NovelToon NovelToon
Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Status: tamat
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Action / Anime / Sci-Fi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: rexxy_

​"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
​Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
​Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
​Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Pintu Tanpa Bayangan

Mobil yang dikendarai Mona melambat saat kami memasuki area Fushimi Inari Taisha. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang dari ribuan gerbang Torii merah yang berbaris rapi mendaki gunung.

Suasana di sini terasa sangat sakral, seolah setiap jengkal tanahnya menyimpan rahasia yang tak tersentuh waktu.

"Kita sampai," bisik Mona sambil memarkirkan mobil di sudut tersembunyi yang jauh dari jangkauan kamera pengawas utama.

Kami turun dengan waspada. Aku menggenggam koin perunggu itu di dalam saku, dan anehnya, koin itu mulai berdenyut hangat tepat saat kakiku menginjak lantai batu kuil. Sayuri berjalan di sampingku, ia menatap barisan gerbang merah itu dengan perasaan dejavu yang kuat.

"Alexian, Koinnya!" bisik Miyuki.

Aku mengeluarkan koin itu. Lubang perseginya kini memancarkan cahaya jingga tipis. Cahaya itu tidak berpendar ke segala arah, melainkan membentuk satu garis lurus seperti kompas, menunjuk ke arah barisan gerbang yang paling sunyi di jalur mendaki.

"Itu petunjuknya. Ayo," instruksiku.

Kami berjalan mendaki menaiki anak tangga, melewati ratusan gerbang merah. Semakin tinggi kami mendaki, kerumunan turis semakin menghilang, digantikan oleh keheningan hutan yang lebat.

Cahaya matahari mulai kesulitan menembus celah-celah gerbang. Hingga akhirnya, di sebuah percabangan jalan yang tidak ada di peta wisata, koin itu bergetar hebat.

"Berhenti!!," kataku.

Di depan kami ada satu gerbang Torii yang tampak sangat tua, kayunya sudah menghitam namun tetap berdiri kokoh.

Anehnya, meskipun matahari berada di posisi yang seharusnya menciptakan bayangan, gerbang ini sama sekali tidak memiliki bayangan di tanah. Tanah di bawahnya tetap terang.

"Wah....Mustahil," gumam Mona takjub.

Aku melangkah maju bersama Sayuri. Saat kami berdiri tepat di bawah gerbang itu, koin di tanganku terlepas dan melayang, masuk dengan pas ke dalam sebuah celah kecil di tiang kayu gerbang tersebut.

Deg!

Sebuah getaran merambat ke seluruh area. Udara di depan kami beriak seperti air. Perlahan, sebuah ruang dimensi terbuka, mengikuti Koin yang sudah kembali lagi di tanganku menyingkapkan sebuah jalan setapak rahasia yang tidak menuju ke puncak gunung, melainkan menuju ke sebuah lembah tersembunyi yang dipenuhi bunga sakura yang mekar abadi warna yang sama dengan senja di mimpi Sayuri.

"Di sana... itu rumah kami," tunjuk Miyuki dengan suara bergetar.

Di ujung lembah itu berdiri sebuah rumah tradisional Jepang (Minka) yang megah namun tampak sangat sunyi. Rumah itu seolah-olah diletakkan di dalam gelembung waktu agar tidak bisa ditemukan oleh The Eraser.

"Ayo, sebelum pintunya tertutup kembali," ajakku.

Kami berlari menembus gerbang itu. Begitu kaki kami menginjak rumput di lembah tersebut, suasana berubah menjadi sangat damai. Tidak ada suara mesin, tidak ada dengungan drone. Hanya suara gemericik air dan angin yang berbisik.

Kami berdiri di depan pintu kayu rumah besar yang tampak sunyi itu. Di papan nama kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia, tertulis dengan jelas: "Keluarga Haruki".

​Sayuri mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh permukaan pintu itu. Air matanya pecah saat itu juga.

