NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Menarik Perhatian

​Siang itu, suasana Ballroom Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta, dipenuhi energi kompetisi yang kental.

Hari yang paling dinanti para pemerhati industri hiburan akhirnya tiba—upacara pembukaan proyek film kolosal, The World.

Para pemain dan kru sudah lengkap. Lampu kilat kamera berkedip tanpa henti. Wartawan dari berbagai media infotainment berkumpul seperti awan mendung yang siap menumpahkan pertanyaan. Di pinggir karpet merah, penggemar setia berdesakan.

Pusat perhatian jelas tertuju pada dua idola utama: Aruna Yudhoyono dan Raka Pramudya.

Aruna, aktris muda Starlight Entertainment yang sedang melesat. Raka, peraih Piala Citra dengan akting luar biasa. Kombinasi paras rupawan yang tak pernah gagal mencuri perhatian.

"Aruna, ini kali kedua kamu dan Raka dipasangkan sebagai kekasih di layar kaca. Dengan chemistry sekuat ini, apa kamu bisa saja jatuh cinta padanya di kehidupan nyata?" Seorang wartawan menyodorkan ponselnya.

Aruna tertawa. Manis. Elegan. Tawa yang sudah dilatih berjam-jam di depan cermin.

"Haha, Mas Raka memang mempesona. Siapa yang bisa menyangkal? Tapi sepertinya mustahil, karena hatiku sudah tak ada tempat untuk pria lain selain kekasihku!"

Seketika wartawan heboh. Mereka berebut mengabadikan wajah merona Aruna.

Setahun lalu, Aruna memang mengumumkan punya pacar. Sejak itu, industri hiburan berlomba membongkar identitas pria beruntung itu.

Informasi akhirnya terkuak: kekasih Aruna adalah putra Darmawan Pratama, CEO Pratama Group. Status sosial tinggi, kekayaan berlimpah, wajah tampan. Sempurna di mata publik.

Tak heran semua wanita iri.

Para penggemar awalnya sedih. Tapi era ini berbeda. Mereka justru bahagia idola mereka menemukan pasangan sepadan. Popularitas Aruna tak surut. Sebaliknya, julukan "Pacar Tampan dan Kaya" dan "Pemenang Sejati" justru mengokohkan namanya.

Di samping Aruna, Raka Pramudya bersikap profesional. Ia memegang dada dengan gerakan teatrikal.

"Nona Yenara, Anda sangat kejam. Padahal pangeran ini sudah memberikan seluruh hatinya untukmu!"

Dalam film itu, Aruna berperan sebagai Yenara Lestari, dan Raka sebagai pangeran.

Para reporter tertawa. Suasana semakin meriah.

Kini perhatian beralih. Sosok yang paling ditunggu berikutnya adalah aktris pemeran pendukung wanita kedua.

Kerumunan segera mengelilingi Sutradara Galang.

"Sutradara, kenapa aktris pemeran Laura belum terlihat? Apakah dia hadir?" tanya seorang wartawan.

"Tentu. Dia pasti datang."

"Sutradara, rumor mengatakan Qiana Putri gagal karena Anda menilai fisiknya kurang cantik untuk peran Laura. Benarkah?"

Mereka menggali skandal. Tapi Galang bukan sutradara kemarin sore.

"Kecantikan fisik memang standar tinggi untuk Laura, tapi itu bukan satu-satunya pertimbangan. Penampilan Qiana bukan masalah. Dia cantik. Sayangnya, auranya tidak cocok dengan karakter ini."

"Kudengar aktris terpilih adalah pendatang baru? Dengan standar setinggi itu, apa Anda yakin ia bisa memenuhi harapan publik?"

Galang membatin. Ada apa dengan wartawan hari ini? Apa amplop putih yang kami berikan tak cukup membuat mereka bertanya lebih santun?

"Untuk performanya, tunggu saja hingga film rilis. Mohon nantikan!" Galang bertahan dengan jawaban diplomatis.

Tapi wartawan tak menyerah.

"Sutradara, katakan jujur. Apa aktris pilihan Anda lebih cantik dari Qiana Putri?"

Galang kehilangan kesabaran. Kapan omong kosong ini berakhir? Ya! Jika kalian ingin tahu, dia jauh lebih cantik!

Jadi apa jika Qiana dijuluki kecantikan sekali seratus tahun? Begitu kalian melihat Kirana, lihat apakah kalian masih punya nyali menyebut nama Qiana di depanku!

