NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Perhatian yang salah

Setelah Bara pergi, suasana kelas terasa hampa bagi Aluna. Ia duduk di kursinya dengan pandangan kosong, menatap meja kayu yang penuh dengan coretan tak berarti. Air matanya memang sudah berhenti mengalir, tapi sesak di dadanya justru semakin menjadi.Ucapan Bara terus terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak yang menyayat harga dirinya.

Brian, yang sejak tadi tidak sedetik pun melepas pandangannya dari Aluna, perlahan mendekat. Ia membawa sebotol air mineral dingin dan sebuah cokelat Silverqueen dari kantin.

"Luna... ini diminum dulu. Biar kamu agak tenang," ucap Brian lembut sambil meletakkan botol itu di depan Aluna.

Aluna mendongak, menatap Brian yang kini duduk di kursi sebelah tempat Bara biasanya berada. "Terima kasih, Brian. Tapi aku nggak haus."

"Diminum sedikit aja. Terus ini, cokelat buat kamu. Kata orang, cokelat bisa bikin mood jadi lebih baik," Brian tersenyum tulus, senyum yang seharusnya mampu menghangatkan hati siapa pun. "Aku nggak suka lihat kamu sedih gara-gara Bara. Dia mungkin lagi ada masalah, tapi tetap aja sikapnya tadi nggak bener."

Aluna menerima cokelat itu dengan tangan bergetar. "Bara nggak pernah kayak gini sebelumnya, Brian. Aku nggak tahu salahku di mana sampai Bara begitu benci itu sama aku."

Brian menghela napas, ia menggeser duduknya lebih dekat. "Jangan dipikirin terus. Ada aku di sini, Lun. Aku bakal jagain kamu dan aku janji nggak akan pernah bentak kamu kayak yang Bara lakuin tadi."

Aluna terdiam. Kata-kata Brian begitu manis, begitu menenangkan. Perhatian yang diberikan Brian adalah semua hal yang ia harapkan datang dari Bara. Namun, di sinilah letak perihnya. hati Aluna terasa asing dengan semua perhatian yang diberikan oleh Brian. Ia merasa bersalah karena Brian begitu tulus menjaganya, namun pikirannya justru masih sibuk memikirkan Bara.

"Makasih ya, Brian. Kamu baik banget sama aku," ucap Aluna lirih, meski matanya tetap melirik ke arah pintu kelas, berharap Bara kembali masuk dan menarik kata-katanya.

Namun, pintu itu tetap tertutup. Bara tidak kembali. Dan Aluna sadar, ia sedang tenggelam dalam perhatian yang salah.

Di luar kelas, Bara berdiri bersandar pada dinding koridor, tepat di samping jendela yang tertutup rapat. Ia tidak benar-benar pergi jauh. Langkahnya tertahan oleh rasa khawatir yang tidak bisa ia bunuh, meski lidahnya baru saja mengucapkan kata-kata kasar.

​Bara memberanikan diri sedikit melirik melalui celah kaca jendela. Di sana, ia melihat Brian sedang duduk di tempat yang seharusnya menjadi miliknya. Ia melihat tangan Brian yang terulur memberikan botol minum dan cokelat, lalu Brian menatap Aluna dengan binar perlindungan yang begitu tulus.

​Hati Bara terasa seperti diremas dan dipelintir.

​"Bagus, Bara. Itu kan yang lo mau, ? Lihat Brian jagain Aluna?" batinnya dengan nada mengejek diri sendiri.

​Ia bisa melihat bahu Aluna yang masih sedikit bergetar, sisa dari tangis yang ia sebabkan tadi. Melihat Aluna menerima pemberian Brian, Bara memejamkan mata erat-erat. Ada rasa cemburu yang membakar, tapi rasa bersalahnya jauh lebih besar. Ia sadar, setiap kata kasar yang ia ucapkan adalah cara agar Aluna, bisa mencintai Brian.Karena menurut nya cinta Brian jauh lebih aman dan lebih tulus untuk Aluna.

