Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minggu yang Terlalu Hening dan Dering Telepon
Matahari hari Minggu selalu memiliki tekstur yang berbeda. Cahayanya terasa lebih lambat, merayap malas di lantai parket apartemen studio Raka, menyoroti partikel debu yang melayang-layang di udara diam. Tidak ada dering alarm. Tidak ada desakan adrenalin untuk mengejar kereta pagi. Hanya ada dengung rendah dari kulkas satu pintu di sudut ruangan dan suara samar teriakan anak-anak tetangga yang bermain di lorong gedung.
Raka membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang putih polos. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas. Untuk ukuran seseorang yang biasa bangun pukul lima pagi, ini adalah kemewahan. Namun bagi Raka, bangun terlambat di hari libur sering kali terasa seperti jebakan. Kesiangan berarti membiarkan pikiran sadarnya memiliki waktu luang untuk mengembara sebelum tubuhnya sempat melakukan kesibukan.
Ia bangkit, merapikan selimut dengan gerakan otomatis yang presisi—sudut ketemu sudut. Kebiasaan rapi ini bukan bawaan lahir. Dulu, kasurnya selalu berantakan. Seseorang pernah memarahinya sambil tertawa, melempar bantal ke wajahnya karena Raka terlalu malas merapikan tempat tidur. Sekarang, kerapian ini adalah bentuk kendali. Jika ia bisa mengendalikan lipatan selimut, mungkin ia bisa mengendalikan isi kepalanya.
Raka melangkah ke dapur kecilnya. Ia menyeduh kopi hitam instan. Saat air panas dituang, uap mengepul membawa aroma pahit yang familiar. Ia membawa cangkir itu ke balkon kecil, satu-satunya akses udara segar di unit apartemennya.
Di bawah sana, kota Jakarta tampak sedikit lebih lengang. Jalanan aspal yang biasanya padat merayap kini didominasi oleh pesepeda dan pelari pagi yang mulai beranjak pulang. Raka menyesap kopinya. Rasanya hambar. Ia lupa membeli gula kemarin.
"Harus belanja bulanan," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak karena belum digunakan bicara sejak kemarin malam.
Ia kembali masuk dan memutuskan untuk membersihkan apartemen. Ini adalah ritual hari Minggunya. Menyapu, mengepel, mengelap debu di rak buku, dan mencuci baju. Suara *vacuum cleaner* yang bising menjadi penawar sunyi yang ampuh. Raka menikmati monotonitas kegiatan ini. Ia fokus pada noda kopi kering di meja, pada debu di sela-sela jendela, pada tumpukan baju kotor yang harus dipisahkan berdasarkan warna.
Saat sedang mengelap meja nakas di samping tempat tidur, ponselnya yang tergeletak di atas kasur bergetar panjang.
Nama 'Ibu' tertera di layar.
Raka menghela napas, meletakkan kain lap, dan menekan tombol hijau. Ia mengatur nada bicaranya agar terdengar lebih bersemangat dari yang ia rasakan.
"Halo, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Ka. Kamu baru bangun ya? Suaranya masih berat begitu," suara ibunya terdengar jernih, diiringi suara latar televisi yang menyiarkan berita infotainment pagi.
"Enggak, Bu. Sudah dari tadi. Ini lagi bersih-bersih apartemen," jawab Raka sambil duduk di tepi kasur.
"Rajin amat anak bujang Ibu. Sudah sarapan belum?"
"Sudah, kopi aja tadi."
"Kopi itu bukan sarapan, Raka. Nanti lambungmu kena lagi. Makan nasi uduk atau bubur kek di bawah. Jangan kebiasaan kayak waktu kuliah."
Raka tersenyum tipis. Omelan ibunya adalah salah satu dari sedikit hal yang membuatnya merasa menapak di bumi. Mereka berbicara tentang hal-hal remeh selama beberapa menit—kabar bapak yang baru sembuh dari flu, pohon mangga di halaman rumah yang mulai berbuah, dan sepupunya yang akan menikah bulan depan.
