NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:184.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memborong

Mobil milik Sonya melaju dengan tenang meninggalkan area kampus. Tidak ada lagi suara keramaian mahasiswa, hanya deru mesin dan helaan napas empat anak manusia itu.

Di kursi penumpang depan, Naomi duduk terdiam. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya jelas tidak berada di sana.

Yura yang duduk di belakang memperhatikan melalui kaca spion tengah. “Naomi, ada apa? Apakah karena mobilmu yang rusak?”

Naomi mengangguk pelan. “Aku takut Kak Max akan marah. Dia baru saja memberikan mobil itu padaku. Mobil peluncuran terbaru dari perusahaannya.”

Timmy yang duduk di samping Yura langsung menyahut, nadanya berusaha terdengar santai. “Tenang saja. Max tidak akan marah.”

Yura ikut menimpali dengan tegas, “Benar. Itu bukan kesalahanmu, Naomi. Itu sepenuhnya kesalahan manusia tidak tahu diri tadi.”

Naomi terdiam sejenak. Jarinya saling bertaut di atas pangkuan. Setelah beberapa detik, ia berkata pelan, “Mungkin jika aku anak kandung keluarga Atlas, aku tidak akan merasa setidaknya seperti ini.”

Ucapan itu membuat suasana di dalam mobil menjadi hening.

Naomi melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Tetapi aku hanya anak angkat di keluarga itu.”

Sejak mengetahui kebenaran tentang asal-usulnya, ada perasaan ganjil yang terus mengusiknya. Keluarga Atlas tidak pernah memperlakukannya berbeda bahkan justru sangat menyayanginya. Namun justru karena itu, Naomi sering merasa berat hati setiap menerima sesuatu dari mereka.

Timmy menghela napas pelan. “Sudah. Tidak perlu dipikirkan.”

Naomi tidak menjawab.

Timmy melanjutkan, “Aku jamin Max tidak akan marah, karena dia .…”

Kalimatnya terhenti, karena Yura langsung mencubit pinggang pria kemayu itu.

Naomi menoleh. “Karena dia apa?”

Timmy dan Yura saling berpandangan singkat. Ada sesuatu yang ingin diucapkan, tetapi tertahan.

Sonya tetap fokus menyetir, seolah tidak ingin ikut campur.

“Timmy?” desak Naomi.

Timmy menggaruk tengkuknya, lalu tersenyum canggung. “Karena Max itu kakakmu.”

Naomi terdiam beberapa detik, kemudian mengangguk pelan. “Ya. Dia kakakku.”

Timmy terlihat bernapas lega, hampir saja ia keceplosan berkata karema Max mencintai Naomi. Siapa yang tidak tahu hal itu? Dilihat dari tatapan Max saja, sahabat Naomi sudah tahu. Hanya Naomi yang terlihat polos.

Yura akhirnya berbicara dengan suara lembut namun mantap. “Naomi, hubungan keluarga tidak selalu ditentukan oleh darah. Keluarga Atlas memilihmu. Dan mereka melakukannya dengan sepenuh hati. Itu sudah lebih dari cukup.”

Sonya menambahkan dari kursi kemudi, “Tuan dan Nyonya Atlas selalu terlihat sangat bangga ketika membicarakanmu. Mereka benar-benar bahagia memilikimu.”

Naomi menarik napas perlahan. “Aku tahu. Itulah sebabnya aku merasa semakin tidak enak.”

Timmy bersandar pada kursinya. “Justru karena mereka menganggapmu keluarga, Max tidak akan memarahimu. Jika ada yang akan ia marahi, itu pasti orang yang merusak mobilmu.”

Naomi akhirnya tersenyum tipis, meskipun matanya masih menyimpan keraguan.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Mobil terus melaju menuju pusat perbelanjaan.

*

Mobil Sonya akhirnya memasuki area parkir pusat perbelanjaan. Bangunan megah itu tampak ramai seperti biasa—orang-orang berlalu-lalang tanpa menyadari bahwa mungkin sebentar lagi hidup mereka akan berubah.

