Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Fajar Popularitas dan Kartu Hitam
Cahaya matahari pagi yang hangat menyusup masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar utama, membangunkan Nala dari tidur lelapnya.
Nala mengerjapkan mata perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan terang ruangan. Selama beberapa detik pertama, ia merasa bingung. Ia mengira kejadian semalam hanyalah mimpi indah akibat terlalu lelah. Mimpi di mana ia mengenakan gaun seharga mobil mewah, berjalan di karpet merah, dan lukisannya terjual dengan harga yang tidak masuk akal.
Namun, saat ia menoleh ke meja nakas di samping tempat tidur, ia melihat benda itu.
Bros berlian berbentuk bulan sabit yang semalam ia pakai tergeletak di sana, berkilau memantulkan cahaya matahari. Di sebelahnya, ada sebuah kliping koran pagi yang dilipat rapi.
Itu bukan mimpi. Itu nyata.
Nala perlahan bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Sisi kasur Raga sudah kosong dan dingin, seperti biasa. Suaminya itu selalu bangun sebelum matahari terbit, seolah tidur adalah kegiatan yang membuang-buang waktu bagi seorang penguasa bisnis.
Nala menjangkau koran di meja itu. Jantungnya berdegup kencang saat melihat tajuk utama di halaman seni dan budaya.
LUNA: Bintang Baru Dunia Seni Lukis Jakarta. Karya Debut Terjual 1 Miliar Rupiah kepada Raga Adhitama.
Ada foto besar di sana. Foto lukisan "Pejuang Luka" yang terpampang jelas. Di bawahnya, ada foto Raga yang duduk di kursi roda dengan topeng peraknya, sedang menggenggam tangan seorang wanita yang wajahnya sedikit tertunduk dan tertutup bayangan rambut.
Wanita itu adalah dirinya.
Nala menutup mulutnya dengan tangan, menahan pekikan kecil. Ia tidak menyangka beritanya akan sebesar ini. Ia membaca paragraf demi paragraf dengan tangan gemetar. Wartawan itu memuji teknik lukisannya yang penuh emosi, menyebutnya sebagai "napas segar" di tengah industri seni yang monoton. Mereka juga berspekulasi tentang siapa sebenarnya sosok Luna ini, namun tidak ada satu pun yang berhasil menebak bahwa Luna adalah Nala Aristha, anak buangan yang tidak lulus kuliah.
"Sudah bangun, Nyonya Selebriti?"
Suara berat dari arah pintu balkon membuat Nala menoleh cepat.
Raga duduk di sana, di kursi rodanya, membelakangi pemandangan taman pagi yang berkabut. Ia mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu muda dan celana panjang hitam. Di tangannya ada secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Wajahnya terlihat segar, meski topeng perak itu tetap setia menutupi sisi kirinya.
"Tuan," sapa Nala dengan suara serak khas bangun tidur. "Berita ini... ini gila. Mereka menulis satu halaman penuh tentang saya."
Raga tersenyum tipis, lalu menyesap kopinya dengan tenang. "Hanya satu halaman? Seharusnya halaman depan. Aku sudah membayar mahal juru lelang itu untuk membuat keributan."
Nala meletakkan koran itu kembali ke meja seolah benda itu panas. "Saya takut, Tuan. Bagaimana kalau mereka tahu siapa saya? Bagaimana kalau keluarga saya tahu?"
Raga meletakkan cangkirnya di meja bundar kecil di balkon, lalu memutar kursi rodanya masuk ke dalam kamar mendekati Nala.
"Mereka tidak akan tahu," ucap Raga dengan nada penuh keyakinan. "Aku sudah menutup semua celah informasi. Ben sudah disumpah untuk tutup mulut. Dan media... mereka lebih suka misteri. Sosok 'Luna' yang misterius jauh lebih menjual daripada sosok Nala yang nyata. Biarkan mereka menebak-nebak. Semakin mereka penasaran, semakin mahal harga lukisanmu berikutnya."
