Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Analisis Void
Terbangun dalam Kemewahan yang Menyiksa
Cahaya matahari pagi yang menyelinap dari balik tirai sutra Paviliun Mawar terasa seperti belati yang menusuk kelopak mata Elara. Ia terbangun dengan sentakan kecil, napasnya memburu seolah oksigen di ruangan mewah itu baru saja direnggut paksa oleh bayang-bayang api yang terus mengejarnya dalam mimpi. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kelembutan kasur bulu angsa atau aroma lavender yang mencoba menenangkan sarafnya, melainkan denyut mengerikan dari punggungnya—sebuah pengingat kasar bahwa tubuh yang kini ia tempati adalah wadah yang nyaris hancur.
"Anda sudah bangun, Tuan Putri?" suara lembut Rina terdengar dari sudut ruangan, diikuti bunyi gemercik air dalam baskom perak yang sangat jernih.
Elara tidak segera menjawab. Ia menatap langit-langit paviliun, pada ukiran malaikat yang sedang meniup terompet ke arahnya. Ia ingat pernah mencintai ukiran itu saat ia masih menjadi Aurelia dulu, menganggapnya sebagai simbol perlindungan ilahi. Sekarang, malaikat itu tampak seperti pemulung jiwa yang sedang menunggu kematiannya dengan sabar.
"Singkirkan air itu, Rina. Aku tidak ingin dibasuh oleh siapa pun pagi ini," ujar Elara dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai desisan.
"Tapi, Yang Mulia... Tabib istana berpesan agar luka bakar Anda dibersihkan setiap pagi agar tidak terjadi infeksi parah," Rina mendekat dengan ragu, wajahnya menunjukkan kecemasan yang tulus, sebuah anomali di tengah istana yang penuh dengan predator bertopeng.
"Aku bilang singkirkan, Rina. Apakah aku perlu mengulangnya untuk ketiga kali agar kau paham siapa yang sedang kau ajak bicara?" Elara menoleh perlahan, matanya yang kelabu tampak sedalam sumur tanpa dasar, memberikan tekanan psikologis yang membuat pelayan itu tersentak mundur.
"Maafkan saya, Tuan Putri. Saya akan meletakkan baskom ini di meja luar," Rina menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangannya gemetar saat ia memindahkan air tersebut.
"Letakkan saja salep herbal yang diberikan tabib tadi malam di nakas. Lalu pergilah. Jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk penjaga atau utusan kaisar sekalipun, sampai aku sendiri yang memanggilmu," perintah Elara dengan ketegasan yang mutlak, sebuah sisa otoritas permaisuri yang tak bisa luntur oleh luka fisik.
Rina meletakkan botol keramik kecil itu dengan hati-hati, lalu segera menghilang di balik pintu kayu jati yang kokoh. Begitu suasana menjadi sunyi, Elara mencoba untuk duduk. Rasa sakit yang menjalar dari tulang belakangnya terasa seperti ada kawat berduri yang ditarik paksa di bawah kulitnya. Ia mengerang pelan, butiran keringat dingin mulai membasahi dahinya yang pucat.
"Identitas baru, rasa sakit yang lama," gumamnya sambil menatap tangannya yang tampak lebih kurus dan pucat.
Ia mulai melepas jubah tidurnya dengan gerakan yang sangat lambat, membiarkan kain sutra itu meluncur jatuh ke lantai marmer yang dingin. Elara berjalan menuju cermin besar setinggi manusia di sudut kamar. Ia membelakangi cermin itu, memutar lehernya hingga sendi-sendinya berkeretak hanya untuk melihat peta kehancuran di punggungnya. Luka bakar itu tidak lagi merah meradang; warnanya telah berubah menjadi ungu gelap dengan tepian yang tampak seperti terbakar oleh sihir, bukan api biasa.
"Struktur molekulnya sedang berubah," Elara menyentuh tepian lukanya sendiri tanpa ragu, matanya berkilat penuh minat teknis yang dingin. "Energi termal dari api yang dilepaskan Elena kemarin tidak benar-benar menghilang. Ia hanya mengendap di dalam jaringan sarafku, mencoba mencari jalan keluar."