Begitu turun dari mobil, Timmy langsung merentangkan tangannya penuh semangat.

“Ayo! Kita ke toko pakaian dulu. Saat badai datang, kita juga butuh pakaian hangat. Kebetulan ada potongan harga besar di sana!”

Ia menunjuk ke sebuah gerai besar di lantai dasar dengan spanduk merah bertuliskan “DISKON AKHIR MUSIM.”

Sonya menggelengkan kepala sambil terkekeh. “Dasar anak pengacara, tetapi sukanya berburu potongan harga.”

Timmy menoleh cepat. “Justru karena anak pengacara, aku tahu cara mengelola uang dengan bijak.”

Yura mengangkat alis. “Itu namanya pelit.”

“Bukan pelit,” bantah Timmy serius. “Strategis.”

Naomi yang sejak tadi lebih banyak diam hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.

Tanpa menunggu lagi, Timmy melangkah cepat masuk ke toko. Begitu melihat deretan jaket tebal, sweater rajut, dan mantel musim dingin, matanya langsung berbinar.

“Nah, ini yang kita butuhkan!”

Ia mulai mengambil satu per satu pakaian dari rak dan memasukkannya ke keranjang belanja besar.

Sonya terbelalak. “Timmy! Kamu mau beli satu toko sekalian?”

Yura mengambil salah satu jaket yang dipegang Timmy. “Eh, ini ukurannya besar sekali. Memangnya itu ukuran bajumu?”

Timmy mendengus. “Tentu bukan. Aku membeli bukan hanya untuk diriku sendiri.”

Ketiga gadis itu berhenti sejenak.

“Maksudmu?” tanya Naomi.

Timmy menatap mereka bergantian. “Kita tidak tahu nanti situasinya seperti apa. Kita butuh cadangan. Untuk kalian, untuk keluarga Atlas, untuk siapa pun yang mungkin perlu. Kalau memang badai itu benar-benar datang, pakaian hangat bisa jadi penyelamat.”

Yura terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Aku tidak memikirkan sejauh itu.”

Sonya tersenyum kecil. “Baiklah, Tuan Strategis. Aku bantu.”

Naomi menatap Timmy dengan pandangan lebih lembut. “Terima kasih.”

Timmy pura-pura berdeham. “Sudah, jangan terlalu terharu. Ayo beli semuanya selagi masih ada stok.”

Ucapan itu membuat ketiganya tertawa kecil.

Akhirnya mereka berpencar. Sonya memilih mantel dan pakaian dalam termal. Yura fokus pada sarung tangan, syal, dan kaus kaki tebal. Naomi memilih jaket berkualitas tinggi yang tahan air dan angin.

Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka.

“Kenapa mereka membeli sebanyak itu?”

“Sedang ada promo besar, ya?”

“Seperti mau pindah ke kutub saja.”

Namun keempatnya tidak peduli. Mereka terlalu sibuk memastikan ukuran, bahan, dan kualitas.

“Naomi, yang ini bagus,” ujar Yura sambil menunjukkan mantel panjang berwarna gelap.

Naomi mengangguk. “Ambil semua ukuran berbeda. Untuk jaga-jaga.”

Timmy yang membawa dua keranjang penuh tertawa puas. “Nah, begini baru namanya persiapan.”

Sonya menatap tumpukan pakaian yang kini memenuhi troli belanja. “Kalau orang lain tahu alasan kita, mungkin mereka akan mengira kita gila.”

Timmy mengangkat bahu. “Biarlah. Lebih baik terlihat berlebihan sekarang daripada menyesal nanti.”

Naomi memandang sekeliling toko yang ramai itu, lalu kembali fokus pada daftar dalam pikirannya.

*

Toko pakaian itu benar-benar nyaris kosong.

