Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Viral Karena Terpaksa, Baper Karena Terbiasa
Tidak ada buku panduan
"Cara Menghadapi Perjodohan untuk Pemula" yang memperingatkan Nara Amelinda bahwa sandiwara kecilnya akan meledak menjadi tontonan publik. Nara pikir, aktingnya cukup sekelas figuran di sinetron religi dengan senyum seperlunya di depan orang tua, pegangan tangan kalau ada Tante yang melirik, lalu pulang dan kembali menjadi penguasa kasur yang berantakan.
Namun, semesta tampaknya sedang ingin melawak. Dan Nara adalah komedian utamanya.
Tragedi Kopi dan Notifikasi Kerasukan
Pagi itu dimulai dengan sangat tenang di sebuah kafe kecil di pojok Jakarta. Nara duduk dengan damai, siap menikmati iced americano tanpa gangguan ekspektasi manusia. Namun, ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar seperti sedang mengalami gempa tektonik.
Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.
Satu notifikasi lalu menjadi dua dan tiba-tiba berubah menjadi sepuluh. Hingga dalam hitungan menit, angka di ikon WhatsApp-nya sudah mencapai tiga digit.
"Ini grup keluarga besar lagi bagi-bagi sembako atau gimana?" gumam Nara.
Ia membuka pesan dari Tante Rina yang berada di barisan paling atas.
Tante Rina:
Nara sayang, fotonya manis sekali! ❤️ Kelihatan banget Arga itu protektif. Tante jadi pengen muda lagi.
Nara mengernyit, protektif? Arga itu lebih mirip satpam gedung yang kaku daripada pahlawan romantis. Ia menggulir ke atas dan nyaris menyemburkan kopinya saat melihat sebuah foto tersemat di sana.
Itu foto kemarin di acara kumpul keluarga. Sudut pengambilannya sangat candid bahkan terlalu candid hingga terasa seperti hasil jepretan paparazi profesional. Di foto itu, Arga sedang menunduk ke arah Nara dengan tatapan yang entah kenapa terlihat... lembut? Sementara Nara tertawa lebar dengan tangan yang masih bersandar di lengan Arga.
Masalahnya bukan difotonya tapi yang menjadi masalah adalah caption yang menyertainya,
“Calon Pengantin Kesayangan Keluarga.
Serasi karena janji, abadi karena hati.”
"Siapa yang nulis ini? Admin akun gosip atau Tante Rina lagi kerasukan pujangga?" Nara memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya.
"Ini sudah bukan sandiwara lagi, ini namanya pencemaran nama baik kebebasanku!"
Strategi Gagal di Tengah Keramaian
Dua jam kemudian, Nara sudah berdiri di sebuah mal wilayah netral yang ia pilih untuk mengonfrontasi rekan sandiwaranya. Arga datang dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sesiku, tampak sangat tenang, sangat rapi, dan sangat menyebalkan.
"Kita viral," cetus Nara tanpa salam pembuka. "Selamat, Pak Audit. Kamu sekarang resmi jadi idola para Tante di seluruh grup keluarga besar."
Arga mengangguk pelan, menyesap kopi yang baru ia beli.
"Saya tahu. Klien saya bahkan mengirim ucapan selamat tadi pagi. Saya terpaksa pura-pura tidak dengar agar tidak perlu menjelaskan variabel yang tidak masuk akal ini."
"Pura-pura tidak dengar itu artinya setuju, Arga!" Nara berjalan cepat, membuat Arga harus mengimbangi langkahnya yang pendek. "Aku daftar jadi manusia biasa, bukan selebritas dadakan yang status hubungannya jadi konsumsi publik."
"Kamu kelihatan sangat panik," ujar Arga tenang.
"Cobalah rasional sedikit."
"Rasional? Kita itu satu paket, kamu si Rasional, aku si Emosional. Masalahnya, rasionalitasmu itu nggak bisa dipakai buat ngapus foto yang udah menyebar ke grup ibu-ibu pengajian!"
Gangguan Penggemar Dadakan
Langkah mereka terhenti ketika seorang pegawai kafe mendekat dengan wajah berseri-seri.
"Mbak Nara, ya? Yang calonnya Mas Arga itu?" tanyanya antusias.
"Aku follow Mbak di medsos! Sumpah, di foto tadi pagi kalian kelihatan cocok banget. Kayak musuh yang ternyata jodoh."
Nara membeku, memasang senyum kaku yang lebih mirip seringai kesakitan.
"Ah... iya. Kita cocok... eh, cocok karena tekanan ekonomi dan tekanan batin, Mbak."
Pegawai itu tertawa renyah, menganggapnya lelucon cerdas.
"Lucu banget Mbaknya. Semoga lancar ya sampai hari H!"
Begitu pegawai itu menjauh, Nara langsung menoleh ke arah Arga dengan tatapan membunuh.
"Lihat? Ini bencana. Rakyat sipil pun sudah mulai ikut campur."
"Kamu lucu," kata Arga spontan.
