Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Kabar Baru
Usai sarapan, Rangga beristirahat sejenak. Namun dia sulit menikmati waktu istirahatnya karena memikirkan tugas yang belum selesai. Dari mulai kasus Dian sampai dengan Astrid. Sementara mengenai kasus mayat dalam koper, Rangga harus menunggu waktu beberapa hari untuk hasil otopsi.
Rangga lantas mencoba menelepon Riki. Dia ingin memastikan apakah Dian sudah di interogasi. Riki menjawab telepon Rangga dan mengatakan kalau Dian masih tertidur.
Rangga percaya saja. Memang biasanya rekan-rekannya melakukan pekerjaan dengan baik saat ada kasus besar seperti ini. Meski di sisi lain Rangga juga tahu kalau tak jarang rekan-rekannya mengambil uang suap, terutama saat ada penebangan pohon ilegal serta razia. Makanya biasanya Rangga berusaha menghindari pekerjaan seperti itu dan enggan mengambil uang haram. Mungkin itulah juga yang jadi alasan dirinya memilih mengambil posisi Kanit Reskrim.
Rangga mencoba menenangkan pikirannya. Dia jadi ingin minum soda. Rangga lantas membuka kulkas. Akan tetapi sodanya habis. Beberapa barang keperluan juga terlihat habis.
Saat itu Rangga memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat. Ia membeli barang keperluan. Bersamaan dengan itu, ponsel Rangga berdering. Ia mendapat telepon dari Usay. Tanpa pikir panjang, dia angkat panggilan tersebut.
"Ga! Polsek Temaram baru saja dapat laporan tentang penemuan potongan kepala dan tangan di sungai. Aku baru memeriksanya dan kepalanya cocok dengan mayat yang ditemukan di dalam koper," ujar Usay dari seberang telepon.
"Lalu? Siapa dia, Say?" Rangga penasaran. Jantungnya berdetak kencang karena takut mayat itu adalah orang yang dirinya kenal.
"Dia Pak Alun, Ga... Wajahnya jelas Pak Alun..." ungkap Usay.
Rangga terdiam seribu bahasa. Ada rasa sesak di dadanya. Matanya perlahan berair. Walau tak terlalu dekat dengan Pak Alun, setidaknya lelaki itu adalah orang yang berjasa baginya. Pak Alun memberi Rangga kekuatan dan semangat saat sedang jatuh.
"Ga? Kau baik-baik saja?" tanya Usay.
"Iya, aku hanya tak menyangka. Siapa yang tega melakukan ini? Pak Alun orang baik, polisi baik!" jawab Rangga.
"Justru karena dia polisi baik, Ga. Kau juga polisi baik, sebaiknya mulai sekarang kau juga harus berhati-hati. Musuh polisi baik biasanya adalah teman sendiri."
"Jadi menurutmu yang melakukan semua ini pada Pak Alun adalah oknum polisi juga?"
"Aku hanya menduga. Kalau kau kesulitan menemukan pelakunya, kau sebaiknya nggak usah menyelidiki. Karena itu akan membahayakanmu, Ga!"
"Aku akan menyelidikinya. Apapun yang terjadi! Aku akan ke tempatmu sekarang!" Rangga mematikan panggilan telepon lebih dulu. Dia bergegas membayar barang belanjaannya. Kemudian langsung pergi ke unit pemeriksaan forensik.
Setibanya di tempat tujuan, Rangga langsung ingin melihat kepala yang baru ditemukan. Setelah ditunjukkan, benar saja, pemilik kepala itu adalah Pak Alun. Penampakannya sungguh memprihatinkan.
"Jadi bagaimana hasilnya?" tanya Rangga.
"Aku melihat ada beberapa lebam di bagian tubuhnya. Di bagian wajahnya juga ada luka, lalu di bagian belakang kepala," terang Usay. "Jadi kemungkinan sebelum pelaku membunuhnya, Pak Alun sempat melakukan perlawanan."
"Berarti pulpen yang jatuh kemarin adalah milik Pak Alun. Apa tidak ada sidik jari lain di pulpen itu?" Rangga bertanya dengan serius.
"Aku baru saja mau memberitahumu tentang itu. Aku menemukan sidik jari lain. Tapi sidik jari wanita. Setelah aku cari tahu, pemilik sidik jari itu adalah milik Clarisa Lestari, mahasiswi di salah satu Universitas Golden. Aku kira dia adik atau keponakan Pak Alun, dan setelah ditelusuri ternyata bukan."
"Mahasiswi?" Rangga membulatkan mata. Dia berpikir, mungkinkah mahasiswi itu adalah selingkuhan Pak Alun? Jadi gosip kalau Pak Alun selingkuh itu benar?
Rangga jadi penasaran. Satu-satunya jawaban adalah menemui Clarisa langsung dan bicara dengannya.
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