Rak-rak yang tadinya penuh kini tampak berantakan dan hampir tak bersisa. Troli belanja mereka berjajar panjang di dekat kasir, penuh dengan jaket tebal, mantel, pakaian termal, sarung tangan, hingga sepatu bot musim dingin.

Kasir sampai memanggil bantuan pegawai lain untuk menghitung semuanya.

“Totalnya sudah termasuk diskon, Kak,” ujar kasir dengan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan. Jelas hari itu menjadi hari penjualan terbaik mereka.

Timmy melirik angka di layar mesin pembayaran. “Murah sekali.”

Sonya mendengus pelan. “Murah untukmu.”

Naomi mengeluarkan kartunya tanpa ragu. “Bagi empat saja.”

Yura mengangguk. “Baik. Kita bagi rata.”

Meski jumlahnya besar bagi kebanyakan orang, bagi mereka angka itu tidak berarti banyak. Transaksi selesai dalam beberapa menit.

Pegawai toko tampak hampir bersinar karena bahagia.

“Terima kasih banyak, Kak. Kami mungkin bisa tutup lebih awal hari ini,” ucap salah satu pegawai dengan wajah sumringah.

Timmy tersenyum puas. “Sama-sama. Anggap saja kami membantu perekonomian.”

Beberapa menit kemudian, mereka berdiri memandangi tumpukan barang yang menggunung di depan toko.

Tas-tas besar berjajar rapi, memenuhi hampir setengah lorong.

Timmy bersedekap. “Ini baru satu toko. Belum toko yang lain sudah sebanyak ini. Apa kita bisa membawa semuanya?”

Yura dan Sonya ikut terdiam, menatap jumlah barang yang tak masuk akal itu.

Sonya mengangkat alis. “Kalau kita angkut sendiri, mungkin butuh tiga mobil.”

Yura menambahkan, “Dan itu pun belum tentu cukup.”

Hanya Naomi yang tersenyum kecil.

“Tenang saja,” katanya ringan. “Aku yang akan menyimpannya.”

Timmy menoleh. “Menyimpan di mana?”

Naomi tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik sekeliling.

Naomi kemudian mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor cepat.

Tak lama, suara pria terdengar dari seberang. “Nona.”

“Tolong kirim beberapa orang ke pintu masuk barat pusat perbelanjaan. Ada barang yang harus dibawa ke mansion,” ujar Naomi tenang.

“Baik, Nona. Kami segera ke sana.”

Beberapa menit kemudian, beberapa pria berpakaian rapi namun berpostur tegap muncul dari berbagai arah. Mereka bergerak efisien, seolah sudah terbiasa.

Timmy bersiul pelan. “Pengawal keluarga Atlas memang selalu tepat waktu.”

Para pengawal itu membungkuk singkat pada Naomi sebelum mulai mengangkat dan menyusun barang-barang tersebut ke dalam kendaraan besar yang sudah disiapkan.

Sonya memperhatikan dengan kagum. “Kadang aku lupa kamu punya pasukan seperti ini.”

Naomi tersenyum tipis. “Mereka hanya menjalankan tugas.”

Yura menatapnya lembut. “Dan kamu masih merasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga itu?”

Naomi tidak menjawab, tetapi sorot matanya sedikit berubah.

Setelah semua barang dimuat, salah satu pengawal mendekat. “Semuanya akan langsung dikirim ke mansion.”

“Terima kasih,” jawab Naomi.

Mobil pengangkut pun perlahan meninggalkan area parkir.

Timmy menepuk kedua tangannya. “Baik. Satu misi selesai. Sekarang ke toko selanjutnya.”

Naomi mengangguk. “Kita butuh makanan kaleng dan makanan instan. Stok sebanyak mungkin.”

Sonya tertawa kecil. “Kita benar-benar seperti sedang bersiap menghadapi akhir dunia.”

“Memang begitu,” gumam Naomi pelan, hampir tak terdengar.

Mereka pun melangkah menuju supermarket besar di lantai atas dengan langkah cepat dan penuh tujuan.

