Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Vania dan kedua asistennya adalah sampai di rumah pada pukul sembilan pagi. Wajah ketiganya terlihat lesu dan agak mengantuk usai melewati perjalanan yang jauh. Untung saja pintu rumah terbuka sehingga mereka bisa masuk dan bergegas menuju ke kamar masing-masing. Sementara pak sopir yang mengantar mereka membawa koper tiga gadis itu bersama dengan asisten rumah tangga baru Vania.
Belum sampai ke kamar, Vania tertegun begitu melihat mainan anak yang berhamburan di ruang tengah. Vania menjadi geram dengan pemandangan mainan anak yang berhamburan itu. Sudah pasti mainan ini milik anak perempuan asisten rumah tangga barunya. Vania lantas menarik ujung baju yang dikenakan Rika, tentu saja Rika bisa menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak tersungkur ke belakang.
"Ada apa, Van? Bisa kan nggak usah narik bajuku."
"Maaf, Mbak tolong bilangin ke bibi, apapun yang berbau anak-anak aku nggak suka, apalagi sampai melihat mainan yang berantakan kayak gini. Aku minta tolong mbak bilangin ke bibi ya."
"Ya Tuhan, Vania aku kira ada apa. Iya nanti aku bilangin ke bibi."
Vania mengernyit kesal." Kok nanti? Sekarang aja toh, kalau nanti takut lupa."
"Aku capek toh, Van. Yo nanti aja, kita istirahat dulu."
"Pokoknya gak mau tau, tolong bilangin bibi supaya beresin mainannya sekarang! Anaknya kalau mau main, ya di kamarnya aja."
"Iyaa, Van."
Vania mengambil tas selempangnya dan berlari kecil ke kamar. Ia masuk ke kamar menyalakan lampu dan menutup pintu dengan rapat. Vania mengambil remote AC agar kamarnya jadi lebih sejuk. Ia menaruh tas nya di kursi rias.
Vania membaringkan tubuhnya di kasur, pandangannya menatap lekat langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang. Ia lantas kembali mengubah posisinya menjadi duduk, tangannya berusaha menggapai tas selempang yang tadi ia simpan di kursi rias. Setelah berhasil mendapatkannya, ia mengeluarkan ponsel lamanya dari sana. Ponsel yang sudah beberapa hari ini tidak di gunakan, kembali ia nyalakan. Sontak begitu data selulernya menyala bebagai notifikasi membanjiri ponselnya, karena itu ponselnya agak sulit untuk di kendalikan.
Setelah lama menunggu, akhirnya ponselnya kembali normal. Ia melihat akun sosmednya. Ia menggulir akun sosmednya dan menghapus setiap foto maupun Video yang bersangkutan dengan Deo. Sambil menghapus, ia jadi teringat masa dimana mereka saling mengenal.
Flashback
Vania asik membaca novelnya sembari meminum es kopi dan juga kue di depannya, ia sengaja duduk di dekat jendela agar bisa melihat ke arah luar dengan mudah. Tiba-tiba di tengah kegiatannya, seorang pria duduk di meja yang sama dengannya. Sontak Vania tertegun melihat laki-laki itu duduk di meja yang sama dengannya tanpa permisi, dengan santainya laki-laki itu menaruh hidangannya di meja.
Menyadari Vania yang memperhatikannya, laki-laki itu pun memandang Vania dan tersenyum.
"Saya duduk di sini ya, mbak."
Vania hanya mengangguk saja, kemudian ia melanjutkan kembali kegiatan membacanya.
" Sendirian aja, mbak?" tanya pria itu.
"Iya, mas. Saya lagi pengen jalan-jalan sendiri aja. Mas sendiri?"
"Ah, saya juga sendirian. Kebetulan saya baru selesai bekerja."
Vania mengangguk, lantas menutup novelnya, lini perhatiannya sepenuhnya beralih pada laki-laki itu." Mas kerja di sekitar sini?"
Laki-laki itu terdiam sejenak." Eum, sebenarnya saya saya pemilik cafe ini. Mbak ini bukannya influencer yang suka buat konten kecantikan itu kan?"
"Ah, iyaa. Mas tau saya?"
"Ah begitu, ternyata benar dugaan saya, nama kamu Vania, benar?"
Vania mengangguk." Iya saya Vania."
"Salam kenal, saya Deo. Saya selalu lihat konten kamu. Kamu luar biasa karena bisa membuat konten sekreatif itu. Ternyata jika dilihat secara langsung, wajah kamu lebih cantik daripada dilihat di sosial media."
Vania tersenyum kecil." Terimakasih atas pujiannya."
"Sama-sama, saya boleh minta nomor kamu?"
"Ah maaf, mas kalau itu saya gak bisa kasih. Kalau begitu kita memutuskan di sosial media aja."
"Yasudah kalau begitu."
Aku terus berjalan, meski terhalang oleh jarak, komunikasi antara Deo dan Vania semakin intens. Deo semakin menunjukkan sikap romantisnya kepada Vania. Vania yang semula dikenal sebagai gadis yang cuek dan hanya menganggap laki-laki tak lebih dari teman lama-lama luluh dengan perlakuan Deo. Berawal dari perkenalan yang tidak sengaja, lama-lama tumbuh menjadi cinta.
Deo datang di kehidupan Vania secara tidak terduga, membawakan cinta dan disambut baik bahwa hati Vania. Deo berhasil menaklukkan Vania yang sama sekali belum pernah merasakan jatuh hati. Deo sampai melakukan Vania kayaknya ratu. Setelah hubungan mereka di publish, para penggemar Vania terbawa perasaan yang mendukung kisah cinta keduanya.
