Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang mulai Menghilang
Pagi itu, Nayara lagi mencuci baju di belakang rumah. Aldi main sendiri di teras sambil main mobil-mobilan plastik merah kesayangannya. Matahari panas banget. Keringat Nayara mengucur dari kening sampe leher.
Tangannya kucek-kucek baju Bima yang kemarin dipake kerja. Masih ada bau alkohol tipis nempel di kerah. Nayara menghela napas panjang. Udah hampir sebulan ini Bima hampir tiap hari pulang malem. Tiap hari bau alkohol. Tiap hari bentak-bentak kalau ditanya.
Beda banget sama tiga bulan pertama pernikahan mereka. Nayara coba ngelap keringat pake punggung tangan. Tiba-tiba kepikiran sesuatu. Udah lama dia gak cek rekening bersama.
Rekening yang Bima bikinin khusus buat tabungan keluarga. Rekening yang isinya dari gaji Bima tiap bulan. Harusnya sekarang udah lumayan banyak. Kan udah lima bulan ini Bima rutin nabung lima juta sebulan.
Nayara bilas tangannya yang penuh busa sabun. Lap pake handuk kecil yang nggantung di jemuran. Terus ambil hape yang dia taro di kursi plastik.
Buka aplikasi perbankan.
Masukkan kata sandi.
Nayara nunggu loading dengan jantung santai. Gak ada pikiran aneh-aneh. Cuma mau liat aja. Siapa tau udah cukup buat uang muka rumah kecil-kecilan.
Layar terbuka, Nayara liat angka di saldo. Satu juta tiga ratus ribu rupiah.
Nayara kedip-kedip.
Tunggu.
Apa dia salah liat?
Dia tutup aplikasi. Buka lagi. Login lagi. Liat lagi. Satu juta tiga ratus ribu. Jantung Nayara mulai berdegup cepet. Napasnya agak sesak.
Harusnya kan udah, tunggu dia itung dulu. Lima bulan dikali lima juta. Dua puluh lima juta. Ditambah sisa bulan lalu yang tiga juta. Harusnya dua puluh delapan juta.
Kenapa tinggal satu juta?
Dua puluh tujuh juta kemana?
Nayara langsung scroll ke bawah. Cek riwayat transaksi. Matanya melotot. Ada transfer keluar. Banyak banget. Hampir tiap minggu. Nominalnya gede-gede. Tiga juta. Lima juta. Empat juta. Dua juta. Tujuh juta.
Semua transfer ke rekening yang Nayara gak kenal nomornya. Tangannya mulai gemetar.
Kenapa? Kenapa Bima transfer segitu banyak? Kemana? Buat apa?
Nayara coba inget-inget. Bima gak pernah bilang mau pakai uang tabungan. Gak pernah minta izin. Gak pernah ngomong apa-apa. Padahal ini rekening bersama. Harusnya kalau mau ambil uang gede harus bilang dulu kan?
Nayara duduk di kursi plastik. Kakinya lemes tiba-tiba. Aldi masih main sendiri. Gak sadar mamanya lagi shock berat.
Nayara natap layar hape lama. Ngeliat satu per satu transaksi transfer keluar. Ada yang sampe sepuluh juta sekaligus. Tanggal dua puluh kemarin.
Dua puluh tujuh juta hilang.
Uang tabungan mereka. Uang buat masa depan. Uang buat Aldi. Hilang. Nayara ngerasa dadanya sesak. Napasnya berat. Kepalanya pusing.
Ini, ini apa?
Kenapa Bima ambil uang sebanyak ini tanpa bilang?
Dipake buat apa?
Nayara coba tenang. Coba pikir positif. Mungkin buat bisnis. Iya pasti buat bisnis. Bima kan pengusaha. Mungkin butuh modal gede buat proyek baru. Nanti pasti balikin kok. Pasti.
Tapi kenapa gak bilang?
Kenapa diam-diam?
Kenapa seolah-olah nyembunyiin?
Nayara gigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasanya mau nangis tapi dia tahan. Gak mau nangis. Belum. Belum ada yang pasti. Jangan buru-buru mikir yang aneh-aneh.
Dia tunggu Bima pulang aja. Tanya baik-baik. Pasti ada penjelasan. Tapi seharian itu Nayara gelisah. Gak bisa masak dengan tenang. Gak bisa mandiin Aldi dengan fokus. Pikirannya kemana-mana.
Dua puluh tujuh juta.
Angka itu terus berputar di kepalanya kayak lagu yang diulang-ulang. Sore hari jam lima, Bima pulang. Lebih cepet dari biasanya minggu-minggu ini.
