Kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi pelayan pebisnis misterius dan kejam agar organ tubuhnya tidak dijual oleh pria itu akibat ulah ibunya sendiri.
Namun, ia tetap berusaha melarikan diri dari sangkar Tuannya.
Sebuah rahasia besar sang CEO terkuak saat pelayan itu hadir dalam kehidupannya yang membuat pria itu marah besar dan berencana membuat hancur kehidupan gadis itu.
Bagaimana kelanjutan cerita mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alensvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Larangan Damian
Anna baru saja selesai menyusun kembali peralatan dapur mendengar suara ponselnya menggema di atas meja. Ia melirik layar yang menyala itu namun napasnya seketika tercekat. Nama yang tertera di layar membuat tubuhnya menegang.
"Ibu.." bisiknya hampir tak percaya.
Tangannya sedikit gemetar saat ia mengangkat panggilan itu. Ia bahkan tak sempat berpikir, hanya mengikuti dorongan hatinya.
"Halo..?" suaranya bergetar, antara rindu dan takut. Bagaimana pun juga, Anna tetaplah anak yang baik.
"Anna! Kau akhirnya mengangkat teleponku!" suara ibunya terdengar penuh kepanikan, namun juga...tuntutan. "Kau harus membantuku. Aku butuh uang. Cepat kirimkan sebelum terlambat."
Jantung Anna mencelos. U sudah menduga tapi tetap saja hatinya mencubit perih.
"Jangan diam saja, Anna! Kau pikir bisa hidup enak begitu saja? Aku ibumu! Kau punya kewajiban untuk membantuku!"
Anna menggigit bibirnya mencoba mengendalikan perasaannya. Ia memang kesal, tapi dilubuk harunya, ini tetap ibunya. Dan ia tak bisa begitu saja menutup mata.
Namun sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba ponselnya direbut oleh tangan yang lebih besar—Damian.
"Hei wanita gila, berhenti menelponnya!" seru Damian lalu mematikan telepon itu sepihak dan membanting ponsel itu ke atas meja. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup dengan emsoi yang membara.
"Jangan pernah kau angkat telepon darinya lagi," suaranya dingin penuh ketegasan yang menekan.
Anna tersentak menatap Damian dengan mata membulat. "Damian.. Itu ibuku.."
"Ibu?" Damian mendengus sinis, menatapnya tajam.
"Ibu macam apa yang menjual anaknya sendiri?"
Anna menggigit bibirnya. Ia tahu Damian benar. Ibunya memang telah menyerahkannnya begitu saja demi yang. Tapi tetap saja, ia merasa bertanggungjawab sebagai anak atau karena sudah terbiasa ditanamkan pemikiran seperti ini oleh orangtuanya.
" Dia masih ibukku," gumam Anna dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Damian menghembuskan napas kasar. Tangannya bertumpu pada meja bar, menahan amarah yang mendidih dalam dadanya.
"Aku tidak peduli." ujarnya tajam.
"Mulai sekarang, kau tidak akan berurusan lagi dengannya. Dan aku tidak ingin melihatmu menyisihkan satu sen pun untuk wanita itu."
Anna menatapnya nanar. "Tapi, dia butuh bantuan.."
Damian langsung mencangkup wajahnya dengan kedua tangan, menatapnya tajam membuat Anna tak bisa berpaling.
"Dengar, Anna. Jika kau masih memikirkan wanita itu, aku kan membuatnya mustahil bagimu untuk berkomunikasi dengannya lagi."
Anna terdiam. Ada ketegasan sekaligus kepedihan dalam mata Damian. Seolah ia mengerti betul bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi keluarga sendiri.
" Dia sudah menjualku padaku. Kau masih ingin kembali padanya?" suara Damian lebih lembut kali ini. Seperti seseorang yang tak ingin melihat oranglain jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Anna tak bisa menjawab. Ia hanya bisa menunduk menggenggam ujung bajunya sendiri berusaha meredam pergulatan hatinya.
Sementara itu, Damian menghela napas panjang berusaha meredakan emosinya. Tapi satu hal yang ia tahu pasti, ia takkan membiarkan Anna kembali tersakiti oleh ibunya sendiri—seperti yang dilakukan seseorang padanya dulu.
...****************...
Anna meregangkan tubuhnya, ia baru saja selesai mandi dan mengeringkan rambutnya. Setelah berjalan 6 bulan lamanya, Anna benar-benar sudah merasa santai. Ia tak lagi khawatir Damian akan membunvhnya atau semacamnya. Damian telah berubah setidaknya sedikit.
Tok.. Tok..
"Siapa?" tanya Anna ketika mendengar suara ketukan dikamarnya.
Namun belum sempat ia melangkah, pintu terbuka begitu saja. Damian masuk dengan langkah santai tanpa ragu.
Anna terbelalak. "Damian?!"
Tanpa menjawab, pria itu langsung berjalan menuju ranjang Anna dan merebahkan dirinya sendiri seolah itu kamarnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan? Ini kamarku, Damian." Anna menghamburkan mendekatinya, menatapnya dengan ekspresi penuh protes.
Damian hanya menutup matanya sejenak. "Tidur saja, aku takkan macam-macam." gumamnya pelan.
Anna melongo. "Damian, kau tak bisa seenaknya tidur disini!"
Damian tetap bergeming, kedua tangannya bertumpu dibelakang kepalanya. Tubuhnya tampak begitu rileks ditempat tidur yang seharusnya bukan miliknya.
"Anna, kau lupa? Seluruh ditempat ini, milikku. Termasuk dirimu."
.
.
Next👉🏻
(Terima kasih ya sudah membaca. Hidup lebih lama💕)
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