​"Ayah... Ibu... Kakek... aku pulang," bisiknya pelan.

​Mendengar suara Sayuri yang bergetar menahan tangis, hatiku terasa seperti diremas hebat. Ada sesak yang tak terbendung, membuatku ikut menundukkan kepala saat air mataku jatuh membasahi pipi.

​Anehnya, rumah ini tidak terasa asing. Seolah-olah setiap sudutnya pernah merekam jejak kakiku. Aku merasa seperti seseorang yang baru saja kembali ke rumah setelah pengembaraan yang terlampau lama.

​Aku segera mengusap rambut Sayuri, lalu merengkuh tubuhnya ke dalam dekapanku. Aku memeluknya erat, berharap rasa sesak di hatinya bisa sedikit terbagi ke pundakku.

​"Kau sudah pulang, Sayuri," ucapku dengan suara berat, berjuang mati-matian agar tidak terisak.

​Di belakang kami, Ken, Mona, dan Miyuki hanya terdiam. Keheningan mereka terasa begitu berat, seolah mereka pun ikut merasakan duka yang menyelimuti teras rumah itu. Di tengah suasana itu, aku memberanikan diri bertanya, sesuatu yang selama ini menjadi tanya besar bagiku.

​"Apakah... Ayah dan Ibumu ada di dalam, Sayuri?"

​Sayuri melepaskan dekapanku perlahan, jemarinya beralih menyentuh lembut gagang pintu yang dingin.

​"Orang tuaku sudah lama meninggal, Alexian. Sejak aku dan Miyuki masih sangat kecil," jawabnya pelan.

​"Ayah pergi karena kecelakaan, sementara Ibu... beliau meninggal saat melahirkan Miyuki," lanjut Sayuri. Kalimat itu menghantamku seperti hantaman batu. Aku tertegun melihat ke arah Miyuki yang menunduk dalam.

​"Sejak itu, aku dan Miyuki diasuh oleh Kakek. Sampai akhirnya perjodohan paksa dengan Kaito menghancurkan segalanya... dan membuat Kakek juga pergi meninggalkan kami."

​Pada titik ini, aku baru menyadari sepenuhnya. Pantas saja selama ini mereka tidak pernah membahas tentang orang tua. Mereka hanya memiliki satu sama lain, dan Kakek adalah satu-satunya pelindung yang mereka punya sebelum dunia mereka dirampas oleh The Eraser.

Namun, saat pintu itu dibuka Sayuri, kami menemukan rumah yang sudah berdebu dengan jaring laba-laba menghuni tiap sudut ruangan. Di tengah ruangan utama, di atas lantai tatami, sebuah proyektor kuno tiba-tiba menyala sendiri, memancarkan gambar hologram seorang pria tua yang sedang duduk tenang Kakek Sayuri.

"Jika kalian bisa membaca pesan ini, artinya 'Saksi Kecil' telah membawa kembali 'Mimpi' ke rumahnya," suara hologram itu menggema.

Aku terpaku. Hologram kakek itu menatap tepat ke arahku, seolah-olah ia bisa melihatku melampaui waktu.

"Alexian... kau pasti bingung kenapa ingatanmu tidak logis. Jangan mencari jawabannya di kalender dunia nyata, tapi carilah di dalam darah yang kau berikan pada Sayuri. Kebenaran tentang siapa dirimu yang sebenarnya tersimpan di dalam brankas di bawah lantai ini."

1
rexxy_
Terima Kasih banyak kak, Saya selaku Author sangat senang atas pujian kakak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
𝓗ᥲᥱᥣִᥱᥲꤪꤨꤪᥒᥲ.𝜗𝜚
karyanya bagus btw mampir yah di novelku 🤭
Roulina Damanik
1. Check-in : Melaporkan kehadiran di suatu tempat (hotel/ bandara).

2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.
rexxy_: Terima kasih atas Saran anda.
Saya selaku penulis meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulisan saya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!