Nayara lagi nyuapin Aldi makan bubur di meja makan. Begitu denger pintu kebuka, jantungnya langsung dag dig dug.
"Assalamualaikum," Bima masuk sambil bawa tas kerjanya. Wajahnya terlihat capek. Mata agak sembab.
"Walaikumsalam," Nayara jawab pelan.
Bima taro tas di sofa. Terus langsung ke kamar mandi.
Nayara terus suapin Aldi sambil dengerin suara air keran nyala di kamar mandi. Tangannya gemetar dikit waktu suapin sendok ke mulut Aldi.
Sepuluh menit kemudian Bima keluar. Udah ganti baju rumah. Kaos oblong biru sama celana training hitam.
Dia duduk di sofa. Buka hape. Scroll-scroll. Nayara selesai nyuapin Aldi. Lap mulut anaknya yang penuh bubur. Terus rebahan Aldi di box buat main sendiri. Nayara jalan pelan ke arah Bima. Berdiri di samping sofa.
"Mas," Nayara panggil dengan suara lirih.
"Hm?" Bima jawab tanpa liat ke Nayara. Matanya masih fokus ke layar hape.
"Aku, aku mau nanya sesuatu," Nayara ngomong sambil remas-remas jari tangannya sendiri.
"Nanya apa?" Bima masih gak noleh.
Nayara menarik napas dalam. "Tadi pagi aku cek rekening tabungan kita."
Bima langsung berhenti scroll. Tubuhnya agak kaku. Tapi dia gak noleh. Masih natap hapenya.
"Terus?" Bima nanya dengan nada datar.
"Uangnya, uangnya tinggal sedikit Mas. Padahal harusnya udah banyak," Nayara ngomong pelan.
Bima akhirnya noleh. Natap Nayara dengan tatapan yang, gimana ya, kayak kesel tapi juga kayak waspada.
"Iya. Terus kenapa?" Bima nanya balik.
"Aku liat ada banyak transfer keluar. Nominal gede-gede. Itu, itu buat apa Mas?" Nayara nanya dengan hati-hati.
Bima menghela napas panjang. Matanya balik lagi ke hapenya. "Buat bisnis."
"Bisnis apa Mas?"
"Investasi proyek baru. Ada kenalan yang nawarin. Prospeknya bagus. Keuntungannya gede," Bima jawab singkat.
Nayara diem sebentar, mencoba mencerna jawaban itu.
"Tapi, tapi kenapa Mas gak bilang dulu? Itu kan uang tabungan kita. Harusnya kalau mau dipake bilang dulu dong," Nayara bilang dengan nada mulai agak tegas.
Bima noleh lagi. Kali ini tatapannya lebih tajam. "Emang harus laporan segala? Aku yang cari uang. Aku yang kerja keras. Aku yang tau cara kelola uang. Masa aku harus izin dulu tiap mau pake?"
"Bukan gitu Mas. Cuma, cuma ini kan tabungan bersama. Uang buat masa depan kita. Buat Aldi. Harusnya kita omongin dulu sebelum diambil," Nayara mencoba jelasin dengan sabar.
"UDAH AKU BILANG BUAT INVESTASI! BUAT NAMBAH UANG KITA! KOK MALAH DIPERMASALAHKAN?" Bima tiba-tiba naik suara.
Nayara tersentak. Aldi yang lagi main di box juga kaget. Matanya melotot ke arah Bima.
Nayara menarik napas. Coba tetep tenang. "Aku gak permasalahkan, Mas. Aku cuma mau tau. Investasi apa? Sama siapa? Ada buktinya gak?"
Bima berdiri dari sofa. Tingginya mendominasi Nayara yang lebih pendek. Matanya menatap Nayara dengan tatapan yang bikin Nayara deg-degan.
"Kamu gak percaya aku?" Bima nanya dengan nada rendah tapi menusuk.
"Bukan gitu Mas, aku cuma..."
"KAMU GAK PERCAYA AKU KAN? KAMU PIKIR AKU NGAPAIN SAMA UANG ITU? KAMU PIKIR AKU KORUPSI? KAMU PIKIR AKU MALING?" Bima bentak kenceng.
"BUKAN BEGITU MAS! AKU CUMA MAU TAU! ITU HAK AKU JUGA!" Nayara balas dengan suara bergetar tapi dia coba tetep tegas.
"HAK KAMU? HAK KAMU APA? UANG ITU AKU YANG CARI! AKU YANG KELUAR MASUK KANTOR TIAP HARI! AKU YANG KETEMU KLIEN SANA SINI! KAMU? KAMU CUMA DI RUMAH! MASAK! NGURUS ANAK! ITU AJA! JANGAN BANYAK TANYA SOAL UANG!" Bima teriak dengan wajah merah padam.
