Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Satu kata Yang Tercuri
Suasana di dalam rumah Bumi begitu hangat, dipenuhi riuh canda tawa Alteza, Kanaya, dan Zora.
Dimas yang duduk di tepi kolam bersama Bumi tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari balik jendela kaca. Matanya terkunci pada sosok Zora. Bumi, yang sejak tadi menyadari gelagat sahabatnya itu, hanya bisa tersenyum simpul sembari menyesap kopinya.
"Menyesal, ya, baru bisa memiliki Zora sekarang?" tanya Bumi memecah keheningan.
Dimas terkekeh getir. "Kau benar, Bum. Seharusnya aku mengajak wanita itu menikah dari dulu. Bukan lewat campur tangan Ibu dan skenario perjodohan seperti ini," balasnya lirih, ada nada sesal yang terselip di sana.
"Cih," Bumi berdesis pelan. "Dan seharusnya kau tidak membuang-buang waktu dengan mengejar istri orang."
Kalimat itu terasa sedikit masam. Bumi ingat betul betapa gigihnya Dimas mendekati Kanaya dulu, yang hampir saja menyulut api salah paham di antara mereka. Beruntung, Dimas cukup ksatria untuk mundur dan merelakan cintanya bahagia. Kini, semua itu hanya menjadi sejarah. Hubungan mereka murni persahabatan, tanpa persaingan, tanpa dendam.
Dimas menarik napas panjang, menatap riak air kolam sebelum menjatuhkan bom pengakuan. "Dan kau tahu, Bum? Sesungguhnya... wanita yang aku cintai dari dulu itu bukan Kanaya. Tapi Zora."
"Apa?!" Bumi tersentak, menatap Dimas dengan raut tak percaya. "Maksudmu... selama ini kau menjadikan Kanaya pelarian?"
Dimas menggeleng pelan, matanya menerawang ke masa lalu yang jauh. "Bukan pelarian, Bum. Aku hanya... salah mengenali takdirku sendiri."
Bumi mengernyitkan dahi, bingung.
"Kau mungkin ingat ceritaku tentang gadis yang dulu selalu kuperhatikan diam-diam di sudut taman kampus? Gadis yang selalu duduk membelakangiku sambil membaca buku di bawah pohon mahoni?" tanya Dimas dengan suara yang merendah, seolah takut rahasia itu terbang terbawa angin.
Bumi mengangguk pelan. "Ya, aku ingat. Kau pernah cerita kalau gadis itu adalah Kanaya."
Dimas tertawa getir, sebuah tawa yang menghina kebodohannya sendiri. "Ternyata bukan. Selama bertahun-tahun aku meyakinkan diriku bahwa itu Kanaya. Aku mengejar bayangan yang salah, Bum. Aku baru menyadari kebenaran itu saat Zora tinggal di rumahku beberapa bulan lalu."
Dimas menjeda kalimatnya, matanya kembali tertuju pada Zora di dalam sana. "Caranya membalik halaman buku, caranya menyampirkan rambut ke telinga, bahkan cara dia menunduk saat berpikir... semuanya persis dengan gadis di sudut taman itu. Ternyata sejak awal, hatiku sudah memilih Zora. Tapi mataku justru mencari Kanaya."
Bumi tertegun, kehilangan kata-kata. Ia menatap sahabatnya dengan rasa prihatin yang mendalam. "Jadi, selama ini kau mencintai orang yang salah karena sebuah kekeliruan kecil di masa lalu?"
"Kesalahan kecil yang menghancurkan waktuku selama bertahun-tahun," bisik Dimas parau. "Dan sekarang, aku bersyukur karena sudah memilikinya."Ucap Dimas dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Bumi terdiam sejenak. Tatapannya tertuju pada Dimas, sebelum akhirnya beralih pada Zora yang berdiri di kejauhan. Ada jeda yang berat di antara mereka.
"Apa kau sudah jujur padanya soal perasaanmu, Dim?" tanya Bumi pelan, namun tajam.
Dimas menoleh, lalu menggeleng perlahan. "Tidak. Tapi aku rasa... dia tahu."
Bumi mendesis sinis. "Jangan berasumsi. Katakan padanya, Dim. Jangan biarkan dia buta sama sekali. Belajarlah dari aku dan Kanaya. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada hubungan yang dibangun di atas tumpukan kesalahpahaman."
"Apa itu harus?" Dimas mencoba membela diri, meski suaranya bergetar. "Kami sudah menikah. Dia tidak akan lari dariku."
Bumi menatap Dimas dengan tatapan dingin yang menusuk. "Dan kau pikir, dulu aku dan Kanaya belum menikah saat dia memutuskan pergi?"
