PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Kerasahan Malam Hari
Mansion Alvaren Alvarezh
Di sore hari, suasana di kediaman Jenderal Alvaren terasa tenang namun menyimpan sedikit kegelisahan. Jihan duduk di sofa ruang tengah, mencoba mengalihkan pikirannya dengan menggulir layar ponsel mencari hiburan dengan scroll sosial media. Di pangkuannya, Mochi, kucing kesayangannya, mendengkur halus saat tangan Jihan membelai kepalanya.
Pintu utama terbuka. Langkah sepatu militer yang berat bergema di lorong marmer. Alvaren muncul dengan seragam Jenderal Silver Legionnya yang masih lengkap, namun wajahnya tampak tegang, garis-garis kecemasan terlihat jelas di keningnya.
Jihan tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. Ia berdiri dengan cepat, membuat Mochi melompat turun dari pangkuannya.
"Kak? Ada apa? Kenapa kau pulang terburu-buru seperti ini?" tanya Jihan dengan suara bergetar. Rasa panik mulai merayap di dadanya. "Apakah terjadi sesuatu? Kenapa kau memanggil kami semua secara mendadak?"
Alvaren kakak ketiga Jihan, tidak langsung menjawab. Matanya menyisir ruangan dengan tajam sebelum tertuju kembali pada adik perempuannya. "Di mana adik kembaran mu Jinan?" suaranya berat, penuh tekanan.
"Dia sedang dalam perjalanan ke sini," jawab Jihan cepat, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. "Dia sudah izin ke manajernya untuk menyelesaikan syuting lebih awal. Tapi Kak... apakah terjadi sesuatu pada Jinan? Apa dia berbuat ulah lagi? Apa dia di bar atau melakukan sesuatu yang—“
"Tidak," Alvaren memotong dengan tegas, tangannya terangkat untuk menghentikan spekulasi Jihan. "Ini bukan tentang ulah Jinan. Ada beberapa hal penting yang harus kusampaikan pada kalian... juga mengenai warisan yang akan kutinggalkan untuk kalian berdua."
Jihan tertegun. Kalimat itu terasa seperti hantaman di ulu hatinya. "Warisan? Kak, kenapa bicaramu seperti itu? Kau seolah-olah ingin pergi jauh dan... dan tidak akan kembali lagi."
Alvaren menunduk, menatap lantai sebentar sebelum kembali menatap mata Jihan. Ada sorot luka dan beban besar di sana. "Aku memang harus pergi ke perbatasan, Jihan. Situasi di sana memburuk, dan sebagai Jenderal, aku harus memimpin di garda depan."
"Apa?!" Jihan menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Tapi kenapa mendadak begini? Bukankah beberapa hari lalu semuanya baik-baik saja?"
"Ini tidak mendadak," sahut Alvaren pelan. "Ini adalah hasil pertimbangan dan kepastian yang sudah kuambil. Negara ini sedang tidak baik-baik saja."
Seketika, ruangan itu menjadi hening. Hanya suara detak jam dinding. Jihan melangkah maju, memegang lengan seragam kakaknya dengan erat.
"Kak, apa kau tidak bisa meninggalkan jabatan itu saja? Itu terlalu berbahaya," bisik Jihan, air mata mulai jatuh. "Kita sudah kaya, Kak. Peninggalan mendiang Ayah dan Ibu lebih dari cukup untuk kita hidup tujuh turunan. Kenapa kau harus mempertaruhkan nyawamu di sana?"
Alvaren tersenyum pahit, matanya ikut berkaca-kaca saat menatap adik kesayangannya. "Jihan, kau tahu seperti apa kondisi negara ini. Aku ingin membenarkannya," suaranya merendah. "Bukan hanya kau atau Jinan yang ingin kulindungi, tapi rakyat Aestrasia yang tertindas. Aku ingin menciptakan keamanan jangka panjang untukmu... agar kau bisa hidup di dunia yang lebih baik tanpa rasa takut."
Jihan terdiam. Ia tahu betapa keras kepalanya kakaknya jika sudah menyangkut prinsip. Ia juga tahu bagaimana Rahez, kakak kedua mereka, telah berubah menjadi sosok yang haus kuasa dan mengendalikan segalanya dari balik layar Alvarezh Group.
Alvaren menghela napas panjang, mencoba menenangkan emosinya. "Jihan, jika selama ini aku bersikap keras mengawasimu, itu bukan karena aku ingin membatasimu. Aku hanya ingin kau siap menghadapi dunia yang kejam ini sendirian jika suatu saat aku tidak ada."
Alvaren mengusap kepala Jihan dengan kasih sayang yang tulus. "Kau sudah semakin dewasa, Jihan. Aku sangat bangga padamu. Dalam beberapa hari kau akan berulang tahun yang ke dua puluh dua tahun dan sekaligus hari kelulusan pasca sarjanamu lebih cepat dari usia seharusnya. Aku ingin memberikan hadiahmu lebih awal."
