NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Gerbang Void

Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong bioluminesensi, sebuah resonansi yang terasa berat di tengah keheningan yang menyesakkan. Cahaya ungu yang memancar dari dinding-dinding batu itu tidak memberikan kehangatan; sebaliknya, uap dingin yang keluar dari celah lantai membuat napas Li Wei terasa sesak. Di depan mereka, pintu batu Lembah Putih telah tertutup rapat dengan dentuman yang mematikan sisa cahaya matahari. Kini, mereka sepenuhnya berada di dalam rahim Altar Void.

Utusan itu berhenti tepat di tengah sebuah lingkaran besar yang terukir di lantai batu. Di sekelilingnya, formasi kristal teratai hitam mencuat seperti barisan gigi raksasa yang siap mengunyah siapa pun yang berbohong. Pria itu berbalik, staf energinya tertancap ke lantai, menciptakan dengung frekuensi rendah yang membuat saraf Neuro-Sync Li Wei bergetar tidak nyaman.

"Lepaskan jubahmu, Strategis Chen Xi," suara Utusan itu tidak lagi terdengar melalui pengeras suara, melainkan langsung dari pita suaranya yang parau. "Dan lihatlah wajah yang kau tinggalkan di reruntuhan laboratorium sepuluh tahun lalu."

Chen Xi mematung. Jemarinya yang pucat mencengkeram lengan jaket Li Wei begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dengan gerakan gemetar, ia menatap pria yang kini perlahan membuka tudung kepalanya. Di bawah cahaya ungu yang distorsi, tampak wajah yang separuhnya adalah jaringan parut perak, hasil dari luka bakar energi tingkat tinggi.

"Guru... Lin?" suara Chen Xi hampir tidak terdengar, hanya sebuah bisikan yang pecah di udara dingin.

Pria itu, yang kini dikenali sebagai Lin, menatap Chen Xi dengan mata kiri yang sepenuhnya mekanis. "Kau masih mengenali instrukturmu, rupanya. Meskipun kau sekarang berbau seperti anjing-anjing Konfederasi Naga Laut yang menjual nyawa rakyat demi satu gram Qi-Battery."

"Aku kira kau mati saat ledakan di Sektor Nol!" Chen Xi melangkah maju, namun rasa nyeri di kakinya yang patah akibat jatuh dari pesawat tempur membuatnya limbung. Li Wei dengan sigap menahan pinggangnya, menjaga agar wanita itu tidak terjatuh ke lantai altar yang beku.

"Kematian adalah kemewahan yang tidak diberikan Void kepada kami," Lin mengalihkan pandangannya kepada Li Wei. Tatapannya tajam, seolah sedang membedah lapisan emosi di balik wajah algojo Li Wei. "Dan kau, Li Wei. Perwira kebanggaan Kekaisaran Langit. Kau berdiri di sini membawa bau kematian seorang kawan. Bau itu sangat spesifik."

Li Wei mempererat pegangannya pada hulu Bailong-Jian. "Aku tidak ke sini untuk reuni atau penghinaan. Aku ke sini karena sinyal sonar ini menjanjikan perlindungan bagi mereka yang tidak lagi memiliki tempat di permukaan."

"Perlindungan hanya diberikan kepada mereka yang jujur pada batinnya sendiri," Lin mengetukkan stafnya, dan seketika itu juga, kristal teratai di sekeliling mereka berpendar terang. "Altar ini terhubung dengan sistem Void-Sense. Ia tidak membaca kode akses. Ia membaca sinkronisasi antara detak jantungmu dan pengakuanmu. Jika kau berbohong, sarafmu akan terpanggang oleh frekuensi resonansi ini."

Lin melangkah mendekat, aroma teh herbal hutan yang pahit tercium dari pakaiannya. "Katakan padaku, apa yang terjadi pada pemilik chip saraf di saku jubahmu itu? Siapa dia bagimu?"

Li Wei terdiam. Bayangan lorong pipa induk yang hangus terbakar kembali menghantamnya. Ia bisa merasakan panas api saat itu, suara ledakan pipa yang memekakkan telinga, dan yang paling menyakitkan: tatapan kosong Sersan Han sebelum ia mengembuskan napas terakhir.

"Dia adalah sahabatku. Namanya Han," ujar Li Wei, suaranya rendah dan bergetar.