Dimas bungkam. Dia menelan ludah dengan susah payah. Memori tentang hancurnya rumah tangga Bumi dan Kanaya dulu berputar kembali di kepalanya seperti film horor.
"Lebih cepat, lebih baik," pungkas Bumi. Dia menepuk bahu Dimas dengan berat,sebuah peringatan, bukan sekadar simpati lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, dari balik kaca, Dimas melihat Bumi sudah bergabung di ruangan yang sama dengan Kanaya dan Zora. Dimas berdiri mematung di luar, menatap punggung Zora dari balik jendela.
"Sayang... kau akan tetap di sisiku, kan?" bisik Dimas lirih. Suaranya nyaris hilang ditelan angin, sementara matanya tak lepas menatap Zora dengan sorot penuh kecemasan.
*
Matahari mulai turun, menyisakan semburat jingga di langit Jakarta saat koper terakhir dimasukkan ke bagasi. Suasana teras rumah itu terasa hangat, namun ada kecemasan yang menggantung di wajah Dimas.
Kanaya melangkah maju, memeluk Zora dengan sangat erat. Ada sisa air mata di sudut matanya,bukan karena sedih, tapi karena harapan yang besar bagi sahabatnya itu.
"Jangan lupa kabari kami kalau sudah waktunya pernikahan ulang kalian," bisik Kanaya setelah melepaskan pelukannya, menatap Zora dengan binar penuh arti.
Zora hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Ia melirik Dimas sekilas yang sedang berpamitan dengan Bumi.
"Aku akan mengabarimu, Nay," jawab Zora lembut.
Bumi menepuk pundak Dimas sekali lagi kali ini lebih pelan, namun tekanannya terasa sebagai sebuah peringatan terakhir. "Ingat pesanku, Dim. Bandung itu dingin, jangan biarkan hatinya ikut membeku karena kau terlambat bicara."
Dimas hanya mengangguk samar, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Kami berangkat ya," pamit Dimas dari balik kemudi.
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah, menjauh dari zona nyaman mereka. Di dalam kabin yang sunyi, aroma parfum Zora memenuhi ruangan, namun Dimas merasa jarak di antara kursi pengemudi dan kursi penumpang terasa berkilo-kilo jauhnya. Perjalanan ke Bandung baru saja dimulai, dan keheningan di antara mereka terasa lebih bising daripada suara mesin mobil.
Lampu-lampu kota menyambut kepulangan mereka dengan pendar yang temaram. Begitu pintu rumah tertutup, keheningan di ruang tamu terasa begitu menyesakkan. Keduanya masih berdiri, enggan beranjak, seolah ada beban ribuan ton yang tertahan di tenggorokan masing-masing.
Dimas membalikkan badan, menatap Zora dengan mata yang lelah namun penuh tekad. "Zora, ada yang ingin kukatakan..."
"Mas, aku juga ingin bicara soal.."
Kalimat mereka bertabrakan. Keduanya terdiam, saling menatap. Jantung Dimas berdegup kencang; ini saatnya dia mengikuti saran Bumi. Namun, tepat sebelum kata pertama keluar dari bibirnya, ponsel di saku celana Dimas bergetar hebat.
Drrrtt... Drrrtt...
Nama 'Sisca' berkedip di layar. Suara getaran itu seolah membelah atmosfer yang tadinya intens menjadi hancur berkeping-keping. Dimas terpaku menatap layar, sementara Zora hanya bisa membuang muka, menyembunyikan kekecewaan yang mendadak menusuk dadanya.
"Angkatlah," suara Zora terdengar dingin, kontras dengan kehangatan yang hampir tercipta tadi.
Dimas menghela napas berat setelah menjauh sebentar untuk menerima telepon. Ia kembali dengan raut wajah yang serba salah.
"Zora... teman-teman mencariku. Ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan sebentar. Aku harus menemui mereka," ucap Dimas sambil meraih kunci mobilnya kembali.
Zora menatap suaminya tak percaya. Lelah perjalanan Jakarta-Bandung masih terasa di tulang-tulangnya, tapi Dimas memilih untuk pergi lagi demi panggilan itu.
"Sekarang?" tanya Zora pendek.
"Hanya sebentar. Aku janji."
Zora mengangguk pelan, meski tangannya mengepal di balik saku coat-nya. "Pergilah."
Dimas mengecup kening Zora singkat,sebuah gestur yang terasa seperti permintaan maaf sekaligus pelarian,lalu bergegas keluar. Suara deru mobil yang menjauh meninggalkan Zora sendirian di tengah ruang tamu yang luas.
Zora menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan mata berkaca-kaca. Ia berbisik pada kehampaan,
"Apa Sica akan mulai bercerita lagi tentang Wulan dan anak itu,Mas?"
Bersambung...
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