Jihan mulai tersenyum tipis di tengah tangisnya, ia baru saja hendak membuka mulut untuk membalas ucapan hangat kakaknya itu ketika tiba-tiba
BRUKKK!!!
Suara BRUKK itu masih menggema ketika Alvaren bergerak cepat menuju pintu. Jihan mengikuti dari belakang.
Sebuah mobil hitam mewah milik Jinan…
berhenti miring, bagian depannya menabrak mobil SUV hitam metalik yang terparkir di samping pilar marmer. Catnya tergores panjang.
Jinan turun dari mobil dengan gaya tengilnya, mengenakan kacamata hitam meski hari sudah mulai gelap, sementara mulutnya masih asyik mengunyah.
“Sialan, kenapa tiba-tiba ada mobil asing nongkrong tidak bilang-bilang?! Siapa yang parkir sembarangan di sini?!" seru Jinan sambil memaki, suaranya khas seorang superstar yang tak mau disalahkan.
Mata Jihan membelalak melihat pemandangan di depannya. "Jinan! Kau menabraknya!"
Jinan menoleh, lalu melepas kacamatanya. "Oh, Jihan? Kak Alvaren? Lihat ini, ada mobil asing yang menghalangi jalan"
Jihan mendekat, memperhatikan mobil SUV hitam yang bagian belakangnya ringsek itu. "Aku tidak tahu... aku tidak pernah melihat mobil ini di garasi kita sebelumnya."
Alvaren hanya berdiri mematung Alvaren menghembuskan napas berat, satu tangan mengusap wajahnya.
“Aku bahkan belum sempat memberitahunya…”. suara Alvaren terdengar berat dan pasrah.
Jihan mengerutkan dahi. “Kak… apa maksudmu?”
"Itu hadiahmu, Jihan," ucap Alvaren datar. "Tadinya aku ingin memberimu kejutan. Itu mobil edisi terbatas yang kupesan khusus untuk hadiah ulang tahun dan kelulusanmu”.
Seketika, suasana menjadi hening. Jinan tersedak macaronnya. Jihan mematung dengan mulut setengah terbuka.
"A-apa? Mobil itu... milikku?" Jihan terbata, menatap ke arah kendaraan mewah yang kini sudah penyok itu. "Hadiahku... hancur sebelum kusentuh?"
Jinan langsung memasang wajah pucat. Ia menelan makanannya dengan susah payah. "Kak... serius? Hadiah Jihan? Aku... aku benar-benar tidak tahu ada mobil baru di situ. Lagipula, kenapa parkirnya harus di tengah jalan begitu?"
"Jinan!!!" Jihan berteriak kesal, melupakan rasa sedihnya sejenak. "Kau yang menyetir seperti orang kesetanan! Kau menghancurkan mobilku!"
"Hei, tenang! Aku bisa menggantinya Jihan! Aku bisa membelikanmu sepuluh mobil seperti ini!" balas Jinan membela diri, meski nada suaranya terdengar merasa bersalah.
"Masalahnya bukan uangnya, Bodoh! Itu hadiah dari Kak Alvaren!" Jihan memukul lengan Jinan dengan gemas. "Kau selalu saja merusak suasana!"
Jinan mendekat, memegang lengan Jihan dengan ekspresi memelas. “Aku bersumpah demi seluruh karier keartisanku, aku tidak sengaja! Mobil itu tiba tiba terparkir disitu. Siapa pun bisa salah lihat! Bahkan drone AI pun kalau parkir di tempat itu pasti bingung!”
Jihan menepuk kening “Drone AI itu canggih, Jin.” sindir Jihan sambil melirik tajam pada kembarannya. “Tidak seperti otakmu hari ini.”
"Sudah, sudah..." Alvaren menengahi, Mobil bisa diperbaiki. Yang penting tidak ada yang terluka.” ucap Alvaren tenang. Namun, ia kemudian menoleh pada Jinan dengan tatapan yang sedikit lebih tajam. "Dan kau, Jinan..."
“Lain kali ketika makan, berhenti mobil. Jangan menyetir sambil mencicipi dunia kuliner.”
Jinan menggaruk kepala yang tidak gatal, wajahnya memerah karena malu sekaligus merasa bersalah.
“Baik, Kak… aku janji. Tidak ada lagi makanan di dalam mobil sampai aku tua.” gumam Jinan sambil mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace, mencoba mencairkan suasana.
“Masuklah ke dalam. Kita bicara sebelum aku berangkat.” Raut wajahnya berubah sangat serius. “Ada hal yang harus kalian ketahui sebelum aku benar-benar berangkat besok pagi.”
Jihan dan Jinan saling pandang. Kegaduhan soal mobil tadi seketika terlupakan, menyisakan firasat buruk yang mendalam.
