Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jual Jiwa
Enam bulan berlalu dalam irama yang tegang namun tertata. Ritme kehidupan mereka sekarang berputar di sekitar jadwal minum obat Luna, cek darah bulanan di laboratorium, dan konsultasi rutin dengan dr. Arini.
Luna beradaptasi dengan keanehan tubuhnya. Dia belajar mengenali tanda-tanda kelelahan, menghindari matahari berlebihan, dan menelan segenggam pil setiap pagi dan malam dengan keberanian yang memilukan.
Wajahnya masih sedikit bengkak oleh steroid, tapi senyumnya perlahan kembali.
Biaya enam bulan itu menelan habis sebagian besar dana darurat dari penjualan aset Rafa.
Amara bekerja tak kenal lelah, mengambil proyek desain interior kecil-kecilan secara remote, menjual sketsa dan karya kecil lewat platform online yang dikelola Edo.
Uangnya masuk, tapi seperti menimba air dari kapal yang bocor—hanya cukup untuk menahan agar tidak tenggelam.
Kemudian, di suatu Senin pagi yang cerah, bencana datang. Luna terbangun dengan sendi-sendi kakinya bengkak dan merah, demam ringan, dan kelelahan yang amat sangat sehingga dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Flare. Kekambuhan.
Rawat inap lagi. Ruang yang sama, bau yang sama, ketakutan yang sama tapi sepuluh kali lebih besar karena mereka tahu sekarang apa yang dihadapi. Kali ini lebih parah. Ginjal Luna menunjukkan tanda-tanda keterlibatan—protein dalam urinnya tinggi.
Dr. Arini wajahnya serius. "Kita perlu meningkatkan terapi. Obat imunosupresan yang sekarang tidak cukup. Kita butuh obat yang lebih kuat, mungkin infus biologis. Dan itu," dia berhenti, memandang mereka, "jauh lebih mahal."
Biaya infus biologis saja bisa mencapai puluhan juta per dosis, beberapa kali setahun. Ditambah biaya rawat inap yang kali ini lebih lama. Spreadsheet Bapak Hendra yang dulu sudah menakutkan kini terlihat seperti mimpi indah.
Malam di kamar rumah sakit, setelah Luna akhirnya tertidur oleh obat penenang, Amara dan Rafa duduk di kursi plastik, dikelilingi oleh keheningan yang berbobot.
"Dana darurat hampir habis," gumam Rafa, menatap kosong ke lantai. "Proses penjualan rumah mandek. Pembeli terakhir mundur."
"Proyek desainku tidak cukup. Bahkan jika aku kerja 24 jam," tambah Amara, suaranya hampa.
"Dan aku tidak bisa… aku janji pada Luna aku tidak akan pergi."
Merekapun diam, diselimuti keputusasaan. Lalu, matanya tertuju pada tas kerjanya. Di dalamnya, ada sebuah email yang dia terima seminggu lalu dan diabaikan karena tampak tidak relevan.
Email dari sebuah brand fashion besar asal Singapura, "NOVAE", yang tertarik dengan karya tekstilnya.
Mereka menawarkan untuk membeli seluruh hak cipta dan aset koleksi "Fragments & Wholeness"—termasuk nama, desain, dan konsep—untuk dijadikan lini ready-to-wear mereka.
Harganya luar biasa besar. Cukup untuk menutupi biaya pengobatan Luna selama bertahun-tahun.
Tapi syaratnya: Amara melepaskan semua hak kreatif. Nama "Amara S. Dewanto" akan tetap dicantumkan sebagai 'inspirasi', tapi NOVAE yang akan mengembangkan, memproduksi, bahkan mengubah desain sesuai pasar. Dan dia tidak boleh membuat karya serupa dengan konsep yang sama selamanya.
Saat itu, dia menolak mentah-mentah. Itu seperti menjual anak kandungnya. Tapi malam ini, melihat monitor jantung Luna yang stabil namun rapuh, pikirannya berubah.
"Ada satu cara," ucap Amara, suaranya datar.
Rafa menoleh. "Apa?"
"Brand NOVAE. Mereka ingin membeli 'Fragments & Wholeness'. Semuanya. Hak cipta, konsep, nama."
Rafa mengenal ekspresi itu di wajah Amara. Ekspresi tekad yang mengerikan. "Kau tidak akan…"
"Harganya 2 miliar, Rafa."
Angka itu menggema di ruangan kecil itu. 2 miliar. Cukup untuk infus biologis, rawat inap, obat-obatan, bahkan tabungan untuk pendidikan Luna. Sebuah jaminan.
"Tapi itu… itu jiwamu, Amara. Karyamu. Setelah segalanya—"
"Apa gunanya jiwa dan karyaku jika Luna tidak sehat untuk melihatnya?" potong Amara, matanya berkaca-kaca namun keras.
