Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Hasil pertarungan
...SELAMAT MEMBACA!...
☁️
Dara kalut dalam pikirannya. Gadis itu mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa. Ia terjaga setiap malam, sejak kemarin. Lampu kamar sudah ia matikan, dia juga memutar musik suara hujan. Beberapa kali Dara mengecek ponselnya. Dara sungguh khawatir.
Dia menghembuskan napas panjang, kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri di depan jendela kamar. "Dino," gumamnya. "Aku harap kamu baik-baik, aja."
Seperti berat sekali berada jauh dari suaminya itu. Padahal, ia sering kali masih merasa canggung jika bersama lelaki itu. Jantung Dara berdetak kencang, layaknya orang jatuh cinta yang sedang rindu.
Hati gadis itu terus berbicara, semoga suaminya baik-baik saja. Terjaga seperti ini membuatnya lelah, hal ini tidak akan merubah apapun. Dara memutuskan kembali ke kasurnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Di tempat lain, jalanan aspal yang sepi dan minim cahaya, banyak lelaki tersungkur dengan luka-luka di wajah. Beberapa dari banyaknya anggota Wind Blaze, mereka masih bertarung. Selebihnya, mereka sudah jatuh.
Bama tidak memberi ampun kepada dua lawannya. Dia menghindar dari pukulan lawan yang membawa balok kayu. Cowok itu mahir dalam bela diri.
Bama menarik sudut bibirnya. Menggunakan kesempatannya, dia menendang perut salah satu lawan hingga orang tersebut mundur beberapa langkah ke belakang dan tumbang.
Melawan satu musuh, sungguh muda baginya. Ia menahan balok kayu yang hendak dipukulkan kepadanya, kemudian mengambil benda keras itu dan memukulkan pada lawannya. "Segitu doang?" selorohnya, dengan senyum miring.
Bama menoleh ke arah Darwin yang bertarung di belakangnya dengan seorang lelaki dewasa bertubuh tinggi. "Habisin, Bang!" teriak Bama kepada Darwin.
"Aman!" balas Darwin. Lalu, lelaki itu menarik tangan lawan ketika ingin memukulnya, kemudian Darwin memutar pergelangan tangan lelaki tersebut dan mendorongnya. Tak hanya sampai di sana, ia menendang perut lawannya hingga benar-benar tumbang.
"TUNTAS!" Darwin berteriak selaku wakil ketua Ultimate Phoenix. Lalu, dia menatap ke arah gang. Rupanya, ini benar-benar sesuai dugaan sang ketua. "Kita jemput Pak Ketua!" ajak Darwin.
Bama menganggukkan kepala. "Lima orang ikut kami! Lainnya awasin di sini!" perintah Bama. Lalu, dia melangkahkan kaki jenjangnya mengikuti Darwin yang berjalan di depannya.
Mahen sangat bosan dengan kegiatannya. Memainkan tali sepatu sembari menunggu perintah sang ketua. Dia lagi-lagi menghela napas berat. "Lama banget," gumamnya.
"Gue gak yakin kalau pasukan lo menang," celetuk Ambo, dengan memasang wajah angkuhnya.
Dino tersenyum tipis menanggapinya. Ia melihat sedikit jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Lihat aja!"
Tidak lama setelah Dino mengatakan itu, pintu yang terbuat dari kayu didobrak dan memperlihatkan seorang Darwin. Hal tersebut lantas membuat Ambo dan anggota lain terkejut.
Dino hanya menarik sudut bibirnya. "Jadi, menurut lo siapa yang menang?" ujar Dino.
Ambo menggertakkan giginya, melotot melihat lawan di depannya.
"Akhirnya!" celetuk Mahen, kemudian berdiri dari sana dan mendekati Dino.
"Lama ya, Pak?" Dino menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir Darwin. "Lumayan banyak," lanjutnya.
"Kita selesain yang di sini," ujar Dino. Lalu, 12 lelaki di belakangnya menganggukkan kepala.
Ambo merasa kesal. Dia memasang wajah marah dan menyorot tajam ke arah Dino. "HABISIN MEREKA SEMUA!"
"BAIK, BOS!" jawab anggota Wind Blaze itu.
Para lelaki itu bertarung, saling memukul tanpa memikirkan rasa sakit. Mahen sampai keluar dari bangunan itu, melawan lelaki yang terlihat lebih besar darinya. "Besar banget tubuh lo, Bang. Gym di mana?" ucap Mahen.
"Bacot!" balas pria itu, kemudian mengudarakan kepalan tangan dan dengan cepat Mahen menghindar. Lalu, Mahen mendaratkan pukulan di rahang pria itu.
"Gue tanya baik-baik, nih. Gue juga mau punya tubuh kayak gitu," kata Mahen.
"Bocah, jangan bacot lo!"
Tanpa henti, mereka saling beradu otot.
Peci hitam yang Hamid kenakan sampai terjatuh ke tanah karena serangan lawan. "Eits! Peci gue sampai kotor nih, Bang," selorohnya. Hamid sempatkan untuk mengambil benda suci itu. "Lanjut, Bang!" Dia memasang kuda-kuda sambil tersenyum lebar.
Di bawah bangunan tua itu, hanya terdapat Dino, Darwin, dan Ambo yang tengah beradu tatapan tajam. Sepuluh anggota Wind Blaze lain telah ditumbangkan oleh Darwin seorang diri. Sedangkan Ambo, pria tersebut masih belum menyerang, hanya memerintah.
"Gue heran sama lo. Ketua geng yang gak pernah deket sama cewek, kenapa sekarang bucin banget," celetuk Ambo.
"Gue lebih heran sama lo. Masalah lo sama gue, kenapa bawa-bawa istri gue?" balas Dino.