​"Gue jahat ya, Lun? Gue harus jadi orang paling brengsek di mata kamu supaya kamu bisa benci aku dan mulai mencinta Brian," bisiknya dalam hati. Suaranya hilang ditelan hiruk-pikuk koridor, tapi sesaknya memenuhi seluruh dada.

​Bara melihat Brian mencoba menghibur Aluna, dan ia bisa melihat Aluna memberikan senyum tipis, yang terlihat sangat manis. Bara segera memalingkan wajah. Ia tidak sanggup melihat lebih lama lagi. Menyaksikan Aluna mulai terbiasa dengan kehadiran Brian.

​Perhatian Brian memang tulus untuk Aluna , tapi Bara tahu, perhatian itu salah alamat. Karena sejatinya, tatapan Aluna masih menyiratkan luka yang hanya bisa disembuhkan olehnya. Namun, Bara tetap pada keputusannya. Ia lebih baik dianggap penjahat daripada harus menghancurkan persahabatannya dengan Brian.

*****"

Bel istirahat berbunyi, tapi suasananya tidak terasa santai bagi mereka bertiga. Bara kembali ke kelas hanya untuk mengambil buku, namun langkahnya tertahan saat melihat Brian sengaja merangkul pundak Aluna di ambang pintu, tepat saat mereka berpapasan.

​Brian sengaja menaikkan suaranya, seolah ingin memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar jelas di telinga Bara.

​"Aluna, nanti ke kantinnya sama aku aja ya? Kamu mau makan apa? Biar aku yang pesenin, kamu duduk manis aja. Aku nggak mau kamu pusing lagi gara-gara kejadian tadi pagi," ucap Brian sambil menatap Aluna penuh perhatian.

​Aluna hanya bisa menunduk, badannya terasa kaku. Ia sempat melirik Bara, yang berdiri hanya beberapa langkah dari mereka. "Hemm, apa aja deh, Brian. Makasih ya, kamu sudah baik sama aku."

​Bara yang mendengar itu hanya diam mematung. Wajahnya datar seperti tembok, meski di dalam hatinya ia sedang diamuk badai. Ia sengaja mengeluarkan ponselnya , dan berpura-pura sibuk agar tidak menatap mata Aluna ,yang tampak sangat terluka.

​"Ayo, Lun. Jangan deket-deket sama orang yang cuma bisa bikin nangis, ntar mood kamu rusak lagi," sindir Brian telak, sambil melirik sinis ke arah Bara.

​Bara mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Ingin rasanya ia menarik Aluna dari sana dan berteriak bahwa ia sangat mencintainya. Tapi egonya jauh lebih kuat. Ia justru sengaja mendengus kasar. "Bagus deh kalau ada yang mau nampung dia.Emang gue nggak minat jagain cewek manja."

​Mendengar itu, Aluna seolah berhenti bernapas sejenak. Kata-kata Bara kali ini lebih tajam dari bentakannya tadi pagi. Ia membiarkan Brian menuntunnya pergi menjauh menuju kantin, meski kakinya terasa sangat berat.

​Sepanjang jalan, Brian terus bercerita, mencoba membuat Aluna tertawa, dan memberikan perhatian-perhatian kecil seperti membenarkan rambut Aluna yang tertiup angin. Bagi siapa pun yang melihat, mereka tampak seperti pasangan yang sempurna. Namun, di dalam hati Aluna, semuanya terasa hampa. Perhatian Brian yang bertubi-tubi itu justru membuatnya semakin merindukan Bara.

​Ia menerima semua kebaikan Brian bukan karena cinta, tapi karena ia takut untuk untuk menolak. Aluna merasa seperti sedang berjalan di jalan yang salah, menerima kasih sayang dari orang yang salah, sementara hatinya tertuju pada sosok dingin, yang baru saja membuangnya.

Bersambung......

Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ terimakasih 😁Semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲♥️🥰

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!