"Setiap orang unik dengan caranya masing-masing... Tunggu saja sampai dia datang. Kalian akan tahu jawabannya."

Tepat saat Galang jenuh dengan rentetan pertanyaan, keributan kecil muncul dari area pintu masuk.

Di ujung karpet merah, sesosok wanita muncul.

Ia melangkah anggun. Tenang. Tak berlebihan. Sikapnya acuh, tapi senyum tipisnya begitu mematikan bagi siapa pun yang berani bertatapan. Ia luwes di depan kamera yang terus membidik dari berbagai sudut.

Tatapan Galang membeku. Tiga detik penuh. Ia terpaku pada perubahan drastis sosok itu.

Lalu ia tersadar. Tertawa kecil. Puas.

"Pemeran Laura sudah tiba," gumamnya penuh kepuasan.

Wajah Galang kini bersinar harap.

Dan seperti ditarik magnet, seluruh perhatian reporter serempak menoleh ke arah yang ditunjuk.

Semua tercengang.

Membisu.

​Kirana Yudhoyono tiba dengan gaun magenta berbahan renda yang mewah.

Potongannya cerdas—menonjolkan pinggang ramping, sementara garis leher rendah memperlihatkan tulang selangka yang elegan.

Magenta. Warna yang lebih sulit dikenakan daripada merah murni.

Bagi kebanyakan orang, gaun seberani itu hanya akan terlihat norak. Bahkan menakutkan.

Tapi hari ini, gaun itu seolah memang dibuat khusus untuk Kirana. Cantik. Luar biasa. Memukau semua mata tanpa kecuali.

Sejujurnya, Kirana sempat ragu.

Ketika penata gaya Arthur memilihkan gaun ini di mobil tadi, ia berpikir tidak akan sanggup mengenakannya. Ia baru yakin setelah mencobanya sendiri di butik.

Tapi itulah Arthur. "Tangan Ilahi" dari Glory World Entertainment.

Hanya dengan sekali pandang, ia mengenal potensi kecantikanku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.

Ini kali pertama Kirana menghadiri acara sebesar ini sebagai aktris pendukung utama. Tapi ia aktris terlatih.

Ia sudah sering memerankan berbagai persona—termasuk selebriti terkenal.

Berjalan di karpet merah? Bukan hal yang sulit.

Setiap langkah, setiap senyum, setiap gerakannya sempurna tanpa cacat. Ia mahir menemukan sudut kamera terbaik. Memberi ekspresi tepat di saat yang pas.

Para reporter yang biasanya cerewet itu terdiam.

Lebih lama dari Sutradara Galang tadi.

"Ini... aktris pendatang baru yang akan memerankan Laura?" bisik seorang wartawan.

"Pemula tanpa nama? Tanpa pengalaman?" yang lain masih tak percaya.

'Ini... bukankah wanita ini terlalu cantik untuk ukuran manusia?!'

Tak ada kata yang bisa menggambarkan kecantikannya.

Dia sungguh menakjubkan. Berkelas.

Beberapa saat lalu, mereka memaksa Galang menyatakan siapa yang lebih cantik antara Qiana Putri dan aktris baru ini.

Sekarang mereka mengerti. Ekspresi Galang tadi bukan aneh—tapi geli.

Menyadari betapa konyolnya pertanyaan mereka.

Karena di hadapan kecantikan Kirana, Qiana Putri—bahkan—hanyalah satu dari sekian banyak wajah di kerumunan.

Kirana berpose profesional di tengah karpet merah.

Lalu berbalik anggun, mengambil pena dari nampan perak, menandatangani dinding besar di belakang panggung.

Saat ia membalikkan badan...

Tarikan napas pendek. Jepretan kamera makin menggila.

Gaun magenta itu ternyata tanpa punggung. Terbuka hingga ke pinggang.

Arthur memilih gaun ini justru karena aspek kejutan itu.

Tulang belikat Kirana terlalu sempurna untuk disembunyikan.

Bagian tubuhnya yang paling seksi dan berkelas. Akan sangat disayangkan jika tertutup kain.

Selebriti wanita lain biasanya sengaja memperlihatkan belahan dada untuk menarik wartawan pria.

Kirana berbeda. Lebih elegan.

Ia mengangkat derajatnya dengan menunjukkan keindahan punggung yang eksotis.

Sesi wawancara resmi dimulai.

Para reporter hari ini dalam kondisi menyedihkan.

