Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa Ratu Tanpa Mahkota
Nirmala hanya bisa menangis histeris. Ia mencoba memukul dada pemuda itu, melampiaskan seluruh rasa frustrasinya. "Lepasin! Biarin aku mati! Aku nggak punya siapa-siapa lagi!"
Pemuda itu, yang tak lain adalah Aleandra Nurdin atau Ale—seorang mahasiswa pendidikan olahraga yang kebetulan sedang berteduh di dekat sana—tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru memeluk Nirmala dengan erat, membiarkan wanita asing itu membasahi jaketnya dengan air mata dan kepedihan.
"Gue nggak tahu lo siapa, dan gue nggak tahu masalah lo apa," suara Ale kini melembut, kontras dengan suaranya yang membentak tadi. "Tapi mati bukan cara buat nyelesein semuanya. Kalau lo mati sekarang, orang-orang yang jahatin lo itu yang menang."
Nirmala membeku. Kata-kata "orang yang jahatin lo yang menang" menghantam logikanya yang sempat mati.
"Siapa... siapa kamu?" tanya Nirmala di sela isakannya, menatap wajah Ale yang tampak maskulin dengan rahang tegas namun memiliki binar mata yang jujur.
"Nama gue Ale. Dan untuk malam ini, gue adalah orang yang nggak bakal biarin lo hanyut di sungai itu," jawab Ale tegas. Ia membantu Nirmala berdiri, namun mata Ale tetap waspada, takut wanita di depannya ini akan mencoba melompat lagi.
Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip karena hujan badai, dua insan dari dunia yang berbeda itu berdiri bersisian. Nirmala yang hancur karena kekuasaan, dan Ale yang hanya memiliki keberanian. Sebuah pertemuan yang tidak disengaja, namun menjadi awal dari perlawanan Nirmala terhadap takdirnya yang kelam.
****
Jakarta malam itu terkesan mencekam, seolah-olah aspal jalanannya menyimpan rahasia tentang darah Paman Hadi yang baru saja mengering. Di sebuah gedung pencakar langit yang menjadi markas besar Suteja Group, Januar Suteja berdiri di balik dinding kaca setinggi plafon. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski bergoyang pelan, es batu di dalamnya berdenting—suara yang dingin dan tajam, mirip dengan isi kepalanya saat ini.
"Belum ketemu?" suara Januar terdengar datar, namun ada ancaman yang nyata di setiap suku katanya.
"Belum, Tuan," jawab asisten pribadinya yang berdiri kaku di pintu. "Mobil Nona Nirmala ditemukan kosong di atas jembatan layang. Ada tanda-tanda kecelakaan kecil atau... upaya bunuh diri. Tapi jenazahnya tidak ditemukan di sungai bawah."
Januar mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Ia tidak peduli jika Nirmala depresi, tapi ia peduli jika wanita itu menghilang sebelum dokumen pengalihan hak kelola Dizan Holding ditandatangani. Nirmala adalah kunci emas; tanpanya, Januar hanyalah orang asing yang mencoba mendobrak pintu perusahaan raksasa itu.
"Cari dia. Hidup atau mati," desis Januar. "Jika dia mati, pastikan kita yang menemukan jasadnya lebih dulu sebelum Paman dan Bibinya yang serakah itu mencium bau darah."
Bagi Januar, Nirmala bukan sekadar tunangan. Dia adalah aset. Dia adalah trofi sekaligus tiket menuju puncak kekuasaan absolut di dunia bisnis Asia Tenggara. Ia tidak akan membiarkan investasinya selama bertahun-tahun menjilat kaki Marwan Dizan menguap begitu saja hanya karena emosi seorang wanita muda yang labil.
****
Sementara itu, di sebuah restoran privat yang hanya melayani kaum elit, aroma cerutu dan aroma busuk konspirasi memenuhi ruangan. Elias Dizan duduk dengan gelisah, sementara istrinya, Rini Susilowati, tampak jauh lebih tenang—seperti seekor kobra yang baru saja menyuntikkan bisa.
Selendang sutra hitamnya masih melingkar di bahu, menutupi rambut putihnya yang disasak sempurna. Di depannya, duduk tiga pria paruh baya—para pemegang saham minoritas namun kunci di Dizan Holding.
"Kalian lihat sendiri bagaimana Marwan memimpin di akhir hayatnya," Rini memulai, suaranya lembut namun mengandung racun. "Dia hampir menyerahkan segalanya pada Januar Suteja melalui perjodohan konyol itu. Apakah kalian ingin perusahaan yang kalian bangun dengan keringat ini jatuh ke tangan duda ambisius itu?"