"Hanya sahabat? Sistem kami mendeteksi lonjakan kesedihan yang setara dengan kehilangan anggota keluarga. Katakan dengan jujur, algojo! Bagaimana dia mati?"

"Aku yang membunuhnya!" Li Wei berteriak, suaranya menggema di seluruh altar. Tangannya mengepal hingga gemetar. "Dia dicuci otak oleh Zhao Kun. Dia dikirim sebagai algojo untuk menghabisi kami di gorong-gorong kimia. Aku tidak punya pilihan. Aku menusukkan pedang ini ke jantungnya untuk menghentikan penderitaannya!"

Kristal-kristal itu meredup sejenak, beralih dari warna ungu tajam menjadi biru lembut. Suasana tegang itu sedikit mencair, namun tekanan di dada Li Wei justru semakin berat. Ia menundukkan kepala, membiarkan rambut hitamnya menutupi matanya yang mulai basah.

"Respon fisiologis yang valid," gumam Lin. "Kau tidak hanya membunuhnya, kau menanggung bebannya. Itu yang membedakanmu dari mesin pembunuh Kekaisaran."

Xiao Hu, yang sejak tadi bersembunyi di belakang Li Wei, menarik ujung jubah kakaknya itu. "Kak... Han sudah tenang sekarang, kan?"

Li Wei tidak menjawab. Ia hanya mengelus kepala Xiao Hu dengan tangan yang masih gemetar.

"Chip itu," Lin menunjuk ke arah saku Li Wei. "Berikan padaku. Han adalah salah satu dari kami sebelum dia tertangkap dalam operasi infiltrasi di perbatasan. Dia membawa fragmen data yang kami butuhkan untuk menstabilkan sistem pertahanan Kota Void."

"Tunggu," potong Chen Xi sambil mengusap air matanya. "Jika Han adalah orang kalian, berarti faksi kalian sudah lama menyusup ke dalam struktur militer Kekaisaran?"

"Kami ada di mana-mana, Chen Xi. Di mana pun ada orang yang muak dengan perang abadi ini, di situ Teratai Hitam tumbuh," Lin mengambil chip itu dari tangan Li Wei. Ia tidak segera memasukkannya ke mesin, melainkan menggenggamnya seolah itu adalah benda keramat. "Namun, kejujuranmu tadi hanya kunci pertama. Kunci kedua ada padamu, Strategis."

Lin menatap Chen Xi dengan intensitas yang mengerikan. "Kau harus mengakui rahasia yang kau simpan dari kawan barumu ini. Tentang mengapa kau benar-benar melarikan diri dari Naga Laut. Ini bukan sekadar karena mereka ingin membuangmu, bukan?"

Chen Xi tersentak, tatapannya beralih dari Lin ke Li Wei dengan penuh ketakutan.

Lembah sunyi itu seolah menahan napas saat keheningan jatuh di antara mereka. Li Wei menoleh ke arah Chen Xi, matanya mencari jawaban di balik gurat kecemasan yang mendalam pada wajah wanita itu. Di bawah temaram cahaya ungu, Chen Xi tampak seperti rapuh, seolah-olah satu kata salah akan menghancurkannya menjadi kepingan kaca.

"Apa yang dia maksud, Chen Xi?" tanya Li Wei dengan nada rendah, namun menuntut. "Rahasia apa yang tidak kau katakan?"

Chen Xi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti pasir. Ia menatap Lin, sang mentor yang kini menjelma menjadi hakim batinnya. "Aku... aku tidak bermaksud menyembunyikannya, Li Wei. Hanya saja, kebenaran itu terlalu berbahaya untuk dibawa dalam pelarian."

"Katakan sekarang, atau biarkan Altar ini memanggang sarafmu," Lin memperingatkan. Pendar kristal di sekeliling mereka mulai berubah menjadi warna merah darah, menandakan ketidaksinkronan data emosi yang sedang diproses oleh sistem Void-Sense.

"Proyek Qi-Battery... itu bukan hanya tentang energi," Chen Xi akhirnya bicara, suaranya bergetar hebat. "Naga Laut tidak hanya memanen emosi dari tentara yang tewas. Mereka mencari 'Inang Sempurna' untuk menyatukan AI dunia dengan kesadaran manusia. Dan aku... aku adalah arsitek algoritma pemetaan sarafnya. Aku yang merancang cara untuk memecah jiwa manusia menjadi unit-unit baterai."