Lalu, pertanyaan itu datang. Pertanyaan yang selalu Raka hindari, namun selalu ibunya tanyakan dengan nada polos tanpa tendensi menyakiti.
"Oiya, Ka. *Dia* apa kabar?"
Jantung Raka melewatkan satu ketukan. Ibunya tidak menyebut nama, tapi Raka tahu persis siapa yang dimaksud. Ibunya sangat menyukai perempuan itu. Dulu, perempuan itu sering mengirimkan martabak manis untuk orang tua Raka, atau sekadar menelepon ibunya untuk menanyakan resep sayur lodeh.
"Baik, Bu," jawab Raka singkat. Kebohongan itu meluncur begitu saja, licin dan terlatih.
"Kok lama nggak pernah diajak pulang ke rumah? Ibu kangen lho ngobrol sama dia. Terakhir dia kirim kue lebaran tahun lalu, kan? Ibu mau telepon sungkan, takut ganggu kerjanya."
Raka memijat pangkal hidungnya. Rasa bersalah merayap naik. Ia tidak pernah punya keberanian untuk memberi tahu ibunya bahwa hubungan itu sudah berakhir hampir dua tahun lalu. Di mata ibunya, Raka dan perempuan itu hanya sedang "sibuk meniti karir". Raka membiarkan kesalahpahaman itu tetap hidup karena ia tidak sanggup mendengar nada kecewa di suara ibunya. Atau mungkin, jauh di lubuk hatinya, Raka sendiri masih menyukai ilusi bahwa mereka masih bersama, setidaknya di dalam narasi ibunya.
"Iya, Bu. Dia lagi sibuk banget. Proyeknya banyak. Nanti Raka sampaikan salam Ibu."
"Iya, sampaikan ya. Bilang, jangan kerja terus. Kesehatan nomor satu. Kalian berdua ini sama saja, gila kerja."
"Iya, Bu."
"Ya sudah, kamu cari makan sana. Jangan minum kopi terus. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambungan terputus.
Keheningan kembali menyergap ruangan itu, kali ini terasa lebih berat, seolah udara di dalam apartemen tiba-tiba memadat. Raka meletakkan ponselnya di kasur seolah benda itu baru saja membakar tangannya.
Kebohongan itu meninggalkan rasa pahit di lidah, lebih pahit dari kopi tanpa gula yang ia minum tadi. Raka menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Ia melihat seorang pria dewasa yang mapan, rapi, dan mandiri, namun terjebak dalam sandiwara yang ia ciptakan sendiri.
Ia tidak bisa terus berada di apartemen ini. Dinding-dinding putih ini terasa mulai menghimpitnya.
Lima belas menit kemudian, Raka sudah rapi dengan kaos polos berwarna abu-abu dan celana jins. Ia menyambar kunci mobil dan keluar. Tujuannya tidak jelas, yang penting keluar.
Ia berakhir di sebuah toko buku besar di salah satu mal di Jakarta Selatan. Toko buku adalah tempat aman baginya. Bau kertas baru dan suasana tenang yang komunal membuatnya merasa tidak sendirian, tapi juga tidak perlu berinteraksi dengan siapa pun.
Raka berjalan menyusuri lorong rak buku kategori fiksi. Ia tidak benar-benar mencari sesuatu, hanya membiarkan matanya memindai judul-judul di punggung buku.
Langkahnya terhenti di deretan *Best Seller*.
Sebuah novel dengan sampul biru pastel dipajang mencolok. Judulnya ditulis dengan huruf sambung yang elegan. Itu adalah buku terbaru dari penulis favorit *perempuan itu*.
Ingatan Raka langsung terlempar ke masa lalu. Tiga tahun lalu, di toko buku yang berbeda, perempuan itu pernah merengek minta dibelikan buku dari penulis yang sama.