Mereka bertiga melangkah masuk kembali ke ruang tengah. Alvaren menghempaskan tubuhnya di kursi tunggal berbahan kulit, sementara Jihan dan Jinan duduk berdampingan di sofa di hadapannya. Mochi, sang kucing, entah sejak kapan sudah kembali ke sana dan kini meringkuk tenang di dekat kaki Jihan.
Alvaren melonggarkan kerah seragam militernya yang terasa mencekik, matanya menatap kosong ke arah meja kaca.
"Elyndor sedang tidak aman," buka Alvaren tanpa basa-basi. "Ada konflik di area perbatasan wilayah elyndor, situasi nya sangat kacau dan bahaya.”
Jinan, yang biasanya santai dan tengil, kini menegakkan punggungnya dengan wajah serius. "Tunggu, Kak. Maksudmu... situasi di perbatasan Elyndor itu benar-benar akan pecah menjadi perang terbuka? Bukankah kau Jenderal Silver Legion? Siapa yang berani melawanmu?"
Alvaren tersenyum pahit, ada kilat kekecewaan di matanya. "Di Aestrasia, pangkat tidak melindungimu dari pengkhianatan, Jinan." Ia kemudian beralih menatap Jihan, lalu mengeluarkan sebuah map tebal dari balik seragamnya.
"Karena itulah, aku sudah menyiapkan segalanya. Ini… adalah setengah berkas warisan, surat kuasa, dan akses aset keluarga yang menjadi hak kalian berdua."
Jihan membelalakkan mata, tangannya gemetar saat melihat dokumen itu. "Kak… tidak. Jangan bicara seolah-olah kau akan —“
"Jihan, mendengarkan ini bukan pilihan. Ini kewajiban," potong Alvaren pelan namun otoriter, ia mengangkat tangan untuk menghentikan protes adiknya. Ia menatap mereka satu per satu, seolah ingin merekam wajah kedua adiknya dalam ingatan.
"Aku sudah melihat cukup banyak untuk tahu bahwa dunia di luar tidak aman bagi kita. Jika sesuatu terjadi padaku… kalian tidak boleh tetap di sini. Ada tempat aman di Utara yang sudah kupersiapkan. Kalian tinggal pergi, dan semuanya akan berjalan sesuai rencanaku."
Jinan berusaha keras menutupi kesedihan di balik wajah tengilnya, namun suaranya tetap pecah. "Kenapa bicara seperti itu?! Kau… kau akan kembali!"
"aku akan tetap akan kembali," sahut Alvaren dengan nada lebih lembut. "Aku bicara ini hanya karena aku harus bertanggung jawab sebagai kakak. Aku tidak ingin kalian buta jika situasi berubah cepat. Aku ingin membawa kalian malam ini juga ke wilayah utara. Jinan juga. Setidaknya sampai aku selesai bertugas. Aku tidak ingin risiko apa pun mengarah pada kalian."
Jihan menoleh pada Jinan, mereka saling bertukar pandang dalam diam selama beberapa detik. Tanpa kata, mereka berdua... menggeleng serempak.
"Rumah kita di sini, Kak," ujar Jihan dengan nada tegar yang mengejutkan Alvaren. "Kami tidak akan lari darimu sekarang. Aku akan tetap di sini ketika kau kembali nanti. Dan sampai hari itu tiba… aku tidak akan takut."
Jinan menyeka matanya cepat-cepat, pura-pura tidak menangis sambil mendengus kecil. "Kalau aku pergi sekarang, Kak… siapa yang akan menyambutmu pulang dengan burger mid night jam dua pagi? Siapa yang akan mengganggumu dengan gosip artis?! Aku harus ada di sini."
Jinan menunduk, tersenyum samar sebuah senyuman yang memendam keberanian dan ketakutan secara bersamaan.
Alvaren terdiam, suaranya terdengar pelan dan penuh cinta saat ia akhirnya menyerah pada keras kepala adik-adiknya. "Kalian semua… adalah alasan utama aku pulang. Baik. Kalau kalian memilih tinggal… aku tidak akan memaksa. Tapi dengarkan baik-baik. jika aku bilang pergi, kalian harus pergi tanpa membantah sedikit pun."
Jihan dan Jinan mengangguk mantap, meski hati mereka terasa berat.
Alvaren kemudian mengambil map itu kembali dan mendorongnya lebih dekat ke arah Jihan dan Jinan. Wajahnya kini berubah menjadi sangat dingin dan serius, aura seorang Jenderal kembali menyelimutinya.
"Sekarang… ada beberapa hal yang harus kalian ketahui. Hal yang selama ini kutahan karena aku tidak ingin kalian hidup dalam ketakutan.”
Ini adalah karya pertamaku. Jangan lupa tinggalkan like dan komen agar aku semangat lanjut yah😇🥰