"Apa gunanya 'Fragments & Wholeness' jika keluarga kita terfragmentasi karena tidak bisa membayar obat? Jiwa Luna lebih penting."
Rafa ingin membantah, ingin mengatakan mereka akan mencari jalan lain. Tapi dia tidak punya jalan lain. Dia sudah menjual segalanya.
Dan melihat Amara rela menjual capaian terbesarnya, rasa bersalah yang lama kembali menyesak. "Ini… karena aku tidak bisa cukup memberikan, kan?"
"Ini BUKAN tentangmu, Rafa!" desis Amara, berusaha tidak berteriak.
"Ini tentang matematika sederhana! 2 miliar vs ketidakpastian. Jiwa seniku vs nyawa anakku. Itu bukan pilihan sama sekali!"
Keesokan harinya, Amara mengirim balasan email: "Saya tertarik. Mari kita bicara syarat."
Meeting diatur via Zoom dengan tim hukum dan kreatif NOVAE. Mereka efisien, profesional, dan tanpa emosi. Kontrak berisi 50 halaman.
Amara menyetujui hampir semua klausul, hanya meminta nominal yang sedikit lebih tinggi. Mereka setuju.
Dia menandatangani dokumen digital dengan mouse yang terasa berat seperti batu. Saat tombol "Kirim" ditekan, dia merasa sesuatu di dalam dirinya patah.
Bukan hanya hak cipta, tapi sebuah janji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi seniman dengan suaranya sendiri.
Hal pertama yang dia lakukan setelah itu adalah menelepon Sari. Dia butuh teman untuk memahami, atau setidaknya, untuk mendengarkan.
Mereka bertemu di kafe dekat rumah sakit. Sari datang langsung dari pemotretan, masih dengan kamera digantungkan di leher.
Wajahnya cerah sampai dia melihat wajah Amara.
"Apa yang terjadi? Luna lebih buruk?" tanya Sari khawatir.
"Tidak. Stabil. Tapi…" Amara menarik napas.
"Aku baru saja menjual 'Fragments & Wholeness'. Semua hak ciptanya. Ke NOVAE."
Sesaat, Sari hanya membelalak. Lalu, ekspresinya berubah. "Kau… apa? NOVAE? Brand fast fashion itu? Yang suka menjiplak karya seniman independen?"
"Mereka membeli, bukan menjiplak."
"ITU LEBIH BURUK, AMARA!" Sari membentak, suaranya membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.
"Kau menjual jiwamu pada perusahaan yang akan mencincang karyamu jadi kaos oblong murahan yang dijual di mall! 'Fragments & Wholeness' itu tentang perjalananmu! Tentang penyembuhanmu! Dan kau jual untuk… untuk apa? Uang?"
"Untuk Luna!" balas Amara, suaranya juga meninggi.
"Untuk biaya infus biologisnya yang harganya selangit! Untuk obat-obatan yang harus dia minum seumur hidup! Kau pikir aku mau melakukan ini? Kau pikir ini mudah bagiku?"
"Tapi ada jalan lain! Kita bisa galang dana! Komunitas seniman—"
"Tidak ada waktu, Sar!" Amara memotong, air matanya tumpah.
"Luna sekarat di rumah sakit sekarang! Dia butuh obat yang lebih kuat minggu depan! Galang dana butuh waktu berminggu-minggu! Aku tidak punya waktu itu! Aku butuh uang sekarang!"
Sari berdiri, wajahnya merah oleh kemarahan dan kekecewaan.
"Jadi kau memilih jalan pintas. Kau membunuh Amara si seniman agar Amara si ibu bisa bertahan. Dan kau pilih itu tanpa bertarung dulu."
"Ini bukan jalan pintas! Ini pengorbanan!" teriak Amara, bangkit dari kursinya.
"Dan aku TELAH bertarung! Bertarung setiap hari dengan ketakutan, dengan angka-angka, dengan rasa bersalah! Kau tidak mengerti karena kau tidak punya anak yang bergantung padamu untuk tetap hidup!"
Kalimat itu melukai. Sari mundur selangkah, seperti kena tampar. "Jadi sekarang soal itu? Karena aku tidak punya anak, aku tidak bisa mengerti pengorbanan seorang ibu?"
"Bukan itu maksudku—"
"Tapi itulah yang kau katakan!" Sari menggeleng, matanya juga basah sekarang.
"Aku selalu ada untukmu, Mara. Melalui perceraian, melalui pameran, melalui segalanya. Tapi kali ini… kali ini kau membuat keputusan yang membunuh bagian terpenting dari dirimu."
"Dan kau ingin aku berdiri di sini dan bilang 'baik-baik saja'? Aku tidak bisa! Karena aku mengenal Amara si seniman itu, dan dia terlalu berharga untuk dijual seperti komoditas!"
"Maka kau memilih untuk tidak mendukungku?" tanya Amara, suaranya pecah.
