"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Daddy Baru
"Tuan, bukankah itu anak kembar yang kemarin kita tolong? Kok mereka masih berkeliaran sendirian sih? Apa nggak takut kalau sampai diculik lagi?"
Doni memelankan laju mobilnya saat matanya tertuju pada dua bocah yang masih menggunakan seragam sekolah berjalan di trotoar. Meskipun kondisi jalanan cukup ramai tapi daerah itu rawan kejahatan.
"Sepertinya orang tuanya emang bandel. Demi uang dia rela kehilangan anaknya. Anak segitu masih manja-manjanya sama orang tua, mereka malah dibiarkan liar tanpa pengawasan. Kalau benar-benar sudah kejadian mungkin dia baru sadar apa yang dilakukannya itu sudah salah besar."
"Tapi kasihan juga kalau dibiarkan Tuan. Mereka belum mengerti apa itu bahaya. Apa setidaknya kita membantu mengantarnya pulang. Barang kali kita bisa ketemu sama orang tuanya?"
"Ya sudah, terserah!"
Mereka terpaksa harus menunda perjalanannya menuju hotel Permai. Tak tega juga membiarkan anak kecil pulang sekolah sendiri tanpa adanya pengawasan.
Doni menepikan mobilnya tidak jauh dari trotoar di mana dia bocah kembar itu berjalan. Diamatinya dua bocah itu tengah menikmati ice cream.
"Hei Cil! Masih ingat sama aku nggak?"
Doni melambaikan tangannya ke arah dua bocah tersebut. Dua bocah itu refleks menoleh dengan memegangi ice cream yang meleleh ditangannya.
"Om yang kemarin nolongin kami kan?"
"Iya Cil, kupikir kalian sudah lupa."
Reynan sengaja menunggu di dalam mobil, enggan keluar. Diam-diam dia tak melepas pandangnya pada dua bocah kembar itu.
"Baru juga kemarin ketemu masa udah lupa! Kami ini masih belum pikun, Om," desis Kenzo.
Hehehehe...., Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal. Suka salah ngomong sama bocil.
"Ayo pulang bareng kami, Cil! Kami antar pulang!"
"Kami? Maksudnya Om nggak sendirian?"
Dua bocah itu menoleh ke kaca mobil hitam yang tak tembus pandang. Mereka tidak tahu masih ada satu orang lagi di dalam mobil.
"Em..., kami sama Om yang kemarin nolongin kalian itu. Beliau ada di dalam mobil. Ayo masuk sini Cil, ku antarkan sampai rumah kalian."
Kenzo memicingkan matanya. "Tapi Om beneran mau anterin kami pulang kan? Bukan berniat untuk menculik kamu kan?"
Reynan mendengus sembari membuka kaca jendelanya. "Kalian pikir kami ini tampang penculik anak? Kalian nggak tahu siapa aku? Aku ini seorang Presdir, pemilik perusahaan besar di kota ini."
"Memangnya ada yang nanya? Orang nggak diajak ngomong kok nyahut kayak listrik konslet. Mau Presdir, mau pemadam kebakaran, mau tukang bersih-bersih toilet, emang apa hubungannya sama kami? Kami hanya anak kecil yang nggak suka ditindas oleh orang dewasa!"
Doni maupun Reynan bertatapan satu sama lain. Mereka terlihat seperti orang bego terkalahkan oleh mahluk kecil penghuni Konoha.
"Tuan, apakah Tuan akan tetap melawan? Kita sudah kalah, Tuan?"
"Kau saja yang kalah, tapi tidak denganku!"
Reynan membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya berdiri tegak di depan dua bocah itu.
"Kalian ini masih kecil tapi mulutnya pedes banget! Siapa yang mengajari kalian seperti ini?"
"Mungkin gen dari Daddy menurun pada kami," jawab Kenzo.
Reynan mencebikkan bibirnya. "Hm..., masuk akal. Sayangnya Daddy kalian sudah mati! Kalau masih ada di sini tentu akan kubuat perhitungan dengannya. Bisa-bisanya anak kecil dididik untuk berani melawan orang yang lebih tua! Bocah sekecil kalian seharusnya masih dalam pemantauan orang tua, tapi orang tua kalian begitu tega mentelantarkan kalian seperti ini. Sesusah apa kehidupan orang tua kalian hingga memaksa kalian untuk hidup mandiri seperti ini? Ingat loh! Kalian itu masih anak-anak. Kalau sampai dibawa penculik memangnya kalian nggak takut?"