Namun dari kejauhan, seseorang berdiri memperhatikan mereka.

Orang itu menyipitkan mata, mencoba memastikan apa yang dilihatnya.

“Itu … Naomi?” gumamnya pelan. “Apa yang sebenarnya dilakukan perempuan sialan itu? Ah, kebetulan aku butuh pembantu gratisan.”

Ia menyeringai lebar, lalu segera melangkah ke arah di mana Naomi dan ketiga sahabatnya oergi.

1
RiriChiew🌺
mampussss , aku suka gaya mu max 😂😂
Sribundanya Gifran
lanjut
SENJA
naaah mantabs max 🤣
SENJA
owalaaah 😤
SENJA
ihhh males banget melihara kaya ginian isssh 😤
SENJA
huhhh murahan sangaaaat 🤣🤣🤣
vj'z tri
akhir nyaaaaaaa /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
kenapa gak jatuh beneran sih biar akoh senang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
selesai masalah di tangan max /Angry//Angry//Angry//Angry/
vj'z tri
sabar max sabar /Determined//Determined//Determined//Determined/
Nor Azlin
kenyataan itu pahit untuk di dengarkan yah ...bodoh amat tidak sedikit pun curiga sama sekali ni orang...Coba untuk sekali ini kamu lihat & dengar mengenai nya apa salah nya ayo Max tunjukkan bukti pada nya pasti kamu punya tu kannn😂😂😂lanjutkan thor
Nor Azlin
sifat asli seseorang itu akan terlihat masa dewasa nya yah kerana itu adalah sifat yang di turunkan oleh keluarga asli nya ...Vivian bukan dibesarkan sedari bayi tapi sudah belita kerana orang tua nya kemalangan mobil maka mereka mati di rumah sakit sebelum mati dia menyuruh kedua suami isteri Elios untuk menjaga nya yah...nah pada kemana kerabat keluarga nya si Vivian pasti ada kan ...mustahil banget kalau satu pun keluarga nya tidak ada sama sekali yah CK CK CK pasti ada koperasi di dalam nya kan ...kemungkinan orang tua Vivian sudah merencanakan itu yah atau sebalik nya aku pun penasaran ni bagai mana cerita nya deh😂😂 lanjutkan thor
Cindy
lanjut
syh 03
di kira seorang max ga bisa mukul perempuan..klo perempuanya kya ular betina viviane..emang pantas di gampar ampai keok 😆
Nor Azlin
aku rasa di maafkan aja tapi tidak dengan Vivian nya ...walau bagai mana pun mereka orang tua yang melahirkan nya ...namun dengan itu jangan memaafkan mereka demi kedua kakek nenek nya Naumi ...perkara yang menakutkan orang adalah dimaafkan tapi tidak diakui oleh anak sendiri itu lebih menyakiti nya itu bagi hukuman yang pantas ...buat Vivian biar keluarga Elios yang membuangkan nya kalau mereka memilih nya maka mereka tidak mendapat tempat di kalangan orang-orang yang ingin selamat yah...tapi bagi aku biarkan aja keluarga nya membusuk deh kalau masih membawa anak angkat nya itu ...bagi aja kakek nenek mu tempat biar mereka hidup bahagia bersama dengan mu 😂😂😂itu pendapat aku yah peribadi ...lanjutkan thor
Arbaati
kapokmu kapan
Kusii Yaati
nah kan kena gampar sama max, terlalu kepedean sih... tubuh max itu terlalu mahal untuk di sentuh sama yang murahan kayak elo... sakit nggak seberapa tapi malunya luar biasa, udah di tolak di depan umum kena gampar pula 🤣🤣🤣🤣
Atalia
mampus kau vivian 😂😂😂
Silla Okta
babang max emang the best,,, gak mungkin tergoda sama ulet keket,,,,, 🤣🤣🤣🤣🤣 next Thor
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tumaan 🤣🤣 dipuskn berpa pri tuh 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!