Ia duduk bersila di tengah lantai marmer, mengabaikan kenyamanan ranjang kaisar yang disediakan untuknya. Baginya, kenyamanan adalah racun yang bisa menumpulkan insting bertahan hidupnya. Elara mulai memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan mulai mengarahkan kesadarannya ke dalam pusat rasa sakit tersebut. Ia masuk ke dalam meditasinya, sebuah ruang gelap di mana hanya ada dia dan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Masuklah lebih dalam," bisik jiwanya pada raganya yang meronta. "Jangan ditolak. Jangan gunakan sihir untuk memadamkan apinya. Seraplah ia menjadi bagian dari sirkuitmu."
Dalam penglihatan batinnya, Elara melihat energi Void miliknya mulai bangkit. Energi itu tidak lagi berbentuk kabut tipis, melainkan untaian benang-benang ungu yang mulai membelit sisa-sisa energi api yang terperangkap di lukanya. Ini adalah momen Acceptance of Pain. Ia tidak ingin menyembuhkan luka ini untuk kembali menjadi cantik di depan Valerius. Ia ingin luka ini tetap ada sebagai katalisator kekuatannya.
"Kenapa kau begitu keras kepala, Elara?" Elara berbicara pada dirinya sendiri, suaranya bergema di dalam batinnya yang sunyi. "Kau lebih memilih menderita demi kekuatan daripada hidup tenang sebagai tawanan yang dicintai?"
"Karena cinta adalah kebohongan yang membakarku, tapi kekuatan adalah kebenaran yang akan menghanguskannya," jawab sisi lain dari dirinya, suara Aurelia yang telah mati namun kini bangkit kembali dengan dendam yang lebih pekat.
Tiba-tiba, rasa panas yang luar biasa meledak dari punggungnya. Elara mencengkeram lantai marmer hingga kuku-kukunya memutih. Rasanya seolah-olah punggungnya sedang disetrika ulang oleh besi membara. Ia tidak berteriak. Ia justru membiarkan bibirnya membentuk senyuman tipis yang mengerikan. Setiap gelombang rasa sakit yang datang ia konversikan menjadi energi kinetik yang mempercepat sinkronisasi Void-nya.
"Analisis sirkuit energi... 0.7... 0.75... 0.8," ia menghitung kenaikan level kekuatannya dengan presisi seorang ahli sihir yang sedang melakukan eksperimen laboratorium.
Tubuhnya mulai bergetar hebat. Pendaran cahaya ungu mulai merembes keluar dari pori-pori lukanya, membentuk pola geometris yang rumit di udara di sekitarnya. Ini bukan lagi sekadar penyembuhan trauma; ini adalah evolusi. Elara merasakan sirkuit energinya yang dulu terputus saat kematian Aurelia, kini mulai tersambung kembali melalui jalur-jalur saraf yang rusak di tubuh barunya.
"Jadi ini kuncinya," gumam Elara saat rasa panas itu perlahan mulai mendingin, meninggalkan sensasi kebas yang aneh namun menenangkan. "Rasa sakit adalah jembatan antara jiwaku dan raga ini. Semakin hancur raganya, semakin bebas jiwaku untuk mengalirkan Void."
Ia membuka matanya. Pandangannya kini jauh lebih tajam. Ia bisa melihat debu-debu yang melayang di udara, aliran udara yang masuk dari celah jendela, dan bahkan detak jantung Rina yang sedang berdiri gelisah di luar pintu paviliun. Evolusi ke Void Lv 0.8 telah memberikan kapasitas sensorik yang jauh lebih luas dari sebelumnya.
"Seseorang sedang mendekat," Elara segera bangkit, mengenakan jubahnya kembali dengan kecepatan yang tidak wajar bagi seseorang yang baru saja bangun dengan luka parah.
Ia berjalan menuju meja dan mengambil salep herbal tadi. Dengan sengaja, ia mengoleskan sedikit salep itu ke punggungnya hanya agar bau herbalnya menutupi aroma ozone yang tajam akibat penggunaan sihir Void yang berlebihan. Ia tidak ingin siapa pun, terutama Valerius, mencium bau kekuatan yang sedang ia bangun dalam kesunyian ini.
