Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan Pagi ini
...****************...
Pagi ini aku sudah berada di ruangan host live streaming. Lampu-lampu studio belum sepenuhnya menyala. Beberapa kru masih sibuk menyiapkan kamera dan backdrop.
Aku baru saja duduk ketika pintu ruangan terbuka keras. Aku menoleh.
Linda berjalan cepat ke arahku. Langkahnya tegas. Wajahnya tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum manja. Tidak ada tatapan menggoda.
Matanya tajam. Seperti sedang mencari sesuatu.
Atau seseorang.
“Raka…!”
GUBRAK.
Suara pintu terbanting membuat beberapa kru menoleh.
“Hai… kenapa kamu?” tanyaku, berusaha terdengar santai meski dadaku langsung berdebar.
“Hah? Kenapa katamu?” ia tertawa sinis.
“Kamu benar-benar nggak paham? Atau pura-pura nggak paham?!”
Suaranya meninggi.
Aku berdiri perlahan. “Aku ada salah? Maaf… maafin aku.”
“Kemana semalam?” potongnya cepat.
“Aku telepon nggak diangkat. Aku WA nggak dibalas. Aku ke kosanmu, kosong!”
Nadanya semakin tinggi. Beberapa orang mulai pura-pura sibuk, tapi jelas mereka mendengar.
“Iya… maafin aku tadi malam aku...”
“Kemana?!” bentaknya.
Aku terdiam sepersekian detik.
Itu cukup untuk membuatnya semakin yakin.
“Apa kamu pergi ke rumah janda itu?” katanya dengan nada penuh tekanan.
“Acara tahlilan udah selesai, loh!”
Kata janda itu meluncur tajam.
Aku menatapnya. “Jangan ngomong gitu.”
“Kenapa? Salah?” balasnya cepat..
Aku mengusap wajahku pelan.
“Aku cuma lagi bantu orang yang lagi susah, Lin.”
“Dan aku?” suaranya berubah. Lebih pelan, tapi lebih berbahaya.
“Aku nggak lagi susah? Aku nggak butuh kamu?”
Aku terdiam. Itu pertanyaan yang tidak bisa kujawab dengan jujur tanpa melukai.
Linda mendekat. Terlalu dekat.
“Kamu berubah,” katanya lirih.
“Kamu nggak lihat aku lagi kayak dulu.”
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku sadar ia tidak hanya marah. Ia takut.
“Aku cuma capek,” kataku akhirnya.
“Capek?” ia menggeleng pelan.
“Capek sama aku?”
Sunyi.
Beberapa detik yang terasa sangat panjang.
“Aku tanya sekali lagi,” katanya pelan namun tegas,
“Kamu semalam ke rumah dia?”
Aku menelan ludah.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku sadar jawaban apa pun yang keluar dari mulutku pagi ini, akan mengubah segalanya.
“Iya, sayang… aku semalam memang ke rumahnya,” kataku akhirnya.
“Tapi cuma ngobrol biasa aja. Maaf aku sampai nggak balas chat kamu karena..."
Kalimatku menggantung.
Karena apa?
Karena aku lupa.
Karena aku terlalu fokus ke Hana.
Karena aku merasa dibutuhkan di sana.
Aku gugup mencari alasan yang terdengar masuk akal.
Linda menggeleng keras.
“Nggak ya, Raka!” suaranya bergetar, tapi tegas.
“Kamu udah nggak prioritaskan aku. Ini hari ke berapa, Raka?”
Ia menatapku dengan mata memerah.
“Acara tahlil sudah selesai! Kamu masih bisa ke sana cuma buat… ngobrol? Ngobrol apa?” napasnya memburu.
“Sama janda itu?”
Kata itu kembali ia ucapkan dengan tekanan yang sama.
“Linda, jangan sebut dia kayak gitu,” kataku pelan tapi tegas.
“Oh? Sekarang kamu bela dia?” senyumnya tipis, pahit.
“Bagus. Cepat banget ya berubahnya.”
