Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 25
***
Danu mencari ketulusan pada mata Jefan,
“sungguh?” balas Danu meyakinkan,
“iya Danu, kali ini aku serius, aku akan menjaga Alisa dan membuat dia bahagia. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Ucap Jefan meyakinkan Danu.
Dari mana keikhlasan itu terlihat, dengan penolakan Alisa saja perasaannya merasa tercabik, pengakuan Jefan yang demikian membuatnya tidak bisa bernafas lega.
“Benar-benar telah berakhir Alisa” ucapnya lirih diatas kendaraannya yang ia lajukan.
“ Ya Allah, karuniakan kepadaku hati yang ikhlas” Danu menutup mata dengan kedua tangannya, berhenti ditepi jalan.
“Alisa,,,,” tatapannya kosong menatap lurus kedepan, ingin ia teriak tapi ia masih mampu kendalikan emosinya.
“Apa aku terima saja tawaran Irwan, satu-satunya obat patah hati ialah jatuh cinta lagi” pikirannya mulai berontak.
Ia merasa tidak bisa memikirkan Alisa terus menerus.
Alisa menyesal dengan situasi seperti ini, meskipun saat ini hubungannya dekat dengan Jefan. Dari dalam hatinya yang paling dalam, ia tidak ingin kehilangan Danu, sahabatnya.
Kembali pada rutinitas pekerjaan, Alisa terlihat ceria hari ini. Ia datang lebih awal dari teman-temannya. Dibuatkannya sarapan untuk teman-teman kantor, roti dengan selai cokelat. Ia letakkan roti disetiap meja rekan kerjanya.
Alisa yang masih mengotak-atik komputernya, rekan kerja tiba-tiba masuk.
“Hahaha kamu mah Sas,,!” ucap salah seorang dari mereka.
Alisa memutar kursinya dan melihat mereka yang datang dengan riuh.
“Ih sedang ngomongin apa si kalian, seru sekali” ucap Alisa tersenyum.
“Ngomongin kamu Alisa, kemaren kemana cuy ga masuk kerja lagi, aah kamu merepotkan kita saja” seru Rio yang mejanya kerja terletak didepan meja Sasi.
“Iya, kemarin ada apa si Lis, tumben kamu absen” Sambung Sasi yang langsung menyalakan komputernya.
Alisa tersenyum malu, ia tidak mungkin mengatakan pada semua rekan kerjanya.
“Eh ini anak ditanya, kok tidak menjawab” lanjut Sasi.
“Nanti saja aku ceritakan Sasi,” bisiknya lirih.
“Yaelaaah lis, pake rahasia-rahasiaan.” Rio yang memang seperti perempuan.
“Rio mau tau aja,” ucap Alisa menjulurkan lidahnya meledek Rio. Rio menatap Alisa kesal.
“Hahaha, sudah sudah” Sasi menengahi.
“Wuiiih tumben ada malaikat yang memberi sarapan ini pagi-pagi” ucap Rio senang dengan Roti isi selai cokelat tersebut.
“Dari siapa ini lis?” tanya Sasi menunjukkan pada Alisa.
“Aku yang buat untuk kalian,” balas Alisa tersenyum.
“lagi seneng ini yaaa ceritanya, sering-sering saja dek” ucap seorang perempuan paling senior dimeja ujung.
“Hahaha, iya mbak. Besok giliran Rio” jawabnya melirik Rio.
"Eh kok gue si?" jawabnya kesal.
***
Seminggu setelah acara pernikahan Nia, kakak Jefan. Kedua orang tua Jefan mengkhawatirkan anak bungsunya tersebut,
“bu, putramu itu mbok dinasihati jangan main-main lagi, dia sekarang sudah dewasa sudah pantas juga untuk menikah.” Ucap ayah sembari membuka lembaran Koran pagi ini.
“Bapak kan tahu anakmu itu bagaimana pak, nanti kalo sadar dia juga berubah pak” jawab ibu yang menyirami tanaman dihalaman depan.
“Iya kalo sadar bu, kalo ndak sadar-sadar bagaimana?” lanjut bapak menatap sang istri.
“ Itu kemarin, gadis yang dibawa Jefan kesini. Apa anakmu serius dengan gadis itu? Kalau tidak serius jangan diteruskan hubungannya. Bapak kasihan dengan gadis itu, siapa bu itu namanya?” ucap ayah sembari membaca Koran yang ia pegang.
“Alisa pak, bapak ini ya kok sudah lupa” ibu melirik tersenyum.
“Oh iya, Alisa.” Seru ayah Jefan.
“Pak, bu Jefan pergi dulu ya ada panggilan tes kerja hari ini,” Jefan tiba-tiba keluar membawa sepasang sepatu.
“Hlo kamu mencari kerja le selama ini?” tanya ibu meletakkan selang penyiram bunga.
“Iya bu, kan kata bapak tadi Jefan harus berubah, hehehe” Jefan sunggingkan bibirnya tersenyum pada kedua orang tuanya.
Ayah hanya mengangguk-angguk tanpa melihat Jefan.
“Kamu mendengar bapak dan ibu membicarakanmu le?” tanya ibu duduk disebelah Jefan.
“Iya bu, Jefan mendengar yang bapak dan ibu bicarakan” Jefan yang sedang memakai sepatu.
"Sudah siap!" ia berdiri dan siap pergi.