Nara berhenti berjalan, ia menoleh perlahan, menyipitkan mata.
"Apa? Tadi kamu bilang apa?"
Arga terdiam sejenak, tampak mencari kata-kata di dalam kamus logika miliknya.
"Maksud saya... cara kamu menanggapi situasi ini. Sangat... unik."
"Hati-hati, Arga. Kamu hampir saja memuji. Nanti kalau kamu keseringan muji, sistem operasional robotmu bisa crash," sindir Nara, meski ada desiran aneh yang menggelitik perutnya.
Definisi "Dekat" Versi Arga
Konflik mencapai puncaknya ketika mereka berpapasan dengan rekan kerja Nara yang sedang hangout.
"Nara! Wah, beneran ini ya yang di foto?" seru temannya.
"Ini pacar kamu?"
Nara membuka mulut, siap meluncurkan jawaban
"Ini teman tapi dipaksa", namun Arga memotongnya lebih cepat.
"Saya Arga," katanya dengan nada sopan namun tegas.
"Kami sedang dekat."
D-E-K-A-T. Kata itu meluncur begitu mulus dari mulut Arga, seolah-olah ia sedang mempresentasikan data audit yang valid.
Nara menoleh tajam.
"Dekat?"
"Secara jarak, iya," tambah Arga datar saat temannya mulai menggoda mereka.
"Dan secara frekuensi komunikasi, kami meningkat drastis akhir-akhir ini."
Rekan kerja Nara tertawa puas.
"Kalian benar-benar serasi. Yang satu ekspresif, yang satu kalem banget. Cocok!"
Begitu mereka menjauh, Nara menarik ujung kemeja Arga ke pojok lorong.
"Kita sepakat nggak bakal memperluas narasi, Arga! Kenapa harus bilang 'dekat'?"
"Saya hanya menyederhanakan penjelasan. Menjelaskan tentang janji papa dan hutang masa lalu kepada orang asing adalah tindakan yang sangat tidak efisien," jawab Arga.
"Lagi pula, kedengarannya lebih manusiawi daripada bilang 'kami sedang melakukan transaksi pernikahan'."
"Aku nggak butuh terdengar manusiawi! Aku butuh aman!"
Arga menatap Nara lama, tatapannya tidak lagi dingin, tapi dalam.
"Kamu aman bersamaku, Nara."
Kalimat itu sederhana begitu singkat, namun bagi Nara, efeknya lebih dahsyat daripada semua notifikasi WhatsApp tadi pagi. Ia tidak tahu harus membalas dengan sindiran apa, karena mendadak semua kosakata di kepalanya menguap begitu saja.
Bahaya di Balik Keheningan
Sore harinya, mereka berakhir di sebuah bangku taman yang sepi. Nara sibuk mengoceh tentang betapa dunianya sekarang terasa sempit, mengeluhkan ekspektasi ibunya, dan betapa ia membenci foto candid itu.
Arga hanya diam. Ia mendengarkan tanpa menyela, sesekali memberikan senyum tipis yang hampir tidak terlihat jika Nara tidak memperhatikannya dengan teliti.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Nara curiga.
"Karena kamu hidup," jawab Arga.
Nara mendengus.
"Itu pujian paling aneh yang pernah aku dengar. Kamu kira selama ini aku hantu?"
"Bukan itu maksudnya," sela Arga pelan. "Maksud saya, kamu penuh dengan energi. Sesuatu yang tidak saya miliki di meja kerja saya."
Nara terdiam, ia menyadari ada sesuatu yang berubah secara fundamental di antara mereka. Arga bukan lagi sekadar robot kaku yang dipaksakan masuk ke hidupnya. Dan Arga, pria yang selalu memuja keteraturan, kini tampak menikmati kekacauan yang dibawa Nara.
"Ibu menelepon tadi," ujar Nara pelan, memecah keheningan.
"Dia bilang dia bahagia banget. Keluarga kamu juga."
"Dan kamu?" tanya Arga.
"Apa kamu bahagia?"
Nara membuka mulut, siap memberikan jawaban sarkas tentang betapa menderitanya ia, tapi kalimat itu tertahan di tenggorokan.
"Aku... baik-baik saja."
Arga tahu itu bohong tapi ia tidak mendebatnya.
"Kalau suatu hari kamu merasa sandiwara ini terlalu berat dan ingin berhenti, bilang saja."
Nara tertawa kecil, menatap ujung sepatunya. "Kalau aku berhenti, satu dunia bakal kecewa, Ga."
"Aku tidak," sahut Arga cepat.
Sunyi kembali datang. Namun kali ini, sunyi itu tidak canggung. Sunyi itu terasa hangat, seperti selimut di musim hujan. Dan bagi Nara, itulah bagian yang paling berbahaya dari semuanya.
Sandiwara ini sudah ditonton terlalu banyak orang. Tapi masalah terbesarnya bukan lagi soal penonton, melainkan para pemerannya yang mulai lupa bahwa mereka sedang berakting.