"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Getar di Perpustakaan Lama
Aksara yang Beradu
Bukan sekadar tinta di atas kertas,
Bukan pula tanya yang dilempar bebas.
Antara ushuluddin dan ilmu kedokteran,
Ada bahasa qalbu yang mulai tertenun pelan.
Mas Azam bicara tentang dalil dan sanad,
Khadijah menjawab dengan tenang dan khidmat.
Dan aku di sini, menjadi saksi bisu,
Melihat dua kutub mulai bertemu di satu.
Setelah pertemuan di Masjid Al-Azhar itu, suasana di antara Mas Azam dan Mbak Khadijah berlanjut ke tahap yang lebih serius, namun tetap dalam koridor ilmu. Sesuai kesepakatan, mereka bertemu di Perpustakaan Besar Al-Azhar, sebuah ruangan megah dengan ribuan kitab tua yang aromanya selalu membuat tenang.
Bungah setia mendampingi sebagai "benteng" agar tidak terjadi khalwat (berduaan). Ia duduk agak menjauh, berpura-pura membaca kitab Fathul Mu'in, namun telinganya dipasang tajam-tajam ke arah meja sebelah.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Mbak Khadijah," buka Mas Azam. Suaranya sudah lebih tenang dibanding kemarin, meski Bungah tahu kakaknya itu semalam tidak tidur karena menyiapkan referensi.
Khadijah meletakkan kitabnya. "Sama-sama, Mas Azam. Saya juga tertarik dengan poin yang Mas sampaikan di pesan singkat kemarin tentang metodologi syarah hadis untuk perspektif medis. Itu hal baru bagi saya."
Obrolan itu mengalir. Mas Azam bicara dengan sangat cerdas, matanya berbinar setiap kali menjelaskan tentang kedalaman makna sebuah hadis. Khadijah pun tidak kalah hebat; ia menanggapi dari sudut pandang seorang dokter, bagaimana ilmu agama dan sains sebenarnya adalah dua sisi mata uang yang sama.
"Ternyata benar apa kata orang," ucap Khadijah tiba-tiba di sela diskusi. "Doktor Azam memang memiliki cara pandang yang jernih. Jarang saya menemui orang yang sudah S3 tapi tetap mau mendengar pendapat orang lain yang masih belajar."
Mas Azam tersenyum—kali ini senyum yang lebih lepas. "Ilmu itu luasnya seperti samudra, Mbak. Saya di sini hanya pemungut kerikil di tepinya. Justru saya yang banyak belajar dari ketelitian Mbak dalam mencatat."
Bungah yang mengintip dari balik kitabnya hampir saja keceplosan bersorak. Wah, Mas Azam sudah pintar memuji! batinnya gemas.
Namun, di tengah kehangatan diskusi itu, raut wajah Khadijah sedikit berubah menjadi serius. "Mas Azam... sebenarnya, saya ingin bertanya sesuatu di luar kitab ini."
Mas Azam tertegun. "Iya, silakan."
"Apa tujuan Mas Azam mendekati saya dengan alasan diskusi ini? Maaf jika saya terlalu lancang, tapi sebagai perempuan, saya harus menjaga diri. Saya tahu Mas Azam orang baik, tapi saya ingin tahu arah pembicaraan ini ke mana."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Detak jantung Mas Azam terasa sampai ke kursi tempat Bungah duduk. Bungah pun ikut menahan napas. Ini dia momen kejujuran yang dinanti.
Mas Azam menarik napas panjang. Ia menatap Khadijah dengan penuh wibawa. "Mbak Khadijah, saya sudah sebelas tahun di Mesir. Saya sudah melihat banyak hal, tapi saya belum pernah menemukan alasan untuk menetap... sampai saya menabrak Mbak di pasar buku kemarin. Saya tidak ingin bermain-main. Diskusi ini adalah cara saya mengenal cara berpikir Mbak. Jika Mbak tidak keberatan, setelah semester ini selesai, saya ingin meminta izin kepada Ayah Mbak untuk berkunjung ke rumah."
Khadijah terdiam. Wajahnya yang putih bersih nampak merona merah, ia segera menundukkan pandangannya ke arah kitab. "Mas... Mas Azam sudah bicara sejauh itu?"
"Saya seorang Doktor, Mbak. Saya tidak diajarkan untuk ragu dalam mengambil keputusan yang benar," jawab Mas Azam mantap.
Bungah yang mendengar itu merasa sangat bangga pada kakaknya. Ternyata, didikan Gus Zidan tentang "menjadi pria yang berani mengambil tanggung jawab" sudah meresap sempurna ke dalam diri Mas Azam.