Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Desas-Desus di Koridor Kampus
Berita di dunia korporat terkadang merambat lebih cepat daripada cahaya, terutama jika melibatkan pemecatan dramatis di Abraham Corp. Hanya dalam waktu satu malam, kabar bahwa sekretaris pribadi Jordan Abraham didepak secara tidak hormat telah sampai ke telinga para mahasiswa melalui forum diskusi bisnis dan media sosial.
Pagi itu, di kantin fakultas, Thea duduk dengan mata melotot menatap layar ponselnya. Di sampingnya, Dion dan Kriss tampak serius mendengarkan "analisis" Thea yang menggebu-gebu.
"Gue bilang juga apa! Ada sesuatu yang besar di Abraham Corp," seru Thea sambil menggebrak meja pelan. "Kalian tahu kenapa Clarissa si sekretaris elit itu dipecat? Gosipnya karena dia berani mengganggu 'orang penting' kesayangan Pak Jordan saat rapat direksi!"
Dion menyeruput kopinya dengan dahi berkerut. "Orang penting? Maksud lo, Pak Jordan punya simpanan di kantor?"
"Bukan simpanan, Dion! Tapi seseorang yang dia lindungi banget. Dan kalian tahu siapa yang kemarin ada di kantor itu buat 'tugas kelompok khusus'?" Thea menatap Kriss dengan penuh arti.
Kriss meletakkan bukunya. "Airin."
"Tepat!" Thea menjentikkan jarinya. "Dan tadi pagi gue lihat Clarissa bikin status galau di akun pribadinya tentang 'mahasiswi polos bermuka dua'. Siapa lagi mahasiswi yang punya akses ke lantai 50 kalau bukan Airin kita yang pendiam itu?"
Tepat saat itu, Airin berjalan masuk ke kantin. Ia tampak seperti biasa manis, tenang, dengan balutan kardigan rajut warna krem. Namun, langkahnya terhenti saat ia merasakan atmosfer di meja sahabatnya terasa berbeda.
"Hai, kalian sedang bahas apa?" tanya Airin lembut sambil duduk di kursinya.
Dion, yang biasanya blak-blakan, langsung mencondongkan tubuh. "Rin, jujur sama kita. Kemarin di kantor Pak Jordan... ada kejadian apa sampai sekretarisnya dipecat? Apa ini ada hubungannya sama lo?"
Airin tersentak. Ia tidak menyangka berita itu menyebar begitu cepat hingga ke kampus. Ia meremas jemarinya di bawah meja, mencoba mempertahankan ekspresi polosnya. "Itu... itu hanya masalah internal kantor, Dion. Mbak Clarissa melakukan kesalahan data, dan Pak Jordan memang sangat tegas soal itu."
"Tegas atau protektif?" Kriss menyela, matanya menatap Airin tajam seolah ingin menembus rahasia yang disimpan gadis itu. "Rin, kita ini sahabat lo. Tapi sejak lo pindah apartemen dan sering hilang bareng Pak Jordan, lo seolah-olah hidup di dunia lain."
Airin mengerucutkan bibirnya, merasa terpojok namun tidak bisa menceritakan kebenaran sepenuhnya. "Aku hanya fokus pada tugas kelompok ini agar nilaiku bagus, Kriss. Tidak ada yang aneh."
"Nggak aneh gimana?" Thea menyambar. "Pak Jordan itu singa, Rin. Dia nggak pernah bela orang sampai segitunya kalau orang itu nggak spesial buat dia. Lo... lo punya hubungan apa sih sama Pak Jordan?"
Belum sempat Airin menjawab, sebuah bayangan tinggi besar menaungi meja mereka. Bau parfum kayu cendana yang mahal seketika memenuhi indra penciuman mereka.
"Sepertinya kalian punya banyak waktu luang untuk bergosip daripada mengerjakan tugas analisis pasar yang saya berikan," suara berat Jordan terdengar dari belakang Airin.
Seketika, Dion, Kriss, dan Thea mematung. Wajah mereka pucat pasi melihat sang dosen sangar sudah berdiri di sana dengan tatapan dinginnya yang khas.
Jordan meletakkan tangannya di sandaran kursi Airin sebuah gerakan yang sangat tipis namun menunjukkan kepemilikan. "Airin, ikut saya ke ruangan sekarang. Ada dokumen proyek yang harus kamu tanda tangani."
Airin menatap teman-temannya dengan tatapan minta maaf, lalu bangkit berdiri. Jordan menuntunnya pergi, dan saat melewati Kriss, Jordan sempat melirik sekilas dengan tatapan yang seolah memperingatkan agar tidak mencampuri urusannya.
Begitu mereka sampai di lorong sepi menuju ruangan dosen, Jordan langsung menarik Airin masuk dan mengunci pintunya. Ia memerangkap Airin di antara tubuhnya dan pintu kayu.
"Kenapa wajahmu pucat sekali, sayang?" bisik Jordan sambil mengusap pinggang Airin dengan lembut, berusaha menenangkan kekasihnya yang baru saja diinterogasi.
"Mereka mulai curiga, Jordan... Thea bahkan sudah tahu soal pemecatan Clarissa," keluh Airin sambil menyandarkan kepalanya di dada Jordan.
Jordan mengecup puncak kepala Airin, lalu mengangkat dagunya agar mereka bisa bertatapan. "Biarkan mereka curiga. Selama mereka tidak punya bukti, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kalau mereka berani menyudutkanmu lagi, aku sendiri yang akan memberikan mereka tugas tambahan hingga mereka lupa cara bernapas."
Airin tertawa kecil mendengar kenarsisan Jordan yang tidak ada habisnya. "Kamu benar-benar kejam."
"Hanya padamu aku bisa lembut," balas Jordan sebelum merunduk dan mengecup bibir Airin berkali-kali dengan gemas, membuat Airin lupa sejenak akan ketegangan di kantin tadi.