NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Sandiwara di Atas Meja Makan

Jalanan Jakarta malam itu macet total, seolah ikut menahan beban yang kini menindih dada Alana. Di dalam mobilnya yang hening, layar ponselnya masih menyala, menampilkan foto yang baru saja diambilnya sejam lalu: Hendra Wardhana, ayahnya, sedang merangkul pinggang Siska di lobi apartemen Green Park. Tangan itu—tangan yang sama yang dulu mengajarinya bersepeda—terlihat begitu nyaman bersandar di lekuk tubuh sahabatnya sendiri.

Alana mematikan layar ponsel dan melemparnya ke kursi penumpang. Ia butuh kedua tangannya untuk mencengkeram setir agar tidak gemetar. Ia tidak langsung pulang. Ia berputar-putar di kawasan Senayan, membiarkan AC mobil mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah. Air mata yang sempat menggenang tadi sudah kering, digantikan oleh rasa mual yang tajam.

Fakta itu kini bukan lagi dugaan. Itu adalah realitas. Ayahnya tidur dengan sahabatnya. Siska, gadis yang pernah ia beri tumpangan tidur saat diusir dari kosan, kini sedang bermain peran sebagai nyonya muda di apartemen yang dibiayai ayahnya.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam saat Alana memarkir mobilnya di basement gedung apartemen penthouse mereka di SCBD. Ia menarik napas panjang, memperbaiki riasan wajahnya di kaca spion, dan memasang topeng terbaiknya. Ia harus pulang. Ia harus menghadapi monster itu tanpa berkedip.

***

Penthouse itu sunyi seperti biasa. Lampu kristal di ruang tengah menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Alana mendengar suara denting sendok beradu dengan piring dari arah ruang makan. Hendra sudah pulang.

Alana melangkah masuk. Hendra duduk di ujung meja makan panjang yang mampu memuat dua belas orang, menyantap steak sendirian sambil membaca berkas di tabletnya. Ia sudah berganti pakaian santai, mengenakan kemeja linen putih yang lengan bajunya digulung.

"Baru pulang, Al?" tanya Hendra tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. Suaranya datar, otoritatif, sama seperti saat ia memimpin rapat direksi.

"Macet, Pa," jawab Alana singkat. Ia menarik kursi di sisi kanan Hendra, tempat yang biasanya ia tempati. Pembantu rumah tangga mereka, Bi Surti, segera muncul membawakan piring bersih.

"Makan dulu, Non," ujar Bi Surti lembut.

Alana hanya mengangguk, meski nafsu makannya sudah hilang sejak sore tadi. Ia memperhatikan ayahnya. Hendra tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja berselingkuh beberapa jam lalu. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya, tidak ada kegelisahan.

"Papa lembur?" pancing Alana sambil memotong daging di piringnya menjadi ukuran kecil-kecil, sekadar untuk menyibukkan tangan.

"Biasalah. Meeting dengan investor dari Surabaya. Mereka rewel soal spesifikasi material proyek di Darmo," jawab Hendra lancar. Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari lidahnya, seolah ia sudah melatihnya ribuan kali.

Alana menahan napas. *Investor dari Surabaya.* Padahal Alana melihatnya jelas-jelas di lobi apartemen di Jakarta Selatan, memeluk pinggang ramping Siska.

"Lancar meeting-nya?" tanya Alana lagi, kali ini memberanikan diri menatap mata ayahnya.

Hendra meletakkan garpunya, lalu menatap Alana sekilas. "Lumayan. Kenapa kamu tanya-tanya? Tumben peduli sama urusan kantor."

"Cuma basa-basi, Pa. Kan Papa yang bilang aku harus mulai belajar bisnis keluarga," elak Alana.

Hendra mendengus pelan, lalu kembali fokus pada makanannya. "Belajar itu di kantor, bukan di meja makan. Oh ya, ngomong-ngomong soal kantor, Siska kerjanya bagus. Cepat tanggap. Rini bilang dia bisa handle pengarsipan yang biasanya butuh dua orang."

Jantung Alana serasa berhenti berdetak mendengar nama itu disebut. Keberanian Siska dan Hendra benar-benar di luar nalar. Hendra memujinya di depan anaknya sendiri, seolah Siska hanyalah karyawan biasa yang berprestasi.

"Baguslah kalau begitu," kata Alana, memaksakan senyum tipis yang terasa kaku di wajahnya. "Dia memang pekerja keras. Dia bilang dia butuh uang banget buat bantu keluarganya di kampung."

Alana sengaja menekankan kata *keluarga* dan *uang*. Ia ingin melihat reaksi Hendra.

Hendra hanya mengunyah pelan, tidak terganggu sedikit pun. "Semua orang butuh uang, Alana. Bedanya, ada yang mau usaha, ada yang cuma mau minta sama orang tua. Siska itu contoh bagus buat kamu. Dia mandiri."

Kalimat itu menohok ulu hati Alana. *Mandiri?* Siska dibiayai oleh Hendra. Apartemennya, tas barunya, gaya hidupnya—semua dari uang Hendra. Uang yang seharusnya menjadi hak waris Alana dan ibunya yang sudah tiada.

