NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Nadir Kelelahan

Udara di ruang rapat lantai lima belas itu terasa seperti disedot habis oleh mesin pendingin ruangan yang menderu rendah. Cahaya lampu neon yang terlalu terang memantul di atas meja kaca oval, menciptakan kilatan-kilatan tajam yang menusuk pupil mata Raisa. Sejak dua jam yang lalu, Raisa berdiri di samping layar proyektor, memegang laser poin dengan jemari yang terasa dingin dan kaku—hampir mati rasa.

Kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang tidak beraturan. Rentetan lembur selama tiga malam terakhir, ditambah tekanan mental dari "sidang" tidak resmi Pak Surya soal tas mewahnya, telah menguras habis cadangan energi di tubuhnya. Raisa bisa merasakan butiran keringat dingin mulai merembes di balik blazer cokelatnya, mengalir perlahan di punggungnya yang tegang.

"Selanjutnya, pada diagram pertumbuhan kuartal ketiga ..." suara Raisa bergetar. Ia berdehem, mencoba menjernihkan tenggorokannya yang terasa kering seperti padang pasir. "Kita bisa melihat adanya anomali pada data pengadaan barang yang ...."

Kalimatnya menggantung. Pandangannya mendadak goyah. Barisan angka di layar proyektor tampak mencair, saling tumpang tindih menjadi bercak hitam yang menakutkan.

Raisa memejamkan mata sejenak, berharap pusing hebat ini segera berlalu, namun saat ia membukanya kembali, ruangan itu seolah berputar 180 derajat.

Di ujung meja, Arash duduk dengan pose andalannya, punggung tegak, tangan tertaut di bawah dagu, dan tatapan yang menghujam. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Raisa dengan intensitas yang mencekam. Ia melihat bagaimana napas Raisa mulai pendek-pendek dan bagaimana wajah wanita itu berubah dari pucat menjadi seputih kertas semen.

"Nona Raisa," suara Arash memotong, dingin dan tajam seperti silet. "Kau berhenti di tengah kalimat. Apakah data yang kau sajikan begitu meragukan sampai kau sendiri bingung menjelaskannya?"

Pak Surya, yang duduk di sisi kiri, mendengus pelan, seolah menikmati kesulitan Raisa. "Mungkin Nona Raisa terlalu sibuk mengurusi hal lain di luar pekerjaan, Pak Arash, sehingga fokusnya terbagi."

Raisa mencengkeram pinggiran meja kaca itu hingga kukunya memutih. "Maaf, Pak Arash. Saya akan lanjut ... Pada data pengadaan ...."

Raisa mencoba melangkah, namun kakinya terasa seberat timah. Lantai granit di bawahnya mendadak terasa empuk seperti awan, goyang, dan tidak stabil. Suara-suara di dalam ruangan itu mulai terdengar menjauh, seperti suara yang berasal dari bawah air. Ia bisa melihat bibir Pak Surya bergerak-gerak memberikan kritik, namun tak ada satu pun kata yang masuk ke otaknya.

Jangan sekarang, kumohon jangan di sini, batin Raisa menjerit.

Arash menyipitkan mata. Ia menyadari ada yang salah. Raisa tidak hanya gemetar, tubuh wanita itu mulai limbung ke arah samping. Namun, egonya sebagai CEO di depan para petinggi divisi membuatnya tetap mematung. Ia tidak boleh menunjukkan kepedulian yang berlebihan.

"Nona Raisa, jika kau tidak sanggup melanjutkan, katakan sekarang. Jangan membuang waktu kami dengan berdiri diam seperti patung," ujar Arash lagi, nadanya semakin keras, meski di dalam hatinya ada dorongan kuat untuk melompat dari kursinya.

Raisa menoleh ke arah Arash. Saat itulah, mata mereka bertemu. Di mata Raisa, Arash melihat kabut keputusasaan yang murni. Pupil mata wanita itu melebar, dan sedetik kemudian, laser poin di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi yang tak nyaring, menggelinding hingga ke bawah meja.

Tubuh Raisa merosot. Lututnya menghantam lantai terlebih dahulu sebelum punggungnya membentur kaki standing proyektor.

"Raisa!" teriak Maya dari ujung meja, spontan berdiri.

Ruangan itu mendadak ricuh. Beberapa staf berdiri dengan wajah panik. Pak Surya tampak terkejut, sementara Arash ... Arash tetap duduk. Tangannya mencengkeram sandaran kursi kulitnya begitu erat hingga material kulit itu berderit. Wajahnya tetap datar, topeng esnya terpasang sempurna, meski rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Arash berdiri perlahan, memancarkan aura otoritas yang menenangkan keributan dalam sekejap. "Semua kembali ke tempat duduk kalian," perintahnya dengan suara bariton yang berat dan tenang.