Pintu paviliun tidak diketuk, melainkan didorong terbuka dengan pelan namun penuh wibawa. Valerius berdiri di sana, masih mengenakan jubah hitamnya yang tampak kontras dengan dekorasi kamar yang berwarna cerah. Kaisar itu tampak terdiam saat melihat Elara berdiri tegak di tengah ruangan, menatapnya dengan pandangan yang tidak lagi mengandung rasa takut, melainkan tantangan yang tenang.
"Aku melihat kau sudah bisa berdiri sendiri tanpa bantuan pelayan," suara Valerius terdengar serak, ada keraguan yang terselip di balik nada bicaranya yang biasanya dingin.
"Aku adalah putri Asteria, Valerius. Kami diajarkan untuk berdiri bahkan saat tulang kami patah," jawab Elara, suaranya stabil dan tajam. "Atau kau kecewa melihatku tidak merangkak di kakimu untuk memohon belas kasihan?"
Valerius melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia mendekati Elara, namun berhenti dalam jarak yang aman, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan seekor hewan buas yang cantik namun mematikan. "Aku tidak pernah menginginkanmu merangkak. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa posisimu saat ini adalah karena keputusanku. Aku yang memberimu kamar ini, dan aku juga yang bisa membawamu kembali ke kegelapan."
"Kau memberikan ini padaku bukan karena kemurahan hatimu, Kaisar. Kau memberikan ini karena kau mulai meragukan ingatanmu sendiri," Elara melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Ia bisa mencium aroma dupa mahal dan kegelisahan yang memancar dari Valerius. "Kau melihat bayangan wanita yang kau bunuh di dalam diriku, dan kau sedang mencoba menebus dosamu dengan memberiku sutra ungu ini."
Wajah Valerius mengeras. "Jangan pernah menyebut namanya dengan bibirmu yang penuh racun itu."
"Kenapa? Apakah suaranya masih berbisik di telingamu setiap kali kau menutup mata? Apakah api yang kau nyalakan untuknya masih terasa panas di wajahmu?" Elara tertawa kecil, tawa yang penuh dengan subteks penghinaan. "Kau memenjarakan Elena bukan karena kau mencintaiku, tapi karena kau takut kau telah membunuh orang yang salah sepuluh tahun yang lalu."
"Cukup, Elara!" Valerius mencengkeram lengan Elara dengan keras. "Kau hanyalah tawanan yang beruntung. Jangan berpikir kau bisa mendikte perasaanku atau tindakanku."
"Kalau begitu, lepaskan aku," tantang Elara, matanya menatap langsung ke dalam mata Valerius tanpa berkedip. "Jika aku tidak berarti apa-apa bagimu, biarkan aku pergi dari istana ini sekarang juga. Biarkan aku kembali ke reruntuhan negeriku."
Valerius tidak segera menjawab. Cengkeramannya pada lengan Elara perlahan melonggar, namun ia tidak melepaskannya. Ada konflik batin yang sangat hebat yang terpancar dari aura kaisar itu, sebuah keretakan psikologis yang mulai bisa dimanipulasi oleh Elara.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun," bisik Valerius akhirnya, suaranya kini terdengar sangat lelah. "Kau akan tetap di sini, di bawah pengawasanku. Aku memiliki tugas untukmu. Sebuah posisi yang akan membuatmu tetap berada di sampingku, sekaligus menjagamu dari jangkauan dewan menteri yang menginginkan nyawamu."
"Sebuah tawaran, Kaisar?" Elara mengangkat sebelah alisnya, senyum manipulasinya kini tampak sempurna di wajahnya yang pucat.
"Besok pagi, aku akan mengumumkan penunjukanmu. Bersiaplah, karena dunia yang kau kenal akan segera berubah sekali lagi," Valerius melepaskan tangan Elara dan berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. "Pakailah gaun ungu yang dikirimkan pelayan nanti. Warna itu... dia dulu sangat menyukainya."