"Iya, Pa. Siska memang pintar cari peluang," sindir Alana halus.

Hendra tidak menangkap sarkasme itu, atau memilih untuk mengabaikannya. Ia menyelesaikan makannya, mengelap mulut dengan serbet, lalu berdiri. "Saya mau lanjut kerja di ruang kerja. Jangan ganggu."

Saat Hendra melewati kursinya, hidung Alana menangkap aroma itu. Aroma samar yang tertinggal di kemeja linen ayahnya. Bukan parfum maskulin Hendra yang biasa, melainkan aroma manis vanila bercampur musk. Parfum murah Siska.

Alana mencengkeram pisau steak di tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin berteriak, melempar piring, melabrak ayahnya saat itu juga. Tapi ia ingat foto di ponselnya. Itu belum cukup. Ia butuh lebih dari sekadar foto pelukan di lobi untuk menghancurkan mereka. Ia butuh bukti aliran dana yang masif, bukti perzinahan yang tak terbantahkan, sesuatu yang bisa dipakai di pengadilan jika diperlukan.

***

Keesokan harinya, Alana memutuskan untuk memeriksa satu-satunya hal yang belum ia sentuh: kondisi finansialnya sendiri. Selama ini, ia hidup dari fasilitas kartu kredit tambahan (supplementary card) dan uang saku bulanan yang ditransfer Hendra. Ia tidak pernah benar-benar mengecek detailnya karena tidak pernah merasa kekurangan.

Di sela waktu istirahat kantor magangnya, Alana pergi ke bank cabang utama tempat rekening keluarganya berada. Ia menemui customer service, seorang wanita paruh baya bernama Bu Linda yang sudah mengenal keluarganya bertahun-tahun.

"Selamat siang, Mbak Alana. Tumben mampir sendiri, biasanya sama Pak Hendra," sapa Bu Linda ramah.

"Siang, Bu. Iya nih, lagi ada urusan dekat sini. Oh ya, Bu, saya mau minta cetak rekening koran tabungan saya enam bulan terakhir. Sekalian mau tanya soal deposito atas nama Ibu saya yang jatuh tempo bulan depan."

Senyum Bu Linda sedikit tertahan. Ia mengetik sesuatu di komputernya, keningnya berkerut. "Mbak Alana, untuk rekening tabungan pribadi Mbak, memang bisa saya cetakkan. Tapi saldonya... sepertinya hanya sisa uang saku bulan ini saja."

"Maksudnya?" Alana bingung. "Tabungan pendidikan saya? Yang dulu Mama buat?"

"Itu..." Bu Linda tampak tidak enak hati. Ia memutar layar monitor agar tidak terlihat orang lain, lalu berbisik pelan. "Rekening itu sudah ditutup dua minggu lalu oleh Pak Hendra. Dananya dipindahkan ke rekening giro perusahaan. Karena status Mbak Alana waktu itu masih di bawah perwalian saat rekening dibuat, Pak Hendra punya otorisasi penuh."

Lantai bank yang dingin terasa membekukan kaki Alana. Tabungan itu adalah peninggalan ibunya, disiapkan khusus untuk studi S2 Alana atau modal usaha. Jumlahnya miliaran. Dan sekarang lenyap, dipindahkan ke perusahaan yang kini sedang menyuplai gaya hidup Siska.

"Kalau deposito Mama?" suara Alana bergetar.

"Sama, Mbak. Sudah dicairkan bulan lalu. Tanda tangannya atas nama Pak Hendra sebagai ahli waris utama istri."

Alana keluar dari bank dengan langkah gontai. Matahari Jakarta yang terik tidak mampu menghangatkan tubuhnya yang menggigil. Ia sadar sekarang. Ia bukan putri raja di menara gading. Ia adalah tawanan. Secara finansial, ia nol besar. Jika Hendra mengusirnya hari ini, ia akan gelandangan. Tidak ada aset atas namanya sendiri. Semua mobil, rumah, bahkan tabungan masa kecilnya, dikuasai Hendra.

Kenyataan ini lebih menakutkan daripada perselingkuhan itu sendiri. Perselingkuhan menyakiti hatinya, tapi kemiskinan akan membunuhnya.

Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Siska.

*"Beb, aku lagi di daerah SCBD nih, mampir ke penthouse ya? Aku bawain dokumen yang ketinggalan buat Bokap lo. Sekalian mau ngembaliin scarf lo yang waktu itu gue pinjam."*

Alana menatap layar itu dengan tatapan nyalang. Siska tidak hanya mengambil ayahnya, tapi sekarang berani menginjakkan kaki ke wilayah pribadi Alana dengan alasan pekerjaan.

"Oke. Gue di rumah 15 menit lagi," balas Alana singkat.

***

Saat Alana tiba di penthouse, Siska sudah ada di sana. Duduk di sofa ruang tengah, kakinya disilangkan dengan anggun, memegang cangkir teh porselen—koleksi ibunya Alana yang tidak boleh disentuh sembarang orang.