Mereka sudah menyiapkan pertanyaan tajam untuk menjatuhkan mental aktris baru ini:

"Apakah menurutmu penampilanmu cukup menarik untuk memerankan wanita penggoda seperti Laura?"

"Menurutmu, siapa yang lebih cantik? Kamu atau Qiana Putri?"

"Rumor mengatakan kamu dapat peran ini lewat jalur belakang. Apa bantahanmu?"

Tapi setelah melihat Kirana langsung...

Mereka tak bisa menggunakan pertanyaan sampah itu.

Siapa pun yang tidak buta bisa melihat sendiri: tidak mungkin ada main belakang.

Wajah dan aura Kirana sudah cukup menjawab segalanya.

Dialah satu-satunya yang paling sempurna untuk karakter Laura yang melegenda itu.

Pertanyaan pun bergeser. Lebih teknis. Apresiatif.

"Nona Kirana, gaun luar biasa yang Anda kenakan—rancangan Sebastian Gunawan. Apakah ini pesanan khusus?"

Kirana membeku.

'Apa?! Gaun ini... rancangan Sebastian Gunawan?'

'Berarti aku sekarang mengenakan gaun seharga... ratusan juta rupiah?'

'Dan aku santai-santai saja?'

Ia benar-benar tidak tahu.

Butik mewah yang ia datangi bersama Bryan itu ternyata butik utama perancang busana kelas dunia.

Sebastian Gunawan. Salah satu dari sepuluh besar perancang terbaik se-Asia.

Butik eksklusif itu mitra utama Glory World Entertainment untuk kebutuhan busana selebritas papan atas mereka.

Wajar Arthur langsung meminta Bryan ke sana. Daripada buang waktu di butik lain yang di bawah standarnya.

'Bos Iblis Bryan Santoso... kau pria licik!'

Kirana kesal. Bryan sama sekali tidak memberitahu.

Jika tahu sejak awal, sudah pasti ia tolak mentah-mentah. Ia merasa tidak pantas.

Ia memang ingin tampil cantik hari ini. Tapi tidak perlu berlebihan seperti ini.

Harga pakaian yang biasa ia beli dengan uang sendiri hampir tak pernah menyentuh angka sepuluh juta.

Sekarang? Ia mengenakan baju seharga seratus juta tanpa sadar.

'Bryan...!'

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah di lokasi acara.

Tak mungkin pergi begitu saja. Tak ada baju pengganti.

Satu-satunya yang bisa dilakukan: tampil profesional. Menyelesaikan tugas.

Lalu reporter yang sama bertanya lagi. Nadanya lebih menyelidik.

"Nona Kirana, apakah penataan penampilan Anda hari ini dilakukan oleh penata gaya legendaris... Arthur?"

'Apa?!'

'Kamu bahkan bisa melihat ciri khas Arthur hanya dari melihatku?'

'Kamu benar-benar punya mata tajam!'

"Ah, sepertinya tidak mungkin... pasti saya salah lihat..."

Tanpa menunggu konfirmasi, reporter itu menarik pertanyaannya sendiri. Wajahnya sangsi.

Mungkin ia teringat fakta industri:

Kirana adalah artis Starlight Entertainment.

Arthur—penata gaya pribadi eksklusif milik Diana Anggraeni dari Glory World Entertainment—agensi rival abadi Starlight.

Mustahil ia sudi menata gaya aktris baru dari agensi lawan.

Tidak masuk akal.

Tapi itulah yang sebenarnya terjadi.

Hanya Kirana, Bryan, dan Arthur yang tahu.

Dan si kecil Kael—tapi ia tentu tidak mengerti apa-apa soal ini.

​Kirana menghela napas lega.

Identitas Arthur tidak terbongkar.

Tapi ia tidak mau memberi mereka kesempatan bertanya lebih jauh. Ia segera mengambil kendali.

"Hari ini adalah pembukaan film The World. Mohon rekan media mengajukan pertanyaan seputar proyek ini saja."

Tegas. Sopan.

"Nona Kirana, apakah ini drama pertama Anda?" tanya seseorang.

"Tentu tidak. Saya sudah berakting sejak kuliah. Hanya saja, selama ini saya tidak banyak mendapat peran besar. Wajar jika tidak ada yang mengenali wajah saya."

Jujur. Rendah hati.

Kirana sadar: wartawan bisa menggali masa lalunya kapan saja. Lebih baik terbuka daripada ketahuan berbohong.

"Peran seperti apa yang pernah Anda mainkan?"

Pertanyaan wajar. Tapi canggung untuk dijawab.