Ia berpamitan dan mencium kedua tangan orang tuanya, belum sampai ia meraih motornya, ia memutarkan badannya kearah teras,
“ pak, tentang Alisa, Jefan serius” ungkapnya tersenyum.
Jefan menaiki motor kesayangannya dan berangkat kelokasi tes kerja. Ibu melihat kepergian putra bungsunya dan tersenyum senang,
“Alhamdulillah pak, anak bungsu kita sudah sadar” ucap ibu pada ayah yang tidak memperhatikan istrinya bicara.
“Pak… bapak ini kok ya diam saja,” tambah ibu kesal.
“Iya bu, bapak juga senang dan bersyukur sekali anak mu itu sudah sadar. Do’akan biar apa yang anakmu lakukan hari ini lancar, dan mendapatkan pekerjaan yang bagus” ayah menutup Koran dan masuk kedalam rumah.
“Aamiin,pak” ibupun menyusul ayah dari belakang.
***
Alisa yang sudah terlalu jatuh cinta dengan kota Yogya, dan ia begitu nyaman tinggal dikota tersebut hingga ia melupakan kampung halamannya dipulau seberang.
Hari itu ia disibukkan dengan pekerjaannya, hingga ia baru sempat membuka ponselnya ketika jam istirahat.
“Mbak sehat kan?” tulis sebuah pesan dari Anton, adik Alisa.
“ Mbak kapan pulang? Bapak dan ibu sudah mempersiapkan calon suami untuk mbak Alisa,” tambah Anton dilengkapi dengan emot tertawa terbahak-bahak.
Alisa menaikkan alisnya tanpa membalas, ia kaget membaca pesan dari adiknya yang tengil itu.
“Ah dasar tengil” Alisa berbicara dengan ponselnya.
“Kenapa lis? Kekantin yuk?!” ajak Sasi.
“Rio..mau makan nggak?” panggil Sasi pada Rio yang masih belum menyelesaikan pekerjaannya.
“ Tunggu dong cuy, bentaran lagi ini” Rio mematikan komputernya dengan tergesa-gesa.
Sesaat kemudian,
“haa sudah, aku tidak makan, bisa gelempang cuy” ucapnya sembari berjalan menyusul kedua rekannya.
“Jadi bagaimana lis dengan kedua lelaki itu? Kamu sudah menentukan pilihan?” tanya Sasi yang berjalan disamping Alisa. Rio menyimak obrolan kedua perempuan yang berjalan mendahuluinya.
Alisa hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara,
“heemmm, kamu pilih yang mana? Yang bersih dan tampan itu atau yang seorang pendaki?” tanya Sasi gadis berkulit putih itu.
Alisa menghentikan langkahnya, ia melirik kearah Rio. Sasi menyadari keberadaan Rio yang berada dibelakangnya.
“Ada apa?! Kenapa kalian melihatku seperti itu?” Rio mendongakkan dagunya menantang kedua gadis dihadapannya.
Sasi menatap sinis Rio,
“Kalian ini kenapa? Walaupun aku mendengar pembicaraan kalian, aku juga akan diam saja. Jangan menatapku begituu.” Tandas Rio berjalan melewati Sasi dan Alisa.
Kedua gadis itu tertawa dibelakang Rio yang telah berjalan jauh dari mereka, “Aa dasar Rio, dia laki-laki tapi seperti perempuan, keingin tahuannya tinggi” ucap Sasi terkekeh.
“Jadi lis?” Sasi masih penasaran,
“ minggu kemarin aku ke acara pernikahan kakaknya Jefan Sas, aku dikenalkan dengan keluarganya.” Ucap Alisa yang sesekali melihat Sasi.
“Waw, serius lis? Aku rasa Jefan serius denganmu Alisa,” Sasi menghentikan langkahnya dan menarik tangan Alisa.
“Jadi, kalian telah resmi pacaran?” Sasi mencari kepastian.
Alisa menggelengkan kepalanya,
“kok bisaaa??! Kamu dibawa ke keluarganya tapi kalian masih temenan doang?” tanya Sasi keheranan.
Alisa hanya membalas dengan senyuman, ia mengabaikan teman yang masih diam sembari menatap langit lobi hotel tanda berpikir.
“Alisaa…. Tunggu aku” teriaknya menyusul Alisa.
“Kamu tidak menyesal menyia-nyiakan sang pendaki? Aku pikir dia yang sering menemuimu selama ini? Menurutku sang pendaki itu juga tidak buruk, dia terlihat gagah dengan kulitnya yang eksotis dan rambutnya yang sedikit berantakan, iya kan Alisa?” Sasi masih saja memberondong celotehan tentang kedua lelaki itu.
Mereka berjalan menuju Rio yang sedang menikmati nasi lengkap dengan ayam goreng dan sayur, Alisa duduk didepan Rio sedang Sasi duduk disamping Rio.
Rio sepertiya sedikit marah dengan kejadian tadi, ia mengabaikan keberadaan kedua rekannya yang sedang memandangi cara Rio makan.
“Rio maaf yaa,” Alisa meminta maaf dan tersenyum tepat didepan wajah Rio, Ia melirik sinis.
“ Apa si kamu Ri, begitu saja marah” dipukulnya bahu Rio oleh Sasi.
“Sasi!!” seru Alisa.
“Hahaha…” Ia hanya tertawa.
“Hai permisi, boleh ikut duduk disini?” ucap seseorang yang berdiri disebelah Sasi.
Ketiga sekawan mengangkat wajah dan melihat keberadaan seseorang tersebut.
Bersambung….
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU