NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Penyelesaian

"Dia hanya tukang lap debu, bukan tukang cuci," sahut Arash cepat sembari mengambil berkas dari tangan Pak Surya. "Sudah selesai? Saya rasa urusan kita sudah tuntas. Silakan keluar, saya ingin beristirahat."

Setelah serangkaian basa-basi yang terasa seperti selamanya, akhirnya Arash berhasil menggiring mereka keluar. Begitu pintu tertutup dan bunyi kunci elektronik berbunyi bip, Raisa langsung melempar kemocengnya ke lantai.

Ia melepas celemeknya dan menatap Arash dengan mata berkilat marah. "Tukang lap debu? Sisa kopi di kamar mandi? Kau benar-benar menikmati peranmu sebagai majikan tiran tadi, ya?!"

Arash justru bersandar di pintu, mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menatap Raisa, lalu tiba-tiba tawa kecil yang jarang terdengar keluar dari bibirnya. "Kau harus lihat wajahmu tadi, Raisa. Kau benar-benar terlihat seperti asisten rumah tangga yang sedang tertekan. Tapi harus kuakui ... aktingmu lumayan, meski tanganmu terlalu 'halus' untuk Pak Surya."

"Kau hampir membuatku jantungan, Arash!"

Arash melangkah mendekati Raisa, seringai tipisnya kembali. "Tapi kau selamat, bukan? Dan sebagai bonus, besok di kantor tidak akan ada gosip tentang kita. Meskipun ... mungkin besok aku benar-benar akan menyuruhmu membersihkan sisa kopiku di kantor untuk menjaga citramu sebagai 'pelayan' pribadiku."

Raisa menyambar bantal sofa dan melemparkannya tepat ke wajah Arash. "Dalam mimpimu, Arash!"

Arash menangkap bantal itu dengan mudah, matanya menatap Raisa dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. "Hati-hati, Raisa. Jangan sampai kau lupa bahwa di apartemen ini, pembantu atau istri, kau tetap berada di bawah kekuasaanku."

***

Pagi di kantor Dirgantara Group biasanya dimulai dengan aroma kopi mahal dan deru mesin fotokopi, namun bagi Raisa, suasana hari ini terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca. Begitu ia melangkah masuk ke area kubikel administrasi, ia langsung merasakan beberapa pasang mata tertuju padanya.

Pak Surya, kepala bagian audit yang semalam berkunjung ke apartemen Arash, sedang berdiri di dekat meja dispensasi air bersama dua staf wanita yang ikut bersamanya semalam—Tika dan Maya. Mereka bertiga tampak sedang berbisik serius sebelum akhirnya mata Maya menangkap sosok Raisa.

"Nah, itu dia orangnya!" bisik Maya cukup keras hingga Raisa mendengarnya.

Raisa mencoba tetap tenang, ia meletakkan tas kerja kulitnya—tas yang semalam hampir membongkar penyamarannya—di atas meja dengan gerakan yang sengaja dibuat santai.

Namun, belum sempat ia duduk, Pak Surya sudah melangkah mendekat dengan senyum yang sulit diartikan.

"Pagi, Nona Raisa. Tidur nyenyak semalam?" tanya Pak Surya, nada bicaranya mengandung selidik yang kental.

Raisa mendongak, memasang wajah bingung yang paling meyakinkan. "Pagi, Pak Surya. Ya, lumayan nyenyak. Ada apa ya, Pak? Tumben sekali menyapa saya sepagi ini."

Maya dan Tika ikut mendekat, mata mereka langsung mengunci tas kerja Raisa yang tergeletak di meja. "Tas itu ..." Tika menunjuk dengan jarinya yang lentik. "Modelnya sangat unik ya, Raisa. Kulit asli dengan aksen emas di pengaitnya. Sepertinya tidak banyak yang punya."

Raisa merasakan jantungnya berdebu kencang, namun ia teringat latihan singkat yang ia jalani dalam kepalanya sejak subuh tadi. "Oh, tas ini? Iya, ini koleksi dari toko daring yang sedang viral bulan lalu. Kenapa? Kalian naksir juga?"

Maya menyipitkan mata, ia berpindah posisi untuk melihat tas itu dari sudut yang berbeda. "Aneh sekali. Semalam kami berkunjung ke apartemen Pak Arash untuk mengantar berkas, dan kami melihat tas yang persis seperti ini tergeletak di sofa ruang tamunya."

