NovelToon NovelToon
THE BROTHER'S SECRET DESIRE

THE BROTHER'S SECRET DESIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pembantu / Bercocok tanam / Keluarga / Cinta Terlarang / Romansa
Popularitas:4.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Area khusus Dewasa

Di mansion kediaman keluarga Corris terdapat peraturan yang melarang para pelayan bertatapan mata dengan anak majikan, tiga kakak beradik berwajah tampan.

Ansel adalah anak sulung yang mengelola perusahaan fashion terbesar di Paris, terkenal paling menakutkan di antara kedua saudaranya. Basten, putra kedua yang merupakan jaksa terkenal. Memiliki sifat pendiam dan susah di tebak. Dan Pierre, putra bungsu yang sekarang masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir. Sifatnya sombong dan suka main perempuan.

Edelleanor yang tahun ini akan memasuki usia dua puluh tahun memasuki mansion itu sebagai pelayan. Sebenarnya Edel adalah seorang gadis keturunan Indonesia yang diculik dan di jual menjadi wanita penghibur.

Beruntung Edel berhasil kabur namun ia malah kecelakaan dan hilang ingatan, lalu berakhir sebagai pembantu di rumah keluarga Corris.

Saat Edell bertatapan dengan ketiga kakak beradik tersebut, permainan terlarang pun di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tubuhmu mengingatku

Edel melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik halus, seakan menjebaknya di dalam dunia milik Basten. Lelaki itu akhirnya menoleh. Tatapan matanya menelusuri tubuh Edel dengan tajam, namun tidak buru-buru. Ia seperti pemburu yang menikmati ketegangan sebelum menerkam mangsa.

"Kau datang." gumamnya.

"Tepat waktu pula."

Edel menggigit bibir. Ia berdiri kaku di dekat pintu, tak tahu harus berkata apa. Setiap nalurinya berteriak agar ia pergi, tapi kakinya seperti tertanam di lantai.

Basten melangkah mendekat, pelan, terukur.

"Masih takut?" tanyanya sembari menyentuh dagu Edel dengan ujung jarinya, memaksanya mendongak.

"Atau justru penasaran?"

Edel memalingkan wajah, tapi Basten tak menyerah. Ia menyentuh sisi leher gadis itu, lembut tapi cukup membuat kulit Edel merinding.

"Tubuhmu mengingatku," bisiknya,

"Meski kepalamu mencoba menyangkal."

"Tuan muda ... tolong ... jangan ..."  suara Edel nyaris tak terdengar, setengah tercekik oleh rasa takut dan malu, setengah lagi oleh pergolakan yang tak ingin ia akui.

"Jangan apa?" Basten bersikap tenang, tapi tatapannya menyala. Ia bisa melihat bahwa gadis itu berada di ujung jurang antara ketakutan dan rasa penasaran akan apa yang telah ia lakukan semalam.

Perempuan yang benar-benar menolak keras di sentuh, biasanya akan kabur dengan cara apapun. Tapi gadis ini, kepolosannya, wajah bingungnya, dan ekspresi malu-malunya meyakinkan pikiran Basten kalau ada rasa ketertarikan dari gadis itu kepadanya. Atau bahkan pada sentuhannya.

Gadis ini mungkin belum sadar, tapi Basten akan membuatnya sadar. Membuat gadis ini benar-benar menyukai setiap sentuhan yang dia berikan. Menyukai kehadirannya.

Edel mencoba mundur, tapi Basten menahan pinggangnya. Sentuhannya bukan sekadar fisik, ia menyerang dari dalam, membuat batas Edel semakin kabur.

"Kau tidak bisa pergi, setelah memilih muncul di hadapanku." ucap Basten pelan.

Kalimat itu membekas seperti racun manis di telinga Edel.

Ia harus pergi. Sekarang juga.

Tapi tubuhnya tidak mendengarkan.

Dan Basten, seperti biasa, tahu cara membaca sinyal itu lebih dulu daripada Edel sendiri. Lelaki itu menarik Edel perlahan ke arahnya. Wajah mereka begitu dekat, napas mereka menyatu di udara.

Bibir Basten hanya tinggal beberapa inci dari wajah Edel ketika gadis itu akhirnya berhasil mengeluarkan bisikan lirih,

"Aku takut di cari madam Sin ..."

"Tidak akan. Aku akan bicara dengannya nanti." balas Basten, suaranya seperti beludru yang dibungkus baja.

Ia menyentuh garis rahang Edel dengan punggung jarinya, perlahan menelusurinya hingga ke belakang telinga.

