Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shahinaz adalah miliknya
Setelah Shahinaz pulang dari rumah sakit dan Auretheil kembali ke rumahnya, Shahinaz mendadak merasa bingung. Perutnya keroncongan dan minta diisi, tetapi dia tidak tahu harus makan apa. Padahal, Auretheil sempat menawarkan untuk mampir ke minimarket atau ke tempat yang mungkin diperlukan sebelum mereka pulang.
Shahinaz berdiri di dapur dengan tatapan kosong, bingung mencari sesuatu yang bisa dimakan. Sebagian besar persediaan makanan di dapurnya tampaknya sudah harus diganti dan tidak menggugah selera. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari sesuatu di kulkas dan laci dapur, berharap ada bahan-bahan yang bisa diolah dengan cepat. Sayangnya nihil, barang yang kemarin dia beli juga tertinggal di bagasi motornya yang hilang entah kemanan.
"Dreven Vier Kingsley, selain jadi antagonis di novel aslinya, dia juga jadi antagonis di dalam hidup gue. Miris banget, masa gue harus jalan kaki nyari makanan!" keluh Shahinaz sambil terus memaki-maki nama Dreven secara lengkaр.
Memang masih ada mobil yang tersimpan rapi di garasi rumah ini, tapi Shahinaz tidak memiliki keberanian untuk mengemudikannya. Bayangan tragis orang tuanya yang terjatuh ke jurang terus menghantui pikirannya, menjadi alasan utama dia menghindari setir mobil. Ya meskipun dia pernah berlatih mengemudi dan merasa cukup mahir, trauma tersebut membuatnya enggan untuk kembali duduk di belakang kemudi lagi.
"Nggak ada cara lagi selain jalan kaki. Karena gue nggak tau beli makan online di sini caranya kayak gimana, nggak ada ingatan sama sekali soalnya." kata Shahinaz sambil memakai hoodienya lagi, lalu berjalan keluar rumah setelah membawa sejumlah uang untuk berjaga-jaga.
Langit sudah mulai gelap, dia memerlukan banyak waktu yang cukup menguras tenaga untuk diinterogasi di rumah sakit tadi. Berjalan kaki di malam hari dan tak tentu arah, dia berpikir untuk melakukannya lain kali lagi. Karena entah kenapa aktivitas kecil seperti ini, justru terasa menenangkan untuk hatinya.
"Permisi, sepertinya anda sedang kesakitan dan butuh dibantu. Apa perlu saya menelepon seseorang untuk membantu anda?" entah magnet apa yang membuat Shahinaz memilih untuk mendekati laki-laki yang sedang terkapar lemah di atas trotoar jalan.
Terlalu menikmati suasana, Shahinaz tidak sadar sudah berjalan sejauh ini. Dan melihat seseorang sedang memegangi bagian perutnya tanpa ada yang membantu, membuat Shahinaz berinisiatif untuk menghampiri laki-laki itu. Sepertinya jalan ini cukup sepi dilewati oleh kendaraan, karena Shahinaz sudah merasakannya sejak tadi.
Laki-laki itu terkulai di atas trotoar, tampak mengerang pelan ketika menekan lukanya sendiri dari jarak jauh tadi. Shahinaz bisa melihat bahwa pakaian mahal laki-laki itu juga agak robek dan banyak noda darah, menambah kesan bahwa dia baru saja dikeroyok oleh segelintir orang. Mobil mewah yang mencolok dan dipakai laki-laki itu, membuat Shahinaz kembali merasa ada kesenjangan sosial di antara mereka. Anya sepertinya membuat banyak orang di novelnya menjadi kaya raya!
"Darimana?" tanya laki-laki itu, yang membuat Shahinaz langsung menggerutu di tempat.
Dunia sepertinya terlalu sempit, kenapa ada Dreven di mana-mana! Apa karena dia terlalu mengutuk Dreven, makanya dia selalu dipertemukan dengan laki-laki itu. Melirik mobil yang dikendarai Dreven sebentar, sepertinya kemarin mobilnya bukan seperti ini. Apakah Dreven kolektor Mobil mewah juga?
"Mansion lo ada di sekitaran sini ya? Makanya gue selalu ketemu lo terus gitu." bukannya menjawab, Shahinaz justru mempertanyakan hal lain.
"Kenapa?" tanya Dreven sambil mengangkat sebelah alisnya, tanda bertanya juga.
"Kenapa? Karena lo udah buat gue frustasi sejak kemarin, lo buat hidup gue jadi gelap tau nggak!" anggap saja Shahinaz sedang cari mati. Shahinaz sepertinya lupa, bagaimana Dreven membantai musuhnya kemarin malam.