*"Ka, beliin ini dong. Please? Nanti aku masakin nasi goreng seminggu deh,"* bujuknya waktu itu sambil memeluk lengan Raka.
Raka ingat ia membelikannya, bukan karena janji nasi goreng, tapi karena ia suka melihat mata perempuan itu berbinar saat memegang buku baru. Ia suka caraya menciumi aroma kertas buku baru segera setelah plastik pembungkusnya dibuka.
Tangan Raka terulur, mengambil buku bersampul biru itu. Ia membalik halaman belakangnya, membaca sinopsis singkat tentang sepasang kekasih yang terpisah oleh jarak dan waktu. Klise. Tapi perempuan itu pasti akan menyukainya. Dia akan menangis membacanya, lalu menelepon Raka tengah malam hanya untuk menceritakan betapa sedihnya *ending* cerita tersebut.
Tanpa sadar, Raka sudah membawa buku itu berjalan menuju kasir.
Antrean kasir cukup panjang. Ada seorang ibu dengan dua anaknya di depan Raka. Anak kecil itu memegang buku mewarnai dinosaurus. Raka berdiri diam, memegang buku novel itu erat-erat.
Saat gilirannya hampir tiba, realitas menghantamnya seperti guyuran air es.
Untuk siapa ia membeli buku ini?
Dia tidak bisa memberikannya. Dia tidak bisa mengirimnya lewat pos tanpa terlihat menyedihkan. Dia bahkan tidak tahu alamat tempat tinggal perempuan itu yang sekarang. Apakah dia masih di kota ini? Atau sudah pindah?
Raka mundur selangkah. Ia menatap buku di tangannya. Benda itu bukan sekadar tumpukan kertas, itu adalah artefak dari masa depan yang tidak pernah terjadi. Membelinya berarti mengakui bahwa ia masih berharap. Membelinya berarti memberi makan hantu yang selama ini ia coba usir dengan lembur dan kopi hitam.
"Mas? Jadi bayar?" tanya kasir perempuan dengan ramah, menyadarkan Raka.
Raka tersentak. Ia menatap kasir itu, lalu menatap buku di tangannya sekali lagi.
"Maaf, Mbak. Nggak jadi," gumam Raka pelan.
Ia berbalik, berjalan cepat kembali ke rak *Best Seller*, dan meletakkan buku itu kembali ke tempatnya. Ia meletakkannya sedikit miring, tidak serapi buku-buku lain, seolah menandakan keragu-raguan yang baru saja terjadi.
Raka berjalan keluar dari toko buku dengan tangan kosong. Ia merasa bodoh. Sangat bodoh. Namun, di saat yang sama, ada sedikit rasa lega. Ia berhasil menahan impuls itu. Ia berhasil tidak membeli barang untuk seseorang yang sudah tidak ada di hidupnya.
Perutnya berbunyi nyaring, mengingatkan bahwa ia belum makan apa pun selain kopi pahit. Raka memutuskan untuk pergi ke *food court*. Ia akan makan, lalu pulang, dan menyelesaikan sisa hari Minggunya dengan menonton film aksi yang berisik—jenis film yang dibenci mantan kekasihnya. Itu adalah rencana yang solid.
Namun, saat ia berjalan melewati eskalator, matanya menangkap siluet seseorang di lantai bawah. Rambut sebahu yang diikat setengah. Gaya berjalan yang sedikit terburu-buru.
Napas Raka tercekat.
Itu *dia*.
Atau setidaknya, itu terlihat sangat mirip dengannya. Sosok itu sedang berjalan masuk ke sebuah toko pakaian, tertawa sambil menoleh ke arah seseorang di sebelahnya. Seorang pria.
Kaki Raka terpaku di lantai mal yang dingin. Garis waktu yang ia kira sudah berjalan lurus, tiba-tiba terasa melengkung tajam, siap menabraknya kembali.
***