Nala menunduk, menatap jari-jarinya sendiri. "Lukisan berikutnya? Tuan pikir saya bisa melukis lagi setelah ini? Tekanannya terlalu besar. Saya merasa seperti penipu. Lukisan itu tidak pantas dihargai satu miliar."
Raga mendengus pelan. Ia meraih tangan Nala, memaksanya untuk mendongak dan menatap matanya.
"Dengar baik-baik, Nala," kata Raga serius. "Nilai sebuah karya seni tidak ditentukan oleh berapa lama kau membuatnya atau berapa harga cat yang kau pakai. Nilainya ditentukan oleh cerita di baliknya. Dan cerita tentang seorang istri yang melukis luka suaminya dengan penuh cinta... itu adalah cerita yang tak ternilai harganya."
Pipi Nala merona merah mendengar kata "cinta".
"Lagipula," lanjut Raga, melepaskan tangan Nala dan merogoh saku celananya. "Uang satu miliar itu bukan uang monopoli. Itu uang asli. Dan itu milikmu."
Raga mengeluarkan sebuah kartu tipis berwarna hitam pekat dari sakunya. Tidak ada nomor yang tertera di depan, hanya sebuah chip emas dan nama Nala Adhitama yang terukir elegan di sana.
"Ini untukmu," Raga menyodorkan kartu itu.
Nala menatap kartu itu dengan bingung. "Apa ini, Tuan?"
"Kartu akses ke rekening pribadimu," jelas Raga santai. "Uang hasil lelang semalam, setelah dipotong komisi galeri dan pajak, sudah kumasukkan ke sana. Ditambah sedikit uang saku bulanan dariku sebagai suami."
Mata Nala membelalak lebar. "Saya tidak bisa menerimanya! Tuan yang membeli lukisan itu, jadi uangnya uang Tuan sendiri. Itu sama saja memindahkan uang dari saku kanan ke saku kiri. Saya tidak berhak."
"Ambil," perintah Raga tegas, tidak menerima penolakan. Ia menyelipkan kartu itu ke telapak tangan Nala dan menutup jari-jari istrinya agar menggenggamnya erat.
"Nala, di dunia ini, uang adalah senjata," ucap Raga, suaranya merendah dan penuh makna. "Selama ini kau diinjak-injak karena kau tidak punya senjata. Kau bergantung pada belas kasihan ayahmu. Kau bergantung pada sisa makanan kakakmu. Mulai sekarang, aku tidak mau melihat istriku menunduk meminta-minta. Kau punya uangmu sendiri. Kau bisa membeli apa pun yang kau mau tanpa izin dariku."
Nala menatap kartu hitam di tangannya. Benda kecil ini lebih berat dari yang terlihat. Ini adalah kunci kebebasannya. Ini adalah martabat yang dikembalikan padanya dalam bentuk plastik pipih.
"Apa pun?" tanya Nala pelan.
"Apa pun," jawab Raga. "Kau mau beli baju satu toko? Silakan. Kau mau beli mobil? Beli saja. Kau mau menyumbang ke panti asuhan? Terserah kau. Itu hakmu."
Air mata haru kembali menggenang di mata Nala. Bukan karena nominal uangnya, tapi karena kepercayaan yang diberikan Raga. Pria ini tidak hanya memberinya ikan, tapi juga memberinya kail, perahu, dan lautan.
"Terima kasih, Tuan," bisik Nala. "Saya... saya akan menggunakannya dengan bijak."
"Bagus," Raga memundurkan kursi rodanya. "Sekarang mandi dan bersiaplah. Kita akan sarapan. Setelah itu, aku ingin kau pergi berbelanja."
"Berbelanja?" Nala mengerutkan kening. "Tapi saya baru saja dapat banyak baju dari Tuan."
"Bukan baju," Raga menggeleng. "Alat lukis. Stok di studiomu mulai menipis kan? Aku lihat cat warna putih dan birumu sudah hampir habis. Pergilah ke toko seni terbaik di Jakarta. Pakai kartu itu. Rasakan sensasi menggesek kartu atas namamu sendiri."