Begitu Valerius menghilang dari pandangannya, Elara menyandarkan tubuhnya ke tembok. Napasnya tersengal, rasa sakit di punggungnya kembali berdenyut, namun kali ini ia merasakannya sebagai kemenangan.
"Dia terjebak," gumam Elara. "Dia mencari penebusan di tempat yang hanya akan memberinya kehancuran."
Ia melihat ke arah tangannya lagi. Warna kebiruan di nadinya kini merayap sedikit lebih jauh menuju telapak tangan. Sinkronisasi Void Lv 0.8 telah memberikan hasil yang lebih cepat dari dugaannya. Ia kini memiliki fondasi yang cukup untuk mulai memetakan struktur sihir di istana ini, mencari celah-celah rahasia yang dulu ia lupakan, dan mempersiapkan panggung untuk permainannya yang lebih besar.
"Rina!" panggil Elara dengan suara yang kembali kuat.
Pintu terbuka dengan cepat. "Ya, Tuan Putri? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"
"Ambilkan aku cermin kecil dan bawa gaun ungu itu ke sini. Aku ingin melihat bagaimana rupa seorang wanita yang baru saja mendapatkan kembali martabatnya di atas penderitaannya sendiri," ucap Elara.
Rina bergegas menjalankan perintah itu. Saat Elara memegang gaun sutra ungu yang sangat halus tersebut, ia merasakannya bukan sebagai pakaian, melainkan sebagai baju zirah politik. Ia tahu bahwa mulai besok, ia tidak lagi berperang dengan sihir mentah di dalam sel gelap, melainkan dengan kata-kata tajam dan manipulasi halus di tengah kemewahan ruang dewan.
"Analisis selesai," batin Elara saat ia melihat pantulannya sendiri. "Tahap kebangkitan sudah terlewati. Sekarang saatnya tahap infiltrasi."
Ia merasakan energi Void di punggungnya beresonansi dengan detak jantungnya yang kini jauh lebih tenang. Rasa sakit itu masih ada, namun ia telah menjadikannya sebagai sahabat yang setia. Setiap kali rasa sakit itu datang, ia akan teringat pada api, dan setiap kali ia teringat pada api, dendamnya akan menyala lebih terang dari matahari mana pun yang menyinari Asteria.
Sirkuit Kehancuran
Lantai marmer Paviliun Mawar terasa seperti es yang mencoba menembus telapak kaki Elara, namun ia tetap berdiri mematung di depan cermin, mengabaikan gaun sutra ungu yang baru saja diletakkan Rina di atas tempat tidur. Ia membiarkan jubah tidurnya merosot, menyingkap punggungnya yang kini bergetar halus bukan karena kedinginan, melainkan karena aktivitas energi yang tidak wajar. Elara memusatkan seluruh pikirannya pada jaringan luka bakar yang melintang di kulitnya. Dalam pandangan batinnya yang kini lebih tajam akibat kenaikan level energi, luka itu tampak seperti retakan pada bejana porselen yang memancarkan cahaya ungu gelap.
"Rasa sakit ini... ia bukan lagi musuhku," bisik Elara, jemarinya meraba permukaan jaringan parut yang terasa kasar namun hangat. "Ia adalah sirkuit yang akan mengalirkan kehancuran bagi mereka yang menciptakannya."
Ia kembali duduk bersila di tengah ruangan, memejamkan mata untuk memulai tahap akhir dari pemetaan energinya. Elara menarik napas dalam-dalam, merasakan udara istana yang dipenuhi aroma lavender mulai terserap ke dalam paru-parunya. Namun, di dalam pusat batinnya, ia membayangkan kembali saat api Elena membakar sel penjara bawah tanah yang dingin. Ia tidak lagi melarikan diri dari ingatan itu. Sebaliknya, ia memanggil rasa takut dan trauma tersebut, menggunakannya sebagai bahan bakar untuk memicu reaksi Void di dalam sel-sel tubuhnya.
