NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Tiga Jalan

Pendopo tua itu terasa semakin dingin. Lampu teplok mengitari tempat ritual. Bayangan tiang-tiang kayu panjang memanjang di lantai, seolah merayap perlahan mendekati tubuh Bima yang terbaring pucat di atas tikar pandan.

Tak ada yang berani bicara.

Hanya suara napas berat… Dan sesekali desir kain yang bergerak pelan ketika angin masuk dari halaman.

Mbah Kromo berdiri di belakang tubuh Kiara yang tak bergerak. Matanya terpejam, bibirnya komat-kamit mengucapkan mantra yang terdengar seperti bahasa kuno, nada rendah yang bergetar di udara, membuat bulu kuduk Aditya meremang.

Aditya menggenggam ponselnya erat.

Layar menyala… pesan terakhir untuk Bu Rina masih terbuka.

“Tante, kami pulang agak malam ya. Lagi ada urusan penting.”

Ia menatap pesan itu lama. Jemarinya sempat ragu, ingin menambahkan sesuatu… ingin jujur… Tapi akhirnya ia mematikan layar.

“Kalau Tante Rina tahu… Dan ngasih tahu om Rahmat” gumamnya pelan. “Mereka pasti bakal langsung ke sini.”

Pak Arman duduk bersandar pada tiang pendopo, menatap putranya tanpa berkedip. Wajah pria itu pucat… Matanya sembab seolah belum tidur berhari-hari.

Om Hardi yang duduk di sebelahnya menepuk pundaknya perlahan. “Mas… Tarik napas dulu.”

Pak Arman menggeleng lemah. “Aku ini ayahnya… Tapi malah anak orang lain yang harus mempertaruhkan nyawa buat nyelamatin dia.”

“Jangan ngomong begitu,” jawab Om Hardi pelan. “Kiara datang karena dia mau. Bukan karena dipaksa.”

“Tetap saja…” suara Pak Arman pecah. “Seharusnya aku yang bisa melindungi anakku. Bukan… Menunggu seperti ini.”

Hening kembali jatuh.

Aditya menoleh ke arah tubuh Kiara. Wajah sepupunya tampak damai… Terlalu damai untuk situasi seperti ini. Tangannya terlipat di atas pangkuan… Keris kecil masih terselip di pinggangnya.

Ia menelan ludah. “Mbah… Mereka baik-baik saja kan?”

Mantra Mbah Kromo tidak berhenti… Tapi beberapa detik kemudian pria tua itu menjawab pelan tanpa membuka mata. “Jalan mereka berat… Tapi belum putus.”

Kalimat itu tidak terlalu menenangkan… Tapi cukup membuat Aditya bernapas sedikit lebih lega.

Tiba-tiba tubuh Bima bergetar kecil.

Pak Arman langsung bangkit. “Bima!”

Mata anak itu tetap terpejam… Tapi napasnya berubah cepat… Seperti orang yang sedang berlari dalam mimpi buruk.

Mbah Kromo membuka matanya. “Jangan disentuh!” tegasnya.

Pak Arman membeku.

Dari sela bibir Bima… Keluar bisikan lirih… nyaris tidak terdengar.

“Kiara…”

Semua orang saling menatap.

Aditya merasakan jantungnya berdetak lebih keras.

Di alam ghaib…

Kabut ungu semakin tebal di sekitar tiga cabang jalan itu. Sosok-sosok diam di tiap jalur tidak bergerak… Tapi aura mereka terasa menekan seperti dinding tak kasat mata.

Kiara menutup mata lagi… Mencoba mencari denyut hangat jiwa Bima.

Tidak ada.

Hanya gema dingin… Dan bisikan samar yang merayap di telinganya.

Sky berdiri di sampingnya. “Kamu terlalu tegang. Kalau kamu maksa… Kamu malah kehilangan arah.”

“Aku nggak punya waktu buat santai,” jawab Kiara cepat. “Setiap detik di sini… Tubuh Bima di dunia nyata makin lemah.”

Sky menatapnya lama. “Kalau kamu runtuh… Kita malah nggak akan nemuin dia sama sekali. Atau paling parahnya kita gak bisa balik”

Kiara menghela napas panjang. Tangannya bergetar sedikit… Tapi ia mencoba menenangkan diri.

Ia membuka mata dan menatap tiga jalan itu.

Jalan kiri… Dipenuhi kabut tebal yang bergerak seperti ombak.

Jalan tengah… Lurus dan kosong… Terlalu kosong.

Jalan kanan… Dipenuhi bayangan pohon melengkung yang tampak seperti tangan-tangan raksasa.

“Aku benci pilihan begini,” gumamnya.

Tiba-tiba salah satu sosok di jalan tengah bergerak.

Seorang pria tua dengan pakaian adat hitam melangkah maju. Wajahnya tanpa ekspresi… dan hidungnya datar tanpa philtrum.

Sky langsung berbisik, “Jangan lihat.”

Tapi pria itu tetap mendekat… Langkahnya pelan… Terlalu pelan.

“Kalian tersesat…” katanya datar. “Aku bisa membantu.”

Kiara menatap lurus ke depan… Berusaha mengabaikan.

“Kalian mencari seseorang… Seorang laki-laki muda…” lanjut sosok itu.

Langkah Kiara hampir berhenti.

Sky menekan lengannya pelan. “Fokus.”

Sosok itu tiba-tiba berdiri tepat di depan mereka. “Ikut aku. Dia ada di jalan ini.”

Udara berubah dingin.