Nala tersenyum lebar. Raga benar-benar memperhatikannya sampai ke detail terkecil. Pria itu tahu persis warna apa yang sering Nala pakai.
"Baik, Tuan. Saya akan pergi."
Siang harinya, Nala berangkat ditemani oleh sopir pribadi dan dua orang pengawal yang ditugaskan Raga. Awalnya Nala merasa risih diikuti pria-pria berbadan besar, tapi Raga bersikeras demi keamanan.
Toko perlengkapan seni itu terletak di kawasan Jakarta Selatan. Tokonya besar, wangi kertas baru, dan tenang. Surga bagi Nala.
Nala berjalan menyusuri lorong-lorong rak yang dipenuhi kanvas, kuas, dan cat impor. Ia mengambil beberapa tube cat minyak ukuran besar, beberapa kuas bulu tupai yang mahal, dan satu set pensil arang kualitas terbaik.
Saat ia berjalan menuju kasir, ia mendengar suara yang sangat familiar dari lorong sebelah.
"Apa maksudmu tidak ada diskon? Aku Bella Aristha! Aku influencer, aku bisa mempromosikan toko jelek ini di Instagram-ku!"
Langkah Nala terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Bella.
Nala mengintip dari balik rak kanvas. Di depan meja kasir, Bella sedang berdebat dengan pelayan toko. Penampilan Bella terlihat sedikit berantakan hari ini. Rambutnya diikat asal-asalan, dan wajahnya terlihat lelah meski tertutup bedak tebal. Ia sedang memegang sebuah kotak cat air mahal namun sepertinya kartunya ditolak.
"Maaf, Nona," ucap kasir itu sopan namun tegas. "Kartu Anda declined. Mungkin limitnya sudah habis atau diblokir oleh bank."
"Coba lagi! Itu tidak mungkin!" bentak Bella, wajahnya memerah karena malu. Beberapa pengunjung lain mulai menoleh dan berbisik-bisik.
Nala tahu apa yang terjadi. Setelah Raga melunasi hutang perusahaan ayahnya dan menyatakan "putus hubungan", kemungkinan besar aliran dana tunai ke keluarga Aristha dihentikan atau diperketat. Ayahnya pasti sedang panik mengatur keuangan perusahaan yang baru pulih, sehingga memblokir kartu kredit tambahan Bella.
Ada rasa puas yang aneh di hati Nala melihat pemandangan itu. Dulu, Bella selalu pamer belanjaan di depan Nala yang bahkan tidak punya uang untuk beli bakso. Sekarang, roda nasib berputar.
Nala menarik napas panjang. Ia membetulkan letak kacamata hitam besar yang ia pakai untuk menyamar, lalu berjalan tenang menuju kasir, berdiri di antrean tepat di belakang Bella.
"Sudahlah, Nona. Kalau tidak ada uang, jangan paksa beli. Antrean di belakang sudah panjang," celetuk seorang ibu-ibu di belakang Nala.
Bella berbalik dengan mata melotot, siap menyemprot ibu itu, tapi matanya tertumbuk pada Nala.
Bella terdiam. Ia tidak mengenali Nala pada pandangan pertama. Nala mengenakan gaun musim panas berwarna cream yang elegan, topi lebar, dan kacamata hitam oversized. Ditambah lagi, ada dua pengawal berjas hitam yang berdiri tegap di belakang Nala. Aura Nala memancarkan kemewahan yang jauh di atas Bella.
Namun, Bella merasa familiar dengan bentuk dagu dan bibir wanita itu.
"Maaf, Nona," ucap Nala dengan suara yang dibuat sedikit lebih berat dan berwibawa. "Bisa tolong minggir? Saya sedang buru-buru."
Bella, yang terintimidasi oleh pengawal di belakang Nala, akhirnya mundur selangkah dengan wajah cemberut. "Sombong sekali," gumamnya pelan.