Kenzo berkacak pinggang dengan mendongak nyengir menatap Reynan. "Om! Kalau nggak mau bantu ya jangan menghina dong! Mommy memang nggak kaya, tapi kami bangga punya mommy yang baik hati dan nggak sombong kayak Om! Kalau soal diculik, siapa sih yang nggak takut diculik? Tapi kami juga nggak mau menyusahkan mommy suruh jemput di saat beliau lagi sibuk bekerja."
Doni geleng-geleng kepala. Dipikir pikir anak kecil itu ada benarnya. Dibandingkan dengan atasannya, bocah itu sikapnya jauh lebih dewasa.
"Tuan, sebaiknya anda mengalah saja. Semakin Tuan menyudutkan mereka, maka mereka tak akan berhenti untuk menyerang Tuan. Ini bocah bukan sembarang bocah. Lihatlah tatapannya, dia begitu tegas, beda sama yang satunya, kayaknya dia tim pasrah.
"Yaudah, mendingan kamu urus aja mereka. Menghadapi dua bocah saja membuat kepalaku pusing!"
Reynan membalikkan badan kembali masuk ke dalam mobil. Sedangkan Doni membujuk mereka untuk masuk ke mobil dan berjanji akan mengantarnya pulang.
"Kalian berdua, ayo masuk ke dalam. Om akan kalian antar pulang."
Kedua bocah itu saling bertatapan. "Gimana bang? Abang setuju om ini akan mengantar kita pulang?" tanya Kenzie.
"Yaudah nggak apa-apa, kita ikut saja. Lumayan..., naik mobil mewah gratis."
Dua bocah itu masuk ke dalam mobil duduk di sebelah Reynan. Sesekali Doni melirik lewat spion dengan melaju menuju ke arah tempat tinggal si kembar.
Sebenarnya tidak begitu jauh jarak antara sekolah dengan kontrakan bocah kembar itu, namun mereka tak tega membiarkannya berjalan berdua saja tanpa pengawasan. Demi rasa prikemanusiaan, Reynan maupun Doni rela mengulur waktunya demi mengantarnya pulang.
"Cil, serius ayah kamu sudah mati?"
"Memangnya Om nggak percaya?" jawab sekalian tanya Kenzo.
"Ya bukannya nggak percaya, tapi kalau matinya dimakan ikan hiu rasanya mustahil, terkecuali ayahmu bekerja di laut lepas," jawab Doni.
"Om aja nggak percaya apalagi kami, jelas kami nggak pernah percaya kalau Daddy sudah mati dimakan ikan hiu. Mungkin saja Daddy tidak pernah menginginkan kami hingga membuat mommy marah dan tak ingin mengenalnya lagi. Sebenarnya kami ada niatan untuk cari Daddy baru."
Reynan menaikkan satu alisnya. "Kalian mau cari Daddy baru? Memangnya kalian mau cari ke mana? Kalian sebaiknya nggak usah mikir terlalu jauh, tugas kalian hanyalah belajar supaya jadi pintar, biar kedepannya sukses seperti Om."
Sesampainya di depan kontrakan si kembar, Doni mengajak kedua bocah itu turun. Reynan mengambil dua uang kertas seratus ribuan dari dompetnya dan memberikan kepada mereka.
"Ini buat jajan kalian. Tapi ingat, selama ibu kalian belum pulang kerja, kalian jangan main terlalu jauh, main di dalam rumah aja."
"Baik Om, terimakasih untuk uang jajannya," jawab mereka berdua dengan serempak.
"Satu lagi, tolong sampaikan salam Om pada ibu kalian. Om ingin bertemu langsung dengan ibu kalian, kalau bisa luangkan waktu untuk bertemu."
Kenzo dan Kenzie saling bertatapan. "Tapi Om..., mommy kan nggak pernah ada di rumah ketika siang hari, kecuali hari Sabtu sama Minggu mommy ada di rumah menemani kami."
"Hm..., Om paham. Kalau begitu besok sore Om bakalan main ke sini. Bilangin sama ibu kalian untuk tidak keluar rumah."