Namun karena sudah terlanjut, ia pun menyebutkannya satu per satu:

Seorang rival egois dan licik.

Tetangga yang suka nyinyir.

Influencer penuh sensasi murahan.

Mantan pacar posesif gila.

Teman yang iri hati.

Pelakor dengan intrik jahat.

Pekerja hiburan malam dengan reputasi kontroversial.

Bahkan... seorang tua yang sangat kejam.

Para wartawan terdiam.

'Peran-peran ini... astaga...'

'Untuk wanita secantik dan seanggun itu, mengapa dia memilih peran aneh seperti ini?'

'Dia suka jadi antagonis?'

Akhirnya, seseorang memberanikan diri.

"Nona Kirana, mengapa hampir semua peran Anda di masa lalu adalah tokoh penjahat?"

Kirana tidak bisa menyebut nama Merry. Manajernya. Bukan di sini. Bukan di depan umum.

Ia menjawab datar. Diplomatis.

"Sejujurnya, saya tidak pernah pilih-pilih peran. Seni akting adalah hal yang paling saya sukai. Setiap karakter—kecil atau besar—punya daya tariknya sendiri untuk dieksplorasi."

Bijak.

Pertanyaan berikutnya lebih layak diberitakan.

Tanpa pendampingan manajer, Kirana menjawab semuanya dengan sempurna. Tenang.

Sutradara Galang memperhatikan dari kejauhan. Ia mengangguk puas.

"Gadis ini tidak buruk. Visual, akting, komunikasi—semua lengkap. Aku tidak mengerti mengapa dia baru sampai di tahap ini setelah setahun lebih di industri."

Ia menoleh.

"Pak Argo, bagaimana menurut Anda?"

Produser Argo Suryo menjawab dengan nada berat.

"Sepertinya... entah petinggi Starlight memang sudah buta secara profesional. Atau mungkin..."

Ia menghentikan ucapannya. Memberi tatapan penuh arti.

Seseorang di internal Starlight sengaja menyembunyikan potensi Kirana.

Galang menghela napas. "Sangat disayangkan. Bibit seindah ini..."

"Tenang." Argo tertawa kecil. "Jika dia benar-benar emas murni, ia akan bersinar. Dan sekarang, bukankah ia sudah punya kamu?"

Di sisi lain panggung, kuku Aruna Yudhoyono menancap ke telapak tangannya.

Wajah elegan itu sempat meringis.

Pagi tadi, ia sengaja meminta Merry memberi tahu Kirana hanya satu jam sebelum acara.

Ia berharap Kirana terlambat. Atau tampil memalukan.

Tidak pernah terbayangkan: Kirana datang dengan penampilan sempurna. Memukau semua orang.

Termasuk dirinya.

"Astaga, lihat itu. Gaun Kirana pasti ratusan juta. Dari mana wanita seperti dia punya uang sebanyak itu?" bisik asisten Aruna.

"Mungkin disewa. Tapi siapa yang menata penampilannya sampai secantik itu?"

Aruna mendesis dingin.

"Sepertinya aku meremehkan 'gadis lugu dari desa' itu selama ini."

"Aruna, Kirana adalah junior di agensi yang sama. Bagaimana pendapat Anda tentang kemampuannya memerankan Laura?"

Seketika, Aruna memasang wajah manis. Elegan. Tersenyum.

"Oh, kakakku ini sangat berbakat. Aku yakin penampilannya sebagai Laura tidak akan mengecewakan siapa pun."

Pujian. Sanjungan. Setinggi langit.

Orang awam pasti mengira Aruna adalah senior baik hati yang mempromosikan juniornya.

Tapi Kirana tahu.

Dari kejauhan, ia membaca strategi licik itu.

Aruna tidak membantunya. Ia memasang jebakan.

Pujian setinggi langit \= ekspektasi publik setinggi langit.

Satu kesalahan kecil saja, dan Kirana akan jatuh. Hancur. Publik kecewa. Karir berakhir.

Sayangnya bagi Aruna...

Kirana tidak akan membiarkan rencana itu berhasil.

Lima tahun. Ia berlatih keras di luar negeri. Teater. Film pendek. Peran-peran kecil yang mengasah kemampuannya.

Ia yakin. Ia bisa membuktikan semuanya.

'Kamu mau menjebakku dengan sanjungan palsu? Silakan.'

'Tunggu saja. Lihat sendiri.'

'Bagaimana aku akan membuktikan semuanya nanti.'