"Tapi Nyonya Rini," salah satu pemegang saham menyela, "secara legal, hak waris ada pada Nirmala."
Rini tersenyum sinis. "Nirmala? Anak itu sedang hancur. Dia mungkin sudah terjun ke sungai atau mendekam di rumah sakit jiwa sekarang. Dia tidak punya kapasitas. Jika kalian mendukung fraksi kami, Elias akan menjadi Direktur Utama sementara, dan kalian akan mendapatkan pembagian dividen dua kali lipat dari yang dijanjikan Marwan tahun lalu."
Elias mengangguk cepat, mencoba menutupi kegugupannya. "Kami hanya ingin mengamankan aset keluarga. Januar itu orang luar. Dia hanya ingin memeras Dizan Holding sampai kering."
Lobi itu berlangsung intens. Kata-kata Rini seperti mantra yang membelenggu logika para pria di depannya. Keserakahan bertemu dengan ketakutan, dan di akhir pertemuan itu, sebuah kesepakatan gelap telah dicapai: Fraksi Dizan akan memblokir setiap langkah Januar di rapat umum pemegang saham lusa.
****
Setelah para pemegang saham itu pergi, Rini dan Elias berjalan menuju mobil Mercedes-Benz hitam mereka yang menunggu di lobi. Sopir membukakan pintu dengan takzim. Begitu pintu tertutup rapat dan kedap suara, suasana hening menyelimuti mereka sejenak.
Tiba-tiba, bahu Rini mulai berguncang.
Awalnya hanya suara decitan kecil, namun lama-kelamaan suara itu berubah menjadi tawa yang menggelegar di dalam kabin mobil yang sempit.
"Hahaha! Mereka semua bodoh, Elias! Bodoh!" Rini tertawa histeris. Ia melepaskan selendang sutranya, membiarkan rambut putihnya sedikit berantakan.
Tawanya begitu liar hingga air mata mulai menetes di pipinya yang dilapisi bedak tebal. Ini bukan air mata duka untuk kakak iparnya, Marwan. Ini adalah air mata kemenangan yang meluap dari jiwa yang telah lama memendam kecemburuan.
"Selama puluhan tahun aku harus membungkuk pada Rina Sugiarti! Aku harus pura-pura memuji gaun-gaun mahalnya, sementara kita hanya dianggap 'adik yang butuh bantuan'," Rini bicara di sela-sela tawanya yang kini bercampur isak tangis yang aneh. "Sekarang? Mereka jadi abu! Dan anak perempuan mereka yang sombong itu akan menjadi gelandangan!"
"Tenang, Rini... orang bisa dengar," Elias tampak ngeri melihat istrinya yang tampak seperti kehilangan kewarasan sesaat.
"Biar mereka dengar!" Rini berteriak, lalu kembali tertawa sampai wajahnya memerah. "Dizan Holding adalah milik kita. Tidak ada Januar, tidak ada Nirmala. Hanya kita!"
Ia mengusap air matanya dengan ujung selendang mahal itu, lalu menatap keluar jendela dengan mata yang kosong namun penuh dendam. Di dalam benaknya, ia sudah membayangkan dirinya duduk di kursi utama kantor Marwan, membakar semua foto keluarga kakak iparnya, dan menghapus jejak Nirmala dari sejarah keluarga Dizan.
****
Jauh dari kemewahan dan intrik berdarah itu, di sebuah gang sempit di daerah pinggiran, Aleandra Nurdin mematikan mesin motor tuanya. Di jok belakang, Nirmala masih gemetar, tangannya mencengkeram erat jaket Ale seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra.
Ale menoleh, menatap wanita yang wajahnya masih sembab dan kotor. "Rumah gue nggak mewah. Cuma kos-kosan mahasiswa. Tapi di sini, nggak akan ada orang bersetelan jas yang bakal nemuin lo."
Nirmala menatap bangunan tua di depannya. Ia, sang putri konglomerat yang biasanya tidur di atas sprei sutra 1000 thread count, kini harus bersembunyi di tempat yang bahkan tidak ada dalam peta dunianya.
"Kenapa kamu bantu aku?" tanya Nirmala lirih.
Ale turun dari motor, lalu mengulurkan tangannya pada Nirmala. "Karena gue tahu rasanya kehilangan. Dan gue paling nggak suka lihat orang ditindas sama orang-orang yang merasa punya dunia cuma karena duit."