Padahal jika Dreven baik-baik saja dan tidak sedang rapuh seperti ini, Shahinaz mungkin tidak akan berani mencari perkara kepada laki-laki itu. Mencari kesempatan dalam kesulitan orang lain saja, dia masih marah dengan Dreven yang menciumnya secara sembarangan itu.
"Itu tandanya, kita berjodoh." jawab Dreven mengoreksi perkataan Shahinaz sebelumnya.
Shahinaz terkejut mendengar jawaban Dreven yang santai, seolah-olah situasi darurat ini adalah hal biasa baginya. Sementara Dreven hanya menatap Shahinaz dengan tatapan serius, Shahinaz jadi merasa emosi dan bingung secara bersamaan.
"Jodoh? Lo pikir ini lelucon?" Shahinaz bertanya dengan nada kesal, merasakan amarahnya memuncak. Namun ketika sadar Dreven sedang terluka, dia akhirnya memilih untuk menurunkan egonya sedikit, "Btw kayaknya lo terluka parah, mau gue teleponin rumah sakit sekarang?"
Dreven menggelengkan kepalanya, "Nggak perlu rumah sakit."
"Terus mau gue bantu teleponin ajudan lo? Kayaknya lo butuh bantuan mereka." tanya Shahinaz sambil mengedarkan pandangannya kesekililing, kenapa yang lewat di jalan ini hanya kendaraan roda dua saja sejak tadi? Ini cukup aneh.
"Nggak usah." jawab Dreven singkat lagi.
"Ya udah, gue pergi dulu ya. Gue nggak mau lihat orang sekarat di depan gue soalnya." lanjut Shahinaz kemudian berniat untuk meninggalkan Dreven di sana sendirian.
Tapi Dreven menahan pergelangan tangannya, menggelengkan kepalanya, dan meminta Shahinaz untuk tetap berada disisinya. Meskipun Dreven terlihat lemah, genggaman Dreven terasa cukup kuat, membuatnya berhenti melangkah. Dia menatap Dreven dengan tatapan tidak percaya, mencoba memahami situasi yang semakin rumit ini.
"Terus lo mau gue kayak gimana? Lo mau gue jadi saksi lo lagi sekarat di jalan begitu?" tanya Shahinaz yang kemudian menggelengkan kepala dengan kuat, dia tidak mau dipidana hanya gara-gara menyaksikan orang sekarat saja, "Kalau lo butuh bantuan, gue bisa teleponin siapapun. Itu aja bantuan yang bisa gue tawarkan, nggak lebih."
"Antar aku pulang." kata Dreven yang membuat Shahinaz mendadak cemas.
Mengantar dengan cara apa? Dengan cara mengemudikan Mobil untuk Dreven hingga sampai di kediamannya begitu. Shahinaz benar-benar tidak cukup nyali, apalagi yang dikendarai olehnya nanti adalah mobil mewah yang sepertinya Shahinaz tidak mampu beli. Bisa urusannya makin lebar dan kemana-mana nanti!
"Nggak, gue nggak bisa nyetir. Gue telepon ajudan lo aja ya, biar segera kesini. Meski lama, seenggaknya lo masih selamat karena nggak dibawa mati sama gue." kata Shahinaz cepat.
"Aku yang nyetir." jawab Dreven.
Shahinaz menarik napas panjang, merasa tidak nyaman dengan permintaan itu tetapi juga merasa kasihan. Dengan hati-hati, dia duduk di samping Dreven, berusaha untuk menjaga jarak agar tidak mengganggu luka-luka laki-laki itu.
"Lo benar-benar keras kepala," gerutu Shahinaz, dia menarik napasnya panjang-panjang, "Tapi ya udahlah, gue nggak mau debat lagi karena lagi lapar. Ya udah lah, gue papah lo ke Mobil. Kalau semisal di jalan nanti lo tiba-tiba kecelakaan, jangan pernah nyalahin gue."
Shahinaz membantu Dreven dengan hati-hati, memapahnya menuju mobil mewah yang terparkir di tepi jalan. Meskipun tampak enggan, dia merasa harus melakukan ini untuk kebaikan Dreven, terutama setelah mendengar betapa keras kepalanya Dreven untuk tidak menelepon siapapun.
"Awas, hati-hati," kata Shahinaz sambil membukakan pintu mobil untuk Dreven. "Pokoknya kalau ada sesuatu yang aneh, kita harus segera berhenti di jalan dan cari bantuan orang lain."
Dreven mengangguk lemah, berusaha memasuki kursi pengemudi dengan perlahan.