Nayara speechless. Mulutnya terbuka tapi gak ada suara keluar. Aldi mulai nangis kenceng di box. Suara tangisannya nyayat hati. Tapi Bima gak peduli. Dia masih natap Nayara dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu, kamu pikir aku seperti mantanmu ya?" Bima nanya dengan nada rendah tapi penuh emosi.
Nayara ngangkat kepala. Natap Bima dengan mata berkaca-kaca. "Apa?"
"KAMU PIKIR AKU KAYAK GILANG? KAMU PIKIR AKU SELINGKUH? KAMU PIKIR AKU BUANG-BUANG UANG BUAT WANITA LAIN? ITU MAKSUD KAMU KAN?" Bima bentak lagi.
"ENGGAK! AKU GAK PERNAH MIKIR GITU! AKU CUMA MAU TAU KENAPA UANG TABUNGAN KITA HILANG BANYAK TANPA PEMBERITAHUAN!" Nayara balas sambil nangis sekarang.
Air matanya ngalir deras. Tubuhnya gemetar. Bima natap Nayara dengan tatapan yang, entah kenapa, malah makin kesel liat Nayara nangis.
"Udah. Udah jangan nangis. Drama banget," Bima ngomong sambil ambil hapenya dari sofa.
"Aku gak drama Mas. Aku cuma..."
"CUKUP NAYARA! AKU GAK MAU DENGER LAGI! POKOKNYA UANG ITU BUAT INVESTASI! NANTI JUGA BALIK BERLIPAT! KALAU KAMU GAK PERCAYA SAMA AKU, TERSERAH! TAPI JANGAN GANGGU AKU LAGI!" Bima teriak terakhir kali sebelum dia jalan ke kamar.
BRAK!
Pintu kamar ditutup keras. Nayara berdiri terpaku di ruang tamu. Air matanya terus ngalir. Tubuhnya gemetar hebat. Napasnya sesak.
Aldi masih nangis kenceng di box. Nayara jalan limbung ke arah Aldi. Angkat anaknya dengan tangan gemetar. Peluk erat sambil nangis bareng.
"Maaf sayang. Maaf. Mama gak bermaksud bikin kamu takut. Maaf," Nayara bisik di telinga Aldi sambil usap-usap punggungnya.
Aldi peluk leher Nayara erat. Nangisnya perlahan mereda tapi masih sesegukan. Nayara duduk di sofa sambil gendong Aldi. Natap pintu kamar yang tertutup.
Dadanya sakit banget.
Ini, ini kayak Gilang dulu.
Bentak-bentak. Gak mau dijelasin. Marah-marah kalau ditanya. Bedanya cuma satu, Gilang selingkuh. Sedangkan Bima mengambil uang tabungan.
Nayara ngelap air matanya kasar. Coba berpikir jernih walau dadanya masih sesak. Mungkin emang buat investasi. Mungkin Bima cuma lagi stress. Mungkin dia tersinggung karena Nayara nanya kayak gak percaya.
Tapi, tapi dua puluh tujuh juta.
Angka yang gak kecil. Harusnya kan tetep bilang dulu. Tetep diskusi dulu. Ini kan uang buat masa depan. Buat Aldi.
Kenapa Bima gak mau ngasih penjelasan yang jelas?
Kenapa malah marah-marah?
Kenapa malah nyebut Gilang?
Nayara megang kepala yang pusing banget. Rasanya mau pecah. Aldi udah mulai tenang di pelukannya. Mata udah setengah merem. Capek nangis.
Nayara menatap wajah Aldi yang polos. Masih ada bekas air mata di pipi chubby-nya.
"Maafin mama ya Nak. Mama cuma mau ngejaga masa depan kamu. Mama gak mau kamu susah," Nayara bisik sambil cium kening Aldi pelan.
Malem itu Nayara tidur di sofa sambil gendong Aldi. Gak berani masuk kamar. Takut Bima masih marah.
Matanya melek sampe jam tiga pagi. Mikirin semuanya. Mikirin uang yang hilang. Mikirin Bima yang berubah. Mikirin masa depan mereka.
Pagi-nya Bima keluar kamar jam enam. Langsung siap-siap kerja tanpa ngomong apa-apa ke Nayara. Nayara udah bangun dari jam lima. Masak sarapan. Goreng telur. Masak nasi. Bikinin kopi buat Bima.
Tapi Bima gak sarapan. Dia cuma ambil tas kerjanya. Pake sepatu. Terus keluar tanpa mengucap salam. Nayara cuma bisa menatap pintu yang ditutup.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