Kiara merasakan sesuatu janggal… Aura sosok itu kosong… Tidak seperti manusia.

Ia menelan ludah… Lalu berjalan lurus… Menabrak tubuh sosok itu.

Tubuh pria itu bergetar… Lalu retak seperti kaca… Sebelum menghilang menjadi kabut hitam.

Dari ketiga jalan… Terdengar tawa bersahut-sahutan.

Kiara meremas keris di pinggangnya. “Mereka makin agresif.”

Sky mengangguk. “Artinya kita makin dekat.”

Kiara menutup mata lagi.

Kali ini… Ia tidak mencari aura Bima secara luas.

Ia mengingat suaranya… Tawanya… Cara dia mengeluh soal kopi pahit… Cara dia selalu bercanda di situasi serius.

Hangat.

Samar… Tapi muncul.

“Ke kanan,” bisiknya. “Aura hangatnya… bercampur rasa sakit… Tapi dari sana.”

Mereka melangkah ke jalan kanan.

Pohon-pohon tinggi melengkung seperti tulang rusuk. Tanah di bawah kaki terasa lembek… seolah bernapas.

Semakin jauh mereka berjalan… Semakin berat udara yang harus dihirup.

Tiba-tiba suara rantai bergema… Jauh di dalam hutan.

Kiara berhenti. “Kamu dengar?”

Sky mengangguk.

Suara itu… Denting besi yang diseret… Disertai gema pukulan berat.

Langkah mereka semakin cepat.

Tapi kabut di depan tiba-tiba membentuk dinding tinggi. Dari dalam kabut… Muncul sosok-sosok berjubah gelap… Wajah mereka tertutup bayangan.

Salah satu dari mereka menunjuk Kiara.

“Manusia…” desisnya.

Udara berubah menekan.

Sky langsung berdiri di depan Kiara. “Kita nggak cari masalah.”

Sosok-sosok itu tidak bergerak… Tapi tanah di sekitar mereka mulai retak… Dan tangan-tangan hitam muncul dari bawah.

Kiara mencabut kerisnya.

“Sky… Kita harus lewat.”

Sosok pertama menyerang,tangan panjang menjulur seperti bayangan cair.

Kiara menangkis dengan keris. Begitu bilah keris menyentuh tangan itu… Bayangan tersebut menguap seperti asap.

“Jangan berhenti!” seru Sky.

Mereka berlari menerobos.

Bisikan memenuhi kepala Kiara.

“Berbaliklah…”

“Kau tidak akan berhasil…”

“Kau akan mati di sini…”

Ia menggertakkan gigi. “Bima… Tunggu aku.”

Tiba-tiba aura hangat itu muncul lagi.

Kali ini lebih kuat.

Tepat di depan… Kabut terbuka… Memperlihatkan gerbang batu raksasa yang tertutup simbol merah menyala.

Dari balik gerbang… Terdengar teriakan tertahan.

Kiara membeku. “Itu dia…”

Tapi sebelum mereka mendekat… Tanah bergetar.

Aura panas… Berat… Dan mengintimidasi muncul dari belakang mereka.

Sky menegang. “Kita punya tamu.”

Kiara menoleh.

Dari balik kabut… Muncul sosok tinggi dengan mata merah menyala… rambut panjang terurai… aura gelap yang menekan udara.

Bara.

Pangeran genderuwo itu tersenyum tipis. “Jadi… Manusia itu benar-benar datang.”

Kiara mengangkat kerisnya. “Lepaskan dia.”

Bara menatapnya… Lalu tertawa pelan. “Kau berani sekali… Masuk ke wilayahku hanya dengan satu keris kecil.”

Sky berdiri di samping Kiara. “Kita cuma perlu satu celah.”

Mata Bara beralih ke Sky. “Arwah yang masih terikat pada dunia fana… Menarik.”

Udara semakin panas.

Kiara merasakan lututnya hampir goyah… Tapi ia menolak mundur.

“Aku nggak datang buat negosiasi,” katanya tegas. “Aku datang buat pulang… Bersama Bima.”

Bara melangkah maju satu langkah… Dan tanah di sekitar mereka retak.

“Kalau begitu…” katanya pelan. “Tunjukkan… Seberapa jauh manusia mau melangkah demi orang yang mereka sayang.”

Kabut di sekeliling mereka berubah menjadi lingkaran… Menutup jalan keluar.

Sky berbisik pelan, “Kiara… Apapun yang terjadi… Jangan kehilangan fokus. Aura Bima ada di balik gerbang itu.”

Kiara mengangguk.

Ia menarik napas panjang… Merasakan hangat samar dari balik dinding batu… Dan rasa sakit yang menyertai denyutnya.

“Bertahan ya…” bisiknya pelan.

Di dunia nyata… Tubuh Kiara di pendopo tiba-tiba bergerak kecil… Seolah merespon sesuatu dari jauh.

Mbah Kromo membuka mata lebar. “Mereka sudah bertemu penjaga wilayah…”

Pak Arman menegang. “Apa itu berarti…?”

Mbah Kromo tidak langsung menjawab.

Ia menatap Kiara… Lalu Bima… alu langit yang malam yang pekat.

“Artinya…” katanya pelan, “Pertarungan sesungguhnya… Baru saja dimulai.”

Dan di alam ghaib… Di depan gerbang penjara ghaib…

Seorang manusia…

Seorang arwah…

Dan seorang pangeran kegelapan…

Berdiri berhadapan…

Sementara waktu terus berjalan… Tanpa belas kasihan.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!