Nala maju ke depan kasir. Ia meletakkan keranjang belanjaannya.
"Semuanya lima juta rupiah, Nyonya," kata kasir setelah memindai barang-barang Nala.
Nala mengeluarkan kartu hitam pemberian Raga. Kasir itu sedikit terbelalak melihat jenis kartu tersebut, kartu prioritas tertinggi yang tidak memiliki limit.
"Silakan, Nyonya," ucap kasir dengan nada yang jauh lebih hormat dibanding saat melayani Bella.
Nala melirik barang belanjaan Bella yang tertinggal di meja kasir. Kotak cat air itu. Nala ingat, dulu ia pernah memohon pada Bella untuk meminjam cat air bekasnya, tapi Bella malah membuangnya ke tempat sampah di depan mata Nala.
"Mbak," panggil Nala pada kasir. "Masukkan juga barang Nona itu ke tagihan saya."
Bella yang sedang sibuk mengomel di dekat pintu langsung menoleh kaget. "Apa?"
"Anggap saja sedekah," ucap Nala santai, tapi cukup keras untuk didengar Bella. "Kasihan, sepertinya dia sangat membutuhkannya sampai marah-marah begitu."
Wajah Bella berubah warna dari merah menjadi ungu karena menahan amarah yang meledak-ledak. Dikasihani oleh orang asing di depan umum adalah penghinaan terbesar bagi egonya.
"Hei! Siapa kau?! Aku tidak butuh sedekahmu!" teriak Bella, melangkah maju hendak melabrak.
Namun, dua pengawal Nala langsung pasang badan, menghalangi jalan Bella dengan dinding tubuh mereka yang kekar.
"Jangan mendekat, Nona," ucap salah satu pengawal dengan suara berat.
Nala mengambil barang belanjaannya, lalu berjalan melewati Bella. Saat ia berpapasan dengan kakaknya itu, Nala menurunkan kacamata hitamnya sedikit, hanya sebentar, cukup untuk memperlihatkan mata cokelat terangnya.
Bella ternganga. Napasnya tercekat.
"Na... Nala?" bisik Bella tak percaya.
Nala menaikkan kembali kacamatanya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan, lalu berjalan keluar dari toko tanpa menoleh lagi. Sopirnya sudah membukakan pintu mobil Mercedes hitam yang mengkilap.
Nala masuk ke dalam mobil, meninggalkan Bella yang berdiri mematung di trotoar seperti orang bodoh, memegang kotak cat air hasil "sedekah" adiknya sendiri.
Di dalam mobil, Nala menyandarkan punggungnya. Tangannya gemetar, tapi kali ini karena rasa gembira. Ia tertawa pelan. Tawa yang lepas.
"Rasakan itu, Kak Bella," gumam Nala.
Ponsel di tasnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Raga.
Raga: Kartumu baru saja terpakai lima juta lebih sedikit. Boros juga kau untuk ukuran pemula. Apa yang kau beli?
Nala tersenyum membaca pesan itu. Ia mengetik balasan dengan cepat.
Nala: Saya membeli harga diri saya kembali, Tuan. Dan rasanya sangat murah.
Beberapa detik kemudian, balasan Raga masuk.
Raga: Aku tidak tahu apa yang kamu maksud, tapi aku tahu arah pembicaraan ini, bagus. Habiskan lagi. Aku suka istri yang pendendam.
Hati Nala menghangat. Raga tidak memarahinya. Raga justru mendukung kenakalannya. Rasanya menyenangkan memiliki sekutu yang sekuat Raga.
Sesampainya di rumah, hari sudah menjelang sore.
Nala langsung menuju ruang kerja Raga. Ia ingin menceritakan kejadian di toko tadi. Ia merasa Raga adalah satu-satunya orang yang akan mengerti kepuasannya.
Namun, saat ia mendekati pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, ia mendengar suara percakapan serius dari dalam. Langkah Nala terhenti.