"Kau keliatan takut padaku, dan selalu berkata jangan ..." ujar Basten, nadanya nyaris menggoda, nyaris menantang.

"Tapi tubuhmu, Edel … tubuhmu menyampaikan bahasa yang jauh lebih jujur dari mulutmu."

Ia mendorong gadis itu perlahan ke dinding, tetapi dengan kelembutan yang justru membuat jantung Edel berdentam tak beraturan. Dingin tembok menyentuh punggungnya, sementara kehangatan tubuh Basten memagari bagian depannya. Tak ada ruang untuk lari, tak ada ruang untuk menyangkal.

"Tatap aku," perintah Basten, namun nadanya tetap rendah.

"Kau yakin ingin pergi?"

Edel tidak menjawab. Ia bingung, kenapa pikirannya justru kosong? Kenapa degup jantungnya malah menantikan sesuatu yang ia tak berani ucapkan?

Ia mengangkat wajah perlahan. Mata mereka bertemu, dan di dalamnya, Basten menemukan semua jawaban yang ia cari.

Perlahan, bibir lelaki itu menyentuh kening Edel. Bukan ciuman penuh nafsu, melainkan gerakan yang penuh ketenangan, seolah ingin menghapus ketakutannya. Lalu turun ke pelipis, ke pipi, hingga ke sudut bibir, dan berhenti.

Ia menatap Edel lama, sebelum akhirnya menyerang gadis itu dengan ciuman yang menuntut, tidak lembut lagi seperti tadi. Bibir Basten melumat, menggigiti bibir bawah Edel kecil-kecil berulang kali.

Tubuh Edel menegang sesaat, refleks ingin mendorong, tapi tak jadi. Sentuhan itu… terlalu kuat.Ia bisa merasakan kegetaran dari dalam dirinya sendiri.

Tangan Basten berpindah, menelusuri sisi tubuh Edel dengan sabar namun pasti, hingga berhenti di sisi leher dan bahu. Ia menggigit halus cuping telinga Edel, membuat gadis itu mengerjap dan menarik napas pendek, seolah tubuhnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Masih ingin bilang jangan?" bisik Basten di dekat telinganya, suaranya berat, serak, seperti bara yang diseret angin malam.

Edel tak menjawab. Ia bahkan tak tahu apakah ia masih sanggup bicara. Di dalam dirinya terjadi peperangan diam-diam, antara kewarasan dan sesuatu yang lebih liar, lebih gelap, dan lebih jujur dari sekadar kata-kata.

Kali ini ciuman Basten berpindah ke lehernya yang jenjang. Menggigit kecil-kecil di sana.

Edel mengejang saat gigi Basten menyentuh kulit lehernya. Sensasi itu menyebar cepat, seperti aliran listrik halus yang menelusuri tulangnya. Tangannya otomatis mencengkeram lengan Basten, mencari pegangan, tapi juga tak benar-benar mendorong.

"Tuan muda ..." gumamnya, akhirnya keluar juga suara dari bibir yang mulai bergetar.

Namun Basten tidak menghentikan aksinya. Ia justru menarik tubuh Edel lebih dekat, satu tangannya kini sudah menyusup ke balik punggung gadis itu, menempel erat di sana, membatasi ruang antara mereka menjadi nol.

"Nadimu berlari," ucapnya, lidahnya menyapu bekas gigitan lembut itu.

"Dan jantungmu berdetak kencang."

Edel menggigit bibirnya sendiri, mencoba mengendalikan napas. Tapi semakin ia berusaha tegar, semakin kabur garis antara logika dan hasrat. Edel tidak mengerti kenapa begini. Jelas-jelas laki-laki di depannya ini sangat berbahaya, tetapi kenapa dia tidak melawan?

Gadis itu masih terpaku, sementara Basten sudah mulai membuka satu persatu kancing seragam pelayannya, seperti yang di lakukan semalam. Edel masih malu, ia segera mendorong laki-laki itu tapi lagi-lagi gagal.

Edel sudah setengah telanjang. Atasan dan bra-nya sudah di buang sembarangan oleh Basten. Dan ...

"Mmph ..." tanpa aba-aba mulut Basten langsung menyusu padanya. Seperti bayi kehausan.

Basten menjilati ujung puting Edel berulang kali. Rasanya geli, geli sekali. Lalu menyesapnya dan menggigit kecil-kecil. Edel menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha keras agar suara desahannya tidak keluar. Tetapi Basten pintar sekali mempermainkan dirinya hingga ia tak bisa menahan suaranya.

"Ah ..." lelaki itu benar-benar berhasil membuatnya tidak berdaya di bawah kungkungannya. Sesekali mata Basten mendongak ke atas, sementara mulutnya terus bermain sesuka hatinya.