Segmen wawancara selesai.

Kirana menghela napas lega.

Tapi kelegaan itu hanya sesaat.

Merry sudah menunggu. Wajahnya merah padam.

"Kirana! Dari mana kau dapat pakaian semahal ini?! Jangan harap perusahaan mau menanggung biaya sewanya!"

Suaranya tertahan. Marah.

"Kau sadar posisi, tidak? Kau hanya pemeran pendukung. Berani-beraninya mencuri perhatian dari pemeran utama? Apa kau tidak tahu aturan tidak tertulis di industri ini?!"

Kirana tetap tenang.

Ia memainkan sehelai rambut hitam yang terlepas dari tatanan. Santai.

"Sejujurnya, aku juga tidak menginginkan semua perhatian ini. Tapi siapa yang menyuruh Kak Merry sengaja memberi tahu jadwal acara hampir terlambat?"

"Kau... kau berani menjawabku?!"

Merry menahan diri. Tidak bisa berteriak. Terlalu banyak orang.

"Kau jaga sikap saat acara makan malam nanti. Jangan bicara omong kosong. Aruna tidak tahan alkohol. Ingat tugasmu: minum sebagai wakilnya. Kau dengar?!"

Kirana tertawa sinis.

"Kau ingin aku minum untuknya? Nona Merry, apa kau sedang bermimpi di siang bolong?"

Ia menatap tajam.

"Seharusnya kau bersyukur aku tadi tidak menumpahkan gelas anggur ke wajah manisnya."

Merry sadar. Ia sepenuhnya di pihak Aruna.

Bahkan jika Kirana merendah dan memohon, ia tidak akan tertipu.

Tapi Kirana tidak merendah. Ia tegas.

Di tempat umum seperti ini, Merry tidak akan berani bertindak lebih jauh.

Wajah Merry bergetar.

"Kirana! Kau keterlaluan! Baru dapat peran pendukung, kau sudah lupa posisimu di depanku?!"

Kirana tidak menjawab.

Ia berbalik. Pergi meninggalkan Merry.

Merry hanya bisa diam. Memperhatikan punggung Kirana yang menjauh.

Bahkan dari belakang, aura wanita itu tetap mempesona. Berwibawa.

Tiba-tiba...

Firasat buruk menyelinap di hatinya.

Ia takut.

Ia tidak akan bisa mengendalikan Kirana lagi.

Wanita ini...

Kirana Yudhoyono sepertinya memang ditakdirkan menjadi aktris besar.

Begitu popularitasnya meledak, mustahil bagi Aruna untuk menyaingi.

Bahkan sekadar mengejar.

Merry menggenggam tangannya erat.

Ia harus menekan Kirana. Sebisa mungkin.

Tolak semua kesempatan. Jangan biarkan ia berkembang.

Berapa pun caranya.

Rangkaian upacara pembukaan selesai.

Sesi makan malam perayaan dimulai.

Aula perjamuan mewah. Para pemain, kru, tamu undangan berkumpul. Makan. Minum. Saling mengenal.

Suasana santai. Meriah.

Larasati—sang penulis skenario—adalah orang pertama yang menyadari kedatangan Kirana.

Ia segera berdiri. Menarik tangan Kirana. Mendudukkannya di kursi kosong di sampingnya.

Sorot matanya bersinar. Senang sekali bisa bertemu Kirana lagi.

"Kebetulan sekali! Kedua pemeran cantik kita ini berasal dari agensi yang sama. Bahkan nama belakangnya juga sama!"

Farhan Jarwo, asisten sutradara, bergabung di meja mereka. Antusias.

Kirana hanya tersenyum dingin.

'Haha. Sungguh kebetulan yang membagongkan.'

Agensi sama. Manajer sama.

Tapi kehidupan dan karir mereka?

Bak bumi dan langit.

Yang satu—bintang emas yang selalu dipuja Starlight Entertainment.

Yang satu lagi—berjuang dengan keringat sendiri. Merangkak naik dari dasar jurang.

Meja perjamuan hangat. Obrolan mengalir. Tawa pecah di sana-sini.

Tiba-tiba...

Sutradara Galang dan Produser Argo Suryo berdiri serentak.

Wajah mereka berubah. Hormat.

Mereka segera melangkah menuju pintu masuk.

Sang sponsor terbesar telah tiba. Pendana utama proyek film ini. Hendrawan Yudhoyono.

Ketua dewan direksi Yudhoyono Group. Yang sangat disegani.

Bersambung...

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!