Setelah Shahinaz memastikan Dreven sudah nyaman di tempat duduknya, Shahinaz berjalan memutar untuk duduk di kursi samping kemudi. Percayalah ketika Shahinaz tidak fokus dengan keadaan Dreven, disaat itulah Dreven tersenyum miring. Merasa perjuangannya untuk terlihat tidak berdaya di depan gadis itu berhasil juga.
Dreven menatap ke arah kaca mobilnya, dia melihat dengan jelas bagaimana cara para ajudannya bersembunyi tanpa terlihat dan disadari oleh Shahinaz. Dia entah kenapa merasa bangga pada dirinya sendiri, walaupun harus melukai luka yang telah hampir kering sebelumnya.
"Untung motor gue ada sama lo, jadi gue nggak terlalu bingung bagaimana caranya pulang nanti." kata Shahinaz sedikit ada rasa bersyukurnya. Setidaknya motor barunya akhirnya kembali kepadanya juga.
"Hmmm." jawab Dreven berdehem pelan.
Ketika Dreven mulai menghidupkan mesin mobil, entah kenapa Shahinaz bisa merasakan ketegangan yang mengalir di seluruh tubuhnya.
Bagaimana jika Dreven nanti mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan, lalu ditengah jalan mereka akhirnya kecelakaan lantaran Dreven tidak bisa menahan sakit di perutnya?
"Kenapa?" tanya Dreven ketika melihat keanehan Shahinaz, apalagi gadis itu juga berkeringat lebih seolah sedang terserang rasa panik.
"Ini kita nggak bakal mati kan?" tanya Shahinaz mencoba memastikan sesuatu yang sedang bersarang dikepalanya.
Dreven menoleh, tatapannya serius meski wajahnya seolah mengatakan kalau dia sedang menahan sakit, "Nggak perlu khawatir, kita nggak akan mati."
Shahinaz mencoba untuk rileks, tapi
bagaimanapun juga, kecemasannya tidak ada yang mereda, "Oke, gue berusaha buat percaya."
Karena mengerti ketakutan Shahinaz, Dreven akhirnya mengendarai mobilnya dengan hati-hati.
Shahinaz memperhatikan setiap gerakan Dreven, siap untuk melakukan apa pun jika situasi mulai tidak terkendali. Tapi sepertinya tidak ada yang perlu ditakutkan, Dreven seolah sedang baik-baik saja dan tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.
Jadi karena hubungan mereka bisa dikatakan cukup canggung, Shahinaz memilih untuk melihat ke arah jalan yang sedang mereka lewati. Benar-benar banyak orang yang jumlahnya tidak bisa dihitung oleh Shahinaz. Tapi kenapa Shahinaz selalu bertemu dengan Dreven dimanapun dia berada?
Lalu bukannya memastikan Dreven mengemudi dengan baik, Shahinaz justru memejamkan matanya dan tertidur. Seolah dia melupakan niat awalnya untuk mencari makan karena kelaparan!
Dreven tersenyum tipis, "You're cute when you sleep too. It seems, I really love you."
Dreven melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, berusaha menekan rasa sakit yang dibuatnya sendiri agar tidak mengganggu konsentrasinya. Shahinaz yang duduk di kursi penumpang, tertidur dalam posisi duduk dengan kepala terkulai ke samping kiri. Itu membuat Dreven sebenarnya sedikit khawatir, bagaimana jika kepalanya terbentur jendela mobil?
Dreven jadi merasakan campur aduk antara kesenangan dan rasa iba. Di satu sisi, dia merasa senang karena berhasil memanipulasi situasi untuk mendapatkan perhatian dari Shahinaz. Tapi di sisi lain, dia merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu terlibat dalam kebohongannya sendiri.
"Aku seperti ini, karena ingin lebih dekat denganmu. Maaf." kata Dreven sambil mengelus pipi Shahinaz dengan selembut mungkin.
Setelah beberapa waktu, mereka tiba di kawasan mansion yang lebih tenang dan terjaga dengan baik. Dreven memarkir mobilnya dengan hati-hati di area parkir yang dekat dengan pintu masuk utama. Banyak pekerjanya yang dengan sigap menghampiri, barangkali Tuan Muda mereka membutuhkan sesuatu.
"Buatkan makanan seenak mungkin, saya akan membawa gadis saya dulu ke kamar. Pastikan satu jam harus selesai." kata Dreven yang tanpa beban langsung menggendong Shahinaz seolah luka yang di dapat tadi tidak ada apa-apanya.
Karena lebih baik dirinya yang merasa kesakitan secara fisik. Daripada melihat Shahinaz digendong oleh laki-laki lain dan batinnya kemudian tersiksa, meskipun yang melakukan itu hanya ajudan terpercaya dirinya sekalipun.
Shahinaz adalah miliknya, tidak ada laki-laki lain yang boleh mendekatinya!