Sampai pada hari di mana Deo menunjukkan keseriusannya dengan bertunangan dengan Vania, meski tanpa orang tua Vania merayakan acara pertunangannya dengan ceria. Deo sangat pandai merangkai kata cinta sehingga membuat Vania terlena.
Cincin pertunangan keduanya telah tersemat di jari manis masing-masing. Hubungan keduanya yang bisa dibilang singkat dan langsung beralih ke jenjang yang lebih serius membuat hubungan mereka jadi bahan pembicaraan para penggemarnya. Hingga pada akhirnya semua kebahagiaan itu sirna karena pengkhianatan yang dilakukan Deo terhadapnya.
..
Vania sadar meskipun dirinya telah dikhianati oleh Deo, dia pernah sebahagia itu bersama Deo. Jemari Vania kembali bergerak, melanjutkan untuk menghapus setiap foto dan video yang berkaitan dengan mantan tunangannya itu. Tidak ada beban maupun penyesalan setelah menghapus semua media yang bersangkutan dengan mantan tunangannya.
Kurang lebih ratusan foto dan video dirinya bersama Deo telah di hapus, baik di sosial media maupun di galerinya. Selain menghapus seluruh kenangan berupa foto dan Video, Vania juga menghapus kontak dan berhenti mengikuti seluruh akun sosial media Deo.
Setelah melakukan itu semua, Vania menaruh ponselnya di nakas. Dia melepas penat dengan tidur terlentang sembari memeluk guling. Tidak ada air mata yang menetes seperti sebelumnya, baginya tidak pantas menangisi seseorang yang tidak mencintainya.
___
Vania mengendarai motor matic miliknya, menyusuri jalan komplek perumahan, tujuannya untuk menghafal setiap rute di sana sekaligus mencari angin. Di tengah jalan matanya tertuju pada kedai yang menjual gado-gado. Ia tergiur melihatnya, ia lalu mengarahkan motornya ke arah kedai itu.
Kedai makan yang dia datangi cukup ramai, wajar karena ini merupakan jam makan siang. Dilihat dari banyaknya pengunjung di kedai itu, sudah dipastikan kalau kedai itu memiliki hidangan yang enak. Ia masuk ke dalam kedai dan duduk sembari menunggu antrian.
Satu persatu pembeli sudah dilayani dan pulang. Hingga seorang wanita paruh baya duduk di dekat Vania dan tersenyum ramah kepadanya. Vania pun membalas senyuman ibu itu.
"Ini mbak yang baru beli rumah di blok sebelah kan? Mbak warga baru ya di sini?"
Vania mengangguk sopan." Iya Bu, saya yang beli rumah di blok sebelah."
"Oh, saya dengar kamu tinggal sendirian ya?"
"Enggak kok Bu, Saya tinggal bersama para pegawai di rumah saya. Saya beli rumah itu karena mau belajar hidup mandiri, kebetulan orang tua saya sudah gak ada."
"Ya ampun, saya turut berduka cita ya, mbak. Perkenalkan saya Ani, rumah saya gak jauh dari rumah kamu."
"Saya Vania Bu, syukurlah saya bisa kenal tetangga di sini."
Ibu itu kembali tersenyum." Setiap hari Jumat sore ada pengajian khusus wanita di masjid komplek sini. Kalau mau bahannya bisa ikut pengajian juga, di sana banyak kok yang seumuran Mbak dan juga ibu-ibu, sekalian untuk kenal sama tetangga dan bersilaturahmi."
"Ah, iya Bu."
"Mbak mau kenalan sama anak gadis saya? Kayaknya kalian seumuran sama mbak atau nanti saya ajak anak saya untuk main ke rumah mbak."
"Oh, boleh Bu. Saya senang akhirnya saya punya teman baru di sini."
"Semoga betah ya mbak tinggal di perumahan ini."
" Iya Bu, terima kasih."
Beberapa menit kemudian pesanan gado-gado Vania sudah jadi. Pedagang itu memberikan kantong berukuran sedang yang berisi enam bungkus gado-gado itu kepada Vania. Vania memberikan sejumlah uang sesuai dengan harga gado-gado yang dia pesan.
Vania pamit pada ibu yang merupakan tetangga punya itu, kemudian ia pergi meninggalkan kedai itu. Begitu keluar dari sana, ia tak sengaja bertemu dengan teman semasa sekolahnya.
"Eh,loh Vania?" Ujar laki-laki itu begitu melihat Vania.
Vania terdiam sejenak." Eh, Raihan ya? Apa kabar?"
Keduanya saling berjabat tangan." Baik, kamu sendiri apa kabar?"
" Aku juga baik. Kamu tinggal di sini?"
Reihan mengangguk."Iya, kamu sendiri kenapa ada di sini?"
"Aku juga tinggal di sini sekarang, baru juga pindah beberapa hari yang lalu."
"Oh begitu ya. Soal berita itu aku sudah mendengarnya, turut berdukacita ya."
"Iyaa, terimakasih ya, kalau begitu aku duluan ya."
"Eh iya, Vania hati-hati."
Raihan, memperhatikan Vania yang telah berlalu. Melihat Vania dengan dandanan sederhananya membuatnya sedikit tertarik. Apalagi saat ia tau jika dulu semasa sekolah, Vania pernah menyukainya. Meski berbeda dengan gaya Vania saat reuni, tapi pesona gadis itu tidak luntur sedikit pun.
"Sekarang Vania sudah putus dengan tunangannya, jadi tidak ada lagi penghalang untuk aku mendekati Vania."