Ini adalah Third Option yang sesungguhnya: menggunakan trauma api sebagai katalisator fokus. Di mana orang lain akan lumpuh karena ketakutan, Elara justru menggunakan sensasi terbakar itu untuk mempertajam kendali energinya. Ia merasakan sirkuit Void-nya yang kini berada di level 0.8 mulai berdenyut sinkron dengan detak jantungnya. Energi ungu yang pekat mulai mengalir keluar dari pusat lukanya, merayap seperti akar pohon yang mencari air, mengisi setiap jalur saraf yang sebelumnya rusak akibat siksaan.
"Analisis molekuler... stabil. Penyerapan energi termal... selesai," gumamnya dengan nada yang hampir terdengar klinis.
Tiba-tiba, pintu paviliun terbuka sedikit, dan Rina masuk dengan membawa baki berisi air hangat dan kain bersih. Pelayan itu terhenti seketika, matanya membelalak melihat uap ungu tipis yang menguar dari tubuh Elara. "Tuan Putri? Apa yang terjadi dengan tubuh Anda? Ada... ada cahaya yang keluar dari luka Anda!"
Elara segera menghentikan alirannya, membuat cahaya itu padam seketika. Ia menarik jubahnya untuk menutupi punggungnya, menatap Rina dengan pandangan yang membuat gadis itu gemetar. "Apa yang kau lihat, Rina, hanyalah pantulan cahaya matahari pada salep tabib. Jangan biarkan imajinasimu menguasai akal sehatmu."
"Tapi saya melihatnya dengan jelas, Tuan Putri... warnanya seperti..." Rina mendekat dengan ragu, tangannya yang memegang baki tampak goyah.
"Aku bilang itu hanya pantulan," Elara memotong dengan suara yang dingin namun tajam. "Jika kau ingin tetap hidup di istana ini, kau harus belajar untuk tidak mempercayai matamu sendiri. Rahasia adalah mata uang termahal di sini, dan kau terlalu miskin untuk memilikinya."
Rina menunduk dalam-dalam, meletakkan baki itu di meja dengan gerakan tergesa-gesa. "Maafkan saya, Tuan Putri. Saya hanya... saya hanya khawatir luka Anda semakin parah."
"Kau mengkhawatirkanku atau kau takut aku mati dan kau kehilangan pelindungmu?" Elara berjalan mendekati Rina, mengangkat dagu gadis itu dengan jemarinya yang dingin. "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak butuh rasa iba. Aku butuh kesetiaan yang mutlak. Apakah kau mengerti?"
"Saya mengerti, Tuan Putri. Saya milik Anda sepenuhnya," bisik Rina, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Elara melepaskan dagu Rina, merasa sedikit jijik pada kelemahan emosional itu, namun ia juga tahu bahwa ketakutan adalah jangkar yang lebih kuat daripada cinta. "Bantu aku memakai gaun ungu itu. Kaisar mengharapkanku tampil sempurna sore ini."
Saat Rina mulai memakaikan lapisan-lapisan gaun sutra ungu yang sangat halus itu, Elara merasakan setiap sentuhan kain pada luka bakarnya. Teksturnya yang lembut terasa seperti ribuan semut yang merayap, memicu rasa perih yang konstan. Namun, Elara tidak lagi meringis. Ia justru menikmati rasa sakit itu, menggunakannya sebagai pengingat akan setiap detik yang ia habiskan di penjara bawah tanah yang bau besi berkarat.
"Warna ini sangat cocok dengan mata Anda," ujar Rina saat ia mengancingkan bagian belakang gaun tersebut. "Anda tidak lagi terlihat seperti tawanan. Anda terlihat seperti... seorang ratu yang sedang bersiap untuk berperang."
"Memang itulah kenyataannya, Rina," sahut Elara sambil menatap pantulannya di cermin.
Gaun ungu gelap itu memiliki kerah tinggi yang menutupi sebagian luka di lehernya, namun potongan di punggungnya sengaja dibuat sedikit rendah oleh penjahit istana—sebuah provokasi tersembunyi dari Valerius untuk melihat apakah ia berani menunjukkan cacatnya. Elara mengambil belati kecil yang tersembunyi di balik bantalnya, menyisipkannya ke dalam korset gaunnya dengan gerakan yang sangat rapi.