"Kita tidak bisa membiarkannya, Raga," suara seorang pria yang tidak Nala kenal. Suaranya terdengar cemas. "Berita tentang lelang itu terlalu besar. Orang-orang mulai menggali. Musuhmu mulai bergerak lagi. Mereka curiga kau menggunakan uang itu untuk pencucian uang atau semacamnya."
"Biarkan mereka curiga, Ben," suara Raga terdengar tenang namun dingin. "Selama mereka fokus pada uangnya, mereka tidak akan fokus pada pelukisnya. Nala aman."
Ben? Jadi pria di dalam itu adalah Ben, kurator galeri semalam.
"Tapi Raga," sela Ben lagi. "Ada rumor lain yang beredar. Salah satu informanku bilang, ada orang yang menyewa detektif swasta untuk menyelidiki latar belakang istrimu. Mereka mencari titik lemahmu. Jika mereka tahu Nala adalah anak yang dibuang keluarganya, mereka akan menggunakan itu untuk menyerang mentalnya. Atau lebih buruk, mereka akan menculik dia untuk memerasmu."
Nala membeku di balik pintu. Menculik? Menyerang?
"Aku sudah melipatgandakan pengamanan," jawab Raga tajam. "Tidak ada seekor lalat pun yang bisa menyentuh Nala di rumah ini. Dan kalau mereka berani menyentuh sehelai rambutnya saja..."
Suara Raga berubah menjadi geraman rendah yang mengerikan.
"...aku akan membakar seluruh kota ini untuk menemukannya. Aku tidak peduli kalau aku harus membunuh orang lagi."
Nala menutup mulutnya, menahan napas. Membunuh orang lagi? Apa maksudnya 'lagi'? Apakah rumor tentang Raga yang membunuh pelayan itu benar? Atau ada kejadian lain di masa lalu?
"Raga, tenanglah," suara Ben terdengar mencoba menenangkan. "Jangan biarkan emosi lamamu bangkit. Kau sudah berjanji untuk berubah. Ingat terapimu."
"Aku tenang, Ben. Sangat tenang," ucap Raga, tapi nada suaranya menyiratkan badai yang tertahan. "Hanya saja... dia berbeda. Nala bukan hanya istri di atas kertas. Dia... dia membuatku ingin hidup lagi. Dan itu membuatku takut, Ben. Karena setiap kali aku ingin hidup, ada saja yang mencoba mematikannya."
Hati Nala mencelos mendengar pengakuan itu. Raga takut. Pria yang terlihat tak terkalahkan itu ternyata takut kehilangan dirinya.
Nala mundur perlahan-lahan. Ia tidak boleh ketahuan menguping. Percakapan ini terlalu pribadi.
Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Bahagia karena tahu ia begitu berharga bagi Raga, tapi juga ketakutan karena menyadari bahaya besar sedang mengintai mereka. Dunia Raga ternyata jauh lebih gelap dan berbahaya daripada yang ia bayangkan. Kartu hitam dan gaun mewah itu hanyalah lapisan gula di atas kue yang beracun.
Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap lukisan abstrak di dinding kamar yang ia buat beberapa hari lalu.
"Kau benar, Tuan," bisik Nala pada ruangan kosong. "Uang adalah senjata. Tapi senjata saja tidak cukup. Aku butuh perisai."
Nala mengepalkan tangannya. Ia tidak akan menjadi beban bagi Raga. Jika musuh mengincar titik lemah Raga, maka Nala harus memastikan dirinya bukan titik lemah. Ia harus menjadi titik kuat.
Hari itu, Nala berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan lagi menjadi gadis polos yang hanya bisa berlindung di balik punggung suaminya. Ia akan belajar menjadi Nyonya Adhitama yang sesungguhnya. Wanita yang pantas berdiri di samping raja kegelapan, bukan hanya sebagai perhiasan, tapi sebagai ratu yang memegang belati di balik gaun sutranya.
ceritanya bagu😍