Siska memakai blus sutra berwarna krem yang terlihat mahal, dipadukan dengan rok pensil yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Di meja, tergeletak sebuah tas tangan baru. Merek Coach. Bukan Hermes memang, tapi harganya setara dengan dua bulan gaji *fresh graduate*. Tidak mungkin Siska membelinya dengan gajinya yang baru dua minggu bekerja.

"Hai, Al!" Siska melambai ceria, seolah tidak ada dosa di antara mereka. "Sorry ya gue lancang minta Bi Surti bikinin teh. Haus banget habis dari lapangan."

Alana meletakkan tasnya, berusaha mengatur napas agar tidak menjambak rambut Siska saat itu juga. "Nggak apa-apa. Dokumen apa yang ketinggalan?"

"Oh, kontrak vendor. Pak Hendra—maksud gue bokap lo—minta gue anterin karena dia mau review nanti malam di rumah," jawab Siska santai. Matanya berkeliaran mengamati interior penthouse dengan tatapan lapar, seolah sedang mengukur tirai dan vas bunga.

"Tas baru?" tanya Alana, menunjuk tas di meja dengan dagunya.

Siska tersenyum malu-malu, tangannya mengelus kulit tas itu. "Oh, ini? Iya nih. Hadiah dari... pacar baru gue. Ingat kan cowok yang gue ceritain? Yang mapan itu?"

Alana duduk di seberang Siska, menatap tepat ke manik matanya. "Oh ya? Cowok yang mana? Yang lo bilang posesif itu?"

"Iya. Dia baik banget, Al. Dia ngerti banget selera gue. Katanya gue pantes dapetin yang lebih baik dari kehidupan gue yang dulu," Siska terkekeh pelan, lalu menyeruput tehnya. "Rasanya kayak mimpi, Al. Akhirnya ada yang ngehargain gue."

Setiap kata yang keluar dari mulut Siska adalah racun yang dibungkus madu. Dia sedang memamerkan hasil jarahannya di depan korbannya, menikmati sensasi bahaya bahwa Alana mungkin tahu tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

"Baguslah," kata Alana dingin. "Hati-hati, Sis. Cowok mapan biasanya banyak maunya. Jangan sampai lo cuma jadi mainan."

Siska meletakkan cangkirnya perlahan. Senyumnya berubah sedikit miring, tatapannya menantang. "Tenang aja, Al. Gue tahu cara mainnya. Gue bukan tipe cewek yang bisa dibuang gitu aja setelah dipakai. Gue pegang kuncinya."

Alana terdiam. Kalimat itu bermakna ganda. Siska tidak sedang membicarakan pacar fiktif. Dia sedang memperingatkan Alana. *Gue pegang kuncinya.* Siska merasa posisinya aman karena Hendra bertekuk lutut padanya.

"Ngomong-ngomong," Siska merogoh tas barunya dan mengeluarkan sebuah *paper bag* kecil. "Ini scarf lo. Thanks ya udah minjemin. Sayang warnanya agak kurang masuk sama baju gue hari ini."

Alana menerima bungkusan itu. Di dalamnya ada scarf sutra hermes miliknya. Saat Alana menariknya keluar, ia mencium aroma yang sama dengan yang ada di kemeja Hendra semalam. Vanila dan Musk.

Siska sengaja menyemprotkan parfumnya ke barang milik Alana. Ini adalah penandaan wilayah. Siska sedang mengencingi teritorinya.

"Thanks," gumam Alana, menahan gejolak amarah yang mendidih di dadanya. "Gue mau mandi dulu. Lo tunggu Papa aja kalau mau."

"Oke, Beb. Gue tunggu sini aja sambil nonton Netflix ya," jawab Siska tanpa rasa bersalah.

Alana berjalan menuju kamarnya dengan langkah berat. Di dalam kamar, ia melempar scarf itu ke tempat sampah. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang tampak lelah namun matanya menyala marah.

Ia tidak punya uang. Ia tidak punya kekuasaan. Ayahnya sudah menjadi milik musuhnya. Tapi Alana masih punya satu hal: akses ke dalam rumah ini. Dan selama Siska masih merasa di atas angin, dia akan lengah.

Alana membuka laci meja riasnya, mengambil buku catatan kecil tempat ia mulai menuliskan kronologi. Ia menambahkan entri baru untuk hari ini:

*Hendra memblokir akses keuanganku. Siska mulai berani masuk ke rumah. Perang sudah dimulai, dan aku harus mencari tentara bayaran karena aku tidak bisa memenangkan ini dengan tangan kosong.*

Pikiran Alana melayang pada satu nama yang pernah disebut Rini, sekretaris ayahnya, tentang pengacara muda yang sedang naik daun dan sering menangani kasus sengketa aset melawan konglomerat properti. Ia butuh sekutu yang mengerti hukum, karena ini bukan lagi soal keluarga, ini soal perebutan aset.

Alana mengambil ponselnya, mengetik pesan pada Rini: *"Mbak Rin, tolong kirim kontak pengacara yang waktu itu Mbak ceritain pernah nuntut pengembang nakal. Teman saya butuh konsultasi hukum."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!