Lelaki itu memang belum pernah ada pengalaman bercinta dengan satu pun wanita. Hanya sekadar menyentuh bahkan berciuman saja tidak, tetapi ... Dia tiba-tiba menjadi laki-laki yang sangat pintar ketika menghadapi Edel. Seolah sudah berpengalaman puluhan tahun. Edel mungkin tidak akan percaya kalau dia bilang gadis itu adalah perempuan pertama yang dia sentuh.

Naluri laki-laki memang beda walau belum berpengalaman. Mereka tiba-tiba bisa menjadi begitu pintar saat berhadapan dengan wanita yang mereka inginkan.

Jilatan Basten makin turun dari belahan dada Edel menuju perut, tangannya mencoba menurunkan rok gadis itu serta dalamannya.

Perlahan jilatannya pun makin turun bersamaan dengan dalamannya yang diturunkan perlahan, hingga mulutnya berhenti tepat di ...

"Tuan muda!"

Edel membuka matanya, tersentak karena merasakan sesuatu yang panas menyentuh inti tubuhnya.

Basten sudah berlutut di depannya, dengan kepala yang menempel di antara pahanya bahkan lidahnya ...

Astaga ... Bukankah itu kotor?

1
Bunda Dzi'3
wajarr Xavier murka... setau Xavier kan adelice di pulangkan & msh suci+Pernikahan Mereka hanya pura2...
Xavier terlalu syang sma adenya
Hanima
😍😍
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
siapa edel sebenarnya

tuan muda jangan nakal ksian edel nya
Winer Win
aku bisa memahami amarahmu vier..stlh kehilangan ibunda kamu pasti juga tidak mau lagi2 kehilangan/berpisah dengan org yang kamu sayang.tapi kamu juga Ndak boleh egois y vier..kebahagiaan Adel ada di sisi halver...
maeee...awas ya kalo halver sama Adel sampek pisah..aku Ndak like pokoknya
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
basten kau bukan pria baik2 kau tega banget sma edel😭😭😭😭😭😭
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
waaah basten kau tukang sosor aku ampir copot jantung ku
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
ya ampun edel🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
hbis kau edel disikat sma basten
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
basten jangan kau ganggu edel😂😂😂😂😂😂😂 dia hampir jantungan itu🤣🤣
Dwi Winarni Wina
Pangeran xavier mengganggu aja dateng tidak tepat waktu, halver dan adelice mau satu ronde lagi😀
pusing tuh kepala atas bawah halver lg bergairah ingin menyalurkan tp gagal 🤣🤭
Pangeran xavier tidak suka adelice bersama halver holt, karena alasannya telah banyak membunuh pengawal dimedan perang halver...

Pangeran xavier itu kan dulu tp skrg halver telah jd suaminya adelice, halver dan adelice saling mencintai....

berikanlah kesempatan buat halver holt bersama adelice, pangeran xavier jg blm mengenal secara dekat sm halver dianggap sangat jahat dan licik....

Halver holt sangat baik memperlakukan adelice dgn baik, buktinya adelice pulang dgn selamat halver menepati janjinya....

apalagi adelice dan halver telah menyatu jd suami istri......
Syifa Azhar
halver: sialan kenapa datang di saat gak tepat😬😬😬
Xavier:lepaskan adikku sialan😈😈
adelice: nangis di pojokan,bingung mau belain suami tp takut sama kakak😭
Yati Dea
xavier gangguin aje ente😄
Murni Asih
yeee... xavier ganggu aja
Umek Zulaichah
marahnya xavier klo skarang pun percuma,,, soalnya adelice sudah milik halver seutuhnya🤭🤭🤭
Nona aan Chayank
Astagaaa, ,,,,, Xavier mengganggu sj eeehhh... 😅😅
Netiihsan
dasar xaviee...nganggu sja...🤭
Ita rahmawati
nah loh kan ngamuk tuh kakak ipar perjaka 🤣🤣
amira_⁰⁴
aaarrrrhhhhhhh Xavier sialan, mengganggu kesenakan ku saja... ini kata halver🤣🤣🤭 sabar yah yg mulia🤣🤣
mak mak doyan novel
kasih jodoh buat Xavier aja.. biar dia tau rasanya kesengsem🤣
~HartiWyn_Dee_
waduhhh....baru mau nambah ronde Xavier datang 🤭 bakal ngamuk Xavier apalagi kl sampai liat cap kepemilikan di leher Adelice ,ayooo berjuang kalian berdua buat meluluhkan hati Xavier menerima halver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!