Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Ki, aku iri sama kamu,” ucap Dina tiba-tiba, memecah suasana warung makan siang itu yang tadinya tenang.
Kirana yang sejak tadi sibuk mengaduk teh manis di gelas kaca, menghentikan gerakannya. Dia menoleh dengan alis sedikit terangkat, lalu tertawa kecil. Tawa yang lebih terdengar seperti penolakan halus daripada hiburan.
“Iri kenapa?” tanya Kirana ringan. Dalam benaknya, tak ada satu pun hal istimewa yang pantas membuat orang lain iri kepadanya.
Dina menghela napas panjang, seolah sedang menahan beban hidup yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri. “Punya suami yang sayang sama istri dan anak. Selalu jadi garda terdepan buat keluarga. Royal, perhatian, nggak pelit perasaan. Nggak kayak aku ....” Suaranya menurun, matanya menerawang kosong. “Suamiku bisanya nuntut terus, tapi nggak pernah menghargai apa pun yang sudah aku lakukan.”
Kirana terdiam. Jemarinya mengerat di gagang gelas. Ada rasa tak nyaman menjalar di dadanya, antara iba dan bersalah. Dia ingin menyangkal, tetapi kata-kata itu terlalu jujur untuk ditepis.
“Suami kamu itu juga baik sama keluarga kamu, Ki,” sela Meli yang sejak tadi duduk menyandar di kursi plastik. “Orang tua kamu sering banget membanggakan Rafka. Katanya, Rafka itu menantu idaman.”
Kirana tersenyum samar. Senyum yang tampak utuh di luar, tapi retak di dalam. “Ya, mau bagaimana lagi. Mas Rafka sekarang menantu satu-satunya,” ucapnya pelan. “Dulu, waktu masih ada Mas Dipta, dialah menantu kebanggaan ayah dan ibu.”
“Ngomong-ngomong,” Meli memiringkan kepala, rasa penasarannya tak bisa ditahan. “Kenapa kakakmu betah menjanda? Padahal Mbak Kinanti masih muda, cantik, punya pekerjaan bagus. Banyak yang pasti mau.”
Kirana menunduk. “Katanya belum bisa move on dari Mas Dipta,” jawabnya lirih. Sejujurnya, itu jawaban yang selalu Kinanti ulang, meski hatinya sendiri mulai mempertanyakannya.
Dina mendekatkan tubuhnya, menurunkan suara. “Tapi, Ki. Aku beberapa kali lihat suamimu dan Mbak Kinanti naik motor bareng.”
Jantung Kirana berdegup lebih cepat.
“Mereka kan kakak-adik ipar,” sahut Kirana cepat, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Kadang Mbak Kinanti minta tolong ke Mas Rafka. Bukan cuma ke dia, kok. Mbak Kinanti juga sering minta aku jemput Ara kalau pulang sekolah.”
Meli menghela napas, lalu menggeleng pelan. “Tetap aja hati-hati. Sekarang zaman sudah edan. Banyak kasus perselingkuhan sesama ipar. Nggak kelihatan mencurigakan bukan berarti aman.”
Ucapan itu seperti duri kecil yang tertancap di hati Kirana. Tidak langsung sakit, tapi mengganggu. Mengusik rasa percaya yang selama ini dia rawat dengan sepenuh hati.
Kirana memilih diam. Dia percaya pada suaminya. Dia percaya pada kakaknya. Sejak dulu hubungan mereka memang dekat. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa kedekatan itu bisa berubah menjadi sesuatu yang kotor.
Di tempat lain, Kinanti duduk di balik meja kerjanya, jemari lentiknya sibuk mengetik di layar ponsel. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Wajahnya yang dipoles rapi tampak berseri, berbeda jauh dari sosok Kinanti yang murung tiga tahun lalu, saat status janda masih terasa seperti luka terbuka.
[Mas, jangan lupa sama janji kemarin.]
Tak lama, balasan masuk.
[Janji yang mana?]
Kinanti mendengus manja, lalu mengetik cepat.
[Ih, masa lupa! Kan Mas janji mau beliin aku tas.]
Beberapa detik kemudian.
[Oh, itu. Tentu aku ingat. Hari Minggu nanti kita beli.]
Mata Kinanti berbinar.
[Makasih, Mas. Aku makin cinta, deh! Nanti sore kita cek in lagi, yuk!]
Pesan itu terkirim, disertai emoji hati yang berdenyut pelan di layar.