Suasana di sekitar kubikel mendadak hening. Beberapa karyawan lain mulai memasang telinga. Pak Surya menyilangkan tangan di dada, menunggu reaksi Raisa.

Raisa justru tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat ringan dan tidak terbebani. "Ya ampun, Maya ... Jadi kalian pikir itu tas saya? Memangnya di dunia ini yang punya tas model begini cuma saya saja? Coba kalian cek di departemen legal, Mbak Ratna juga punya yang warnanya mirip. Malah kemarin saya lihat di lobi ada tamu yang bawa tas serupa tapi warna maroon."

"Tapi warnanya sama persis, Raisa. Cokelat tan dengan goresan kecil di dekat pengaitnya," desak Tika, matanya menatap tajam goresan kecil di tas Raisa yang memang tak sengaja terkena kunci apartemen semalam.

Raisa tetap bergeming. Ia mengambil tasnya, membukanya, dan mengeluarkan beberapa berkas dengan tenang. "Tika, tas ini diproduksi ribuan unit. Dan soal goresan? Tas kulit kalau sering dipakai lembur memang gampang tergores, kan? Lagipula, kalaupun Pak Arash punya tas seperti ini di rumahnya, mungkin itu milik asisten pribadinya, atau mungkin ... milik wanita pilihannya. Kenapa harus dikaitkan dengan saya?"

"Benar juga sih," gumam Pak Surya, mulai ragu. "Tapi aneh saja melihat tas wanita di apartemen pria sedingin Pak Arash."

"Mungkin itu hadiah untuk seseorang yang belum sempat dia berikan," celetuk Raisa sembari menyalakan komputer. "Atau mungkin Pak Arash punya selera fashion yang ... unik? Siapa tahu, kan? Daripada mengurusi tas di rumah atasan, lebih baik kita urus laporan audit yang diminta beliau tadi malam. Saya dengar beliau sedang tidak dalam mood yang baik."

Mendengar nama Arash dan "mood yang tidak baik", Pak Surya langsung berdehem kaku. "Ah, benar. Saya hampir lupa. Ayo Tika, Maya, kembali ke meja kalian. Jangan sampai Pak Arash keluar dan melihat kita bergosip."

Begitu mereka menjauh, Raisa mengembuskan napas panjang yang tertahan di tenggorokan. Jemarinya masih sedikit gemetar saat menyentuh keyboard.

Tepat saat itu, pintu ruangan CEO terbuka. Arash melangkah keluar dengan setelan jas hitam yang sempurna. Ia berjalan melewati area kubikel dengan wajah datar tanpa emosi. Namun, saat ia melintasi meja Raisa, langkahnya melambat sesaat. Mata mereka bertemu selama satu detik—sebuah tatapan yang penuh peringatan sekaligus pengakuan atas keberhasilan Raisa berkelit.

Arash tidak menyapa, ia terus berjalan menuju ruang rapat besar, namun Raisa melihat sudut bibir pria itu berkedut tipis—sebuah seringai kemenangan yang hanya ditujukan untuknya.

Setelah jam istirahat berakhir, Raisa kembali ke mejanya dengan perasaan yang masih campur aduk. Namun, saat ia hendak menarik kursinya, ia merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Di bawah meja, terdapat sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin berwarna perak.

Raisa menarik kotak itu ke atas meja dengan hati-hati. Saat ia membukanya, matanya hampir keluar dari kelopaknya. Di dalamnya terdapat sebuah tas handbag bermerek internasional dengan kulit burung unta yang sangat halus—harganya setara dengan gaji satu tahunnya.

Di dalamnya, terselip sebuah nota kecil dengan tulisan tangan Arash yang tajam dan miring.

"Ganti tasmu sebelum penglihatan Pak Surya menjadi lebih tajam. Dan ingat, ini bukan hadiah. Ini adalah inventaris perusahaan untuk menjaga citra asisten pribadiku agar tidak terlihat seperti rakyat jelata yang memakai tas dengan goresan kunci. Simpan tas lamamu di gudang atau bakar sekalian."

Raisa meremas nota itu, lalu menatap ke arah ruangan CEO yang tertutup rapat. Ada rasa kesal karena arogansi Arash, namun ada juga getaran aneh di hatinya saat menyadari bahwa pria itu—dengan caranya yang sangat kasar dan bengis—ternyata tetap melindunginya.

Ia segera memindahkan barang-barangnya ke tas baru yang mewah itu. Saat ia mengangkat tas tersebut, aroma kulit yang mahal menyeruak, menutupi rasa takutnya seharian ini.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!