Ia melangkah mendekati Raisa yang kini terduduk lemas di lantai, menyandarkan kepalanya pada dinding dengan mata setengah tertutup. Raisa mencoba bernapas, namun dadanya terasa sesak. Ia melihat bayangan Arash yang tinggi menjulang di depannya, menutupi cahaya lampu yang tadi menyiksanya.

Arash berjongkok di depan Raisa. Ia tidak menyentuhnya dengan lembut. Ia justru mencengkeram bahu Raisa sedikit kasar, memaksa wanita itu menatapnya. "Buka matamu, Raisa," desisnya, cukup pelan agar tidak terdengar yang lain, namun cukup keras untuk menyentak kesadaran Raisa.

"Maaf ... saya ... pusing ..." bisik Raisa lemah.

Arash berdiri kembali, menatap para bawahannya dengan pandangan dingin yang membuat siapa pun tidak berani bertanya. "Rapat hari ini selesai. Tinggalkan berkas kalian di meja. Saya tidak butuh presentasi dari orang yang tidak tahu cara menjaga kondisi fisiknya sendiri."

"Tapi Pak Arash, laporannya belum selesai," sela Pak Surya ragu.

"Apakah saya perlu mengulang kalimat saya, Pak Surya?" Arash menoleh, tatapannya begitu mematikan hingga Pak Surya segera merapikan tasnya dan bergegas keluar.

Dalam waktu kurang dari dua menit, ruangan itu kosong. Hanya tersisa Arash dan Raisa yang masih bersandar di lantai. Begitu pintu tertutup rapat dan terkunci, pertahanan Arash runtuh.

Ia segera berlutut kembali, kali ini tangannya bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Ia menyentuh dahi Raisa dengan punggung tangannya. "Sial, kau terbakar," umpatnya saat merasakan panas yang ekstrem menjalar ke kulitnya.

"Aku bisa ... lanjut ..." Raisa mencoba berdiri, namun kepalanya terkulai ke dada Arash.

Arash mengembuskan napas panjang yang penuh rasa frustrasi. "Diamlah. Kau sudah mengacaukan rapatku, jangan tambah lagi dengan bicara omong kosong."

Arash menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Raisa dan lengan lainnya di bawah punggungnya. Dengan satu gerakan kuat, ia mengangkat tubuh ringan itu ke dalam dekapannya.

Raisa tidak melawan, ia terlalu lemah untuk sekadar membuka mata. Kepalanya bersandar di ceruk leher Arash, menghirup aroma sandalwood yang biasanya mengintimidasi, namun kini terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegelapan.

Arash membawa Raisa menuju pintu keluar pribadi yang terhubung langsung ke koridor lift VIP. Ia tidak memedulikan jika ada staf yang melihat melalui celah kaca—saat ini, nyawa dan kesehatan wanita di pelukannya jauh lebih penting daripada rahasia apa pun.

"Dengar," Arash berbisik di telinga Raisa saat mereka berada di dalam lift yang sunyi. "Ini terakhir kalinya kau bersikap bodoh dengan memaksakan diri. Jika kau pingsan dan mati, siapa yang akan membayar utang ayahmu padaku, hah?"

Raisa tidak menjawab. Ia hanya bisa merasakan detak jantung Arash yang berdegup kencang di balik kemeja mahalnya. Detak jantung yang sangat cepat, seolah-olah pria es itu sedang berlari maraton, atau mungkin ... sedang ketakutan setengah mati.

Arash membawa Raisa keluar menuju parkiran, memasukkannya ke kursi penumpang dengan sangat hati-hati—berbanding terbalik dengan kata-kata kasarnya. Ia memasangkan sabuk pengaman, memastikan kepala Raisa bersandar nyaman, lalu ia melajukan mobilnya membelah kemacetan kota menuju apartemen.

Di sepanjang jalan, Arash terus melirik Raisa yang memejamkan mata dengan napas yang mulai memberat. Tangannya yang bebas sesekali menggenggam tangan Raisa yang dingin, hanya untuk memastikan wanita itu masih bersamanya.

"Jangan berani-berani menutup matamu terlalu lama, Raisa," gumam Arash pada kesunyian jalanan. "Kita belum selesai dengan kontrak ini. Kau dengar? Belum selesai."

Namun di dalam hatinya, Arash tahu, tembok es yang selama ini ia bangun setinggi langit untuk membentengi perasaannya, baru saja mendapatkan retakan besar yang pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!