Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LATIHAN BELA DIRI UNTUK CACA
Setelah kejadian dengan Budi dan teman-temannya, Rafi merasa sangat khawatir akan keselamatan Caca. Meski kampung sudah lebih aman dengan dukungan warga, dia tahu bahwa ancaman bisa datang kapan saja, dan ingin memastikan Caca bisa melindungi diri sendiri.
“Saya ingin kamu belajar bela diri, Caca,” ujar Rafi dengan serius saat mereka sedang duduk di bawah pohon besar yang biasa mereka gunakan untuk berbincang. “Aku tidak bisa selalu ada di sisimu untuk melindungimu, jadi kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri.”
Caca sedikit ragu. “Tapi aku tidak kuat dan tidak bisa memukul orang, Rafi. Apakah benar-benar perlu?”
“Belajar bela diri bukan hanya tentang memukul,” jelas Rafi dengan lembut. “Ini tentang bagaimana membaca situasi berbahaya, tahu cara menghindari masalah, dan jika memang tidak ada pilihan lain – bisa melindungi diri sendiri dan orang lain yang lemah. Ayah punya teman yang mengajar bela diri tradisional yang fokus pada pertahanan diri, bukan serangan.”
Hari berikutnya, Rafi membawa Caca ke sebuah tempat latihan yang terletak di belakang warung makan keluarga Rafi.
Di sana, seorang pria berbadan atletis bernama Pak Surya sedang menunggu mereka dengan senyum ramah.
Dia adalah mantan anggota keluarga Pak Bara yang juga memilih jalan yang benar dan sekarang mengajar bela diri untuk anak-anak dan kaum perempuan di sekitar daerah.
“Halo Caca, senang bertemu denganmu,” ujar Pak Surya dengan suara hangat. “Rafi sudah cerita tentangmu. Kita tidak akan belajar cara memukul atau menendang yang kasar – kita akan fokus pada teknik pertahanan diri, bagaimana menghindari serangan, dan menggunakan kekuatan lawan untuk melindungi diri.”
Mulai hari itu, Caca mulai mengikuti latihan bela diri setiap sore setelah sekolah. Awalnya dia merasa sulit dan sering kesulitan mengikuti gerakan yang diajarkan, tapi dengan kesabaran Pak Surya dan dukungan Rafi yang selalu menemani, dia perlahan mulai menguasainya.
“Jangan terburu-buru ya Caca,” ujar Pak Surya saat mengoreksi posisi kaki Caca saat berlatih blok serangan. “Kekuatan tidak selalu datang dari ukuran tubuh, tapi dari cara kamu menggunakan tubuhmu dengan tepat dan tetap tenang dalam situasi sulit.”
Selama latihan, Pak Surya juga mengajarkan mereka tentang pentingnya kontrol emosi dan cara menghindari konflik. “Yang terbaik adalah tidak perlu menggunakan kekerasan sama sekali,” ujarnya dengan serius. “Cara terbaik untuk menang adalah dengan menghindari perkelahian dan menemukan solusi damai. Bela diri hanya digunakan jika kamu atau orang lain dalam bahaya yang nyata.”
Suatu sore, saat mereka sedang berlatih teknik menghindari serangan dari belakang, datang beberapa anak laki-laki dari kampung sebelah yang ingin mencoba mengganggu latihan mereka.
“Waduh, cewek kecil juga bisa belajar bela diri ya?” ejek salah satu anak laki-laki itu dengan suara tinggi. “Mungkin kamu lebih cocok bermain boneka saja daripada melakukan hal yang hanya untuk laki-laki.”
Caca merasa sedikit marah, tapi ingat apa yang diajarkan Pak Surya tentang kontrol emosi. Dia tidak menanggapi ejekan itu dan tetap fokus pada latihannya.
Namun ketika salah satu anak laki-laki itu mencoba menarik rambutnya dari belakang, dia dengan refleks yang sudah terlatih berpaling cepat dan menjaga jarak aman sambil mengangkat tangannya sebagai tanda peringatan.
“Jangan sentuh aku,” ujar Caca dengan suara tegas dan tenang. “Jika kamu ingin belajar bela diri juga, kamu bisa bergabung dengan kita. Tapi jika kamu hanya ingin mengganggu, silakan pergi karena kita sedang sibuk berlatih.”
Anak laki-laki itu terkejut dengan sikap Caca yang tidak takut dan langsung malu. Dia mengangguk pelan dan mengajak teman-temannya pergi dengan wajah merah karena malu. Rafi dan Pak Surya tersenyum melihatnya.
“Kamu sudah sangat baik, Caca,” puji Pak Surya dengan bangga. “Kamu bisa tetap tenang dan menggunakan kata-kata daripada kekerasan. Itu adalah bentuk kemenangan yang lebih besar daripada bisa mengalahkan lawan dengan kekuatan fisik.”
Setelah beberapa minggu berlatih, Caca merasa semakin percaya diri dan kuat. Dia bahkan mulai mengajarkan teknik dasar pertahanan diri kepada anak-anak kecil di klub menggambar, agar mereka juga bisa melindungi diri jika ada yang mengganggu mereka.
“Kalau ada orang yang ingin menyakitimu, kamu tidak boleh diam saja,” ujar Caca saat mengajarkan cara berdiri dengan benar kepada Dika dan teman-temannya. “Kamu harus berteriak untuk menarik perhatian orang lain dan menggunakan gerakan yang sudah kita pelajari untuk menjaga jarak.”
Pada malam hari, keluarga Rafi berkumpul untuk makan malam dan melihat Caca menunjukkan beberapa gerakan bela diri yang sudah dia kuasai.
Mama Lila merasa sangat bangga melihatnya. “Aku tidak menyangka kamu bisa menjadi begitu kuat, Caca. Kamu sudah bukan lagi gadis kecil yang selalu perlu dilindungi.”
Pak Bara juga mengangguk dengan senyum bangga. “Belajar bela diri tidak hanya membuatmu kuat secara fisik, tapi juga secara mental. Kamu sudah belajar untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan berdiri tegas untuk diri sendiri dan orang lain. Itu adalah kualitas yang sangat berharga.”
Rafi melihat Caca dengan wajah yang penuh cinta dan bangga. “Aku tahu kamu bisa melakukannya, Caca. Sekarang aku merasa lebih tenang karena tahu kamu bisa menjaga dirimu sendiri jika aku tidak ada di sisimu.”
Caca tersenyum dan memegang tangan Rafi. “Tetapi aku tetap senang kalau kamu ada di sisiku ya, Rafi. Kita sudah janji untuk selalu bersama, kan? Bela diri hanya untuk berjaga-jaga saja.”
Mereka semua tertawa dan melanjutkan makan malam dengan suasana yang hangat dan penuh kebahagiaan.