Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Pemakan Manusia
Batas antara Zona Luar dan Zona Tengah bukanlah tembok batu, melainkan tembok kabut.
Kabut itu tidak berwarna putih, melainkan merah muda pucat, seolah-olah udara itu sendiri bercampur dengan darah yang diuapkan. Bau manis yang memualkan tercium samar-samar.
Han Luo berhenti di depan dinding kabut itu. Dia mengeluarkan dua butir Pil Penjernih Jiwa (kualitas tinggi yang dia beli di Kota Batu Putih) dan memberikannya pada Long Tian.
"Telan ini," perintah Han Luo. "Kabut ini adalah Miasma Ilusi. Jika kau menghirupnya tanpa perlindungan, dalam sepuluh menit kau akan melihat nenek moyangmu menari-nari."
Long Tian menelannya tanpa ragu. "Terima kasih, Saudara Han. Tapi... kenapa warnanya merah muda?"
"Karena itu adalah serbuk sari dari Bunga Bangkai yang tumbuh subur di dalam sana. Ayo."
Mereka melangkah masuk.
Jarak pandang turun drastis menjadi hanya lima meter. Suara langkah kaki mereka diredam oleh lumut tebal yang menutupi tanah.
Di dalam kabut, arah mata angin tidak lagi berguna. Kompas berputar liar.
Namun, Han Luo berjalan dengan percaya diri. Di dalam benaknya, Ingatan Ensiklopedis memproyeksikan peta 3D dari deskripsi novel.
"Tiga langkah ke kiri, hindari pohon bengkok. Sepuluh langkah lurus, lompati akar yang menyerupai ular."
Long Tian mengikuti di belakang, satu tangannya memegang ujung jubah Han Luo agar tidak terpisah.
"Saudara Han... aku mendengar suara," bisik Long Tian, wajahnya pucat. "Suara Manajer Ma... dia memanggilku sampah."
"Itu ilusi," kata Han Luo datar. "Fokus pada punggungku. Jangan menoleh."
Tiba-tiba, tanah di depan mereka bergetar.
Bukan gempa bumi.
Dari dalam tanah berlumpur, puluhan akar berduri setebal lengan manusia melesat keluar seperti tentakel gurita.
Sreeet!
Salah satu akar itu menyambar kaki Long Tian, menariknya ke udara dengan posisi terbalik.
"Waaah! Tolong!" Long Tian menebas akar itu dengan pedangnya, tapi pedang besinya hanya memantul. Kulit akar itu sekeras baja.
"Jangan panik," Han Luo tidak bergerak menolong secara langsung. Dia mundur selangkah, mengamati.
Ini adalah Akar Pengikat Tulang. Tumbuhan karnivora yang menyedot kalsium dari mangsanya.
"Gunakan Qi-mu untuk melapisi pedang, bukan otot!" teriak Han Luo memberi instruksi. "Titik lemahnya ada di benjolan setiap satu meter!"
Long Tian, dalam kepanikan, berhasil memfokuskan Qi-nya. Dia melihat benjolan di akar yang mengikatnya.
"Hah!"
Tebasan!
Cairan hijau muncrat. Akar itu putus. Long Tian jatuh berdebum ke tanah.
Namun, belum sempat dia bernapas lega, lima akar lain meluncur ke arahnya.
Han Luo menyipitkan mata. "Terlalu banyak. Jika aku diam saja, umpan-ku akan mati."
Han Luo menggerakkan jari-jarinya di balik lengan baju yang panjang.
Benang Sutra Es-Api.
Benang transparan itu melesat keluar, menari di udara. Han Luo tidak menggunakan api (takut memicu ledakan serbuk sari di kabut). Dia menggunakan sisi Es dari benang itu.
Zing! Zing! Zing!
Benang itu memotong udara. Kelima akar yang hendak menusuk Long Tian tiba-tiba berhenti. Lapisan es tipis menyelimuti mereka, lalu...
Krak.
Akar-akar itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan es beku.
Long Tian terbelalak. Dia tidak melihat benangnya (karena terlalu tipis dan cepat), dia hanya melihat akar-akar itu membeku dan hancur.
"Saudara Han... apa itu kau?"
"Aku melempar Bubuk Beku," bohong Han Luo santai sambil menarik kembali benangnya. "Cepat bangun. Induknya ada di depan."
Mereka berlari maju, menghindari serangan akar yang semakin agresif.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah tanah lapang di tengah hutan.
Di tengah tanah lapang itu, tumbuh sebuah bunga raksasa setinggi tiga meter. Kelopaknya berwarna merah daging, berdenyut seperti jantung. Di tengahnya, ada mulut yang penuh dengan gigi taring runcing.
[Ratu Bunga Pemakan Manusia] Tingkat 3 Awal (Setara Pondasi Akhir).
Di sekitar bunga itu, berserakan tulang-belulang hewan dan manusia (petualang masa lalu).