Ambo menaikkan sebelah alisnya, kemudian melipat kedua tangan di depan dada. "Karena dia kelemahan lo."
Dino berdecih. "Pengecut lo! Mau ngalahin gue pakai kelemahan."
"Gue bisa ngelakuin apapun demi istri gue. Bahkan, habisin lo sekali pun," kata Dino, penuh penekanan. Lelaki itu terlihat sedang sangat serius, tidak bercanda. Rahang kokohnya itu mengeras, otot di leher bahkan terlihat, dan tangannya pun mengepal kuat.
Napas Ambo memburu, dadanya naik turun karena emosinya yang meluap. Berbeda dengan Dino, dia terlihat sangat santai.
"GUE YANG AKAN HABISIN LO!" Ambo mengangkat tangannya, hampir melesat terkena wajah Dino. Namun, lelaki itu menghindar.
"Mundur, Win! Gue mau habisin dia pakai tangan gue sendiri!" pinta Dino, kepada Darwin.
Darwin tersenyum puas, ia tidak pernah melihat Dino menggunakan kemampuan bela diri sepenuhnya. Lalu, lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Di bawah langit malam, bintang-bintang itu terlihat redup. Bulan sabit yang ikut tersenyum, menyaksikan pertarungan panas di dalam udara dingin.
Mahen tersungkur, luka di sudut bibirnya cukup perih. Lawannya itu terlalu besar dibanding tubuhnya sendiri, membuat Mahen kesusahan. "Bocah songong. Lo kalah, kan?" hardik seorang pria yang menjadi lawan Mahen.
"Badan lo gede, Bang!" sahut Bama, dari arah belakang pria itu.
"Woi, My Friend! Gue tahu lo pasti nolongin gue," celetuk Mahen, tersenyum lebar melihat kedatangan Bama.
"Tapi bayar! Traktir gue besok!" jawab Bama. Lalu, lelaki itu dengan kasar menendang pria di depannya yang membuat Mahen meringis. "Itu balasan karena udah buat bayi gue nangis!"
"Bayi lo bilang?" Mahen berdiri dari sana dengan dibantu Bama. Lalu, dia berdecih mendengar ucapan Bama yang terdengar buruk itu. "Jangan bilang lo suka gue!"
"Jijik!" seru Bama, kemudian melenggang pergi sambil meregangkan otot.
Hampir satu jam Dino melawan Ambo. Pria itu memiliki kemampuan bela diri yang lumayan hingga sempat membuat Dino kewalahan. Pada akhirnya, Dino berhasil berada di atas.
Ambo memekik keras ketika tubuhnya dibanting oleh Dino. Lalu, Dino duduk di atas tubuh Ambo yang tengkurap, sambil memelintir tangannya ke belakang, kemudian tersenyum puas. "Lepasin gue!" bentak Ambo. Namun, Dino tak menghiraukan rengekan itu.
"Gue menang?" bisik Dino, tepat di samping telinga Ambo.
Ambo masih tidak terima kekalahannya, bahkan seluruh pasukannya sudah habis di tangan anggota Ultimate Phoenix. "LEPASIN GUE!" Namun, Dino semakin mencengkram tangan Ambo hingga pria tersebut berteriak kesakitan.
Teriakan yang cukup keras itu mengundang para lelaki di luar sana. Mahen, Bama, Darwin, juga Hamid masuk dan memandang aksi ketuanya itu. "Keren, Bang!" pekik Mahen, terpesona melihatnya.
"Diem lo!" tegur Bama, sambil memukul kepala lelaki di sampingnya. Hal itu membuat Mahen mengelus kepalanya yang sakit.
Ambo tidak lagi mengeluarkan kalimat dari bibirnya, ia hanya diam sambil memberontak. Namun, posisi tubuhnya membuatnya kesulitan untuk bergerak. "Lepasin gue!" geram Ambo.
Tidak ada gunanya memberontak. Pada akhirnya, Wind Blaze yang kalah karena seluruh anggota sudah lumpuh di atas tanah, tidak tersisa satu pun. Bahkan, ketua dari mereka pun berada di bawah Dino.
Ambo menghela napas berat. "Lo menang, No," ujarnya. Lalu, Dino melepaskan pria itu karena dirasanya sudah cukup kasihan.
Ambo berdiri dari tempat itu sambil menahan rasa sakitnya, kemudian menghapus air mata yang sempat menetes.
Pria dengan tampilan yang sangat kacau itu menatap para anggota Ultimate Phoenix di depannya, dengan tatapan sendu serta tidak bergairah. "Kalian menang. Selamat!" ujar Ambo.
Setelah keluar dari tempat itu, para anggota Ultimate Phoenix yang telah menunggu di luar gang sana, mereka menyambut kedatangan sang ketua dan anggota inti lainnya.
Keluarnya Dino dengan keadaan selamat, membuat mereka yakin bahwa mereka yang pulang membawa bendera kemenangan.
"Selamat, kalian udah kerja keras buat semuanya. Ultimate Phoenix menang!" ujar Darwin, lantas membuat seluruh anggota bersorak kegirangan.
"Yuhu! Kita menang!" teriak seorang anggota, sambil berjabat tangan dengan anggota lainnya.
Ini adalah pertarungan pertama mereka dan juga menjadi kemenangan pertama.
"Kita memang udah menang, tapi jangan gunakan kekuatan kalian untuk kejahatan," tutur Dino, kemudian mengulas senyum tipis.
"SIAP, PAK KETUA!" sahut mereka bersamaan.
Berbeda dengan ekspresi anggota Ultimate Phoenix lainnya. Dino bahkan murung setelah keluar dari sarang musuhnya itu.
.....
☁️