menghancurkan sel dari dalam.

"Hati-hati, Nak," suara Kaisar Yao bergema di dalam Dantian Chen Kai, kini terdengar lebih jernih karena penyelarasan Chen Kai yang meningkat. "Tempat ini bukan sekadar lembah. Ini adalah reruntuhan Sumur Esensi yang meledak di era perang kuno. Api yang kau rasakan bukan api fisik, melainkan 'Api Dao' yang tertinggal dari sisa-sisa naga langit yang gugur."

Chen Kai memejamkan matanya sejenak, mengaktifkan indra spasialnya. Di matanya, lembah itu tidak lagi berupa batu dan uap, melainkan anyaman benang-benang energi merah yang berdenyut kacau. Di tengah kekacauan itu, ia merasakan sebuah denyutan yang sangat familiar—denyutan yang seirama dengan Mutiara Hitam di dadanya.

"Fragmen Keenam... ia ada di bawah struktur itu," bisik Chen Kai, menunjuk ke sebuah pagoda yang sudah runtuh di kejauhan, terkubur di bawah aliran lava yang sudah membatu.

Namun, perjalanan mereka terhenti oleh fenomena aneh. Udara di depan mereka mulai memadat, membentuk bayangan-bayangan naga kecil yang melayang. Bayangan itu tidak memiliki tubuh fisik, hanya pusaran api merah yang memiliki mata biru dingin.

Roh Residu: Percikan Naga.

"Tuan! Itu adalah Roh Residu!" teriak Mo Yan ketakutan. "Mereka tidak memiliki kesadaran, tapi mereka menyerang apa pun yang memiliki 'Esensi Hidup' yang berbeda dengan lembah ini!"

Belasan Percikan Naga itu melesat ke arah mereka dengan suara mendesing yang menyakitkan telinga.

Chen Kai melangkah maju, menghalangi Mo Yan dan Ah-Gou. Ia tidak mencabut Pedang Meteor Hitam-nya. Sebaliknya, ia merentangkan telapak tangannya.

"Gravitasi: Penyerapan Arus."

WUNG!

Chen Kai menciptakan pusaran gravitasi di depan telapak tangannya. Bukannya menangkis, ia justru menarik Percikan Naga itu masuk ke dalam jangkauannya. Saat roh-roh api itu bersentuhan dengan aura Chen Kai, Mutiara Hitam langsung bekerja sebagai filter raksasa.

Energi api purba yang panas itu disaring, kotorannya dibuang melalui napas Chen Kai yang berubah menjadi uap putih, sementara esensinya dikompresi dan dimasukkan ke dalam sumsum tulangnya.

Chen Kai merasakan kekuatan fisiknya meningkat. Kulitnya kini memancarkan kilauan tembaga samar, tanda bahwa tubuhnya mulai mengadopsi ketahanan elemen api dari lembah tersebut.

"Luar biasa..." Ah-Gou terperangah. "Dia memakan roh penunggu lembah ini seolah-olah itu hanya cemilan."

Setelah membersihkan jalan, mereka sampai di reruntuhan pagoda tersebut. Di sana, di balik reruntuhan pilar batu yang diukir dengan bahasa dewa kuno, terdapat sebuah tangga menurun yang menuju ke ruang bawah tanah yang gelap namun memancarkan cahaya hitam yang pekat.

"Chen Kai, berhenti," Yao memberi peringatan tajam. "Aku merasakan Jaring Takdir di sini sangat tipis, tapi ada 'Sesuatu' yang menjaga pintu masuk itu. Sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini."

Chen Kai berhenti tepat di depan lubang tangga. Ia menatap ke dalam kegelapan. Dari dalam sana, sebuah suara desisan yang sangat halus terdengar, bukan suara naga, melainkan suara gesekan rantai logam yang ditarik di atas lantai batu.

"Siapa pun yang berani mengusik sisa-sisa keagungan... akan menjadi bagian dari keheningan ini," sebuah suara serak dan kuno bergema dari kegelapan.

Sesosok makhluk perlahan keluar dari bayang-bayang. Ia berbentuk manusia, namun tubuhnya terbungkus oleh rantai-rantai hitam yang menyatu dengan kulitnya, dan wajahnya tertutup oleh topeng logam yang hanya menyisakan satu celah mata yang bersinar ungu.

Penjaga Rantai: Pelayan Hampa.

Chen Kai menyeringai, ia bisa merasakan bahwa makhluk di depannya memiliki pemahaman Hukum Ruang yang setara dengannya. Ini bukan lagi sekadar pertarungan kekuatan, melainkan pertarungan otoritas hukum alam.

"Aku tidak mencari keheningan," kata Chen Kai, menggenggam gagang Pedang Meteor Hitam yang kini mulai bergetar. "Aku mencari mahkota yang tertinggal."

Langkah sang Raja Hitam di Sembilan Surga baru saja menemukan lawan yang sepadan.

1
Jeffie Firmansyah
tidak sabar tunggu update nya 💪💪💪💪👍👍👍👍
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
saniscara patriawuha.
sikattt manggg chennnn...
MyOne
Ⓜ️😏😏😏Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😎😎😎Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
Cak Rokim Dakas
jangan lama² nyambungnya Thor ..
Dobi Papa Sejati
✔️
nyoman suta wirawan
mantap
Wahyu Roro Ireng.
aku suka banget alur ceritanya ,ya walau terkadang penulisan nama aktor keliru ,iru wajar..

dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Sibungas
mantab
MF
💪/Drowsy/💪💪💪💪💪
Dian Purnomo
tetap setia sampai akhir thor
Dian Purnomo
up.. lanjutkan thor semangat💪💪💪
Jojo Firdaus
💪💪💪
jaka saba jati
/Bomb//Bomb//Bomb/
Jeffie Firmansyah
hadeuhhh .... jd ikutan sesek bacanya... seolah q ,jd ikutan perang
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪
rosidi didi
keren
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Taklukkan 🔥🌽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!