Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SI MULUT LEMES
Damian tidak menjawab keluhan Ziva, dia justru menoleh ke arah desainer butik yang masih berdiri disana.
"Ambil gaun ini, dan kirimkan semua tagihannya ke kantorku sore ini, dan pastikan tidak ada satu pun detail yang cacat saat hari pernikahan nanti!" ucap Damian, tegas.
"Baik, Tuan Alexander," jawab desainer itu dengan patuh.
Damian kembali menatap Ziva, namun kali ini tatapannya sangat singkat, seolah-olah dia sedang memindai dokumen penting sebelum ditandatangani.
"Riko akan mengantarmu pulang, aku ada urusan yang jauh lebih penting di kantor," ucap Damian, datar.
"Urusan yang jauh lebih penting kata mu?" ulang Ziva berkacak pinggang, masih dengan gaun pengantin putih yang menyapu lantai.
"Kamu baru saja membuatku mencoba sepuluh gaun, menghabiskan waktuku, dan sekarang kamu meninggalkanku dengan asisten mu?" tanya Ziva, dengan emosi yang kembali terpancing.
"Waktumu sudah terbayar dengan gaun itu, Ziva," jawab Damian dingin sambil mulai melangkah menuju pintu keluar.
"Riko, pastikan dia sampai di rumah dengan selamat! Jangan biarkan dia mampir ke tempat lain!" perintah Damian, tanpa menghiraukan kekesalan Ziva.
"Tapi Tuan, mobil Anda -" ucapan Riko terputus.
"Aku akan naik taksi atau menyuruh supir kantor menjemput di persimpangan, mobil ini untuk Ziva. Cepat!" perintah Damian yang tidak bisa dibantah.
Ziva hanya bisa melongo melihat punggung lebar Damian yang menghilang di balik pintu butik dengan langkah terburu-buru. Pria itu benar-benar gila kerja.
"Nona Ziva, mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan Damian memang sangat disiplin jika menyangkut pekerjaan," ucap Riko mencoba menenangkan suasana sambil membungkuk sopan.
Hah....
Ziva menghela napas panjang, dia merasa seperti properti syuting yang baru saja selesai digunakan dan ditinggalkan begitu saja.
"Dia itu bukan manusia, Riko, dia itu mesin pencetak uang yang kebetulan punya raga manusia," ucap Ziva, berapi-api.
"Tapi Nona, Tuan Damian jarang sekali membatalkan peninjauan lapangan hanya untuk menjemput seseorang. Dan jujur saja, selama tujuh tahun saya bekerja, saya belum pernah melihatnya menatap wanita seperti saat melihat Anda mengenakan gaun tadi," jawab Riko tersenyum penuh arti
Ziva tertegun, dia teringat kembali kilatan di mata Damian beberapa menit yang lalu. Namun, rasa gengsi dan kesal nya jauh lebih besar.
"Cih! Itu cuma karena dia takut aku mempermalukan nama Alexander kalau pakai baju yang jelek," ucap Ziva sambil melangkah kembali ke ruang ganti untuk melepas gaunnya.
"Lihat saja Damian, nanti aku akan membalas mu," gumam Ziva, melapas kan gaun itu dengan kasar.
Ziva tidak perduli walaupun gaun itu akan rusak, mood nya saat ini benar-benar hancur, gara-gara tunangan nya yang tidak berperasaan itu.
"Terimakasih," ucap Ziva, sebelum keluar.
"Sama-sama Nona," jawab desainer itu, menunduk sopan.
Tentu saja pemilik butik itu mengenali Ziva itu siapa, seorang desainer muda yang karya nya sudah go internasional dan namanya sering menghiasi majalah fashion.
Di parkiran butik, Riko sudah stanby di dekat mobil Ferrari hitam milik Damian, menunggu sang Nona bos.
"Ayo cepat, Riko, antar aku pulang, aku juga punya pekerjaan yang lebih penting daripada memikirkan robot itu!" ucap Ziva, keluar dari butik itu dengan wajah kesal.
"Silahkan Nona," ucap Riko, membuka pintu mobil.
Tanpa sepatah kata pun, Ziva langsung masuk ke dalam, dan duduk di bangku penumpang, di susul Riko yang duduk di bangku kemudi.