Dan tepat di bawah kelopak bunga itu, tumbuh sebatang tanaman kecil yang bersinar keemasan.
[Rumput Tulang Naga]
Itu dia.
Tanaman yang bisa meningkatkan kepadatan tulang kultivator hingga setara binatang buas. Bahan utama untuk teknik Badan Emas Tak Terhancurkan.
"Itu target kita," Han Luo menunjuk rumput emas itu. "Long Tian, kau mau menjadi kuat agar tidak dihina lagi, kan?"
Long Tian menelan ludah, menatap monster bunga itu. "Y-Ya."
"Bagus. Rencananya sederhana. Kau alihkan perhatian bunga itu. Tahan serangannya selama sepuluh detik. Aku akan menyelinap dari belakang dan mengambil rumputnya. Kita bagi dua hasilnya."
"Sepuluh detik..." Long Tian memegang pedangnya erat-erat. Wajahnya penuh tekad. "Baik! Aku percaya padamu, Saudara Han!"
Long Tian berteriak, mengaktifkan semua Qi-nya, dan berlari lurus ke arah mulut bunga itu.
"Makan ini, Bunga Jelek!"
ROAAAR!
Bunga itu meraung (suara gesekan kelopak), lalu menyemburkan cairan asam hijau ke arah Long Tian.
Long Tian berguling, lalu melompat menebas batang bunga itu.
Tang!
Batangnya keras seperti besi.
Sementara Long Tian sibuk menjadi samsak hidup, Han Luo bergerak.
Menggunakan Langkah Hantu dan Pernapasan Kayu Mati, dia menghilang dari persepsi bunga itu. Dia meluncur ke sisi buta, mendekati akar bunga.
Tapi Han Luo tidak langsung mengambil rumput itu.
Matanya tertuju pada sesuatu yang lain.
Di balik Rumput Tulang Naga, tersembunyi di antara akar-akar bunga Ratu, ada sebuah celah batu sempit yang tertutup lumut. Dari celah itu, berhembus angin dingin yang aneh.
"Itu dia," batin Han Luo. "Pintu masuk rahasia ke Makam Alkimia Kuno."
Di novel, pintu ini baru ditemukan di Bab 150 oleh antagonis lain setelah dia membakar habis hutan ini. Han Luo mengambil jalan pintas.
Dia dengan cepat mencabut Rumput Tulang Naga (memasukkannya ke kotak giok), lalu menanamkan sebuah Bom Asap yang sudah dimodifikasi dengan Racun Korosi tepat di celah batu itu.
"Long Tian! Mundur!" teriak Han Luo.
Long Tian, yang jubahnya sudah bolong-bolong terkena cipratan asam, segera melompat mundur. "Dapat?!"
"Lari!"
Han Luo menarik Long Tian, dan mereka berlari kembali ke dalam kabut.
BOOM!
Di belakang mereka, bom itu meledak. Asap korosif menyelimuti Ratu Bunga. Bunga itu menjerit kesakitan saat racun itu melelehkan kelopaknya dan, yang lebih penting, melelehkan lumut yang menutupi pintu rahasia itu.
Han Luo tidak berhenti. Dia menyeret Long Tian bersembunyi di balik batu besar, lima puluh meter dari lokasi ledakan.
"Hah... hah..." Long Tian terengah-engah. "Kita berhasil?"
Han Luo membuka kotak giok, mematahkan Rumput Tulang Naga menjadi dua bagian. Dia memberikan bagian akar (yang paling berkhasiat) kepada Long Tian.
"Ini bagianmu. Makanlah nanti saat istirahat. Itu akan membuat tulangmu sekeras besi."
Mata Long Tian berbinar. Dia tidak tahu Han Luo menyimpan bagian daun dan biji-nya. "Terima kasih, Saudara Han! Kau benar-benar adil!"
Han Luo tersenyum tipis.
"Sekarang, diamlah."
Han Luo mengintip ke arah Ratu Bunga yang sekarat karena racun.
Dari dalam kabut di sisi lain, muncul tiga sosok bayangan.
Murid Dalam.
Tim Liu Ming.
Mereka tertarik oleh suara ledakan.
"Suara ledakan berasal dari sini!" teriak salah satu murid. "Lihat! Ratu Bunga itu terluka parah! Dan... hei, ada pintu batu di bawahnya!"
Mata Liu Ming berbinar tamak. "Pintu rahasia? Harta karun! Cepat, bunuh bunga itu selagi dia lemah dan buka pintunya!"
Han Luo, di tempat persembunyiannya, menyeringai.
"Silakan, Liu Ming. Bersihkan jalan untukku. Habiskan tenagamu untuk membuka pintu itu."
Han Luo akan membiarkan Liu Ming melakukan kerja keras melawan Boss Monster dan mekanisme pintu, lalu dia akan masuk di saat terakhir untuk mengambil intinya.