Ia melangkah keluar dari paviliun, diikuti oleh Rina dan dua penjaga istana yang kini bersikap jauh lebih hormat daripada sebelumnya. Saat melewati koridor-koridor panjang yang menghubungkan Paviliun Mawar dengan istana utama, Elara menggunakan kemampuan sensorik barunya. Ia bisa merasakan aliran mana di dalam dinding istana, mendeteksi jebakan-jebakan sihir tingkat rendah yang dipasang untuk mengawasi para pelayan.
"Istana ini adalah sebuah sarang ular yang sangat indah," batin Elara.
Ia tiba di depan pintu besar ruang dewan menteri. Dari balik pintu jati yang kokoh itu, ia bisa mendengar perdebatan sengit. Suara-suara pria tua yang penuh dengan ketamakan dan ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Elara berdiri tegak, membiarkan auranya sedikit terbuka, menunjukkan otoritas yang tenang.
Pintu terbuka, dan keheningan mendadak menyelimuti ruangan besar itu. Puluhan pasang mata menatapnya, ada yang penuh kebencian, ada yang penuh nafsu, dan ada yang penuh kecurigaan. Valerius duduk di singgasana di ujung ruangan, matanya berkilat saat melihat Elara dalam balutan sutra ungu tersebut.
"Elara dari Asteria," suara Valerius bergema, berat dan penuh tekanan. "Maju dan ambil tempatmu."
Elara melangkah maju, setiap ketukan tumit sepatunya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang pelan. Ia tidak menundukkan kepala. Ia berjalan melewati para menteri dengan tatapan dingin, seolah-olah mereka semua hanyalah debu yang mengganggu perjalanannya. Saat ia tiba di depan Valerius, ia memberikan hormat yang sangat minimalis, sebuah tindakan martabat yang membuat beberapa menteri tua mendesis marah.
"Yang Mulia," ucap Elara, suaranya jernih dan berwibawa. "Aku datang untuk mendengar apa yang ingin kau tawarkan pada seorang wanita yang negerinya telah kau hancurkan."
Valerius berdiri, melangkah turun dari podiumnya hingga ia berdiri tepat di depan Elara. Ia bisa merasakan aura Void Elara yang kini jauh lebih stabil dan menusuk. "Aku telah memutuskan. Mulai saat ini, kau bukan lagi tawanan. Kau adalah Penasihat Agung Urusan Mistis Kekaisaran. Kau akan bertanggung jawab langsung padaku untuk membersihkan sisa-sisa sihir hitam yang ditinggalkan oleh para pengkhianat."
Suasana ruangan meledak. Seorang menteri tua dengan janggut putih panjang berteriak, "Ini penghinaan! Bagaimana mungkin seorang musuh diberikan otoritas atas keamanan mistis kita?"
Valerius tidak menoleh ke arah menteri itu. Ia tetap menatap Elara. "Apakah kau menerima tanggung jawab ini, Elara?"
"Aku menerimanya," sahut Elara dengan senyum yang sangat tipis, hampir tak terlihat. "Tapi aku punya syarat. Aku butuh akses penuh ke perpustakaan terlarang dan wewenang untuk mengeksekusi siapa pun yang terbukti masih menyimpan relik sihir hitam, tanpa perlu persetujuan dewan menteri."
Mata Valerius menyipit. Permintaan itu adalah belati yang diarahkan ke jantung politik istana. Namun, kebutuhan obsesifnya untuk menjaga Elara tetap di sisinya mengalahkan akal sehatnya. "Syaratmu diterima."
Elara menoleh ke arah para menteri yang kini pucat pasi. Ia merasakan kepuasan yang dingin di dadanya. Ia telah melangkah masuk ke dalam sarang ular, bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai predator yang paling berbisa. Sinkronisasi Void Lv 0.8 miliknya kini bergetar hebat, sebuah tanda bahwa ia siap untuk memulai analisis yang lebih dalam terhadap rahasia yang tersembunyi di bawah lantai istana ini.
"Permainan yang sebenarnya dimulai sekarang, Valerius," bisik Elara dalam hatinya saat ia berdiri di samping sang kaisar, menatap dunia yang sebentar lagi akan ia buat berlutut.