Li Wei terenyak. Tangannya yang masih memegang bahu Chen Xi perlahan mengendur. "Jadi, selama ini kau adalah otak di balik sistem yang menghancurkan klan dan keluargaku?"

"Aku tidak tahu mereka akan menggunakannya pada warga sipil, Li Wei! Aku pikir itu untuk membantu rehabilitasi trauma saraf para veteran!" Chen Xi menangis, air matanya jatuh ke lantai batu yang dingin. "Saat aku menyadari mereka mulai memanen anak-anak Sektor 7, aku mencoba menghapus datanya. Itulah sebabnya mereka memburuku. Aku bukan sekadar 'aset kedaluwarsa'... aku adalah saksi hidup dari kegagalan nurani mereka."

Dengung frekuensi di ruangan itu tiba-tiba mereda. Warna merah darah pada kristal perlahan surut, kembali menjadi ungu tenang yang membuktikan bahwa kejujuran telah terpenuhi. Lin menarik napas panjang, lalu memasukkan chip saraf Han ke dalam sebuah slot di meja altar yang muncul dari balik lantai.

"Analisis data dimulai," gumam Lin. Layar hologram muncul di udara, menampilkan barisan kode saraf yang bergerak cepat. "Han berhasil mengambil log data dari memori Zhao Kun sebelum ia tertangkap. Li Wei, lihat ini."

Li Wei melangkah maju. Di antara ribuan baris kode, ia melihat nama-nama yang sangat ia kenal. Daftar klan Li. Kode subjek #09. "Itu keluargaku. Kenapa mereka ada di log data Zhao Kun?"

"Karena keluargamu bukan tewas karena kecelakaan perang," Lin menjelaskan sambil mematikan hologram. "Mereka adalah subjek tes pertama untuk algoritma yang dikembangkan Chen Xi. Zhao Kun menyerahkan klanmu kepada Naga Laut sebagai bagian dari kesepakatan rahasia antara kedua faksi. Perang ini hanyalah panggung sandiwara untuk menutupi kolaborasi mereka dalam menciptakan 'Dewa Perang' yang baru."

Kenyataan itu menghantam Li Wei lebih keras daripada ledakan gas saraf mana pun. Dunia yang ia bela, mentor yang ia hormati, ternyata adalah tangan-tangan yang mencekik keluarganya sendiri. Ia merasakan amarah yang dingin mulai membeku di dalam dadanya.

"Selamat, kalian telah melewati gerbang kejujuran," Lin mengetukkan stafnya tiga kali. "Pintu Void terbuka untuk kalian. Bukan sebagai tawanan, tapi sebagai bagian dari perlawanan yang sesungguhnya."

Pintu baja besar di belakang altar bergeser perlahan, mengeluarkan hembusan udara yang beraroma tanah basah dan mesin yang bekerja dengan halus. Di balik pintu itu, sebuah pemandangan mustahil terhampar. Sebuah kota bawah tanah yang luas dengan bangunan-bangunan yang disatukan oleh akar pohon bioluminesensi. Ribuan orang bergerak di sana, hidup tanpa bayang-bayang langit merah yang beracun.

"Ini... Kota Cahaya?" Xiao Hu terpana, matanya yang besar memantulkan keindahan cahaya biru dari bawah sana.

"Ini adalah tempat di mana hantu-hantu sepertimu belajar untuk menjadi manusia kembali," kata Lin sambil melangkah maju. Namun, ia berhenti sejenak dan berbisik tepat di telinga Li Wei saat pemuda itu melewatinya. "Namun waspadalah, Li Wei. Chip Han yang kau bawa tadi... sistem kami mendeteksi sinyal pelacak pasif yang tertanam jauh di dalam enkripsinya. Zhao Kun tahu kalian ada di sini. Dan dia tidak akan membiarkan 'wadah energinya' pergi begitu saja."

Li Wei mengepalkan tinjunya hingga Bailong-Jian di pinggangnya bergetar. Ia menatap punggung Chen Xi yang masih terisak, lalu menatap ke arah kota di bawah mereka. Perang belum berakhir. Ia baru saja masuk ke dalam lubang yang lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!