Di dalam mobil Ferrari yang mewah itu, suasana yang seharusnya tenang berubah menjadi panggung interogasi bagi Riko.
Ziva duduk di kursi belakang dengan kaki menyilang, menatap asisten pribadi calon suaminya itu melalui spion tengah dengan tatapan yang bisa menguliti orang hidup-hidup.
"Jadi, Riko, sudah berapa lama kamu bertahan hidup bersama pria menyebalkan itu? Apa kamu punya asuransi kesehatan mental yang ditanggung perusahaan?" tanya Ziva dengan nada manis yang justru terdengar mengancam.
"Ehem!"
Riko berdehem, mencoba tetap fokus pada kemudi.
"Sudah tujuh tahun, Nona, dan Tuan Damian sebenarnya orang yang sangat baik," jawab Riko, berusaha untuk bersikap tenang.
"Jangan membela nya, Riko, kau tahu pasti kamu gak betah kerja sama dia, mending kamu resign aja, aku punya banyak kenalan pengusaha sukses yang jauh lebih sukses dari si Dami Dami nyebelin itu," cerocos Ziva tanpa henti, membuat Riko meringis.
"Orang seperti bos mu itu di dalam kamusku, dia orang tidak punya tata krama, bisa-bisa nya dia pergi begitu saja, tahu gitu tadi aku gak mau ikut dia," ucap Ziva, menggerutu.
Riko menggigil ketakutan melihat mulut lemes calon nyonya nya, selama dia mendampingi Damian, Riko belum pernah bertemu dengan modelan perempuan seperti calon nyonya bos nya ini, yang berani memaki-maki seorang Damian Alexander.
"Aku tidak tahu ini anugrah apa musibah," batin Riko, berusaha fokus mengemudi.
"Riko, apa dia juga makan dengan jadwal yang diatur Excel? Atau mungkin dia punya alarm otomatis untuk bernapas?" tanya Ziva, tidak bisa menyembunyikan kekesalan nya.
"Tuan Damian hanya sangat berkomitmen pada tanggung jawabnya, Nona," jawab Riko, kalem.
"Komitmen? Jangan membuatku tertawa," ucap Ziva, menatap Riko dari kaca spion itu, dengan tajam.
"Lidah pria itu lebih tajam dari gunting kainku, tapi otaknya sepertinya cuma berisi algoritma. Katakan padaku, apa dia pernah pacaran? Atau dia menjalin hubungan dengan mesin fotokopi di kantornya?" tanya Ziva, menggerutu tanpa henti.
Sepanjang jalan pulang, Ziva terus mengoceh dan memaki-maki Damian, membuat Riko berkeringat dingin.
Ketajaman lidah Ziva benar-benar tidak main-main.
"Sejauh yang saya tahu, fokus Tuan hanya pada Alexander Group, Nona. Tidak ada wanita lain," jawab Riko, mencengkram kuat setir mobil nya, berharap penderitaan nya ini segera berakhir.
"Tentu saja tidak ada wanita yang mau! Siapa yang betah hidup dengan pria yang kalau bicara seperti sedang membacakan laporan keuangan?" ucap Ziva terus mengoceh tanpa henti.
"Dan tadi itu apa? Dia menyuruhmu mengantarku pulang seolah-olah aku ini paket kiriman kilat yang takut hilang? Aku bisa beli sepuluh mobil seperti ini dengan hasil butikku sendiri kalau aku mau!" lanjut Ziva, tidak lupa dengan sifat sombong nya.
"Tuan Damian hanya ingin memastikan Anda aman, Nona Ziva..." jawab Riko lirih, mulai kewalahan menghadapi rentetan kata-kata Ziva.
"Aman dari apa? Aman dari kebosanan karena harus melihat wajah datarnya terus-menerus?" tanya Ziva menyandarkan punggungnya dengan kasar.
"Dengar ya, Riko. Sampaikan pada bosmu itu, kalau dia pikir dia bisa menjinakkan Ziva Putri Willson dengan cara kaku seperti tadi, dia salah besar! Aku desainer, aku tahu cara memotong bagian yang tidak berguna, dan sifat angkuhnya itu ada di urutan pertama untuk dibuang!" kecam Ziva dengan kejam, dan juga sombong.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