Aku menghela napas panjang. “Aku cuma temenin dia. Dia lagi susah.”
“Dan aku?” suaranya lebih rendah sekarang, hampir berbisik.
“Aku ini apa buat kamu?”
Aku terdiam.
Itu pertanyaan yang sederhana.
Tapi jawabannya terasa semakin rumit.
Linda mendekat, jarak kami hanya beberapa langkah.
“Kamu tahu nggak rasanya nungguin orang yang kamu sayang?” katanya pelan.
“Ngecek HP terus. Takut dia kenapa-kenapa. Datang ke kosannya… dan kosong.”
Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya.
“Aku nggak marah karena kamu ke sana, Raka,” lanjutnya, suaranya kini lebih terluka daripada marah.
“Aku marah karena kamu nggak merasa perlu ngabarin aku.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada bentakannya tadi.
Aku membuka mulut, ingin menjelaskan.
Tapi semua alasan terdengar lemah bahkan sebelum keluar.
“Aku cuma..."
“Kamu mulai punya dunia lain,” potongnya.
Sunyi.
Studio terasa terlalu sempit untuk percakapan ini.
“Apa kamu suka sama dia?” tanyanya tiba-tiba.
Langsung. Tanpa jeda.
Aku tidak menjawab.
Dan diamku…
adalah jawaban paling jujur yang bisa ia baca.
Wajah Linda berubah. Bukan lagi marah.
Tapi seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu.
“Jangan bilang kamu jatuh cinta sama dia, Raka,” bisiknya.
Aku menelan ludah.
Untuk pertama kalinya, aku sadar ini bukan lagi soal prioritas. Ini tentang perasaan
yang mulai bergeser… tanpa izin siapa pun.
Linda menarik napas panjang.
Bukan untuk menenangkan diri tapi untuk menahan sesuatu yang hampir runtuh.
Tanpa berkata apa-apa lagi padaku, ia berbalik.
Langkahnya tidak lagi secepat tadi.
Tidak juga penuh amarah.
Justru pelan. Terlalu pelan untuk seseorang yang sedang marah.
Ia membuka pintu ruangan live. Beberapa kru menoleh.
“Hei, gue izin ya. Hari ini nggak bisa live. Maaf.”
Suaranya terdengar biasa. Terlalu biasa.
Seolah tidak terjadi apa-apa beberapa detik sebelumnya. Lalu ia berjalan melewati lorong.
Punggungnya terlihat kecil.
Rapuh.
Aku hanya berdiri di tempatku.
Memandangnya dari kejauhan.
Tidak memanggil.
Tidak menyusul.
Tidak menjelaskan apa pun.
Sampai akhirnya bayangannya benar-benar hilang di tikungan koridor.
Sunyi.
Salah satu kru menepuk bahuku pelan.
“Lo nggak ngejar?”
Aku tersentak.
Pertanyaan itu sederhana.
Kenapa nggak dikejar?
Aku menoleh ke arah pintu yang tadi ia lewati.
Kakiku tidak bergerak.
Kenapa?
Karena aku capek?
Karena aku yakin dia akan kembali?
Atau…
Karena untuk pertama kalinya,
aku tidak lagi takut kehilangannya?
Pikiran itu membuat dadaku terasa aneh.
Dulu, setiap kali Linda pergi dengan wajah kesal, aku pasti menyusul. Membujuk. Memeluk. Mengalah.
Hari ini… aku diam.
Dan diamku bukan karena ego.
Tapi karena ada sesuatu di dalam hatiku
yang tidak lagi berlari ke arahnya.
Aku mengusap wajahku pelan.
“Kenapa nggak dikejar…” gumamku sendiri.
Mungkin karena jauh di dalam hati,
aku sudah tahu yang pergi hari ini bukan cuma Linda dari ruangan live.
Tapi juga…
rasa yang dulu membuatku selalu mengejarnya.
Dan itu lebih menakutkan daripada pertengkaran tadi.