“Cie… cie…,” goda salah satu rekan kerjanya. “Yang lagi chat-an sama Ayang.”
Yang lain ikut menimpali, tertawa kecil. “Kayaknya sebentar lagi ada yang mau melepas gelar janda, nih!”
Kinanti hanya tersenyum manis. Tidak menyangkal. Tidak membenarkan. Biarlah mereka menebak-nebak. Dalam hatinya, ada rasa bangga yang tak terucap. Dia merasa menang pada akhirnya.
Tiga tahun menjanda bukan waktu yang singkat. Tiga tahun menahan rindu, cemburu, dan iri melihat Kirana hidup bahagia dengan pria yang sejak dulu diam-diam dia inginkan.
Sore itu, Rafka tidak langsung pulang. Motornya berbelok ke arah lain, bukan menuju rumahnya. Ada kegelisahan di dadanya, tetapi juga ada dorongan yang lebih kuat. Dorongan yang membuatnya terus melangkah meski sadar sedang melanggar batas.
Rafka memarkir motor di depan sebuah hotel murah yang sering dia lewati. Tanpa ragu, dia melangkah masuk. Kamar sudah dipesan lewat aplikasi. Semuanya terasa begitu mudah untuk sebuah dosa. Pintu dibuka tanpa diketuk.
Kinanti baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih setengah basah, tubuhnya dibalut handuk tipis. “Akhirnya, Mas datang juga,” ucapnya dengan senyum penuh arti.
Tanpa rasa canggung, Kinanti mendekat, memeluk Rafka erat, seolah takut pria itu akan menghilang. Rafka membalas pelukan itu. Pelukan yang hangat dan terasa candu.
Kinanti mencium mesra bibir Rafka. Dia tahu bagaimana caranya memancing hasrat seorang pria.
Hubungan terlarang itu telah berjalan tiga bulan. Tiga bulan yang menghapus batas moral, mengaburkan rasa bersalah, dan menenggelamkan mereka dalam euforia palsu.
Kinanti sudah lama menaruh hati pada Rafka. Bahkan sejak Dipta masih hidup. Saat Kirana masih berstatus tunangan. Saat dia hanya bisa menonton dari kejauhan, menyimpan rasa iri yang perlahan berubah menjadi obsesi.
“Mas,” Kinanti bersuara pelan setelah semuanya usai, kepalanya bersandar di dada Rafka. “Kapan kita punya waktu luang? Aku ingin lebih banyak sama kamu.”
Rafka menghela napas. “Aku nggak tahu. Sekarang pabrik nggak ada lembur. Kirana tahu itu. Aku nggak bisa sembarangan cari alasan.”
Rafka bangkit dari ranjang, mulai mengenakan pakaiannya. Ada jarak yang kembali tercipta
Kinanti buru-buru memeluk Rafka dari belakang. Dia merasa enggan berpisah dengan pria itu.
“Aku masih ingin, Mas. Sekali lagi.”
“Tidak bisa,” Rafka melepaskan pelukan itu dengan halus tapi tegas. “Aku harus pulang. Nanti Kirana curiga.”
Kinanti mendongak, matanya menyala oleh cemburu dan amarah. “Kenapa kamu selalu takut sama Kirana?”
“Bukan takut,” Rafka menoleh, tatapannya tajam. “Aku nggak mau dia marah. Aku mencintainya.”
Kata itu—mencintainya—menusuk Kinanti tanpa ampun.
“Kalau dia marah, tinggal cerai!” Kinanti meninggi. “Apa susahnya, sih?!”
Rafka menggeleng keras. “Aku nggak akan menceraikan istriku.”
Rafka menatap Kinanti dalam-dalam. “Dan ingat. Hubungan kita ini jangan sampai Kirana tahu.”
Wajah Kinanti mengeras. Rahangnya mengatup kuat. Di dalam dadanya, cinta bercampur dendam, rindu bercampur kebencian. Tiga tahun menunggu, menggoda, dan mengorbankan harga diri, namun tetap saja, hati Rafka masih untuk Kirana.
Di saat yang sama, Kirana yang polos dan percaya, sama sekali tidak tahu bahwa kebahagiaan yang dia jaga dengan sepenuh hati, perlahan sedang digerogoti dari dalam.
***
Assalammualaikum, kembali lagi dengan karya terbaru aku. Semoga suka. Ambil sisi baiknya dan jangan tiru sisi buruknya.
Jangan lupa kasih dukungan, like, komentar, dan vote, biar aku makin bersemangat ngetik.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