"Aku mendukungmu sebagai seorang ibu! Tapi sebagai sahabatmu, sebagai seseorang yang melihatmu bangkit dari abu, aku TIDAK BISA menerima ini! Ada jutaan cara, Mara! Kita bisa menjual studio, kita bisa meminjam, kita bisa—"
"Studio A.M.R.A juga akan kujual," ucap Amara, datar. "Itu bagian dari deal. Mereka mau nama dan lokasinya untuk dijadikan 'konsep store'."
Sari terdiam, nafasnya tersengal. Dia memandang Amara seperti melihat orang asing.
"Jadi… sudah. Sudah selesai. Kau menghancurkan segalanya."
"Aku menyelamatkan anakku!"
"Dan kehilangan dirimu sendiri dalam prosesnya!" Sari mengangkat tangan, menyerah.
"Aku… aku tidak bisa. Aku perlu waktu." Dia mengambil tasnya, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan Amara sendirian di tengah kafe dengan air mata dan cangkir kopi yang sudah dingin.
Amara pulang ke apartemennya—sekarang terasa lebih kosong dari sebelumnya. Dia menelepon agen properti untuk secara resmi memasukkan studio A.M.R.A ke dalam pasar.
Dia mempacking barang-barang pribadi di studio: buku sketsa, pensil favorit, kain perca kenangan. Setiap benda terasa seperti mengucapkan selamat tinggal.
Malam harinya, dia mendapat pesan dari Edo: "Saya dengar dari Sari. Apakah ini benar?"
Amara membalas: "Iya. Aku tidak punya pilihan."
Beberapa menit kemudian, balasannya datang.
"Sebagai kurator, saya kecewa. Sebagai teman, saya patah hati. Tapi sebagai manusia, saya tidak bisa membayangkan keputusasaan yang mendorongmu sampai di sini. Saya menghormati keputusanmu, Amara."
"Tapi tolong ketahui: seni tidak akan pernah meninggalkanmu, meski kamu meninggalkannya untuk sementara. Semoga Luna cepat pulih."
Bukan kemarahan seperti Sari, tapi sebuah dukungan yang sedih dan memahami. Itu justru membuat Amara menangis lebih keras.
Dua hari kemudian, dana muka dari NOVAE masuk ke rekeningnya. Jumlahnya fantastis.
Amara segera mentransfer sebagian ke rekening bersama biaya Luna. Saat dia memberi tahu Rafa, dia hanya bisa mengangguk, wajahnya campur aduk antara lega dan kesedihan yang mendalam.
"Dengan ini, kita aman untuk beberapa tahun ke depan," kata Rafa.
"Ya," jawab Amara, kosong.
"Mara… aku tahu apa artinya ini bagimu. Terima kasih."
Jangan berterima kasih. Itu membuatku merasa seperti martir, dan aku tidak ingin menjadi martir. Aku hanya ingin menjadi ibu."
Amara menatapnya. "Tolong jangan pernah menyebutkan ini lagi. Anggap saja sebagai… kewajiban."
Dia pergi ke rumah sakit, duduk di samping tempat tidur Luna yang sudah lebih segar setelah menerima obat baru. Luna tersenyum padanya.
"Ma, katanya aku boleh pulang besok."
"Alhamdulillah, Sayang."
"Ma, kenapa mata kamu kayak habis nangis terus?"
Amara tersenyum, menyeka sudut matanya. "Karena Mama senang Luna bisa pulang."
Tapi dalam hati, dia tahu air mata itu juga untuk kematian lain. Kematian dari sebuah mimpi yang dia kira akan menjadi takdirnya.
Studio A.M.R.A akan segera menjadi milik orang lain. Karya "Fragments & Wholeness" akan dicetak di atas ribuan baju yang dijual di pusat perbelanjaan, jauh dari niat awalnya yang intim dan personal.
Dia memegang tangan Luna, menatap putrinya yang merupakan alasan segalanya.
Luna adalah karya hidupnya yang sesungguhnya. Dan mungkin, di tengah semua kehilangan ini, itulah satu-satunya kebenaran yang tersisa: bahwa kadang-kadang, untuk menyelamatkan satu jiwa, jiwa yang lain harus dilepaskan.
Bukan mati, tapi tertidur, menunggu di suatu tempat di dalam dirinya, berharap suatu hari nanti ada cukup cahaya dan ruang untuk bangun kembali.
Saat dia berjalan keluar dari rumah sakit malam itu, langit Jakarta tak berbulan. Gelap. Tapi dia tidak merasa sendirian dalam kegelapan itu.
Dia merasa seperti sebuah kapal yang telah membongkar muatan berharganya untuk tetap mengapung dalam badai. Kapal itu kini lebih ringan, tapi juga lebih hampa. Dan lautan di depannya masih sangat, sangat luas.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.